
"Rekaman yang ini?"
Seorang pria berkumis tipis mengelus dagunya pelan, memperhatikan rekaman video yang sedang diputar di hadapannya.
Video resolusi rendah yang didapatnya dari sang pelapor.
Rekaman amatir itu menjadi barang bukti paling akurat untuk membuktikan alibi korban sekaligus menguak motif sang pelaku.
"Iya benar, yang itu. Tolong disalin ke flashdisk ini."
Ia kemudian keluar dan berbicara dengan kedua rekannya sebelum petugas itu kembali memanggilnya masuk untuk menyaksikan rekaman lain.
"Bapak harus melihat ini."
Sang petugas memutar video berupa rekaman pemeriksaan saksi yang dilakukan kemarin.
Pemeriksaan saksi bernama Aditya Aryo yang merupakan teman korban.
Pria paruh baya yang bertugas menyelesaikan kasus ini menatap lekat-lekat rekaman yang dipercepat di menit ke dua belas.
"Kamu pernah berteman dengan pelaku?"
"Ya. Bi adalah teman dekat saya saat SMP."
Membuatnya semakin mendekatkan diri pada layar di depannya begitu sang telinga menangkap informasi penting.
"Kenapa kamu tidak berteman lagi dengannya?"
"...karena saya tidak suka dengan kelakuannya pada Han."
"Han? Siapa itu?"
"Teman kami yang mengidap leukimia. Kami bertiga teman dekat sejak masuk SMP. Dia meninggal di kelas dua."
Keheningan yang terjadi di rekaman menyeruak masuk melingkupi ruangan empat kali empat meter persegi ini.
Membuat kedua penontonnya ikut menahan napas.
"Han selalu menentang keinginan Bi untuk menjadi berandalan geng motor."
Sang penyidik menautkan kedua alisnya begitu mendengar kalimat yang terucap dari layar di depannya.
"Gara-gara itu mereka berdua bertengkar hebat sampai Han jatuh sakit."
Kepedihan tersirat dalam tatapan mata saksi yang mengarah ke meja.
"Tak sekalipun Bi menjenguknya sampai Han meninggal."
"Saat datang ke pemakamannya, kami berdua berbincang."
"Saya menanyakan kenapa dia tak pernah menjenguk Han sampai detik terakhirnya."
"Bi menjawab Han sudah bukan lagi temannya karena menghalangi impiannya. Ia bilang tidak butuh teman yang penyakitan dan mudah mati."
Sang penyidik menahan napasnya mendengar kalimat mengejutkan itu.
Tangannya sontak bergerak untuk menjeda rekaman, lalu menyuruh sang petugas untuk menyalinnya juga.
Ia lalu duduk di salah satu kursi kosong untuk menunggu salinan videonya selesai, seraya menerawang memikirkan kalimat mengejutkan pelaku yang terus terngiang di kepalanya.
Memikirkan kemungkinan sang pelaku mendapat pemeriksaan kejiwaan setelah video ini disampaikan ke atasannya.
Ia keluar dengan pikiran kalut sebelum suara familiar terdengar menyapanya.
"Siang penyidik! Wiiih lagi pusing, nih?"
Adalah ayah saksi yang kebetulan dikenalnya karena frekwensi pertemuan di masa lalu mereka.
"Siang juga Pak Bos!"
Mereka saling berjabat tangan dan menanyakan kabar, meninggalkan sang saksi yang menatap ayahnya datar.
Adalah Sena yang berdecak kesal menatap sang ayah yang nampak nyaman berbicara di keramaian lorong kantor polisi.
__ADS_1
Inilah kenapa ia tidak suka diantar sang ayah, sebab kemanapun mereka pergi ia selalu bertemu dengan temannya lalu mengobrol sepanjang mungkin.
Dari gestur tubuh dan suara tawanya, bisa dipastikan ia harus bersabar beberapa menit lagi demi menunggu sang Ayah selesai bicara.
