
Sena mendesis ketika punggungnya ditabrak ujung tongkat yang terayun kencang.
Merasakan kengiluan yang merayapi punggungnya dalam sekejap mata.
Ia beruntung karena ayunan itu dilontarkan oleh seorang amatir sehingga arah dan kekuatannya tidak begitu tepat.
Kalau saja ibu Zalva adalah seorang atlet pemukul, sudah pasti ia akan tergeletak kesakitan; bahkan sampai tak sadarkan diri.
Sebab pukulan amatir saja bisa sesakit ini, apalagi pukulan dari otot-otot yang terlatih selama beberapa tahun.
Ia melenguh pelan merasakan sisa-sisa sakitnya sambil menatap sang target utama yang masih terdiam kaku di hadapannya.
Kulit pipinya terlihat memerah, hasil dari tamparan keras bertubi-tubi yang tak sekalipun ia hindari.
Lengannya yang mengalung melindungi sang kepala segera dipindahkan ke lengan Zalva.
Hendak mendorongnya menjauh dari sang ibu yang nampak sangat marah.
Kalau ia tidak segera menghilang dari hadapan ibunya, sudah pasti pukulan itu akan kembali terjadi.
Dan dari tatapan kosongnya, ia yakin Zalva tidak akan berinisiatif untuk pindah dari tempatnya sendiri.
"Tante, sebent- AW!"
Pukulan tongkat yang kembali berayun dan teriakan kesakitan manusia di belakangnya membuat Sena mempercepat pergerakannya.
Ia yakin teman Zalva itu tengah berada dalam posisi yang sama dengannya.
Sama-sama berusaha menghentikan insiden pemukulan ini dengan memisahkan mereka berdua.
Segera dibalikkan tubuh kaku Zalva lalu didoronglah tubuhnya untuk pergi menjauh secepat mungkin.
Namun malah tubuhnya yang lebih dulu didorong dengan sangat kuat sebelum Zalva sempat berpindah ke tempat yang aman.
"MINGGIR KALIAN!"
Membuat Sena terjatuh beralaskan sang lengan tepat di samping Doki yang juga tersungkur di sebelahnya.
Mereka berdua mengaduh bersama dengan intonasi yang berbeda karena gagal memisahkan ibu dan anak tersebut.
Tongkat kayu itu kembali berayun mengeluarkan semua amarahnya.
"Apa yang sudah kau lakukan!!"
Zalva menerima pukulan demi pukulan itu dengan tubuh membeku.
Masih saja terdiam meski kulitnya sudah pasti kebas tak karuan.
"Permintaan ibu tidak banyak!"
__ADS_1
Jeritan tertahan para peserta seminar menyaksikan Zalva yang dipukuli menggema menenggelamkan kalimat kemarahan yang terlontar dari mulut Fadila.
"Ibu hanya memintamu jadi anak teladan di sekolah!"
Meski rahangnya mengeras dengan sorot mata tajam, suaranya terdengar hampir menangis.
Seperti suara serak tanpa kekuatan yang dilontarkan usai menangis.
"Ibu bahkan menjadi donatur utama di sekolah untuk mendukungmu!"
Doki dan Sena mencoba bangkit dan berusaha menghentikan pertengkaran ibu dan anak itu sebelum kembali terjatuh ke rerumputan.
Tersungkur karena tak kuat menahan kekuatan tangan penuh emosi milik Fadila yang meluap kemana-mana.
"Tapi inikah balasanmu?"
Fadila memegang tongkat itu tinggi-tinggi, bersiap menghujamkan perasaan marahnya yang paling dalam.
"DASAR ANAK TIDAK TAHU DIRI!"
Sebelum benda tumpul itu menghujam menyakiti sang anak, tongkat itu sudah lebih dulu terlontar.
Membuat keramaian sang penonton menggema demi menyaksikan tongkat kayu itu berputar di udara sebelum akhirnya tersungkur jatuh.
Sebagian kembali menyaksikan improvisasi pertengkaran mereka tanpa melihat posisi akhir sang tongkat.
