
Zalva menggengam selembar kertas itu erat-erat, takut akan tulisan yang tercetak diatasnya.
Ia putuskan memasukkannya kembali ke dalam map coklat untuk dibuka bersama Rio yang tengah pergi membeli kopi.
Hanya membaca nama lengkap yang tertera pada hasil laboratorium rumah sakit saja sudah mampu membuatnya tercekat.
PUTERA AMARTA
Nama sang pengikut setia yang sosoknya terus terekam di pikirannya sejak siang tadi.
Tepatnya setelah insiden Tera yang sengaja pergi jauh ke ruang lab untuk memberitahu Rio mengenai hasil check up dan meminta untuk merahasiakannya dari dirinya.
Yang kebetulan berada di sana dan memergoki mereka.
Sang tersangka, Tera, malah bersembunyi di balik punggung Rio ketika diminta untuk menjelaskan maksud dari perkataan ambigunya.
Perkataan mencurigakan yang menyuruh Rio merahasiakannya kepada Zalva.
Rio yang mau tak mau harus menjelaskan situasi, memikirkan jawaban yang tepat sambil menggaruk leher belakangnya yang sama sekali tidak gatal.
Tatapan penasaran Zalva yang lebih mirip sorot ancaman membuatnya panik meski tatapan itu sejatinya ditujukan untuk manusia penakut di belakangnya.
Membuat mulutnya bergerak lebih cepat dibanding sang otak, mengatakan hasil pemeriksaan laboratorium Tera keluar siang ini.
Rio sengaja tidak menambahkan hal penting lain yang didiskusikan Tera dan dirinya tadi.
Membiarkan Zalva mengetahuinya siang ini ketika mengambil hasil lab.
Kemudian sepulang sekolah, mereka bertemu di tempat biasa; depan warung bakso belakang sekolah.
Perundingan singkat mereka berbuah keputusan berupa sang pasien, Tera, tidak akan ikut.
Tentu saja anak bawang ini sempat pundung dan mengancam tidak akan menjemput Zalva lagi jika ia tidak dibolehkan keluar oleh sang ibu.
Ancaman yang tentu saja kurang kuat untuk menundukkan seorang Zalva.
Berangkatlah mereka berdua, Rio dan Zalva, dengan berboncengan menaiki motor Rio ke rumah sakit.
Sepanjang dua puluh menit perjalanan mereka, Rio mulai menyesali keputusannya mengantar Zalva.
Sebab percobaan komunikasi yang selalu diawali olehnya selalu gagal.
Bertanya apa dijawab apa, bercerita dibalas dengan tawa bermakna 'tak mengerti', tidak memanggil tapi menyahut, dan miskomunikasi lainnya.
Membuat Rio memutuskan untuk tidak turun dari motor dan menawarkan membeli kopi.
Meninggalkan Zalva yang bimbang dengan amplop coklat di tangannya.
Zalva memutuskan untuk membuka dan membacanya setelah berkali-kali kertas itu keluar masuk amplop tanpa perhatian sang mata.
Ia lalu fokus dengan kumpulan huruf dan angka yang dicetak dengan font kecil, membacanya satu persatu.
Tulisan berbahasa kedokteran yang lumayan sulit dibaca itu diterjemahkan dengan mudah oleh otak pintarnya.
Yang membuat Zalva terdiam cukup lama setelah membacanya.
"Hei."
Zalva mengambil segelas es cappuccino di depannya tanpa menoleh.
Rio menyesap es kopinya sambil menghela napas melihat tingkah Zalva.
Mungkin inilah alasan kenapa Tera tak mau memberitahukannya kepada Zalva sampai membawanya jauh-jauh ke ruang lab yang biasanya sepi tak ada orang.
Meski ia sepenuh hati meyakinkan Tera untuk mengatakannya di tempat sepi manapun yang lebih dekat karena Zalva tidak akan keluar kelas sampai pelajaran selesai, ia tetap ngotot pergi ke tempat terjauh demi menjaga rahasianya.
Ya, perkiraan mereka memang benar.
Zalva berada di kelas, dan ruang lab nampak sepi.
