SULIVAN

SULIVAN
Balon


__ADS_3

Rio memutar bohlam berpendar kuning itu ke kanan, lalu menengadah untuk menyesuaikan posisinya dengan bohlam lain di atas.


Ia melakukan kegiatan itu berulang kali, kemudian berhenti setelah batinnya merasa puas.


Posisi dua bohlam ini harus tepat dan presisi sebab keberadaannya sangat penting dalam agenda kejutan Zalva.


Rio menepukkan kedua tangannya menatap sang mahakarya yang sempurna sudut kemiringan dan alur kabelnya.


Lalu beralih pada jajaran balon huruf yang peniupan dan peletakannya dibebankan kepada Tera.


Wajah yang tadinya bahagia berubah menjadi merengut demi melihat huruf L yang peletakannya terbalik.


Jadilah kedua tangannya maju membenahinya, memastikan tinggi dan jaraknya sama persis dengan huruf U dan I di sebelahnya.


Rio lalu memundurkan diri sambil meletakkan telunjuk dan jempolnya ke dagu, hendak mengecek hasil inspeksinya.


Dan menemukan huruf S yang terletak paling depan merosot turun di ketinggian yang tidak sama.


Juga huruf A yang menghilang meski huruf paling akhir N sudah bertengger manis di sana.


Yang ternyata masih dalam proses peniupan oleh Tera.


Susunan kata yang harusnya membentuk huruf SULIVAN itu menjadi kurang sempurna; tidak berurutan dan tidak presisi.


Membuat rasa perfeksionis dalam diri Rio menyeruak muncul menyebarkan rasa tidak nyaman ke seluruh tubuhnya.


"Ah kau ini!"


Dalam kesepakatan semalam, tugas mereka berdua adalah menyiapkan tempat, sementara Doki bertugas menjemput Zalva.


Skema aslinya adalah Doki dan Rio menyiapkan tempat, sedangkan Tera yang pergi menjemput sang pimpinan.


Namun karena semalam Doki berkata ia baru saja bertengkar dengan Zalva, Tera menawarkan untuk bertukar.


Yang tentu saja diterima dengan senang hati oleh Doki.


Ia memastikan akan menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya dengan meminta pengampunan Zalva.


Ide kejutan ini keluar dari spontanitas bibir Tera ketika ia sedang kepedasan makan bakso siang lalu di kantin.


Rio yang tengah menyantap es campur manggut-manggut setuju.


Toh mereka belum pernah melakukan sesuatu untuk membalaskan kebaikan Zalva selama ini.


Pemimpin mereka yang kelihatan tangguh dan acuh itu, sebenarnya adalah teman yang baik.


Meski punya banyak kesulitan, tak pernah sekalipun ia menceritakan masalah itu dan membebankannya kepada teman-temannya.


Mulai dari ekspektasi sang ibu yang mendengarnya dari mulut Doki saja membuat mereka begah.


Nilai yang harus tinggi, peringkat yang harus bertahan di puncak, sampai perilaku baik dan sopan ketika di sekolah.


Meski Zalva berhasil mengatasinya dengan baik, kelelahan terpancar di matanya setiap kali mereka berkumpul.


Siswa biasa seperti dirinya yang nilainya sering tidak lulus KKM dan sering bolos saja sudah cukup stres mengikuti pelajaran di sekolah.


Delapan jam belajar monoton yang menguras otak, apalagi jika guru mapelnya kaku dan tradisional; yang tidak akan membenarkan jawaban yang tidak sesuai dengan alurnya.

__ADS_1


Ditambah tugas rumah, kerja kelompok, dan makalah penelitian yang menguras waktu bermain dan istirahat mereka.


Apalagi persaingan kelas yang tidak masuk akal; dengan murid kesayangan guru dan murid yang pandai mencari muka menjadi juaranya.


Di kelasnya, murid-murid sang juara itu tidak terlihat cukup pintar untuk bertahan di peringkat atas.


Sebab kebanyakan dari mereka meraihnya dengan tipu muslihat; melakukan berbagai kecurangan untuk mempertahankan peringkatnya.


Karena itu Rio sangat menghormati Zalva yang berhasil mempertahankan peringkat satu paralel mengalahkan kelicikan mereka.


Ia tahu persis Zalva tidak melakukan kecurangan apapun untuk mendapatkan nilai dan peringkatnya.


Selain otaknya yang jenius, ia juga rajin mengulangi pelajaran dan mengerjakan tugas-tugasnya.


Tak segan-segan Zalva memarahi dirinya dan Tera yang nampak malas-malasan dengan sekolahnya.


Masa depan kalian masih panjang dan cerah, katanya.


Ia bahkan menawarkan diri mengajari teman-temannya materi sekolah yang belum mereka pahami.


Meski kebanyakan kasusnya adalah Zalva yang memaksa mereka untuk belajar.


Berbanding terbalik dengan kepintaran dan kerajinannya, Zalva menjadi siswa yang tidak disenangi di kelasnya sendiri.


Tak jarang ia mendapat banyak perisakan secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.


Dengan kesombongannya para perisak itu menyebarkan desas-desus tidak menyenangkan.


