SULIVAN

SULIVAN
Jalan


__ADS_3

Sena menatap sendu garis putih yang terjahit rapi di atas celana biru gelapnya.


Ia memutar badannya pelan ke kanan dan kiri, memperhatikan gerakan berombak ujung celananya lewat cermin besar yang sedang diperebutkan teman sekelasnya.


Setidaknya ada lebih dari lima belas kepala yang memperebutkan spot paling strategis untuk sekedar membenarkan rambut atau mempoles kembali riasan mereka.


Semuanya mengincar posisi tengah kaca yang sejajar dengan wajah mereka.


Beberapa orang yang telat memperebutkan posisi depan memilih menaiki bangku panjang di belakang.


Meninggalkan celah kecil diantara kaki mereka yang digunakan Sena untuk memandangi seragam pemicu nostalgianya.


Meski saat berlari tidak begitu sering dipakai.


Alasannya simpel; celananya terlalu panjang.


Sena lebih suka memakai celana sepanjang lutut atau tiga perempat kakinya.


Di hari sang pelatih mewajibkannya memakai seragam olahraga sekolah, Sena menggulung celana ini sampai ke lutut.


Seringkali ia mencela desain celana panjang sang seragam utama yang tidak efisien untuk pelari seperti dirinya.


Tak pernah terpikirkan seragam tercela –menurut pendapat Sena- ini akan memunculkan banyak kenangan manis.


“Hei, pacar si culun.”


Sena menatap satu-satunya orang yang mendekatinya, si sekretaris centil, yang sepertinya berbicara padanya.


“Jujur saja, kau pacaran dengannya karena banyak uang, kan?”


Sena mengernyitkan alisnya dan menatap aneh bulu mata anti badai milik sang sekretaris.


“Apa? Kami tidak-“


Bahu Sena berjingkat karena ditepuk keras dari belakang.


“Jelaslah! Apa lagi daya tariknya kalau bukan uang dan kekayaan?”


Teman sekelas yang diketahui duduk di pojok kiri belakang menyenggol lengan Sena sambil mengangkat kedua alisnya.


“Heh, jangan begitu. Zalva punya daya tarik lain juga tahu!” ucap gadis berambut cepol yang duduk tepat di depannya.


Membuat hampir semua kepala yang ada di sana menoleh kebingungan, tidak mengerti dengan ceramah dadakannya barusan.


Sang teman depan bangku bernama Lia itu tersenyum menatap para mata yang penasaran akan kelanjutan kalimatnya.


“Tentu saja otaknya!”


Terdengar tanda mengerti yang diucapkan dengan beragam reaksi secara bersamaan.


“Pilihan bagus! Kamu bisa dapat nilai A di ujian matematika nanti! Apalagi kalau bisa dekat dengan ibunya, sang guru les matema-“


“Betul, tuh! Kalau beruntung kamu bisa dapat bocoran soal matematika!”


Sena berkali-kali memindahkan pupilnya, menatap para pembicara yang saling bersautan dan membesarkan salah paham antara mereka.


“Tapi kami beneran tidak-“


"Jangan malu begitu! Meski tampangnya macam wibu-"


Gedoran pintu kelas dan teriakan sang guru olahraga membubarkan acara gosip mereka.


Tibalah mereka di lapangan basket indoor untuk segera mengikuti pemanasan, dengan Sena dan Zalva duduk di bangku atas, bertindak sebagai penonton dengan alasan berbeda.

__ADS_1


Sena dengan lututnya yang masih terkilir, dan Zalva yang kaosnya hilang entah kemana.


Meski Zalva terus mengelak, Sena yakin kaosnya disembunyikan oleh teman sekelasnya jika menilik sikap dan tatapan mereka saat Pak Rio menginspeksi.


Gurauan mereka sungguh keterlaluan.


Sementara sang korban merebahkan diri dengan santai di atas empat bangku lipat yang dibuka dan dijajarkan, Sena emosi.


“Kau tak marah?”


“Buat apa?”


Mulut Sena yang hendak mengeluarkan beragam kalimat pencerahan mengatasnamakan keadilan terhenti akibat lanjutan jawaban Zalva.


“Yang ada mereka bakal lebih menyebalkan.”


Mereka berdua kemudian terdiam dengan pikiran yang saling bertolak belakang.


Zalva yang tidak peduli, dan Sena yang terpaku memikirkan konsekuensi yang diterima Zalva jika ia betulan protes dan melawan.


Mengabaikan mungkin adalah opsi paling aman dan bijak menurut Zalva.


“Sudah lapor wali kelas?”


“Pak Pras... mungkin sudah tahu,” ucap Zalva sambil mengangguk dua kali.


Tetap saja, sikap kepatriotan yang ditanamkan kedua orang tua Sena membuatnya tak bisa mengabaikan ketidakadilan menyakitkan ini.


Apalagi perundungan ini sudah terjadi dua kali dalam sehari, dengan kedua matanya sebagai saksi-


“Lagian dengan seperti ini, lebih mudah untuk keluar malam tanpa diketahui.”


Sena menghentikan laju pikirannya, meresapi perkataan Zalva dengan memproyeksikan gambar semu ke dalam imajinasinya.


Benar juga. Siapa yang akan mengenali si culun peringkat pertama yang penampilannya berbeda seratus delapan puluh derajat ketika mengendarai motornya.