Untuk membunuh waktu sepanjang itu, ia mendudukkan diri di bangku terdekat lalu menyalakan ponselnya.
Membuka galeri dan melihat-lihat foto Rara, adik balita Rere ketika bermain ke rumahnya untuk menggantikan batalnya rencana mereka seminggu yang lalu.
Mereka berkunjung kemarin pagi, dengan sambutan hangat ibunya yang membuatkan mereka mochi daifuku.
Cemilan yang akhir-akhir ini disukainya berupa mochi berisi buah-buahan.
Rara memakan tiga buah mochi dengan lahap, membuat sang ibu menyuruhnya membungkuskan sisanya untuk dimakan di rumah.
Rambut yang dicepol dua dengan pipi gembulnya terlihat begitu menggemaskan.
Senyum cerianya memancar dari balik foto, membuat Sena tersenyum memandangi hasil jepretannya.
Sampai jarinya menggeser foto berupa kertas berisi denah area sekolah yang digambar rapi oleh Zalva.
Kertas itu menjadi penghuni tetap tas punggungnya sampai sekarang.
Jemarinya lalu mengirimkan gambar itu lewat pesan whatsapp kepada Zalva.
Ia tetap mengirimnya meski rentetan pesan kemarin masih bertanda centang satu.
Akibat kejadian kontroversial kemarin, Senin pagi menyambutnya dengan surat pengunduran diri Zalva yang menjadi buah bibir terpanas di kelasnya.
Kejadian Sabtu pagi di taman belakang menjadi viral di kota mereka, meski tidak satupun artikel dan media massa yang menyebutkan persis nama sekolah berikut nama orang-orang yang terlibat.
Kejadian itu bahkan sudah punya kode samaran di sekolah mereka untuk mengelabui para guru yang melarang menyebutkan apapun mengenai kejadian itu.
Mereka menamainya Hari Bersejarah.
Siangnya sepulang sekolah, sang wali kelas memanggilnya dan menyatakan mulai besok ia pindah di kelas sebelah, dua-dua.
Meski ia khawatir harus kembali berkenalan dengan orang-orang baru, setidaknya itu lebih baik dibanding merasa asing sendirian di kelas lamanya.
Di hari pertamanya berada di kelas baru, Sena bersyukur diberikan kelas dengan suasana yang lebih hangat.
Mereka lebih penasaran dengan masa masa atletnya dan latar belakang yang mendasarinya berakhir di kelas biasa.
Tepukan di pundaknya menyadarkan Sena untuk memasukkan kembali ponselnya ke saku celana lalu berdiri menyalami teman sang ayah.
"Ini Pak Didi. Beliau yang ngurusin kasus ini, kenalan Ayah."
Pak Didi menertawakan kalimat itu dan membalasnya.
"Ha ha ha... Tahu gak kamu darimana kita bisa kenal?"
Yang kemudian memunculkan kerutan bertanya-tanya di dahi Sena.
"Dulu ayahmu ini bandel sekali sampai berkali-kali berurusan sama polisi.."
Mereka berdua lalu tertawa dengan tawa khas bapak-bapak yang membuat semua orang di lorong itu menoleh.
Membuat Sena merasa malu meski tidak melakukannya.
Sang Ayah lalu menyuruhnya keluar duluan dan menunggunya di bangku taman, sementara ayahnya akan pergi mengambil motor yang berada di bengkel dekat kantor.
Sebelum melangkah, ia dikejutkan oleh Pak Didi yang berkata pelan padanya.
"Ayahmu dulu juga pemimpin geng, sama seperti temanmu."
Membuat Sena menghabiskan perjalanannya menuju bangku dengan mengingkari fakta yang baru saja diketahuinya.
Ayahnya yang kelewat taat pada peraturan jalan dan rambu-rambu lalu lintas itu seorang pemimpin geng?
Padahal cuma pergi menyeberang jalan raya untuk masuk indomart saja ia harus memakai helm; yang jaraknya hanya sepanjang dua ratus meter dari rumah.
