
Sena menguap lemah sambil mencoba membuka kunci ponselnya dengan mata terpejam.
Mencari tahu siapa gerangan yang mengganggu sabtu pagi yang tenang ini.
Ketika mendengar deringnya pertama kali, Sena mengabaikannya dan mengomando otaknya untuk tertidur lebih lelap.
Namun sang otak malah berkhianat dengan memunculkan rasa penasaran akan siapa kenapa dan bagaimana pesan itu terkirim ke ponselnya.
Akhirnya ia memutuskan untuk meraih ponsel itu dengan tetap berbaring.
Setidaknya ia akan mencoba membaca pesan apa yang hendak disampaikan baru kemudian memutuskan apakah akan dibalas atau tidak.
Pikirannya berharap pesan itu hanya pesan spam berisi promo dari Shopee untuk bisa melanjutkan kembali mimpi indahnya.
Namun dua baris kalimat itu malah membuatnya terbangung sepenuhnya.
Pesan dari seseorang yang rasanya sudah lama sekali tidak mengiriminya pesan berisi permintaan untuk bertemu.
Pesan dari Tina.
Ia mengajak bertemu di lapangan indoor jam 9 nanti sebelum latihan akhir pekannya dimulai untuk meminta maaf.
Yang membuat Sena bengong cukup lama menatap layar ponselnya.
Meski kegiatan itu sangat diharapkan terjadi oleh lubuk hatinya, ia tak menyangka akan hadir hari di mana ia betulan menerima permintaan maaf secara langsung dari mulut Tina.
Membuatnya sedikit bergidik; menyadarkan jiwanya apakah ini betulan kenyataan ataukah ia masih dalam pengaruh mimpi.
Menit yang berganti dua kali pada wallpaper ponsel membuatnya sadar bahwa ia benar-benar berada di dunia nyata.
Sena segera beranjak mencuci muka lalu beralih mengambil hoodie dan celana panjangnya.
Ia berencana mampir ke Mang Soleh penjual bubur ayam langganan sang ayah untuk sarapan di sana setelah pulang nanti.
Sudah lama ia tidak menyantap bubur ayam berkuah lezat dan bertabur topping itu.
Suwiran ayam dan komplotannya berkumpul jadi satu berbondong-bondong menduduki bubur putih hingga tak nampak sedikitpun permukaan sang bubur.
Topping berlimpah itulah yang membuatnya kembali ke tenda biru di pinggir jalan itu meski telah mencicipi beragam bubur ayam lainnya.
Lidahnya sudah terlanjur terpesona dengan cita rasa buatan Mang Soleh.
Getaran ponsel di sakunya memberi tanda kepada saraf di tangannya untuk segera meraih benda kotak itu.
Getaran yang ketika dibuka merupakan pesan dari Tina.
Ketika selesai membaca pesannya, Sena mengernyit heran sembari memelankan langkahnya.
^^^Kalau ga ada waktu, gapapa kalau ga datang. ^^^
Tidak biasanya Tina ragu-ragu seperti ini.
Sepanjang berteman dengannya, Tina adalah orang yang jarang mengirim pesan semacam ini.
Ia selalu mengirim pesan seperti usahakan datang ya, jangan telat, atau pesan-pesan lain yang mengindikasikan keharusan.
Meskipun ia tahu sang penerima pesan kemungkinan tak bisa datang, Tina akan tetap mengiriminya pesan seperti contoh di atas.
Sena terdiam memikirkan situasi macam apa yang membuat Tina bertindak seperti bukan dirinya.
Tapi ah sudahlah.
Lagipula ia sudah berjalan jauh hingga membuatnya selangkah lebih dekat menuju sekolah daripada kembali ke rumah.
Ditambah ia juga bukan lagi seorang teman bagi Tina.
Mungkin saja ia sudah merubah kepribadiannya seperti yang ia lakukan pada mantan temannya terdahulu.
Jadilah kakinya kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda.
Ia berencana akan menyelesaikan konflik ini sesimpel mungkin dengan mengatakan sepatah dua patah kata lalu beranjak pulang.
Toh kalimat sepanjang apapun tidak akan merubah keadaan rumit mereka.
Ia tidak akan menambahkan benang kusut dengan membalas Tina penuh emosi.
Cukup membalas dengan nada sedatar mungkin, agar Tina mengerti bahwa dirinya sudah selesai dengan masa lalu mereka.
