SULIVAN

SULIVAN
Luka


__ADS_3

Zalva meratakan poni rambutnya kembali ke depan setelah tertiup hembusan angin.


Memastikan wajahnya tertutup sempurna oleh rambut dan maskernya.


Meski telah dikompres air hangat dan menempelinya semalaman dengan beberapa kapas yang ditetesi revanol, lukanya belum sepenuhnya hilang.


Apalagi luka di sudut bibirnya yang mengoreng, nampak belum kering sempurna.


"Zal...va?"


Ia dikagetkan oleh Sena yang berdiri menyamping sejauh satu setengah meter di depannya.


Tengah menatapnya dengan raut bertanya-tanya, sembari memegang secarik kertas.


Kertas berisi peta yang digambarnya di hari pertama Sena masuk.


"Pagi."


Saat melihat Zalva berjalan menuju ke arahnya, Sena merasa lega.


Usahanya hendak menanyakan arah laboratorium pada siapapun yang lewat selalu gagal karena kebimbangannya.


Ia hampir saja pasrah dan berniat berjalan menuju ruang guru, sebelum akhirnya melihat Zalva dari kejauhan.


Tubuhnya yang tinggi menjulang dengan poni yang menutupi hampir setengah wajah membuat teman sebangkunya itu mudah ditemukan dari sekian murid yang juga berjalan ke arahnya.


Namun ketika Zalva mendekat, masker hitam yang dipakainya menutupi hampir seluruh wajahnya, memunculkan ekspresi bertanya-tanya di muka Sena.


"Kertas itu..."


Sena menarik dirinya kembali ke kenyataan, menyadari ekspresi wajahnya yang mungkin ditafsirkan secara negatif oleh Zalva.


Meski kenyataannya ekspresi semacam itulah yang diharapkan Zalva dari orang-orang sekitar ketika menatap penampilannya sendiri di cermin sesaat sebelum berangkat.


Yang diproyeksikan dengan baik oleh raut muka Sena.


"Karena tak tahu letak lab jadi..."


Zalva yang telah mengerti alasan keberadaan peta itu lalu melangkahkan kaki tanpa bicara.


Diikuti Sena di belakangnya sembari melipat peta dan memasukkannya ke ruang di sisi tas yang fungsi awalnya adalah habitat tempat minum.


Ruang itu kemudian berubah menjadi tempat menaruh bon, uang kembalian, bolpoin, dan barang apapun yang ingin disimpan tapi malas membuka tasnya.


Sena membuntuti Zalva dengan menatap bayang-bayangnya.


Sepuluh langkah kemudian, bayang-bayang itu hampir oleng karena bayang-bayang lain yang mendekati mereka.


"Pagi Zalva!"


Adalah Tera yang melompat pada Zalva dan mengalungkan lengan di bahunya.


Sena menatap dua plester coklat yang terpasang di sikut Tera.


Plester itu saling bertindihan dengan arah otodidak; tidak membentuk besaran sudut yang sama.


Sang pemilik sikut menolehkan kepalanya ke belakang, melihat Sena yang berdiri diam.


"Hai Sena!"


Sikut itu melambaikan tangannya pada Sena dengan senyuman cerah.


Ketika Sena mengangkat tangan hendak membalas sapaan Tera, sikut lainnya menarik kepala Tera ke samping kanan.


Tampaklah laki-laki berambut cepak -hampir botak, menjepit leher Tera dengan sikutnya.


"Cukup main-mainnya, kita ada PR yang belum selesai!"


Tera menepuk keras sikut yang mengalungi lehernya, membuat sang sikut mengaduh kesakitan.


Adalah Rio, teman sekelas Tera sekaligus anak buah Zalva, yang mengelus sikutnya yang memanas akibat tepukan keras Tera.


Saat menoleh ke kanan, ia mendapati seorang gadis terdiam menatap pertengkaran pagi hari mereka.


Gadis itu berperawakan tinggi -mungkin setinggi Tera, berambut sebahu yang sebagian tepi atasnya dikuncir kuda, memakai rok panjang, dan berparas lumayan.