Namun kombinasi antara dua perkiraan yang tak pernah terpikirkan itu menghancurkan mereka.
__ADS_1
Zalva masih berada di kelasnya yang kebetulan hari itu adalah jadwal kelasnya menempati laboratorium.
"Sejak kapan?"
Rio menggeser pupilnya ke kanan, mencari ingatan pembicaraannya dengan Tera siang tadi.
"Sejak insiden pengeroyokan itu."
Zalva mengeratkan genggamannya sampai sang kertas bergetar pelan.
Sorot matanya nampak sedih dan marah secara bersamaan.
Membuat Rio menghela napasnya pelan, lalu ikut mendudukkan diri di samping Zalva.
Memandang sendu langit biru yang begitu cerah tanpa satupun awan lewat.
"Haruskah kita berhenti?"
Ia dan Tera tahu persis Zalva akan bereaksi seperti ini.
Meski tampak cuek dan dingin, Zalva memikirkan dan mendahulukan teman-temannya di atas dirinya sendiri.
Sifat itulah yang membuatnya segan pada Zalva dan beralih mengikutinya tanpa pikir panjang.
"Kalau begini terus, tidak hanya Tera yang terluka. Mungkin kau juga-"
Rio menepuk pundak Zalva keras, lalu mengalungkan tangannya di sana.
"Heh, aku lebih kuat dari si cengeng itu!"
Rio menepukkan tangannya ke dada, bersikap seolah tengah memenangkan kompetisi.
Yang membuatnya lega melihat Zalva tersenyum tipis sebab kelakuannya.
Meski nampak jelas bukan senyum bahagia.
Rio lalu pamit pergi les setelah menawarkan tumpangan pulang pada Zalva.
Dan ia memang berencana pulang naik bus dari tadi.
Jarak antara rumah sakit dan halte bus cukup jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki.
Langkah santai manusia biasa butuh sekitar dua puluh menit untuk menempuhnya.
Sebenarnya ada halte bus yang dekat dengan rumah sakit, tepat di seberang jalan.
Namun bus yang lewat di sana mengambil rute yang berbeda dari arah rumahnya; menuju ke atas arah pegunungan.
Yang tidak akan melewati gang rumahnya yang terletak di pinggir kota.
Zalva menolak dan tetap berjalan kaki meski Rio berhenti untuk sekali lagi menawarkan tumpangan.
Ia sengaja memilih berjalan kaki cukup lama untuk menata pikiran kalutnya.
Amplop yang telah berpindah tempat ke dalam tasnya, isinya masih saja melayang-layang di otaknya.
Tendangan keras di perut Tera membuat jaringan dan ototnya membengkak; yang juga merupakan penyebab utamanya muntah darah ketika para perisaknya sudah kabur.
Pembengkakan itu biasanya sembuh paling cepat seminggu setelahnya dengan resep dokter dan istirahat yang cukup.
Tera tidak masuk sekolah selama tiga hari karenanya; yang tentu saja harus dipaksa dengan ceramah Zalva dan tamparan Rio yang tak habis pikir melihat tubuh lemas itu meminta berangkat sekolah.
Tiga hari setelahnya ia nampak lebih baik, berangkat sekolah dengan riang seperti biasa meski Zalva yakin ia masih belum sembuh sempurna.
Melihat senyum ceria Tera membuat Zalva mengurungkan niatnya untuk bertanya mengenai penyembuhannya.
Yang ternyata selama ini masih bolak-balik ke rumah sakit untuk mengontrol lukanya.
Dari penjelasan di kertas tadi, tertulis bahwa organ dalamnya cidera dan membengkak, membuat Tera harus melakukan rawat jalan dan bolak-balik rumah sakit untuk periksa.
Penyembuhannya membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk kembali ke kondisi normalnya.
__ADS_1
Mengharuskan Tera absen dari aktivitas berat agar tidak membebani organnya.
Cengiran Tera ketika dimarahi olehnya siang tadi membuat hatinya sakit.
Harusnya ia tolak permintaan Tera untuk mengajarinya bertarung kala itu.