__ADS_1
Hiruk pikuk manusia yang berlalu lalang di sekitarnya mendinginkan emosinya yang sedikit meningkat.
Mereka berbondong-bondong memasuki gerbang sekolah dengan tujuan berbeda.
Remaja berbusana terkini yang berjalan riang gembira nampaknya hendak bertemu temannya di sekolah.
Antara akan kerja kelompok atau pergi main.
Sedangkan remaja berbusana atasan kaos dan bawahan seragam adalah anggota OSIS yang nampak sibuk wara wiri untuk persiapan perayaan kemenangan tim basket sekolah mereka.
Dengar-dengar mereka akan menyiapkan pidato kemenangan di upacara bendera besok Senin sekaligus after-party setelah pulang sekolah.
Ada lagi sekumpulan wanita paruh baya yang mengobrol dengan suara keras sambil berjalan menuju aula.
Mereka adalah para wali murid pilihan yang diundang oleh sekolah untuk menghadiri seminar kesiswaan.
Seminar yang kabarnya merupakan seminar paling besar yang pernah diadakan oleh sekolahnya itu berisi kiat-kiat mendampingi siswa mempersiapkan ujiannya.
Panitia bahkan menghadirkan beberapa wartawan untuk datang meliput dan mengirimnya ke media lokal.
Dari kalimat bisik-bisik yang berhasil ditangkap oleh indra pendengarnya, salah satu mentor yang akan mengisi acara hari ini adalah ibunya Zalva.
Ya, tentu saja bakat sang anak yang mampu mempertahankan peringkat satu paralel sekolah menurun dari kedua orangtuanya.
Suasana hari Sabtu yang harusnya tenang karena libur menjadi lumayan ramai pada hari ini.
Termasuk lapangan outdoor yang mulai terisi dengan para atlet yang sedang pemanasan.
Sena mengedarkan pandangannya ke segala penjuru, mungkin saja ia bisa bertemu dengan Rere pagi ini.
Namun sampai tungkainya memasuki lapangan indoor, tak satupun sekelebat bayangan Rere melintas di matanya.
Di ujung dinding koridor, Tina berdiri memegangi ponselnya.
Dari jarak sekitar lima belas meter, Sena menangkap air muka Tina yang berubah terkejut begitu menyadari kedatangannya.
"Kau betulan...datang."
Sena menangkap keragu-raguan Tina yang lagi-lagi mengganggu panca indranya.
Semua gerak-gerik itu terekam jelas lalu diartikan oleh sang otak sebagai pertanda meremehkan kedatangannya.
Membuat pikirannya berasumsi kalau Tina hanya iseng mengajaknya bertemu dan berpikir kalau dirinya tidak akan datang; meskipun ia rela mengorbankan jadwal tidurnya yang berharga.
Membuat emosinya menyeruak hendak menghancurkan pintu yang menyegelnya rapat-rapat.
Ia telah berjanji pada dirinya sendiri akan menyelesaikan konflik ini dengan kepala sedingin Kutub Utara.
Jadilah ia bersiap melontarkan jawaban sebelum Tina bertanya.
Ia tak yakin otaknya masih tetap dingin selagi menunggu Tina mengeluarkan pertanyaannya.
"Aku terima permintaan maafmu."
Tina yang semula menatap kedua sepatunya mengalihkan pandangan pada Sena, menatapnya dengan nanar.
"Tapi karena aku tak lagi berbakat, mari tidak usah berteman lagi."
Sena makin marah menatap Tina yang bolak balik antara memandangnya dan memandang sesuatu di belakangnya; yang seakan lebih menarik dibanding keberadaannya.
"Kenangan kita saat masih berteman bagiku adalah kenangan yang indah,"
Mulut Tina nampak bergerak mengatakan sesuatu dengan pelan, yang tak digubris oleh Sena dengan tetap melanjutkan kalimatnya.
"Terimakasih sudah berteman denganku-"
"Lari! Sena, lari!"
Gerakan mulut Tina semakin cepat disusul langkahnya yang bergerak mendekat.
Sena mulai mengaitkan keragu-raguan Tina dengan situasi saat ini.
Tina yang terus mengucapkan lari sambil melangkah ke arahnya, membuat kepalanya punya hasrat kuat untuk menoleh ke belakang.
Hendak memastikan apa gerangan yang membuat Tina lari ketakutan menuju ke arahnya.
Namun sebelum kepalanya berpaling, sebuah tangan membekap mulutnya dengan segumpal kain, membuat tubuhnya perlahan terkulai lemas.