Apalagi cara mengemudi yang monoton anti ugal-ugalan meski dua menit lagi gerbang sekolahnya tertutup.
Dari semua kelakuan itu, tentu saja Sena tak mempercayai kalimat mencengangkan dari Pak Didi barusan.
__ADS_1
Ia berniat menanyakannya kepada sang ibu begitu sampai di rumah.
Satu menit kemudian, ia bertemu Tera dan Rio yang juga keluar dari lorong yang sama.
Mereka duduk menjejerinya setelah sapaan singkat lalu berbincang-bincang seputar keadaan mereka.
Tera berkata rawat inapnya dimulai minggu depan, di rumah sakit yang sama dengannya.
Perut Rio yang tertendang sampai pingsan telah membaik sejak lama, tepatnya sejak malam senin.
Namun karena terlanjur mendapat dispensasi selama tiga hari, ia gunakan kesempatan itu untuk bersenang-senang bersama Tera.
Mereka bahkan pergi bersama Doki naik kereta ke kota sebelah untuk mengunjungi wahana bermain selasa kemarin.
Membuatnya menjadi ingin berkunjung ke sana juga bersama Rere demi mendengar cerita keseruan mereka.
"Zalva gak diajak?"
Pertanyaan spontan Sena membuat keduanya terdiam dan saling bertatapan.
"Whatsappnya aja centang satu."
Sena menganggukkan kepalanya.
"Oh... Pantesan pesanku kemarin juga centang satu."
Tera menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tengah memutuskan apakah ia akan atau tidak akan berbagi informasi yang baru saja mereka terima dari Ayah Zalva.
"Emm, sebenernya..."
Rio menatap Tera yang terlihat ragu-ragu mengatakannya.
"Zalva berangkat ke Australia hari ini."
Rio mengatakan kalimat itu menggantikan Tera yang terus-terusan maju mundur sehingga membuatnya ujung lidahnya gatal untuk mengeluarkan kalimat yang telah tersimpan di baliknya.
Toh kalimat itu memang hendak dikatakan kepada Sena.
"Iya. Dia minta pindah sekolah ke sana."
Sena menganggukkan kepalanya lagi, mengerti alasan pesan-pesannya dibiarkan tidak tersentuh.
Zalva mungkin sudah membuang nomor lamanya mengingat ia akan sekolah di luar.
Juga membuang kenangannya selama bersekolah di sini.
Entah mengapa hatinya sesak mendengar kalimat itu.
Suara klakson dan knalpot yang beradu mengalihkan fokus mereka pada motor sport berbadan biru cerah di depan mereka.
Membuat Tera dan Rio takjub dengan kejantanan suara mesinnya.
Apalagi melihat helm full-face abu-abu pekat terbuka di hadapan mereka, yang menampilkan senyum cerah Ayah Sena.
Mereka berdua berseru senang dan berdiri mendekat, hendak mengamati motor keren itu dari dekat.
Satu-satunya yang memasang wajah datar hanyalah Sena.
Ia memakai helm hitam putih bergambar panda miliknya sambil memikirkan kembali perkataan Pak Didi yang sempat dilupakannya begitu melihat sebuah bukti kuat yang tak pernah disadarinya.
Motor kesayangan sang ayah itu katanya adalah motornya sejak masih muda.
Semua bodi luarnya diganti dengan model yang lebih baru, dengan mesin yang tetap sama.
Ia bahkan mengenal teman-teman sunmori sang ayah yang seringkali mampir ke rumah.
Dalam keraguan itu, sebuah pesan muncul menggetarkan ponselnya.
Membuat Sena meraih sakunya dan membuka kunci layarnya.
Satu pesan dari ibunya yang hendak titip sejumlah belanjaan jika belum pulang.
Sebelum mengunci layarnya, matanya terpaku pada bagian percakapannya dengan Zalva yang terlihat sudah centang dua biru.
__ADS_1
Membuat darahnya berdesir kencang menggetarkan hatinya.