
Zalva menatap percakapan whatsapp antara dirinya dan Doki di ponsel.
Pesan terakhir yang ia kirim kemarin hanya bertanda centang dua biru.
Pun dengan pesan-pesan dari dua hari sebelumnya; hanya terbaca tanpa balasan apapun.
Padahal biasanya Doki paling pandai membalas pesan.
Ia punya segudang stiker meme yang dikeluarkan sesuai dengan emosi yang ingin disampaikan.
Dari marah, sedih, tertawa, malu-malu, sampai gambar bergerak berupa bapak-bapak sedang berjoget.
Apalagi stok bahasa gaul dan singkatan terkini yang selalu digunakan di setiap pesannya.
Diperbarui setiap saat sampai Zalva lelah menanyakan maksudnya.
Intinya, Doki adalah penggemar dunia maya pengikut tren yang hampir selalu fast respon.
Untuk seorang maniak sosmed semacam dia, akan terlihat sangat aneh jika pesannya tidak terbalas barang satu kalimatpun.
Zalva merasakan aura kemarahan dari caranya mendiamkan pesannya.
Dalam setelan umum Doki, ia akan membalas lebih panjang dari pertanyaan yang diajukan.
Terdiri dari pesan balasan yang biasanya dipisah menjadi dua atau tiga bagian singkat, lalu diikuti gambar stiker di bawahnya.
Namun pesan singkat maupun panjangnya terus diabaikan tanpa balasan apapun.
Zalva menduga Doki mungkin marah karena ia mengirim pesan tentang rencana pengunduran dirinya.
Karena Doki adalah anggota yang paling bertekad membawa nama Sulivan ke puncak tertinggi.
Paling bersemangat mengiyakan kala tawaran berkelahi datang kepadanya.
Teriakan pelatih taekwondo lalu mengagetkan Zalva dan menarik pikirannya yang menerawang jauh untuk kembali berpijak ke bumi.
Menatap tas biru yang dijinjing sang tangan kanan sambil bertanya-tanya kenapa pemiliknya belum juga kemari.
Mungkin kebetulan ia bertemu dengan temannya dan mulai berbincang.
Seperti yang dilakukan sang ibu tiap kali bertemu kenalannya di jalan.
Satu orang kenalan saja bisa menghabiskan waktu lebih dari sepuluh menit, memperbincangkan basa-basi kehidupan yang seringnya membosankan.
Atau jangan-jangan... Sena tersesat?
Teman sebangkunya itu memang punya kelebihan berupa buta arah parsial yang sedikit parah.
Sedikit karena belum genap dua minggu dia menjelajahi lingkungan sekolah ini.
Parah karena menurut penuturannya di sela-sela pembicaraan mereka di aula tadi, ia pernah tersesat di jalan pulang hanya karena perbaikan jalan dan gedung penentu belokan yang catnya berubah jadi abu-abu.
Padahal jalan itu terbiasa dilewatinya tiap hari selama kurang lebih satu setengah tahun selama ia bersekolah di SMA.
Dari cerita yang dianggapnya tidak masuk akal itu, ia memutuskan melangkahkan kakinya menuju gerbang belakang untuk mencari Sena.
Barangkali ia betulan hilang tak tahu arah.
Kemudian dari kejauhan, jantungnya seakan berhenti berdetak kala melihat Sena yang berdiri berhadap-hadapan dengan Bi, pemimpin Oreo yang dari kemarin terus mengganggunya di telepon.
Tungkainya otomatis berlari cepat penuh tenaga demi melihat Bi yang mulai maju mendekati Sena.
Lalu memposisikan diri menengahi mereka, memunggungi Sena agar berdiri di belakangnya.
Bi menghentikan langkahnya, memandang sinis sang penghalang yang sebagian wajahnya tertutupi poni.
Ia mengenali sorot mata tajam dibalik rambut dan seragam teladannya.
Membuatnya tertawa begitu lantang dan menyeramkan sampai Sena menyembunyikan tatapannya di balik punggung Zalva.
__ADS_1
"Penampilanmu cukup mengejutkan."
Zalva melirik Sena yang mencubit sedikit kemeja bagian punggungnya.
Bi mengernyit menatap Zalva yang kembali melihatnya tajam bagai menguliti tubuhnya.
"Jadi kalian-"
"-gak usah sok akrab. Kita gak ada urusan apapun."
Bi menahan bibirnya yang hampir tersenyum senang.
Hatinya berbunga-bunga begitu menemukan kelemahan lawan yang selalu menang darinya itu.
"Aku sedih kamu tak pernah membalas pesan ajakan muliaku. Ternyata ini yang kamu lakukan."
Bi menatap daun kering yang terhuyung jatuh di pundaknya, lalu mengambilnya pelan.
"Kita gak ada urusan apapun. Aku sudah berhenti."
Netra Bi memicing menatap keseriusan Zalva lewat sorot matanya.
"Kuberitahu ya, orang setia kawan sepertimu tak akan bisa berhenti."
Daun kering yang tergenggam itu kemudian ditimang-timang, sedang dipikirkan perlakuan apa yang akan didapatkan.
"Ah, apa ibumu tahu soal dunia malammu?"