__ADS_1
Suara jeritan Tina terdengar makin samar di telinganya.
Semua benda yang ia lihat terlihat berbayang-bayang dan berputar pelan.
Mata merah Tina adalah pemandangan yang terakhir kali tertangkap sang pupil sebelum tertutup rapat.
Sena pingsan.
Tina menjerit kencang begitu melihat Sena telah merosot tak sadarkan diri sebelum ia sempat meraih tangan Sena.
Menangisi jemarinya yang terlambat menyentuh Sena ketika ia telah ambruk tak sadarkan diri.
"Wah. Kau sungguhan temannya, ya."
Sang pelaku lalu memotret wajah Sena yang tak sadarkan diri, meski dihalang-halangi oleh teman sekelasnya.
"Untuk apa terisak begitu? Sudah terlambat menangis sekarang."
Pelaku bernama Oki itu tertawa senang setelah mengirimkan hasil jepretannya kepada seseorang.
Lalu melempar beberapa kunci yang dihimpun dalam satu logam panjang.
"Urus sisanya dengan baik, kalau tidak mau kejadian ini menyebar kemana-mana."
Tersisalah Tina yang terisak memegangi pipi Sena, berulang kali meminta maaf meski Sena tak dapat mendengarnya.
Ia menyesal telah menyanggupi tawaran Oki yang berujung malapetaka bagi dirinya dan Sena.
Tawaran yang diterimanya cuma-cuma lantaran tak percaya dengan omong kosong sang teman sekelasnya waktu SMP.
Tawaran yang diajukan Oki padanya kemarin siang itu hanya ditertawai mentah-mentah olehnya.
Tawaran membawa Sena ke lapangan indoor pada Sabtu pagi dengan iming-iming menyingkirkan lawan terkuatnya di turnamen yang akan datang.
Tentu saja Tina tak percaya.
Ia menertawakan tawaran konyol itu dengan dalih Sena tidak akan datang memenuhi panggilannya karena mereka bukan lagi teman.
Lalu Oki dengan lantang menampik pernyataannya dengan meyakini Sena akan datang karena Sena terlalu baik hati.
Terjadilah percakapan saling silang antara mereka berdua.
Percakapan alot itu berbalik menjadi taruhan, siapa yang benar diantara mereka berdua mengenai kedatangan Sena pagi ini.
Disanggupilah taruhan itu tanpa satupun pikiran negatif tentang kejadian setelahnya.
Toh ia yakin Sena pasti tidak akan datang karena ia mengatakan kalimat yang sangat menyakitkan tempo hari.
Ketika pintu ruangan terbuka beberapa menit lalu, tubuhnya membeku menemukan orang yang membukanya bukanlah Oki.
Melainkan Sena.
Pikirannya berkecamuk tak karuan; tak percaya dengan keberadaan Sena yang masih mau datang meski telah disakitinya habis-habisan.
Tempo hari ketika ia bertengkar dengan Sena, sama sekali tidak muncul rasa bersalah di benaknya.
Namun ketika melihat Sena berdiri di ujung pintu, rasa bersalah tiba-tiba menghujaninya deras-deras.
Menyobek hatinya yang keras dengan rentetan peluru timah yang panas.
Ditambah kedatangan Oki yang merayap diam-diam di balik tubuh Sena dengan membawa seonggok kain.
Alarm dalam tubuhnya bergetar menyuarakan siaga satu demi menatap gerak gerik mencurigakan Oki.
Namun dalam kaeadaan genting itu, ia mendengar Sena menyebutkan bahwa ia senang berteman dengannya.
Membuatnya tanpa sadar mengeluarkan banyak air mata sebab tak sanggup menahan pilunya sang hati yang berdarah menatap bukti telak kebaikan hati Sena.
Berdarah karena gadis sebaik ini telah dikhianati oleh mulutnya sendiri, oleh tubuh iblisnya.
Tangisnya terus mengalir tanpa henti, menangisi tubuh Sena yang tergeletak lemah tak berdaya akibat keberingasan egonya.
Menangisi tubuh jahatnya yang tak akan lagi muncul sebagai kenangan indah di ingatan Sena.
Sementara itu, Bi sedang tersenyum puas melihat hasil cemerlang sang anak buah.
Lalu menyiapkan kalimat terindahnya untuk menyertai foto Sena yang pingsan untuk dikirimkan kepada Zalva.
__ADS_1