SULIVAN

SULIVAN
Dingin


__ADS_3

"Sena menelpon lagi?"


Wanita paruh baya yang tengah menatap layar ponselnya itu menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak. Hanya mengecek jam."


Pria bertopi di sebelahnya kemudian ikut menatap jajaran angka yang tertera di ponsel istrinya.


23.30


"Wah, sudah semalam ini?"


Sang pemilik ponsel mematikan ponselnya lalu menaruhnya kembali ke habitatnya di dalam tas selempang.


Berdesakan dengan dompet besar yang menghabiskan hampir separuh ruangan, bersama sisir kecil dan kaca bulat yang sudah retak sisi pinggirnya.


Ponsel itu nampaknya ingin bergabung bersama para kertas struk belanja yang berjejer santai di saku dalam.


Sayangnya badan sebesar tak akan bisa masuk di ruang kecil tersebut.


Alhasil ia harus rela bergesekan dengan sisir dan kaca akibat goncangan dari langkah kaki sang pemilik.


"Aduh, lupa beli sabun!"


Pemilik tas itu menghentikan langkahnya tiba-tiba, membuat suaminya menoleh dan berniat menenangkan kepanikannya dengan seutas kalimat.


"Besok libur, gak ada yang mandi pagi."


Tamparan keras yang didapatkan di lengannya membuat sang suami mengaduh.


Sang istri kemudian berkomat-kamit menggerutu sambil menarik lengan suaminya menuju supermarket 24 jam tak jauh dari posisi mereka.


Adalah Ayah dan Ibu Sena, suami istri yang pergi kencan berkedok membeli beras meninggalkan anak semata wayang mereka sendirian.


Hanya membeli beras tapi naik mobil hingga melipir ke bioskop dan cekikikan menonton film komedi yang kebetulan sedang tayang.


Sekarang, mereka sedang kebingungan memutuskan hendak membeli sabun cair berwarna biru atau merah yang sama-sama sedang diskon.


Sang suami yang berkata beli saja dua-duanya, seketika menarik ucapannya kala mendapati sang dompet tertinggal di mobil.


Sedangkan mobilnya terparkir di depan restoran tempat mereka membeli lauk, kurang lebih seratus meter jauhnya dari sini.


Alasannya tentu saja agar tidak keluar biaya parkir tambahan.


Ide ini tentu saja diusulkan oleh sang istri; yang lihai mengutak-atik keuangan.


Meski tak masalah mengeluarkan dua lembar lima ribuan untuk parkir, sang istri kekeh mengajak berjalan.


Tujuan mereka adalah mengunjungi air mancur taman dengan lampu sorotnya.


Namun sang istri teringat sabun mandi mereka yang menyebabkan suaminya tak jadi mandi.


Alhasil keluarlah mereka membawa sebungkus sabun cair biru; yang akhirnya terpilih karena Sena menyukai baunya.


Ketika membuka pintu kaca dengan sikunya, Ayah Sena tertabrak istrinya yang tiba-tiba berhenti melangkah.


Membuatnya terkejut dan melepas pintu kaca berpegas begitu saja.


Untungnya pintu kaca itu berhasil menutup tanpa mengenai satupun anggota tubuhnya.


"Yah, itu anak yang kemarin, kan?"


Sang suami mengedarkan pandangannya pada parkiran supermarket yang lengang.


Sejauh matanya memandang, hanya tiga orang yang ditangkap lensa pupilnya, menempati bangku depan supermarket.


Dua orang duduk berhadapan saling berbincang, seorang lagi berdiam di bangku pojok dan makan pop mie sendirian.


Ia mengernyitkan alis, mencoba menerka arti anak kemarin yang dimaksud sang istri.


"Yang mana?"


Istrinya menunjuk orang di bangku sudut yang duduk membelakangi mereka memakai jaket abu-abu.


"Yang nolongin Sena waktu itu!"


Sang suami menunjukkan raut wajah herannya.


Jelas-jelas orang itu membelakangi mereka, apalagi dengan tudung jaket yang menutupi wajahnya, ditambah bangku pojok yang remang-remang jauh dari cahaya.


Bagaimana bisa sang istri mengenali orang itu?

__ADS_1


Ibu Sena melangkahkan kakinya menuju tempat mengepulnya kuah pop mie tersebut.


Meski ingatan istrinya akan wajah seseorang patut diacungi jempol, Ayah Sena masih meragukannya sembari mengikuti dari belakang.


"Lah, beneran!"


Zalva berjingkat kaget mendengar suara berat bapak-bapak di sebelahnya.


Ketika berbalik, ia melihat sepasang suami istri menyapanya.


Tepatnya sang istri yang menyapa, dan sang suami yang nampak terkejut melebarkan mata.


"Zalva! Kabarmu baik?"


Ia menatap sang istri yang menyalaminya riang.


Ditatapnya kedua wajah familiar yang sepertinya ia temui beberapa-


Ah, benar. Orang tua Sena.


"Baik, tante."


Zalva menundukkan wajahnya kikuk, mendadak malu karena bertemu mereka dengan wajah tidak karuan.


Ibu Sena duduk di samping Zalva, menepuk pundaknya pelan.


"Ya ampun! Tak disangka ketemu lagi di sini.."


Ayah Sena duduk di depan, masih penasaran dengan metode yang digunakan sang istri untuk mengenali seseorang dari kejauhan di balik lampu temaram.


Sementara cahaya temaram yang berada tepat di tengah teras itu melegakan Zalva, membuatnya lebih mudah menyembunyikan pipinya yang bengkak.


"Astaga! Kenapa ini?"


