
Zalva memandang gedung sekolahnya dari kejauhan dengan langkah kaki enggan.
Semalam suntuk ia memikirkan cara untuk membolos hari ini, hingga membuat matanya hanya terpejam selama tiga jam.
Ia bahkan membuat daftar bernomor berisi kemungkinan alasan yang akan berhasil beserta bukti kuatnya.
Pertama adalah sakit dengan bukti luka sayatan di tangannya, yang otomatis langsung tercoreng masuk ke tempat sampah imajinernya karena bukti yang jelas tidak logis.
Luka di tangannya sudah hampir sembuh; meskipun masih tersisa sedikit nyeri ketika otot di sekitarnya tertarik atau tidak sengaja memakai lengannya terlalu keras.
Bekas luka yang hampir mengering sepenuhnya itu jelas tidak efektif untuk pembenaran alasan tidak masuknya.
Yang kedua adalah diare tiba-tiba. Ide ini munculnya ketika Zalva melihat sang ibu pulang berbelanja dan memasukkan banyak cabai di kontainer khusus cabai dalam kulkasnya.
Zalva pikir Bibi akan memasak menu makanan pedas untuk makan malam dengan cabai itu.
Ternyata ia hanya memakan kari kentang tanpa rasa pedas sama sekali.
Apalagi ketika melihat uap panas dari minyak cabai kesukaan sang ibu dalam wadah kaca besar yang dibiarkan terbuka disamping rak cuci piring.
Yang baru saja dibuat dari cabai-cabai yang dibawa pulang sang ibu.
Ia menelan segelas air putih dengan kecewa.
Namun Zalva masih belum menyerah.
Ia berniat bangun siang dengan sengaja, lalu berkata kalau hari itu adalah hari inspeksi kelas. Kalau siswa teladan sepertinya tertangkap telat, reputasinya akan terancam. Sang ibu yang sangat mementingkan reputasi dan nilainya lebih dari apapun pasti akan luluh dan mengijinkannya.
Kalau poin ketiga tidak juga berhasil, ia akan berjalan dengan pelan dan mengambil rute memutar untuk mencapai sekolahnya. Kalau perlu ia akan berbalik cukup jauh lalu berjalan sepelan mungkin menikmati sinar matahari.
Pagi harinya, sang ibu menggagalkan rencananya akibat telepon dari sang kepala sekolah yang mengatakan hari ini adalah hari inspeksi kelas.
Mata Zalva yang masih mengantuk karena sengaja begadang dipaksa untuk terbuka. Otaknya berusaha memproses perkataan sang ibu tentang inspeksi kelas bersamaan masuknya nasi dan sebutir telur ceplok ke lambungnya.
Meski tebakannya mengenai inspeksi kelas sepenuhnya benar, Zalva membenci hasil akhir yang tidak sesuai dengan keinginannya.
Sang ibu memastikan ia sampai di sekolah sepagi mungkin, bahkan menurunkan dirinya tepat di depan gerbang sekolah, membuat eksekusi rencana terakhirnya gagal.
Zalva menghela napas pasrah. Mungkin ia memang harus mengatasi kecanggungannya bertemu Sena setelah kemarin telah tertangkap basah.
Meski melihat anggukan Sena dan mendengar kata janji dari mulutnya ketika mengancamnya agar bungkam, ia masih meragukan teman sebangkunya itu.
Atau lebih tepatnya, ia meragukan dirinya sendiri.
Tampilannya memang tak nampak mencurigakan. Dari penelitian yang dilakukan Zalva diam-diam, Sena hanya murid biasa yang tidak suka bersekolah.
Salah satu poin yang membuatnya lega adalah kecanggungan Sena dengan orang lain.
Ia nampak tidak tahu cara menjawab pertanyaan basa-basi yang dilontarkan teman sekelas untuk mengenalnya.
Kecanggungan yang jelas tersurat di wajahnya membuat orang-orang yang bertanya padanya menjadi enggan memanjangkan pembicaraan mereka.
Tidak menutup kemungkinan itu terjadi karena Sena duduk sebangku dengan manusia paling mereka benci di kelas.
Untuk poin tersebut, well, Zalva merasa sedikit bersalah.
Sebab itulah Zalva dilema dengan kasus ketidaksengajaan pengungkapan identitas pribadinya; khawatir sekaligus lega disaat bersamaan.
Khawatir karena pertama kalinya ada orang yang mengetahui identitas tersembunyinya sebegai seorang anggota geng motor yang bereputasi sebagai murid teladan.
__ADS_1
Lega karena diantara manusia yang mengenalnya di kehidupan malam maupun siangnya, orang itu adalah Sena.
Yang sekarang tengah berdiri menatapnya di depan lobi utama kelas dua dengan wajah terkejut.
Sena mengedarkan pandangannya ke sekitar dengan gugup, lalu kembali menatap Zalva yang berjalan pelan menuju ke arahnya.
Tepatnya ke arah papan pengumuman nilai ujian minggu kemarin di belakangnya.
Di mana nama sang teman sebangku berada di nomor pertama dari sekian nama lainnya.
Sena berdecak kagum, tak menyangka bisa sebangku dengan sang peringkat pertama paralel sekolahnya.
Wah, jadi seperti ini rasanya ketika teman-teman sepelatihannya mengagumi dirinya yang masuk daftar sepuluh besar di babak penyisihan.
Di saat seperti itu, Sena membalas ucapan selamat mereka satu persatu dengan canggung; tak tahu harus berkata apa.
Ketika mengalaminya sendiri pagi ini, ia sungguh ingin mengucapkan kalimat kekaguman yang diucapkan teman-temannya kala itu pada Zalva.
