SULIVAN

SULIVAN
Teman


__ADS_3

Sena melangkahkan kakinya keluar dari gedung sambil menarik napas panjang.


Ia akhirnya bisa bernapas lega setelah dua jam paling menegangkan berhasil dilaluinya.


Saking menegangkannya sampai pelajaran wirausaha yang membosankan dapat dilaluinya tanpa mengantuk sama sekali.


Matanya terus terbuka karena otaknya berjalan tanpa henti.


Pikirannya tersangkut pada kejadian di laboratorium, tepatnya di bawah meja panjang yang paling dekat dengan pintu.


Kejadian bersembunyi yang membuatnya merasakan lumpuh menjalar ke sekujur tubuhnya ketika berakhir.


Meski peristiwa itu hanya berlangsung selama sepuluh detik, semua detail kecilnya masih tergambar jelas di ingatannya.


Bagaimana matanya ditutup rapat-rapat, bibirnya yang dikulum agar berhenti bergetar, kaki yang ia rapatkan untuk menutupi dadanya yang berdegup kencang.


Membuat Sena tanpa sadar membangkitkan kemampuan spesial yang hanya bisa diperolehnya di situasi darurat.


Seperti menanyakan lokasi aula pada salah seorang guru yang lewat tanpa merasa bingung dan gelisah.


Berjalan memasuki kantin lalu berbalik dengan natural tanpa merasa malu karena salah arah.


Lalu menyalami beberapa kakak kelas yang mengenalinya karena menonton pertandingannya tanpa rasa gugup sama sekali.


Ketika telah sampai di kelas, Sena masuk dengan menggerutu karena format tempat duduk di aula tidak lagi bebas seperti pelajaran sebelumnya.


Mengharuskannya mau tidak mau duduk di sebelah orang yang paling ingin dihindarinya saat itu.


Membuatnya menggeser kursinya lebih jauh dari kursi Zalva; sampai ke pojok meja yang membuatnya duduk dengan kaki kanannya keluar dari meja.


Kecanggungan itu begitu terasa, mengalir sampai ke aliran darahnya, membingungkan sang otak untuk memprogram arah pandangan matanya.


Memandang papan tulis selama dua jam terasa sangat menyiksa.


Memandang buku kosong atau modul penuh tulisan akan menyiksa tengkuknya.


Memandang taman belakang dari dinding kaca menyiksa jantungnya.


Sebab ia harus melihat pemandangan itu dengan menolehkan kepala ke arah Zalva.


Sedangkan Zalva adalah orang yang paling tidak diinginkan tertangkap oleh netranya saat ini; secara sengaja maupun tidak.


Baik wujudnya, barang miliknya, maupun hal lain yang mengingatkannya pada Zalva.


Akhirnya ia putuskan untuk bergantian menatap papan tulis, buku, tembok, jendela, lukisan, dan benda apapun yang sekiranya menarik untuk dilihat.


Berkali-kali pula ia bergantian menatap jam dinding dan jam tangannya.


Berkali-kali pula ia frustasi melihat jam yang bergerak sangat pelan.


Setelah berhasil mengulangi semua kegiatan itu sampai waktunya tinggal sepuluh menit lagi, ia bersorak dalam diam.


Sena mengemasi barangnya sedikit demi sedikit, bersiap untuk pulang.


Mulai dari memasukkan bolpoinnya kembali ke wadahnya, menutup modul yang terbuka tanpa terbaca dan menyelipkannya pelan-pelan ke dalam tas, diakhiri dengan memakai tas ke pundak tepat satu menit sebelum bel.


Ketika bel pulang berbunyi, ia kabur melangkahkan kakinya sejauh mungkin dari Zalva.


Yang tanpa sadar membawanya ke jalan menuju lapangan tempatnya berlatih.


Meski jalan ini adalah rute terjauh menuju gerbang, ia lega mengetahui kemungkinannya bertemu Zalva akan semakin kecil.


Sena berjalan pelan sambil bersenandung kecil, merasakan kekuatan lututnya yang semakin meningkat.


Ia sekarang sudah bisa meluruskan dan menekuk lututnya lebih cepat tanpa harus mengerang.


Agaknya mengonsumsi yoghurt memang berpengaruh pada proses penyembuhannya.


Sebab itu pula ia mampu berjongkok menekuk kakinya lebih lama di kejadian laborat-


Ups.


