
“Yang mana?”
Sena menunjuk loker di belakangnya sambil mengawasi situasi. Belum ada tanda-tanda kehadiran seseorang, membuatnya memberi tanda aman dengan mengangkat jempolnya.
Menyaksikan lampu hijau dari temannya, Tina lalu membuka bungkus Big Babol rasa stroberi yang dan mengeluarkan sebuah permen karet bekas.
Adegan itu diperhatikan Sena dengan perasaan was-was. Berkali-kali kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, berharap tidak ada manusia yang hendak melintas.
“Buruan!” ujar Sena hampir berbisik.
Sena hampir tak bernapas melihat permen karet itu berpindah tempat menempel di lantai.
Yang artinya, rencana mereka berhasil.
Sena mengatupkan kedua tangannya ke depan mulut, tak menyangka rencana jahil mereka sudah terlaksana.
Rencana yang awalnya ditentang mati-matian.
Bagaimanapun, menurut aturan terbitan otak Sena, ini termasuk kecurangan.
Menaruh permen karet di bawah loker kemudian diinjak oleh sang korban yang bertujuan menghambat aktivitas berlarinya.
Tina mati-matian berusaha membujuk Sena yang jiwa sportifnya mengalir deras sampai paru-paru.
Setelah menawarkan beragam strategi pendekatan sampai mengeluarkan senjata pamungkas berupa traktir KFC, Sena akhirnya mau terlibat asalkan tugasnya hanya mengawasi sekitar, tak mau ikut-ikutan meletakkan barang bukti.
Ketika rencana itu betulan berhasil, entah mengapa Sena merasa makin tegang.
Ia merasa telah melakukan dosa besar yang sulit diampuni.
Sialnya lagi, sang korban, Rere, berdiri di pintu masuk menatap mereka berdua yang mematung di depan loker.
Dalam situasi menegangkan itu, Tina bergerak cepat dengan kabur keluar ruangan.
Meninggalkan Sena yang makin membeku menyaksikan Rere melihat seonggok permen karet merah muda tergeletak persis di depan lokernya.
Sena bergerak cepat menghancurkan barang bukti dengan menginjakkan sepatunya.
Sebutir keringat mengalir dari dahinya ketika Sena memberikan sekotak jus jambu yang digenggamnya kepada Rere, kemudian berlari terbirit-birit.
Membuat Rere menahan tawa melihat gaya pincang Sena ketika berlari dengan permen karet di balik sepatunya.
“Sesuka itu, ya, pada jus jambu?”
Pertanyaan Rere menarik Sena untuk kembali ke dunia nyata dan mengakhiri ingatan masa lalunya.
Ingatan mengenai perbuatan buruknya pada orang yang berdiri di depannya saat ini.
Sena mengangguk pelan sembari menatap sekotak jus jambu yang isinya telah berkurang lebih dari setengah.
Kalau diingat-ingat, ia belum pernah meminta maaf secara langsung pada Rere.
“Lututmu… bagaimana?”
“Baik,” jawab Sena sambil menunjukkan gerakan lututnya.
Hening cukup lama menyeruak, menyelip di antara kecanggungan mereka.
“Sayang sekali kamu tidak bisa mengikuti turnamen kali ini.”
Rere kemudian berpamitan untuk kembali meneruskan larinya. Ia melambaikan tangan sambil tersenyum riang.
“Lain kali masuk saja. Jangan hanya memandang dari sana.”
Sena mengangkat tangannya dengan senyum kaku meski merasa tidak sedekat itu untuk membalas lambaian tangan Rere.
Kalau Tina sedang bersamanya saat ini, komentar kebencian pasti sudah dilontarkan.
Cih, senyumnya jelek amat!
Apa-apaan ucapan menghina itu?
Sayang sekali kepalamu! Kau pasti senang karena musuhmu tidak ikut turnamen, kan?
Sena mengatupkan bibirnya membayangkan kalimat-kalimat itu diucapkan dengan penuh penghayatan oleh Tina.