Rio menyenggol Tera dengan sikutnya, berniat mengejek.


"Cewek baru, nih."


Dibalas oleh Tera dengan tepukan keras yang kedua kalinya hingga perih dan panas.


"Hush, sembarangan! Dia penyelamatku!"


Tera mengulurkan tangannya, bergantian menunjuk Sena dan Zalva.


"Dan teman sebangku Zalva."


Sena memperhatikan raut terkejut Rio yang bergantian menatap dirinya dan Zalva.


Di dahinya terdapat luka lebam kebiruan yang dibiarkan terbuka tanpa tempelan plester.


Ah, mungkin mereka habis berkelahi.


"Rio, ini Sena."


Sena menatap Rio sebentar dan mengalihkan pandangannya kembali pada Tera.


"Sena-- aku malas ngenalin Sena pada bajingan sepertimu-"


"-jadi katamu, Zalva punya teman sebangku sekarang?!"


Tera mengangguk cepat dengan mata berbinar, dibalas dengan Rio yang menutup mulutnya dramatis.


"Heh, harus dirayakan ini!"


Zalva yang risih menghentikan mereka berdua yang berjingkrak kegirangan dengan bogeman pada perut dan lengan mereka.


"Ingat PR kalian!"


Sena menyaksikan kedua orang itu menuruti Zalva lalu pergi sambil mengaduh kesakitan.


Tera berbalik melambaikan tangannya pada Sena, baru kemudian berlari mengikuti Rio.


Zalva kembali melanjutkan langkahnya, diikuti Sena yang menatap Tera dan Rio sampai raga mereka menghilang di balik kumpulan manusia.


Senangnya punya teman seloyal mereka.


Sena dan Zalva melangkah berbuntutan, berpisah dengan murid lain yang kebanyakan berbelok ke kiri menuju tangga.


Langkah kaki yang mereka lewati dan melewati mereka menghilang, meninggalkan mereka berdua yang berjalan menelusuri lorong selebar dua meter.


Sena melihat bayangan mereka berdua di tembok hasil pantulan matahari pagi yang belum naik terlalu tinggi.


Membuat bayangan mereka lebih panjang dari wujud aslinya, menekuk mengikuti alur lantai dan tembok.


Dari bayangan itu terlihat rambut Zalva yang tertiup angin, memisahkan setiap helaiannya untuk menari di udara bebas.


Sena lalu menatap bayangan jendela yang membentuk pola kotak beraturan.


Membuat Sena mengangkat kembali kaki yang hampir menyentuh bayangan tembok yang terhalang cahaya, lalu meletakkannya di bayangan jendela penuh cahaya yang membuat jam tangannya berkilau.

__ADS_1


Ia menjalankan sang kaki dengan mengikuti peraturan yang dibuatnya sendiri, sampai tiba di ruangan luas dengan meja-meja panjang dan kursi tanpa sandaran.


Sudah ada beberapa orang yang menempati bangku kedua dari depan, menatap kehadiran mereka sekilas lalu kembali berkutik dengan ponselnya.


Zalva meletakkan tasnya di pojok kiri belakang dekat wastafel, diikuti Sena yang duduk di sampingnya.


"Duduknya bebas, tak harus denganku."


Sena menatap Zalva sebentar lalu mengangguk pelan.


Lagipula tidak ada teman sekelas yang lebih dekat dengannya dibanding Zalva, meskipun mereka jarang berbincang di kelas.


Penyebabnya tentu saja karena sepanjang pelajaran Sena melakukan salah satu dari pilihan ini; merenung, mencorat-coret, atau tertidur.


Sedangkan Zalva mengikuti kelas dengan tenang dan khidmat.


Sena menatap kelas yang mulai ramai, penasaran sekaligus takut dengan orang yang akan duduk di sampingnya.


Dari bangku depan yang mulai terisi, ia mengetahui meja panjang ini berkapasitas empat orang.


Artinya akan ada dua orang lagi yang mengisi meja mereka.


Dari pengamatannya pagi ini, mereka berkelompok sesuai geng masing-masing.