Bi mengangkat daun coklat rapuh itu setinggi pandangan mata untuk menutupi tajamnya sorot sang lawan.
"Sudah kubilang kita tak ada urusan."
Zalva merasakan getaran tangan Sena yang merambat melalui kemejanya.
Diambilnya tangan yang gemetar itu lalu ditariknya pergi meninggalkan Bi yang makin menampakkan seringainya.
Lalu memasukkan kedua tangannya ke saku dan bersiul senang sembari melangkahkan kaki.
Ketika bayangan Bi yang nampak di ujung matanya mulai menjauh, segera didudukkan tangan yang gemetar itu di kursi melingkar taman belakang.
"Kamu baik?"
Sena melepaskan genggaman hangat itu untuk menopang tubuhnya yang seketika lemas.
"Iya."
Mereka lalu duduk berdampingan setelah Sena meneguk air putih dalam botol miliknya yang dikeluarkan oleh Zalva.
Wah, jadi begini rasanya terdiam lemah menyaksikan pelaku penyebab cederanya tanpa bisa berbuat apapun.
Padahal setiap kali teringat kejadian itu, ia berjanji akan mengumpatinya dan memberinya pelajaran setimpal.
Namun ketika berhadapan langsung seperti tadi, badannya malah gemetar tanpa sanggup mengucap sepatah umpatan yang telah direncanakannya.
Aura kebengisan orang itu berada di luar jangkauannya.
"Kamu masih gemetar."
Sena menahan napas begitu merasakan kehangatan menggenggam tangan kirinya.
Kehangatan itu mengelus jemarinya pelan, menghantarkan sensasi menggelitik ke paru-parunya.
"Maaf membuatmu ikut terlibat dalam urusanku."
Sena tersenyum, menyangkal pernyataan pesimis Zalva yang nampak menyalahkan dirinya sendiri.
"Itu bukan salahmu."
Lalu menatap tangan Zalva yang masih bertautan dengan tangannya.
__ADS_1
"Orang-orang seperti dia memang suka berbuat seenaknya sendiri, mengganggu siapa saja yang berhubungan dengan musuhnya."
Suaranya hampir tercekat kala mengatakan kalimat panjang itu, sebab ingatannya akan perbuatan Tina di masa lalu menyeruak menampilkan diri di saluran otaknya.
Perbuatan merongrong siapapun yang jadi lawannya di turnamen manapun.
Bahkan orang yang dekat dengan lawannya tak lepas dari tatapan menghina Tina.
Sena sungguh menyesal tak pernah berusaha mencoba menghentikan Tina.
Ia hanya diam, membutakan matanya sendiri akan perbuatan buruk Tina karena itu memang tabiatnya.
Memaklumi keburukan itu dengan dalih menerima baik buruk temannya dengan lapang dada.
Memaklumi perbuatan buruk Tina hanya karena embel-embel teman.
"Syukurlah kamu datang."
Sena menatap Zalva yang tengah mengamati langit dengan pandangan kosong.
"Dunia butuh orang sekuat dan sebaik kamu untuk melawan orang-orang seperti mereka."
Beberapa menit berlalu dengan keheningan, saling terdiam dengan pikiran masing-masing.
Sampai sebuah bola tenis menggelinding mengenai sepatu Zalva diikuti seorang perempuan yang canggung hendak mengambilnya.
Lepaslah genggaman mereka berdua yang baru disadari Zalva di saat-saat terakhir ia melepaskan jemari Sena.
Membuat ujung telinganya memerah dan mengajak Sena untuk segera pulang tanpa menolehkan wajahnya.
Berjalanlah mereka berurutan menyusuri jalan setapak depan sekolah yang cukup lengang.
Hanya tersisa beberapa siswa yang tengah menunggu jemputan; ada yang duduk di trotoar dan ada yang bersandar di tembok gerbang.
Mereka semua memiliki raut muka yang sama; kesal menunggu seseorang yang tak kunjung datang.
Karena satu jam lebih telah berlalu sejak bel pulang sekolah berbunyi.
Sena menatap raut muka mereka satu per satu, sembari memilih topik obrolan yang direkomendasikan sang otak untuk membunuh kecanggungan ini.
"Kamu...keluar?"
Bahu Zalva berjengit mendengar suara pelan perempuan di belakangnya.
"...iya."
Sena menatap tas hitam legam tanpa ornamen dan tambahan apapun yang mengayun pelan karena bergelantung di punggung yang sedang berjalan.
"Kenapa?"
Zalva menatap bayangan yang mulai memanjang, membuat bayangan Sena susul menyusul dengan bayangan tubuhnya.
"Tera sakit."
Ia lalu dikagetkan oleh bayangan panjang lain yang bergabung dengan bayangan mereka berdua.
"Tera?"
Sena menatap kaget laki-laki yang entah sejak kapan berdiri di sebelah kanannya.
"Apa maksudmu?"
Zalva mengenali suara bayangan lain itu, membuatnya menghentikan langkah tanpa menoleh.
"Jadi kau berhenti karena Tera?"
Bayangan yang akhir-akhir ini selalu dinantikan respon pesannya.
Doki.
__ADS_1