Harusnya ia tolak permintaan Tera untuk mengikuti Doki dan dirinya yang hendak tawuran.
Harusnya ia menolong Tera yang tengah dirisak di pertemuan pertama mereka dengan berbincang baik-baik, tanpa memperlihatkan skill bertarung yang membuat Tera merengek minta diajari.
Harusnya ia dan Tera tidak pernah bertemu.
Bukan karena menyesal merekrut anak cengeng sebagai anggotanya, bukan karena sikap Tera yang menyebalkan jika tengah pundung, atau karena kemampuannya yang paling lemah diantara mereka.
Zalva sangat menghargai ketulusan dan air mata Tera yang dikeluarkan sia-sia hanya untuk orang buruk semacam dirinya.
Tapi jika pertemuan mereka meninggalkan luka yang mungkin akan berimbas pada masa depan Tera, Zalva memilih untuk tidak lagi bertemu dengannya.
Asap knalpot bus yang membuat setiap paru-paru yang menghirupnya terbatuk-batuk membangunkan Zalva dari angan-angannya.
Segera dilangkahkan kakinya untuk memasuki bus dan duduk di kursi pinggir jendela.
Zalva berusaha mengosongkan pikiran dengan menatap setiap bangunan dan aktivitas manusia yang dilewati bus yang dinaikinya.
Berusaha memompa hal positif menuju otaknya yang terus berpikir negatif.
Tibalah bus ini di lampu merah paling lama di kotanya.
Waktu menunggunya adalah seratus delapan puluh detik alias tiga menit.
Cukup untuk mendengarkan satu buah lagu sampai selesai.
Kalau dilihat dari lokasinya, alokasi waktu itu sudah tepat dengan lima cabang jalan yang diaturnya.
Belum lagi lampu hijau khusus untuk pejalan kaki; karena terdapat pasar kecil khusus kuliner yang selalu ramai dari siang hingga malam.
Membuat jumlah para pejalan kaki yang berkunjung meningkat.
Bila membawa kendaraan, biasanya mereka parkir di dekat taman atau depan supermarket, lalu berjalan kaki kemari.
Zalva menengok angka merah yang bergonta-ganti di depannya, lalu kembali menatap keramaian jalan.
Ia masih punya waktu sekitar dua menit lagi untuk menemukan hal positif guna menggeser pikiran negatif otaknya.
Matanya tertarik pada hiruk pikuk manusia yang berkumpul di bahu jalan, menunggu lampu hijau berpendar.
Ada pekerja kantoran yang terus menatap jam tangannya tidak sabar, pria paruh baya yang menggandeng anaknya, wanita yang sedang berbincang riang dengan bayinya, dan murid sekolah yang ingin berjalan-jalan mencari makanan.
Uniknya, mereka semua berdiri di batas bayangan pohon mangga rimbun di atasnya, berlindung dari sinar matahari siang menjelang sore yang masih sangat terik.
Kecuali dua orang murid yang berdiri di dekat tiang lampu merah, terpisah dengan para penunggu lainnya.
Yang mampu membuat Zalva menggerakkan pupilnya mengikuti gerakan mereka menyeberang sampai hilang di balik gedung toko.
Lebih tepatnya, seorang perempuan yang rambut pendeknya berkibar terkena angin jalanan.
Sena.
Melihatnya tersenyum bercengkrama dengan temannya membuat Zalva ikut tersenyum.
Mengingatkannya pada kecanggungan yang begitu lucu di mata pelajaran terakhir tadi.
Yang langsung menoleh canggung dan menggaruk tengkuknya saat tak sengaja menatap ke arahnya.
Yang langsung berdiri meninggalkan meja begitu bel pulang berbunyi; padahal biasanya diam menunggu teman-temannya keluar kelas agar tidak berhimpitan.
Kelucuan itu tanpa sadar menggeser pikiran negatif Zalva.
Tanpa sadar memasuki otak Zalva, bertempat di sebuah ruang khusus di dalamnya.
Tanpa sadar telah masuk cukup jauh dan menetap di hatinya.
__ADS_1