Geng ketua kelas yang berisi anak pintar, geng sekretaris berisi anak centil, geng orang kaya, geng senggol-bacok, geng nakal, dan geng julid.


Sena dan Zalva berada di antara mereka sebagai penyendiri.


Namun hingga bel masuk berbunyi dan guru mapel masuk, dua bangku di sebelah Sena tetap kosong.


Yang entah mengapa melegakan hatinya.


Ia tak harus canggung berbasa basi dan memikirkan perbuatan apa yang baiknya dilakukan selama pelajaran berlangsung dengan mempertimbangkan gaya belajar mereka.


Setidaknya selama enam jam ke depan sampai istirahat makan siang, tubuhnya tak harus kaku dan waspada.


Tanpa disadari Zalva telah masuk dalam daftar orang-orang yang berada di lingkup nyamannya.


Tempatnya bisa melepas topeng sosial yang memberatkan batin.


Zalva menghela napas melihat Sena mulai tertidur di jam kelima pelajaran mereka.


Mulai dari fase diam menatap papan tulis dengan mata terpejam, kepala terkantuk-kantuk, pipi ditopang telapak tangan, hingga akhirnya menempelkan pipi pada bukunya.


Entah mengapa keberadaan seseorang di sampingnya terasa asing dan tak biasa.


Ia terbiasa duduk sendirian di manapun mereka belajar.


Di kelas, di ruang bahasa, lab, ruang seni, sampai pembelajaran outdoor di taman belakang dilaluinya sendirian.


Lalu hadirlah sosok teman sebangku yang agak mirip dengan Tera, mengikutinya kemanapun ia pergi.


Seperti saat ini; di kesempatan bebas duduk dengan siapapun, Sena membuntutinya duduk di belakang.


Kejadian tak biasa ini terus terulang selama seminggu, membuatnya mau tak mau terbiasa dengan kehadiran Sena.


Terbiasa dengan kehadiran orang lain di kesendiriannya.


Sena mengernyit tak nyaman dalam tidurnya, lalu memindahkan pipinya menghadap ke arah Zalva.


Bahkan terpaan sinar matahari di pipinya tak mampu membuatnya terbangun.


Membuat Zalva mengambil buku paketnya dan menaruhnya keadaan berdiri, memutus sinar matahari supaya bersinar hanya sampai sampul bukunya.


Menghalanginya tercetak di pipi Sena.


Bel istirahat kedua berkumandang, membangunkan Sena dari tidur panjangnya.


Ia menutup mulutnya yang menguap sambil meregangkan badan, merasa segar setelah tidur selama hampir satu jam hingga bermimpi jalan-jalan di pantai.


Teman sekelasnya mulai keluar satu persatu kala ia mengeluarkan bekal dan botol minum, kemudian menatanya berjajar di meja.


Suasana makan siang kali ini nampak berbeda sebab meja panjang putih yang menjadi alas makannya.


Teman-temannya sibuk berkemas untuk dua jam pelajaran berikutnya yang berlangsung di aula.


Mereka membawa barang bawaannya keluar sekalian makan di kantin.


Sena menatap kesibukan teman-temannya sambil mengunyah dan mendengarkan percakapan mereka.


Ada yang membahas tentang kemungkinan materi yang akan dibahas di kelas wirausaha mereka nanti.


Ada juga yang mengeluhkan lelahnya berpindah-pindah, menjadikan kelas mereka yang membosankan karena ditempati setiap hari terasa spesial di hari-hari semacam ini.


Ada juga yang membicarakannya diam-diam.


Di mata mereka, dirinya direpresentasikan secara berbeda.


Ada yang menganggapnya pendiam, penyendiri, dan tidak suka bergaul.


Sebagian lagi menganggap ia penyendiri karena merasa tidak pantas bergaul dengan murid biasa. Ia hanya berteman dengan sesama atlet.


Rumor terus bergulir di sekitar Sena, membuatnya jadi was-was dan sulit berteman.


Membuatnya memutuskan untuk sementara ini menjadi penyendiri adalah keputusan terbaik.


Lalu rumor-rumor lain yang tak kalah menyakitkan lewat di telinganya.