Mulai dari menyebarkan gosip bahwa ia penyuka sesama jenis, membeli soal ulangan, sampai memberitakan bahwa orangtuanya menyuap sang wali kelas untuk mempertahankan nilai dan peringkatnya.


Membuat dirinya, Tera, dan Doki tentu saja marah ketika mendengarnya.


Rio bahkan pernah hampir terlibat perkelahian besar di kantin kala mendengar salah satu teman sekelas Zalva menyebut Zalva adalah penjilat guru matematika tepat di depan matanya.


Sepiring nasi goreng yang sedang dimakan sang pengucap itu langsung melayang menumpahkan isinya ke segala arah, lalu pecah berkeping-keping akibat amukan Rio.


Kalau saja saat itu Zalva tidak menghentikannya, ia mungkin sudah dikeluarkan dari sekolah karena hampir membuat wajah sang pengucap babak belur.


Hal lain yang membuatnya berjanji untuk setia berteman dengan Zalva adalah Zalva tak pernah mempermasalahkan berteman dengan anak-anak nakal semacam mereka.


Ia tidak pernah sekalipun merasa keberatan reputasinya ternodai karena terlihat makan di kantin bersama mereka bertiga yang terkenal berandalan.


Karena itu, mereka sendirilah yang berusaha tidak terlihat khalayak ramai ketika menemui Zalva di mode anak pintarnya.


Sebab itu pula mereka berusaha menjaga kelakuan mereka semata-mata agar Zalva tidak tercemar perbuatan buruk mereka.


"Hei, kenapa kau ambil lagi?"


Rio berkacak pinggang melihat Tera kembali mengambil balon huruf A dan meniupnya.


"Belum bener ini nutupnya, makanya kempes."


"Hais. Yaudah buru."


Rio mengecek ponselnya, barangkali Doki mengabari kalau ia sudah hampir sampai.


Persiapan mereka sudah sembilan puluh sembilan persen, tinggal menunggu kabar dari Doki jika mereka sudah hampir dekat.

__ADS_1


Rio kembali menata letak makanan ringan maupun berat yang tertata rapi di meja panjang, memastikan mereka tetap rapi dan terkondisikan.


"Heh, dengar!"


Tera menghentikan tiupan mulutnya untuk memfokuskan telinganya.


"Apasih? Udah buruan ditiu-"


"Ssssst!! Dengerin! Ada suara langkah kaki!"


Rio yang tengah membenarkan posisi lilin kemudian mengubah arah fokusnya mengikuti arahan Tera.


Yang ternyata memang terdengar suara langkah kaki persis seperti keterangan Tera.


Jadilah mereka berdua panik menyiapkan segala sesuatu yang belum tertata.


Tera menghembuskan napasnya kuat-kuat untuk membuat balon huruf A itu kembali menggelembung.


Sedangkan Rio cepat-cepat menyulut korek api untuk membakar lilin yang berdiri tegak di atas kue.


Sebagian dari dirinya lega mendapati lilin itu sudah berdiri tepat di tengah sesuai keinginannya.


Sebagian yang lain mengumpatinya Doki yang langsung datang tanpa mengabari mereka.


Tera yang telah selesai menata balonnya kemudian bergabung bersama Rio untuk berdiri di depan pintu setelah mematikan lampu.


Berdasarkan data pendengaran dan estimasi otaknya, mereka berdua masih berada di jalan kecil sebelum tikungan.


Yang artinya mereka masih punya sekitar lima detik lagi untuk mengatur napas yang memburu karena panik.


Tera memalingkan kepalanya sekali lagi, hendak memastikan balonnya berdiri sesuai keinginannya.


Dan membuat jantungnya berdegup makin kencang kala melihat balon A yang barusan ditiupnya kembali mengempis.


Kalau sampai Doki dan Rio tahu, ia pasti habis diceramahi.


Dua bayangan manusia mulai terlihat dari bawah pintu, membuat jantung keduanya saling berloncatan.


Mereka baru tahu ternyata menyiapkan kejutan akan semenegangkan ini.


Ketika dua sepatu itu berhenti tepat di depan pintu, ujung mata Rio menatap Tera.


Hendak memastikan apakah hanya dia seorang yang merasa aneh dengan dua pasang sepatu kulit itu.


Setahu dia, Doki dan Zalva sama-sama tidak menyukai sepatu kulit.


Namun sang teman malah sedang berkomat-kamit sambil menyatukan tangan dan memejamkan mata.


Satu detik setelah pintu terbuka, kue yang dibawa Rio jatuh terjerembab dengan lilin yang menggelinding padam.


Dua detik setelahnya, Rio menyesal tidak menganggap serius sinyal bahaya yang dikirimkan oleh otaknya sesaat sebelum pintu terbuka.


Membuat mereka berdua tumbang karena dibekap sampai pingsan.


Rio mengumpati dua orang penyergapnya dengan kedua matanya sebelum tak sadarkan diri.


Yang ternyata adalah anak buah Bi sang pemimpin Oreo.

__ADS_1


Tubuh mereka segera diseret ke pick up yang telah bersiap mengangkut mereka.


Meninggalkan balon huruf A yang kembali mengempis dan merosot turun, menggagalkan rencana tulisan SULIVAN yang hendak dibentuk Tera.


__ADS_2