Ia menepuk mulutnya kencang, lalu mengalihkan pandangan dari lututnya yang membangkitkan kenangan tidak menyenangkan, menuju gedung olahraga indoor di depannya.


Dari pintu gedung yang terletak lima meter jauhnya itu, Tina keluar bersama dua orang lainnya.


Membuat Sena membuka mulutnya dan berseru bahagia.


"Tina!!"


Wah, sudah lama sekali tidak bertemu teman dekatnya ini.


Kalau saja lututnya sudah lebih baik, ia pasti akan berlari memeluknya.


Melampiaskan rasa bahagianya bertemu sahabat sekaligus teman latihannya itu.

__ADS_1


Namun raut wajah Tina mengatakan yang sebaliknya.


Ia membalas panggilan Sena dengan tatapan tidak menyenangkan; bukan dengan sorot mata bahagia.


Tina berbincang sebentar pada dua orang temannya, lalu menyuruh mereka pergi duluan.


Kejadian itu dipantulkan oleh mata Sena kemudian diproses sang otak dan ditampilkan dalam keadaan lambat.


Mengingatkannya akan kejadian sesaat setelah masa orientasi sebagai siswa barunya selesai.


Masa di mana ia baru berkenalan dan berteman dengan Tina.


Saat itu mereka tengah berjalan menuju gerbang sambil membandingkan lapangan olahraga di sekolah ini dengan lapangan sekolah mereka masing-masing.


Lalu pembicaraan mereka terhenti oleh suara seorang perempuan yang memanggil Tina.


Perempuan itu berdiri tak jauh dari posisi mereka, melambaikan tangannya sambil tertawa.


Ia nampak sangat bahagia bertemu Tina.


Sena tersenyum membalas sapaanya, bertanya-tanya apakah dia adalah teman SMP Tina.


Namun Tina meyuruhnya berjalan duluan dan menunggunya di koridor untuk pulang bersama.


Raut muka Tina terlihat tidak menyenangkan, sangat kontras dengan sang perempuan yang menatapnya berbinar.


Sena berjalan sambil menatap perempuan itu dengan pandangan bertanya-tanya.


Di akhir pemutaran peristiwa masa lalunya itu, wajah perempuan sang teman Tina yang nampak blur di ingatannya menjadi jauh lebih jelas.


Dia adalah Rere.


Sena membelalakkan mata selagi beralih kembali ke dunia nyata.


Kali ini, netranya menangkap ekspresi mata yang sama persis dengan ingatan masa lalunya.


Ekspresi bingung dan bertanya-tanya yang tersemat di wajah kedua teman Tina.


Dan ekspresi tidak menyenangkan Tina yang sekarang ditujukan padanya.


De javu yang dialaminya ini membuatnya merinding.


Terasa makin intens seiring langkah kaki Tina yang mendekat padanya.


Sena merasa percakapan yang akan terjadi beberapa detik berikutnya terdengar tidak menyenangkan.


"Hai Sena," Tina mengangkat tangannya menyapa.


"Apa kabar? Lututmu bagaimana?"


Sena mengalihkan tatapannya dari mata Tina ke lututnya yang tertutup rok seragam panjang.


Kontras dengan celana olahraga Tina.


"...baik."


Perbedaan kontras ini entah mengapa membuatnya merasa asing.


"Maaf aku gak pergi menjengukmu.. Kamu, tahu, kan, bagaimana sibuknya latihan kita.."


Sena menanggapinya dengan senyum tipis.


"Kamu cocok pakai seragam sekolah tahu! Cantik banget! Sayang banget sepatu larimu ga kepake.."


Sena menatap sepatu hitam putihnya yang mulai bernoda.


Teringat dengan sepatu biru pemberian Tina, yang talinya sama sekali tidak lepas ketika dipakainya jumat kemarin.


"Masih bisa, kok, di hari Jumat."


Pertanyaan aneh kemudian menyeruak muncul di otaknya tentang penyebab tali sepatu yang selalu lepas ketika dipakainya berlari, namun terikat erat kala dipakainya belajar.


"Ah, iya! Kemarin jumat kamu main ke sini, kan?"


Tina menepukkan kedua tangannya dan berbincang dengan mata berbinar nyalang.


Nada bicara dan raut muka yang dipasang Tina ketika hendak membahas sesuatu yang tidak sesuai harapannya.


Membuat jantung Sena terasa berdetak lebih lambat.