Rumor tentang Zalva yang dirisak dan ditendangi kakak kelas.


Sebenarnya Sena sudah mendengarnya dari tadi pagi, sejak teman sekelasnya diam-diam menertawakan Zalva yang menutupi wajahnya dengan masker.


Rumor ini berawal dari Udin, teman sekelas yang paling update berita terbaru yang terjadi di seantero sekolah, pagi tadi memasuki kelas dengan heboh.


Dari sorot mata dan intensitas kehebohannya, nampaknya berita ini sedang booming.


Semua orang langsung berkumpul di meja Udin, bersemangat menantikan berita panas yang dibawanya.


Udin mengatakan, per hari ini ada beberapa murid kelas tiga yang mendapat dis selama tiga hari.


Selama itu mereka tetap berangkat untuk belajar mandiri di ruangan terpisah dengan diawasi guru piket, tidak boleh membawa ponsel, dan dilarang pulang sebelum bel berbunyi.


Ditambah selama istirahat siang mereka diharuskan membersihkan toilet sekolah.


Karena perbuatan merisak dan menendang adik kelas sampai wajahnya babak belur dan mengharuskannya dibawa ke rumah sakit.


Kejadian itu terjadi jumat lalu, yang diketahui para guru dari laporan orangtua korban.


Secara kebetulan, Zalva terlihat memenuhi kriteria korban dengan masker yang tak pernah lepas dari wajahnya seharian ini.


Lalu keluarlah kata-kata ejekan dari mulut busuk mereka.


Dia pantas mendapatkannya.


Kalau aku jadi kakak kelas itu, aku juga ingin menghajarnya begitu melihat wajahnya.


Dan kalimat-kalimat lain yang membuat Sena mengernyitkan alis, tidak terima dengan ejekan mereka.


Kalau memang terjadi situasi semacam itu, Sena yakin Zalvalah yang menghabisi sang kakak kelas.


Meski masker hitam itu memang dimaksudkan untuk menutup luka.

__ADS_1


Sena menyadarinya pagi tadi ketika mendapati luka di tubuh Tera dan Rio.


Mereka berdua membiarkan lukanya terlihat publik, menilik kepribadian mereka yang memang nampak seperti berandalan.


Tak seperti luka di tubuh sang anak teladan yang tentu akan menimbulkan banyak spekulasi buruk.


Satu persatu teman sekelasnya pergi keluar, meninggalkan Sena yang tengah membereskan makanannya dan Zalva yang fokus membaca.


Zalva kemudian menutup bukunya dan berkemas.


Ia memang berniat menunggu Sena menyelesaikan makanannya lalu pergi ke aula karena meyakini Sena tidak tahu letaknya.


Sena cepat-cepat memakai tas dan mengikuti langkah Zalva yang menunggunya di pintu.


Begitu melangkah keluar, Zalva bertabrakan dengan Dion yang kembali untuk mengambil topinya yang tertinggal di meja guru.


"Duh! Jangan berdiri di pintu makanya!"


Dion yang termasuk geng senggol bacok itu mengambil topinya sambil menggerutu lalu keluar tanpa meminta maaf.


Membuat Zalva meringis memegangi pipinya yang ditabrak kepala Dion dengan kencang.


Sena menarik Zalva duduk di bangku terdekat lalu mengeluarkan sebuah wadah.


Wadah berisi plester dan alat P3K, sang penghuni tetap tas sekolahnya sebagai bekal dasar seorang atlet yang terbiasa jatuh dan terluka.


"Buka maskermu."


Zalva hanya diam, berpura-pura baik-baik saja meski pipinya berdenyut tak karuan.


"Gak ada siapapun di sini selain kita."


Zalva masih bergeming, enggan menatap Sena.


"Gak usah khawatir. Kamu bisa lepas masker di depanku. "


"Gak papa- uhh.."


Zalva melenguh karena lukanya kembali berdenyut terkena masker akibat gerakan mulutnya.


"Tuh, kan!"


Zalva akhirnya mengalah dan membuka maskernya.


