
Rio mengaduh kencang memegangi kepalanya yang mendadak pusing akibat gulingan badannya secara tiba-tiba ketika ia masih belum sepenuhnya sadar.
Badannya bergerak lebih cepat sebelum otaknya sempat berpikir sesaat setelah terkejut menemukan kaosnya terbakar.
Membuat badannya secara otomatis menjatuhkan diri ke padang rerumputan di bawahnya lantas berguling-guling di sana.
Sang otak malah bereaksi terlambat ketika api telah padam dan menyisakan kaosnya yang mengerut menghitam.
Ia bersyukur reaksi spontan tubuhnya membuat kulitnya tak tersentuh api sama sekali, meski kaosnya mengerut dan hampir berlubang.
Rio mencoba mendudukkan dirinya dalam kepeningan itu, hendak mencari tahu dari mana sang jago merah berasal.
Lalu menemukan Doki yang juga tengah kelimpungan dengan hoodie bagian belakang yang hampir terbakar separuhnya.
Mengernyit perih menatap sejumput kulit pundak Doki yang melebur terkena api.
Untungnya kain di bagian punggungnya hanya mengerut dan menghitam tanpa ada lubang besar yang berpotensi menghasilkan luka yang lebih besar daripada pundaknya.
Wajar saja ia mendapat bekas bakaran sebesar itu; sebab Doki melompat menuju ke arahnya dan arah Tera begitu api membumbung kegirangan bertemu dengan minyak tanah di badan mereka.
Begitu sakit kepalanya berangsur membaik, Rio mengedarkan pandangannya mencoba memahami situasi pelik ini.
Sebanyak tiga orang anak buah Bi tengah menghalang-halangi Zalva yang berusaha mendaratkan pukulan dan tendangan pada badan Bi.
Empat puluh meter di baliknya, tepatnya di depan aula, terdapat kerumunan manusia yang kebanyakan menyaksikan dengan tatapan tidak percaya sambil menutup mulutnya.
Terdapat juga beberapa kamera mengarah pada mereka.
Menampar kesadarannya bahwa mereka tengah berada dalam situasi yang tidak menguntungkan.
Dan dari sekian puluh orang itu, ada satu wajah yang membuat bulu kuduknya merinding dan membuat kakinya yang tertekuk sejak tadi berdiri tegak.
Wajah ibu Zalva yang nampak kebingungan menatap ke kanan dan kiri.
Membuatnya menyadari target utama kekacauan hari ini adalah Zalva.
Membuatnya berlari menghentikan Zalva yang masih berusaha menendang Bi dengan tatapan kebenciannya.
Zalva kini telah terbebas dari ketiga parasitnya yang ia lumpuhkan seketika, lalu berlari menuju Bi yang berdiri menertawakannya.
Sebelum lengan Rio menghentikan dan menyadarkannya.
Rio mendorong dada Zalva kencang sampai membuatnya oleng ke belakang.
Hampir saja tubuhnya terpental dan tersungkur kalau saja Rio tak memegangi lengan atasnya.
Hampir saja ia lepas kendali kalau Rio tak muncul menghentikannya dan meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja.
Zalva menghembuskan napasnya sambil bergetar, menatap kaos Rio yang terbakar seperempatnya.
__ADS_1
Khawatir sekaligus bersyukur karena tak mendapati goresan luka yang cukup parah di seluruh tubuh Rio.
Rio kemudian berbalik memunggungi Zalva dan menatap Bi yang kecewa karena alur permainannya telah dihentikan secara paksa.
"Sudah cukup! Kau harus berhenti sekarang juga!"
Membuat Bi membuka rahangnya lebar-lebar, menertawakan Rio yang nampak seperti kucing garang pelindung anaknya walau tubuhnya dipenuhi sayatan.
"Kenapa? Menyesal sekarang?"
Bi mengangkat dagunya tinggi, berlagak congkak dengan kedua tangan tersampir di pinggangnya.
"Sudah kubilang, kan? Kau akan kalah jika masuk sulivan!"
Doki yang tengah memindahkan tubuh Tera yang tak kunjung terbangun memalingkan kepalanya, kaget mendengar kalimat pengundang emosi itu.
"Tapi kau malah meremehkanku dan menjadi anjing setia Zalva!"
Zalva menggeram marah mendengar percakapan mereka yang semakin tidak masuk akal.
Tendangannya pasti sudah mendarat di wajah congkak itu kalau saja Rio tidak menggenggam lengannya erat-erat.
"Kau ingin tahu kenapa aku tidak ingin mengikutimu lagi?"
Rio melepaskan genggamannya pada Zalva lalu melangkahkan kakinya maju.
Menatap tepat pada kedua mata Bi dari jarak yang sangat dekat.
Suara kencang Rio yang berada kurang dari satu meter di hadapannya membuat alis kirinya berkedut sejenak.
"Tidak peduli mereka akan selamat atau tidak, kau mempermainkan mereka demi kesenanganmu sendiri!"