__ADS_1
Yang kemudian memunculkan kembali pertanyaan yang telah lama terkubur jauh di lubuk hatinya.
Apakah ucapan Rere benar-benar menyakitinya?
Apakah senyum riangnya nampak menyebalkan di matanya?
Apakah sapaan ramahnya terlihat palsu di matanya?
Ketika mengetahui jawaban pertanyaan di atas sama-sama tidak, Sena terhenyak.
Sebenci itukah ia pada Rere?
Atau ia hanya mengikuti perilaku Tina yang sangat membencinya, tanpa pertanyaan apapun?
Ketika Tina mengucapkan kata-kata menyakitkan itu pada Rere, Sena hanya mendengarkan.
Ketika Tina menyemangatinya agar meraih peringkat pertama untuk mengalahkan Rere sambil mencacinya, Sena hanya tersenyum.
Ketika teman-teman sepelatihannya cepat-cepat berdiri hendak pindah tempat duduk begitu melihat Rere makan di belakang mereka, Sena hanya diam menyaksikan.
Tanpa pernah berusaha mencegah kalimat menyakitkan itu mereka terdengar sampai ke telinga Rere.
Tanpa pernah mengulurkan tangan membantu Rere yang terjatuh karena sengaja ditabrak ketika berlari bersamanya.
Tanpa pernah mempertanyakan separah apa perbuatan Rere sampai pantas mendapat perlakuan semacam itu.
Sena membeku, mempertanyakan dirinya sendiri yang mengabaikan semua keburukan itu.
Hanya karena semua orang menjauhi dan membencinya, bukan berarti Rere adalah penjahat.
Hanya karena teman-temannya berkata ia orang yang licik dan penuh tipu daya, bukan berarti sifat Rere seperti itu.
Hanya karena selalu sendirian, bukan berarti Rere orang yang buruk.
Sebuah jarum tak kasat mata menusuk tubuhnya, merangsek masuk menuju hati nuraninya, menyentuh permukaan kasarnya.
“Hei, bawa ini!”
Sena memutus seluruh aliran pikirannya melihat sekotak yoghurt yang diselipkan diantara celah jalinan kawat yang sudah kendor.
“Minuman ini baik untuk penyembuhan tulang.”
Sena menerima sekotak yoghurt itu dengan mengguncangnya agar lolos dari jeratan kawat.
“Adikku yang jatuh dari tangga sudah berlari lagi setelah tiga bulan rutin minum ini."
Sena menatap yoghurt di tangannya dengan rasa bersalah, membuatnya tak mampu membawa kepalanya yang tertunduk untuk menatap Rere.
“Maaf.”
Rere mengernyitkan alisnya bingung, memandang Sena yang tertunduk.
“Emm… maksudmu terimakasih? Sama-sama.”
Bayangan Rere yang menjauh untuk kembali melanjutkan latihannya, menyadarkan Sena bahwa Rere adalah orang yang baik.
Sena kemudian pulang sambil merenung menatap sekotak yoghurt yang digenggamnya erat-erat.
Sampai berganti pakaian dengan kaos dan celana kain lalu duduk di sofa menyalakan acara kesukaannya, Sena masih menatap yoghurt yang sekarang berdiri di meja.
Mengabaikan acara kesukaannya untuk menyelami pikiran rumitnya.
Decitan pintu yang bergesekan dengan lantai mengalihkan fokus Sena.
Tampaklah sang ibu yang masuk membawa plastik putih besar.
Sena menunggu plastik itu mendarat di meja makan, bersemangat menantikan jajan apa yang tersembunyi diantara barang belanjaan itu.
Begitu menelusuri satu per satu, jajan yang muncul adalah sekotak yoghurt.
"Ih, cuma ini?" Sena mengerucutkan bibirnya.
Datanglah sang ayah yang menutup pintu rumah dengan bersenandung.