Sena terkejut memperhatikan pipi kanan Zalva yang bengkak dan nampak lebih besar dibanding sisi lainnya, dengan luka mengoreng yang masih basah di sudut bibirnya.


Luka itu kembali terbuka dan mengeluarkan darah akibat tabrakan keras tadi.


Sena mengambil kapas dan menuangkan alkohol di atasnya, lalu menempelkannya pada setitik darah itu.


Membuat Zalva mengerang dan menjauhkan wajahnya.


"Aku sendiri aja-"


"Udah tahan aja sebentar!"


Sena kembali menempelkan kapasnya ke luka Zalva, memastikan darah itu terangkat sepenuhnya.


Lalu diambilnya kapas bersih lain dan menetesi alkohol diatasnya.


"Biar kubantu-"


Belum sempat Zalva merebut kapas di tangan Sena untuk mengobati sendiri lukanya, kapas itu sudah berada di pinggir bibirnya.


"Auh!"


Sena lalu mengambil kapas lain untuk membersihkan luka kecil di bagian pipinya yang lain.


Melihat mata Zalva yang masih khawatir dengan terus mengawasi situasi di sekitarnya, membuat Sena membuka mulutnya.


"Kamu gak perlu jadi anak teladan di sekitarku."


Zalva mengalihkan pandangannya pada Sena yang tengah mengelupas plester.


"Aku gak akan bilang siapapun. Tenang saja."


Darah Zalva berdesir mendengarnya.


Membuat netranya tanpa sadar mengikuti semua gerakan Sena.


Sena lalu memfokuskan pandangannya pada luka yang hendak ditutup.


Agaknya rambut panjang Zalva menghalangi proses pengobatannya.


"Rambutmu tolong di..."


Zalva yang mengerti maksud Sena segera menyibak rambutnya ke belakang dan menahannya.


Membuat Sena terdiam menatap sang teman sebangku yang pertama kali menampakkan wajahnya.


"Kamu terlihat..."


"...terlihat apa?"


Sena mengalihkan pandangannya kembali pada plester di tangannya, menyadarkan dirinya yang terpesona menatap Zalva.


Membuat jantungnya seketika berdetak lebih cepat.


Memaksa matanya mengalihkan pandangan ke area manapun selain mata Zalva.


Mencoba fokus menempelkan plester itu pada luka Zalva dengan tangan gemetar.


Ketika akhirnya selesai menempelkan plester sambil menahan napas, tangan Zalva meraih kepalanya dan membawanya berjongkok ke bawah.


Terdengar dua pasang kaki yang melangkah mendekat.


Sena menutup mulutnya, berusaha menahan napas untuk kedua kalinya. Kali ini untuk alasan yang berbeda.


Tangan Zalva yang menahan kepalanya memaksa wajah Sena berhadapan dengan pundak Zalva.


Sena mencoba menahan kepalanya agar tidak menyentuh pundak Zalva dengan berpegangan pada seragam Zalva dan menahan berat tubuh dengan tangan kirinya.


Tangan gemetar Sena yang memegang ujung seragamnya menyadarkan Zalva akan posisi mereka yang canggung.


Mereka berdua menunduk di bawah meja dengan kepala yang saling berdekatan.


Membuat Zalva bisa melihat dengan jelas bulu mata Sena yang bergerak naik turun.


Jantungnya berdebar menyadari tangannya yang tanpa sadar mendekap kepala Sena.


Mereka berdua saling mengalihkan pandangan, mencegah wajah mereka bergerak semakin dekat.


Saling mengkhawatirkan detak jantung yang mungkin akan terdengar saking kencangnya berdebar.


Dalam suasana canggung itu, terdengar suara familiar memasuki telinga mereka berdua.


Suara Tera.


"Jangan bilang-bilang Zalva, ya."


Membuat Zalva keluar dari persembunyiannya dan menatap sang pembicara yang juga terkejut akan kehadiran Zalva.

__ADS_1


Tera menutup mulutnya karena tertangkap basah oleh orang yang paling tidak diinginkan mendengar percakapan ini.


" Apa maksudmu?"


__ADS_2