Rio memukulkan kepalan tangannya pada dada kanan sang musuh sampai membuat Bi sedikit oleng ke belakang sebelum kembali membalas tatapan tajamnya.
"Kau tahu, hal yang paling kusesali dalam hidupku adalah berteman denganmu!"
Membuat Bi sontak meninju perutnya dan menendang punggungnya sampai Rio menjerit kesakitan.
Membebaskan kemarahannya yang menggebu-gebu dengan berkali-kali menendangi perut Rio yang telah tumbang.
Membebaskan pula kemarahan Zalva yang tadinya telah tersiram air dingin begitu melihat temannya tumbang tepat di depan matanya.
Zalva segera mendorong tubuh Bi kuat-kuat sampai terjengkang ke belakang, lalu duduk di atas perutnya dan memukuli wajah yang sangat ingin dihancurkannya itu.
Mengabaikan suara panik Doki yang menyuruhnya untuk berhenti karena melihat sang ibu berlari menuju ke arahnya.
Sampai tamparan keras dari aroma tangan yang tidak asing mendarat di pipi Zalva.
Membuat Zalva terhuyung ketika dipaksa menegakkan kakinya.
__ADS_1
Dari semua kekacauan yang terjadi hari ini, ia melupakan fakta paling penting berupa sang ibu yang tengah mengisi seminar tepat di samping lokasi mereka.
Yang dengan mudah terlihat dari balik kaca transparannya.
Zalva tidak menyangka hari ini akan menjadi malapetaka baginya untuk ditelanjangi habis-habisan di depan ibunya secara langsung.
Sang ibu kembali menamparnya keras sampai badannya terhuyung kencang.
Pikirannya mendadak kosong dan kacau balau, membekukan saraf rasa sakitnya meski dihujani tamparan bertubi-tubi.
Belum puas dengan menamparnya, sang ibu mengambil sepotong tongkat pemukul yang kebetulan tertangkap pandangan kalapnya teronggok di samping korban yang dipukuli sang anak.
Membuat Bi semakin tersenyum puas menatap ibu Zalva yang benar-benar mengambil dan mempergunakan umpan yang sengaja ditaruhnya di sana.
"BERANINYA KAMU MEMPERMALUKAN IBU, ZALVA!!"
Doki berlari panik begitu mendengar teriakan penuh kemarahan itu, khawatir kakinya tidak akan lebih cepat daripada pukulan tongkat yang sudah setengah jalan menuju badan Zalva.
Dan sesuai perkiraannya, tongkat itu sudah terpukul kencang sebelum badannya sempat menampiknya.
Sebagai gantinya, tongkat itu diterima oleh punggung seorang perempuan setinggi Tera yang seketika muncul mengagetkannya.
Yang dikenalinya sebagai teman sebangku Zalva yang memergokinya ketika ia berdiri mondar-mandir di depan kelas kemarin saat hendak meminta maaf kepada Zalva.
Perempuan yang sama dengan sosok penolong di cerita Tera yang terus menerus didongengkannya.
Melihat tongkat itu tidak mendarat di tempat yang diinginkan, sang ibu kembali mengangkatnya tinggi-tinggi sambil mengeluarkan sumpah serapah kasar dari mulutnya.
Membuat para peserta seminar berbondong-bondong mendekati pertengkaran sengit itu.
Sembari diliputi rasa heran dan bertanya-tanya mengapa Ibu Fadila yang terkenal dengan ketenangan dan kewibawaannya mendadak berlari menuju kumpulan anak nakal itu dan ikut berkelahi dengan mereka.
Mereka turun menjejeri sejumlah wartawan yang telah lebih dulu mendekat dengan kamera bersiap di masing-masing tangan.
Sebagian ibu-ibu juga berlari seraya membawa ponselnya, hendak merekam kejadian yang mungkin akan menjadi perbincangan besar jika diunggah ke dunia maya.
Tak terkecuali Tina yang bergetar memegangi ponselnya yang telah merekam beberapa menit kejadian itu dari balik jendela lantai dua.
Ia tidak menyangka video yang semula ditujukan untuk menangkap apapun gerakan Oki untuk menemukan barang bukti, berubah menjadi kekacauan besar yang melibatkan sang donatur sekolah dan anaknya.
Jempolnya gemetaran memencet tombol berhenti, lalu meraih apapun yang bisa menjadi tumpuannya.
Masih tak percaya bahwa ia menangkap bukti penting berupa kelakuan bejat komplotan geng Oki yang menjadi penyebab masalah besar di sekolahnya.
Tina menarik napas panjang, mencoba menetralkan gemetar jantung dan tubuhnya.
Lalu memencet beberapa nomor untuk melakukan panggilan.
Tak lama setelah tersambung, terdengar suara perempuan yang makin membuat jantungnya berloncatan tak karuan.
__ADS_1
"Dengan call center 110, ada yang bisa dibantu?"