Sampai tersadar bahwa ialah satu-satunya orang yang ingin mengucapkan selamat pada Zalva.
"Si culun itu lagi? Beneran?"
"Peringkat satu lagi? Konyol amat-"
"Ga mungkin peringkat pertama terus kalau ga curang!"
Sena terhenyak mendengar beragam reaksi tidak menyenangkan di sekitarnya. Dadanya terasa berdenyut meski ucapan itu tidak ditujukan untuknya.
"Kalau saja ayahku sekaya itu-"
"Bayar kepala sekolah seberapa, sih?"
Sena merasa darahnya naik perlahan, merasa tidak adil dengan ucapan kerumunan itu.
Ia bahkan menyaksikan sendiri betapa kerasnya sang teman sebangkunya belajar!
Di saat orang lain pergi menghabiskan waktu istirahat mereka di kantin untuk bermain dan bercanda, Zalva hanya memakan sebuah roti sambil membaca dan menulis poin-poin penting yang perlu diingat dari buku itu.
Bagaimana bisa dengan entengnya usaha seberat itu dicaci maki oleh mulut-mulut yang tak pernah belajar sekeras Zalva!
Sena melangkahkan kakinya keluar dari kerumunan itu dengan perasaan marah.
Ia khawatir tak bisa menjaga tabiatnya di hari keduanya bersekolah.
Hampir saja mulutnya hendak membalas cacian mereka kalau saja ia tak berbalik dan terkejut menemukan Zalva berjalan menuju ke arahnya.
"Hei, itu dia si peringkat satu datang!"
Sena menatap Zalva sambil memaksa otak usangnya memikirkan sesuatu yang tepat guna mengatasi situasi kacau ini.
"Ingin lihat hasil sogokannya, tuh!"
Sialnya sang otak malah macet di saat-saat penting seperti ini.
Konsentrasinya terpecah antara mendengarkan ocehan buruk di sekitarnya dan mencari solusi untuk mencegah Zalva mendengarnya.
"Wajah tanpa dosa banget, najis!"
Ketika Sena sibuk dengan pikiran liarnya, Zalva sudah berdiri sekitar satu meter di depannya, menatap papan pengumuman yang ramai dipenuhi para siswa.
__ADS_1
Zalva melihat sekilas nilai matematika yang terus dicemooh sang ibu, memastikan kebenaran nominalnya.
Sembilan puluh tiga.
Zalva menghela napas dan hendak melanjutkan perjalanannya sebelum raut muka marah Sena menghentikan langkahnya.
Bisikan-bisikan itu menggema semakin jelas di telinga Sena hingga membuatnya naik pitam.
Ia tidak sanggup menahan diri lagi sampai ujung lengannya ditarik oleh Zalva.
"Jangan marah. Pak Pras memanggilmu."
Seketika amarah Sena luntur bersama dengan tangan Zalva yang melepas ujung lengan seragamnya.
Ia mengikuti langkah kaki Zalva dengan mata berkaca-kaca; hasil residu sang amarah yang dipendam tanpa sempat meluncurkannya.
Zalva dan Sena berjalan berurutan membelah lautan siswa yang makin heboh melihat mereka berdua.
"Apaan? Si culun punya teman sekarang?"
"Temannya pasti juga sejenis, tuh!"
Seiring langkah kaki Sena menjauh dari papan pengumuman, bisikan di sekitarnya menghilang, tergantikan oleh kepanikan akan mata berkaca-kacanya yang berpotensj dilihat orang.
Sena mengedipkan matanya cepat-cepat guna mencegah sebulir air mata mencuat turun ke wajahnya.
Apalagi ketika melihat sang wali kelas yang sedang berbincang dengan guru lain di depan kelas, Sena mengusap matanya dengan cepat lalu menghampiri beliau.
"Iya, Pak? Ada apa?"
Pak Pras menghentikan obrolannya, kebingungan dengan pertanyaan tanpa konteks Sena di pagi yang damai.
Zalva membuka pintu kelas sembari berdehem, hendak menyentuh kerongkongannya yang tiba-tiba terasa gatal setelah mengarang alasan konyol untuk diucapkan pada Sena tadi.
Ia berencana masuk kelas secepatnya sebelum situasi bertambah kacau dikarenakan wajah sang korban yang ia sangkut pautkan, Pak Pras, terlihat bingung.
"Ah, kertas yang kemarin itu! Tolong segera dikumpulkan, ya."
Sena mengangguk sedikit telat, mengingat kertas yang masih kosong meski harus diisi dengan menceritakan minat, bakat, dan mimpinya.
"Tak harus hari ini, sih. Paling tidak jumat nanti sudah dikumpulkan, ya."
"Iya, Pak."
Zalva menghembuskan napasnya, lega mendengar percakapan Pak Pras dengan Sena yang secara tidak langsung menyelamatkannya.
Meski ucapannya kepada Sena tadi asal-asalan, ia tulus mengucapkannya.
Zalva spontan mengucapkannya karena teringat kejadian Tera yang hampir berkahi hanya untuk membelanya.
Ia takut teman sebangkunya terlibat cekcok tak penting hanya karena hendak membelanya.
Entah mengapa raut marah muka Sena tadi membuatnya senang.
Setelah sekian lama mengabaikan ocehan-ocehan yang tak pantas membuatnya mengeluarkan emosi itu, muncul seseorang yang marah menggantikannya.
Ia tak pernah mengharapkan reaksi sedalam itu, baik dari Tera yang sudah lama dikenal maupun Sena yang baru saja bertemu.
Namun ketika seseorang bereaksi sedemikian rupa, hatinya bahagia.
__ADS_1
Mungkin, ia memang mengharapkannya.