Membuat Sena melebarkan matanya melihat wadah oval putih familiar yang diayunkan pelan mengikuti irama senandung sumbang ayahnya.
__ADS_1
Wadah berisi eskrim yang biasanya gabungan dari tiga rasa; cokelat, vanila, dan stroberi.
Sena melebarkan senyumnya, tak sabar menikmati es krim setelah sekian lama tidak memakannya.
Namun ekspektasinya dirusak oleh tulisan besar berwarna biru keunguan yang tercetak di tutupnya.
Yoghurt.
Bibirnya kembali mengerucut menatap orangtuanya yang sedang asyik bercengkerama sambil memilah belanjaan mereka malam ini; mana yang akan disimpan di kulkas, freezer, atau lemari kayu yang menggantung di atas kulkas.
"Ayah ibu kan tahu aku tidak suka yoghurt.."
Sena melanjutkan rengekannya dengan merebahkan dirinya di sofa, berlagak tak mau makan meski perutnya keroncongan.
"Suka tidak suka, kamu harus meminumnya mulai hari ini."
Sang ibu menusukkan sebatang sedotan kertas pada yoghurt terdekat yang dapat dijangkau tangannya, lalu menyodorkannya pada Sena.
"Tapi rasanya aneh!"
"Tidak. Ini rasa jambu kesukaanmu, bukan original yang menurutmu masam itu."
Sena menatap gambar mirip gelembung di bagian bawah kemasan berwarna salem bertuliskan guava, meragukan kebenarannya.
Baunya memang mirip aroma jambu, sih.
Diseruputnya yoghurt kental itu dengan ragu-ragu sembari mengernyitkan alis.
"Bagaimana?"
Sena menjawabnya dengan anggukan sebanyak tiga kali, mengisyaratkan rasanya tidak seburuk yang ia bayangkan.
Ayahnya lalu duduk menjejerinya dan mengucapkan kalimat mutiara buatannya sendiri.
"Adakalanya yang nampak buruk tidak seburuk kelihatannya jika sudah kamu coba."
Sena mengedikkan bahunya dan kembali menonton acara favorit yang sempat diabaikannya tadi.
Sang ayah memperhatikan bengkak di sekitar perbannya.
"Bengkaknya sudah berkurang?"
"Ya. Lututnya bisa ditekuk sedikit."
Sena memperagakan menekuk lutut disaksikan kedua orangtuanya, sedangkan ia fokus menyimak televisi.
"Syukurlah. Jangan banyak gerak dulu."
Sang ibu ikut menjejerinya sambil membawa sepiring apel yang sudah dikupas dan dipotong.
Sena mencomot sepotong apel tanpa diikuti kedua matanya, membuat potongan itu terjatuh sebelum sempat dicicipi lidahnya.
Matanya yang lengket pada layar empat puluh inci itu akhirnya mengalihkan tatapannya pada potongan apel yang menggelinding dan tergeletak tak jauh dari posisi perban.
Ditariknya sang tangan kanan untuk merengkuh potongan itu, lalu menemukan garis keunguan mencuat malu-malu dari perbannya.
Garis yang mengingatkannya pada luka di lengan Zalva.
Yang sedang dikompres cairan kuning revanol oleh pemiliknya.
Zalva menekan pelan kapas basah itu ke kulit di sekitar lukanya.
Obat kompres luka yang dibelinya seminggu yang lalu itu telah berkurang seperempat demi penyembuhan lukanya.
Fokusnya terganggu oleh kehadiran sang ibu yang membuka pintu kamarnya dengan membawa tiga lembar kertas.
Kertas itu kemudian berpindah ke meja belajar Zalva.
"Pastikan pelajari baik-baik."
Zalva memperhatikan kertas yang tercetak beragam angka dengan tinta hitam dan sedikit tinta merah untuk menandai bagian pentingnya.
"Apa ini?"
Sang ibu membenarkan letak kertas kedua yang terbalik.
__ADS_1
"Soal ujian bulan depan dari guru mapelmu."