Usahanya sia-sia ketika Ibu Sena memiringkan kepalanya menatap pipi kanan yang mengembang kemerahan.


Agaknya wanita ini memang punya kekuatan super seperti dugaan suaminya.


"Sebentar, tunggu di sini, ya."


Hening terjadi beberapa detik kemudian.


Zalva tidak berani membalas tatapan Ayah Sena yang menelitinya dari atas ke bawah.


"Nolongin orang?"


Zalva mengalihkan tatapannya pada mata beralis tajam di depannya.


Mencoba memahami maksud dua kata yang dilontarkan mulut berkumisnya.


"...hm?"


Meski alisnya yang tajam membuat wajahnya terlihat tegas, tatatapannya nampak hangat.


"Bengkak itu, dapat dari mana? Nolongin orang lagi?"


Lagi?


Zalva berkedip, mencoba berpikir maksud perkataan beliau tentang menolong orang lagi.


Ah, betul juga. Ia bertemu mereka pertama kali ketika menolong Sena.


Jeda panjang terjadi sebelum jawaban Zalva terucap.


"...iya."


Zalva menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kalut akan ketidak-benaran jawabannya barusan.


Karena luka ini didapatnya dari balas dendam.


"Bagus. Kalau punya kelebihan berkelahi, harus digunakan untuk menolong orang."


Zalva mematung.


Tahu darimana bapak-bapak ini kalau ia pandai berkelahi?


Sang bapak-bapak yang dimaksud tertawa kecil melihat ekspresi remaja di hadapannya yang nampak seperti pencuri yang tertangkap basah.


"Hahaha... Sesama pemain pasti tahu."


Datanglah Ibu Sena membawa kotak P3K yang dipinjamnya dari supermarket.

__ADS_1


Tangannya dengan cekatan membuka kotak putih itu, mengeluarkan barang yang diperlukan, lalu menatap Zalva.


"Boleh tidak menyentuh pipimu sedikit? Lukanya harus dibersihkan."


Selain punya kekuatan super melihat di keremangan malam, Ibu Sena juga punya kekuatan membuat patuh siapapun yang diajak bicara.


Zalva yang awalnya ragu pun luluh dengan menurunkan tudungnya.


Lagipula ia memang berniat membersihkannya untuk mencegah infeksi, lalu diurungkan karena ia berencana tidak pulang malam ini.


"Modus banget, bilang aja mau nyentuh pipi anak muda."


Ayah Sena mengejek istrinya yang sedang meneteskan alkohol pada kapas.


"Betul, bosan dengan pipi kendormu."


Suaminya hanya tertawa mendengar balasan sang istri.


Zalva hanya duduk diam mendengarkan perdebatan kecil mereka berdua.


"Terus apa tadi, pemain? Pemain apaan? Ingat, Pak. Anakmu sudah SMA."


Ayah Sena membalas dengan menepukkan tangannya ke dada, berlagak bangga.


"Heh, bapak-bapak begini pemain terkenal di jamannya!"


"Dih, cuma juara dua silat tingkat RT saja bangga."


"Heh, pas masih muda dulu sampai provinsi, ya!"


Obrolan sarkas dibarengi tawa yang mengalir dari suami istri itu membuat kecanggungan Zalva menghilang.


Karena mereka tidak mengasingkan Zalva dari obrolan itu dengan mengajukan beberapa pertanyaan padanya.


Mereka mengobrol banyak hal, mulai dari keadaan sekolah sekarang sampai naiknya tarif bus umum.


Mengisi kekosongan yang tidak disadari telah berlubang cukup dalam.


Melepaskan air mata yang merembes mengingkari kehendak Zalva.


"Pelan-pelan, Ma. Sampai nangis itu.."


"Aduh! Pasti perih, ya?"


Zalva menggeleng pelan, mencoba mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mencegah air matanya turun merembes ke pipi.


"Ditahan sebentar, ya?"


Matanya makin panas mendengar ucapan penuh perhatian itu.


Apakah hatinya sudah sedingin itu sampai bereaksi berlebihan terhadap setitik kehangatan?


Atau sebab terlalu hangat hingga mampu mengalahkan kedinginannya?


"Kalau Sena pasti sudah berjingkat-jingkat, berteriak mengaduh."


Ayah Sena menirukan gaya berlebihan sang anak saat mengobatinya, yang direspon dengan tawa tertahan istrinya.


"Ya, persis seperti ayahnya."


Ibu Sena mengakhiri pengobatannya dengan mengumpulkan kapas kotor di atas sebuah kertas, lalu berdiri membuangnya ke tempat sampah terdekat.


Sedangkan sang suami menata barang-barang kembali ke habitatnya, menutup kotak, lalu berjalan mengembalikannya.


"Jangan lupa rajin dikompres air hangat."


Ibu Sena lalu mengeluarkan salah satu kotak nasi lauk yang masih hangat dari kresek putih yang tadi dibelinya.


"Dimakan mumpung masih hangat. Sewadah Pop mie ga akan kenyang. "


Ayah Sena menepuk punggungnya sedikit kencang, membuat badan Zalva sedikit berguncang.


"Kapan-kapan mampir ke rumah."


"Tante buatin seblak atau malor."


"Maklor kali."


Mereka berdua berpamitan setelah tertawa kencang karena sang istri salah menyebut jajan pinggir jalan kesukaan Sena.


Zalva melambaikan tangan, menatap punggung mereka berdua sampai menghilang tertutup bangunan.

__ADS_1


Ia putuskan untuk pulang dan memakan nasi kotak ini di kamarnya.


__ADS_2