Memacu sang otak mencurigai arah pertanyaan itu.


"Dapat teman baru, nih. Si Rere."


Ah, jadi itu arahnya?

__ADS_1


Seketika sesuatu dalam diri Sena menyeruak, merasa punya kewajiban menjelaskan sesuatu yang terjadi antara Rere dan dirinya.


"Rere orang yang baik.."


Senyum berbinar Tina mulai pudar, menatap Sena dengan mata nyalangnya.


"..dan kamu masih temanku, Tina."


Tina meninggikan suaranya untuk membalas jawaban tenang Sena.


"Tidak! Kita gak lagi berteman!"


Nada tinggi Tina mengagetkannya, mengaktifkan otak Sena untuk mencari kata penenang sebagai antisipasi keadaan tak terkendali yang mungkin akan terjadi.


"Kenapa? Apakah karena Rere?"


Sena menjawabnya setenang mungkin, berusaha menepis alur emosi Sena yang mendominasi keadaan.


Membuat jeda yang terjadi sebelum Tina menjawab terasa menegangkan.


"Ya! Karena kalian berteman!"


Hening seketika menyeruak.


Sena merasa oksigen di sekitarnya menipis dan membuatnya tercekat.


Sampai tak sanggup menemukan kalimat yang tepat untuk membalasnya.


"Hei.. Rere bukan seperti yang kamu bayangkan! Dia beneran baik-"


Sena mengucapkannya dengan bergetar dan terbata-bata.


"Karena kalian, dua orang yang ingin aku kalahkan, malah berteman!"


Tina mengacungkan tangannya dan mendorong pundak Sena selagi mengatakannya.


Dorongan pelan yang menghantam hati Sena sekeras-kerasnya.


"Kamu gak sadar, ya, aku berteman denganmu karena bakatmu!"


Tina memajukan langkahnya sembari berkacak pinggang, mendekati tubuh Sena yang bergerak mundur tanpa sadar.


"Karena sekarang kau gak bisa lari, berteman denganmu tidak lagi menguntungkan!"


Sena hanya diam mendengarkan Tina yang menghujani tikaman bertubi-tubi ke ulu hatinya.


Membuat otaknya overload karena menerima berbagai tugas berat yang diharuskan selesai secepat mungkin.


"Bukankah semua orang berteman karena berharap sesuatu?"


Kalimat pertanyaan itu membentuk lubang besar tanpa tutup, tertinggal di pikiran Sena.


Tina lalu berbalik meninggalkannya dengan kaki yang dihentakkan keras.


Mengalirkan kemarahan yang akan meledak jika tak segera disalurkan.


Meninggalkan Sena yang masih memproses semua kejadian itu; masih tak percaya dengan kalimat-kalimat yang didengarnya.


Tak percaya dengan raut muka marah Tina yang terasa asing meski sudah sering dilihatnya.


Tak percaya dengan keadaan yang berbalik sebegitu kacaunya.


Dalam bayangan mata yang menangkap gerakan Tina berjalan memasuki gedung, otaknya kembali memutar adegan masa lalu yang tercipta dari penglihatan sekilasnya.


Adegan di mana Tina selesai berbincang dengan Rere kemudian menyusulnya dari belakang.


Adegan di mana dirinya di masa lalu menolehkan kepalanya ke belakang, penasaran dengan keadaan Rere.


Yang berdiri dengan raut muka nampak menyedihkan, persis sama seperti dirinya saat ini.


Adegan yang kembali terulang di masa sekarang.


Keheningan yang terjadi selanjutnya digunakan sang otak untuk cooling down, merepasi akibat ledakan emosi yang mempengaruhi mentalnya.


Menyimpan rekaman kejadian ini dalam folder berjudul kenangan menyakitkan di salah satu sel otaknya.


Sena berharap semua ini hanyalah mimpi.


Mimpi buruk yang didapat karena tertidur kelelahan.


Namun sosok Rere yang berlari menghampirinya lima menit kemudian memudarkan semua harapannya.


Menariknya kembali ke dunia nyata, setelah lima menit lamanya terombang-ambing kebingungan antara kenyataan dan mimpi.


"Hai, Sena."

__ADS_1


Rere melambaikan tangan sambil mengatur napasnya yang tersengal karena terus berlari tanpa terputus dari lapangan sampai tempat ini.


Sapaan yang membuat Sena bergeming cukup lama.


__ADS_2