"Apa yang kamu lakukan pada anakmu sendiri!"
Ia menatap tepat di kedua mata Fadila ketika mengatakannya.
"Ini anakmu! Anak kecil sakit-sakitan yang kita rawat dengan susah payah!"
Pria berperawakan tinggi yang wajahnya serupa dengan wajah Zalva itu mencoba menenangkan istrinya.
Mengeraskan bisik-bisik para penonton yang semakin brutal berkomentar demi menyaksikan cikal bakal pertengkaran eksklusif yang tayang di depan mata mereka secara langsung ini.
"Kau ingin membuatnya sakit-sakitan lagi dengan memukulinya?"
Fadila menyentakkan kedua tangannya yang tertahan seraya melemparkan pandangan menantang pada suaminya.
Tidak terima dengan ucapan-ucapan yang hanya menyalahkan dirinya.
"Benar! Kita sudah susah payah membesarkannya, tapi kau malah pergi meninggalkan kami dengan berpaling pada wanita lain!"
Perkataannya membuat sebagian besar khalayak berseru mendengar kalimat mengejutkan itu.
"Pada guru biologi itu!"
Suara keras Fadila menggemparkan para peserta seminar.
__ADS_1
Mereka saling berspekulasi menebak sosok guru biologi yang baru saja disebutkan.
Sebagian besar menyebutkan guru biologi kelas dua yang mengajar anaknya.
Melawan sebagian kecil lainnya yang berpendapat orang yang dimaksud adalah guru biologi kelas satu yang berparas cantik itu.
Membuat beberapa ponsel yang tadinya duduk diam di tempatnya jadi terangkat tinggi demi merekam momen pertengkaran mereka.
"Kaulah yang merusak anakmu sendiri!"
Sena terkejut mendengar percakapan ini berkembang menjadi pertengkaran suami istri.
Meninggalkan sang anak yang masih berdiri diam di samping mereka.
Membuatnya bangkit mendekati Zalva yang nampak dilupakan keberadaannya.
Cepat-cepat ditangkupkan kedua tangannya menutupi telinga Zalva.
Berharap kalimat menyakitkan itu tidak sampai menggetarkan gendang telinganya untuk kemudian disalurkan menuju saraf di otaknya.
"Bukan begitu, dengarkan dulu-"
"Kau harusnya bersyukur aku masih merawat anakmu dengan baik meskipun sudah muak dengan rumah tangga ini!"
Hati Sena teriris menatap air yang keluar dari kedua mata Zalva yang terbuka lebar.
Merembes melalui pipinya dan meninggalkan jejak kemerahan di sudut-sudut bola matanya.
Membuat tangannya ikut bergetar menyaksikan pupil yang berguncang lemah, entah menatap ke arah mana.
Dengan tubuh yang masih terdiam kaku bagaikan seonggok cangkang yang telah ditinggalkan pemiliknya.
Pemandangan memilukan itu membuat Sena memalingkan kepalanya dan menjerit.
"BERHENTI!"
Membuat kedua mulut perajut kalimat menyakitkan itu terdiam.
Pembicaraan yang seharusnya bersifat rahasia itu berhenti sebelum berlanjut terlalu dalam untuk menyuapi para wartawan yang kehausan.
Meski dihujani suara jepretan kamera, pandangan mereka masih saling terjalin, menatap sang lawan dengan kilat kemarahan.
"Tidak seharusnya kalian melibatkan urusan orang dewasa pada anak-anak seperti kami!"
Mendengar kalimat yang terlontar oleh mulut Sena, mereka sama-sama tersadar akan keberadaan mereka di luar rumah dan keberadaan sang anak di samping mereka.
Juga keberadaan khalayak ramai yang terlalu terlambat untuk disadari.
Dua detik kemudian semua pandangan khalayak itu dialihkan pada suara sirine polisi yang semakin mendekat.
__ADS_1
Lalu berhenti di dekat mereka, mengeluarkan dua orang petugas yang segera mengamankan situasi.