“Kalau kabar itu sampai menyebar, biang keroknya sudah jelas.”


Sena merasa disadarkan mendengar kalimat ancaman yang meluncur tanpa penekanan khusus dari mulut Zalva.


Membuatnya terdiam cukup lama, menatap teman sekelasnya yang sedang sibuk berlatih servis voli.


Pikiran kosongnya yang melayang-layang kemudian tersangkut pada ingatan kertas tugas dari Pak Pras yang belum diisinya sama sekali.


Meski sang wali kelas menyarankan ia mengisinya dengan apapun yang berhubungan dengan lari, tangannya menolak untuk mengisi sesuai arahan beliau semalam.


Ia pasti akan mengisi kertasnya tanpa pikir panjang jika saat ini masih sibuk berlari.


Namun ketika tiba waktunya berjalan, Sena malah memikirkan masa depan dari berbagai sudut pandang.


Berandai-andai kalau saja ia tidak cedera dan masih berlari, apakah pikirannya tentang cita-cita akan serumit ini?


"Hei Zalva, kamu punya cita-cita?"


Zalva membuka mata dan membiarkannya terbuka selama tiga detik tanpa berkedip, baru membalas pertanyaan Sena.


"Pembalap motor. "


Sena memandang punggung Zalva yang membenarkan posisi tidurnya menghadap kursi.


Mengagumi masa depan Zalva yang nampak berwarna, tidak abu-abu seperti miliknya.


Sang sekretaris centil yang nampaknya bersekolah hanya untuk tidur dan jajan di kantin itu bahkan punya cita-cita.

__ADS_1


Membuka salon rias.


Yang detilnya diceritakan dengan begitu antusias selama perjalanan menuju lapangan tadi.


Meski teman-teman yang lain menanggapi dengan bercanda, Sena diam-diam mengagumi proyeksi masa depannya.


Dilanjutkan sahutan si wakil ketua yang hendak mendaftar jurusan hukum karena melihat prospek karir sang paman yang nampak menjanjikan.


Ditambah dengan penyebutan penyiar, pekerja kantoran, reporter, ilmuwan, dokter mata, sampai cita-cita lain yang tak pernah terpikirkan otak Sena.


Rasanya hanya dirinya seorang yang kebingungan melangkah sendirian di jalan penuh cabang.


Yang ujung masing-masing jalan itu semuanya buram dan berkabut, tidak bisa memperkirakan kejutan apa yang menunggu di baliknya.


Bahkan di jalan paling lebar yang masih dipijak sang kaki, kabutnya terlihat sama tebalnya.


Sena mulai meragukan masa depan larinya.


Akankah kebahagiaan muncul di akhir jalan jika ia terus meniti jalan ini?


Akankah ia percaya diri akan pilihannya mengabaikan jalan lain untuk memilih jalan ini tanpa menyesalinya?


Meski berjalan beriringan, Sena nampak berjalan dalam dimensi yang berbeda dari teman-temannya.


Ia nampak abu-abu diantara warna solid lainnya.


Sena menatap lututnya, teringat ucapan dokter mengenai pantangan yang harus dijabani demi kesuksesan penyembuhannya.


Meski tidak begitu yakin, ia akan tetap melanjutkan berjalan di jalan ini.


Decitan sepatu yang bergesekan dengan lantai plester membuat Sena merindukan suasana latihan.


Yang akhirnya membawa langkah kakinya berkunjung ke lapangan lari sepulang sekolah.


Ia melihat banyak sosok familiar dari kejauhan. Sebagian sedang berlari, mendengarkan ocehan pelatih, atau sekedar melemaskan tubuh.


Sena tersenyum melihat gerakan lesu yang setengah dibuat-buat.


Mereka pasti iri melihat para siswa yang berjalan pulang dengan riang gembira di sekitarnya, sehingga mulai mengeluarkan berbagai keluhan; fisik maupun lisan, yang membuat pelatihnya kesal.


Kalau beliau sedang dalam mode baik hati, sang pelatih akan mengijinkan mereka pulang.


Lain halnya kalau sang pelatih sedang dalam masa kebengisannya, keluhan sekecil apapun bisa membuat sang pengucap pulang lebih telat dari yang lain.


Mereka mungkin sedang menatap murid-murid di sekitarnya dengan perasaan iri dengki dan memulai aksi lemah letih lelah lesu mereka.


Sena tersenyum menatap salah seorang dari mereka sedang rebahan dengan penuh drama, membuktikan kebenaran prediksinya.


Tubuhnya yang gemetar karena menahan tawa ditahan oleh tangannya yang mencengkeram erat jalinan kawat di depannya.


Tidak pernah terpikirkan oleh Sena akan datang hari di mana ia melihat latihan lari dari pagar kawat.


Menatap mereka berlari bolak balik dengan lutut berdenyut karena tidak sengaja tersenggol pagar kawat melunturkan tawa Sena.


Menariknya kembali ke dunia nyata.


"Wah, Sena! Apa kabar?"


Suara riang yang familiar menyapa gendang telinganya, membuat Sena menolehkan wajah mencari sang penyuara.


Pupilnya membesar menatap gadis bermata coklat itu tersenyum melambaikan tangannya, menyapa.


Gadis yang mendengar namanya saja mampu membuat seluruh tubuhnya membeku.

__ADS_1


"Rere?"


Si kakak kelas cantik sang musuh bebuyutannya.


__ADS_2