
Sena menatap papan tulis yang sedikit demi sedikit penuh dengan tulisan kapur.
Tinggal tersisa satu hari lagi menuju akhir pekan yang sangat dinantikan olehnya selama seminggu ini.
Sabtu waktunya tidur seharian, dan minggu waktunya main ke rumah Rere, hasil dari diskusi online mereka kemarin.
Rere mengajaknya datang ke rumah dan akan memasakkannya mie goreng nyemek pedas; makanan yang sudah lama sekali tidak ia makan.
Terakhir kali ia memakan menu ini adalah sehabis turnamen terakhirnya, sekitar tiga bulan lalu.
Dimasak oleh chef resmi rumah mereka, Nyonya Lia, sang ibu, untuk merayakan kemenangan sang anak yang meraih juara dua.
Namun akhir-akhir ini Nyonya Lia tidak mau lagi menyanggupi permintaannya untuk menjaga kesehatannya.
Alhasil, ajakan makan gratis di rumah Rere tentu saja sulit ditolak perutnya.
Setelah sang sekretaris meletakkan kapurnya kembali ke habitatnya, ia mundur ke tempat duduknya.
Kemudian digantikan oleh ketua kelas yang berdiri di samping papan tulis, hendak menjelaskan kalimat yang tertulis rapi di sana.
“Hari minggu akan ada seminar di aula sekolah kita.”
Oh, makanya tadi pagi halaman sekolah dipenuhi tukang yang bolak-balik masuk keluar gedung membawa berbagai barang.
Lampu imajiner dalam otak Sena menyala, mengaitkan keramaian tadi pagi ke tulisan di papan tulis.
“Pesertanya adalah sebagian orang tua siswa yang diundang. Undangannya akan dibagikan hari ini.”
Ketua kelas lalu memanggil satu per satu nama murid yang orangtuanya diundang untuk mengikuti seminar.
Ketika tiga amplop yang berada di genggaman sang ketua kelas berpindah ke tangan penerimanya, ia kemudian menyebutkan tugas remedial ulangan matematika dadakan kemarin yang harus dikumpulkan Senin pagi di meja depan.
Membuat Sena mengerucutkan bibirnya, mengetahui bahwa tugasnya baru selesai seperempatnya.
Materi sin cos tan yang membuat keluarganya menyerah, tidak sanggup mengajarinya.
Ia bahkan menghubungi Tante Nifa, adik terakhir sang ibu yang sedang kuliah untuk meminta bantuannya.
Berkat tantenya yang pintar itu, soal remidinya telah terselesaikan seperempatnya.
Masih ada tiga perempat soal yang mau tak mau merenggut rencana tidur sehariannya di hari Sabtu.
“Dan hari ini adalah jatah kita piket keluar.”
Sang ketua kelas menyebutkan piket kelas siang ini diganti dengan piket di aula.
"Zalva, Dina, Jojo, Reta-"
"Ijin, perutku sakit."
Laki-laki yang duduk di pojok depan dekat pintu itu menyandarkan punggungnya ke kursi.
Dilihat dari arah manapun, perilakunya nampak dibuat-buat dan dilebih-lebihkan.
Padahal perut yang katanya kesakitan itu bergoyang kesana kemari saat istirahat tadi, menampilkan tarian tiktok yang sedang populer dengan luwesnya.
Kemudian dua jam berikutnya perut itu mendadak sakit karena harus mengepel aula.
Sena mengumpati pemilik perut itu dengan tatapan datarnya.
"Baiklah. Zalva, Dina, Re-"
Seorang perempuan yang duduk di baris ketiga mendadak mengacungkan tangan, menyela percakapan sang ketua.
"Kaki Dina juga sakit."
Terdengar irama bisik-bisik mengejek memenuhi kelas, saling bertumpu satu sama lain sehingga terdengar tidak jelas.
Mengejek Dina yang daritadi berlarian demi melihat sang idola sekolah dari dekat.
Teman kelas satu ini memang genitnya minta ampun.
Matanya sibuk berburu cogan di manapun, kapanpun, dan di situasi apapun.
__ADS_1
Tapi untuk urusan perpiketan dan tugas kelas, ia berada di urutan pertama yang paling dibenci karena sering menyepelekan.
Sang ketua kelas menatap bosan gerakan hiperbola Dina yang berpura-pura kesakitan.
"Reta juga sakit!"
Terdengarlah tawa mengejek yang lebih keras, dibarengi dengan sorak sorai lain yang saling berkejaran.
Menyoraki Zalva yang diam menunduk seperti biasa.
Setelah semua teman kelasnya keluar, Zalva berdiri mengambil sapu di belakang lalu berjalan keluar.
Diikuti Sena yang mengambil alat pel setelah memutuskan untuk membantu Zalva.
Kalau dipikir-pikir, ia belum ada kesempatan untuk membalas kebaikan Zalva yang membantunya untuk tidak tersesat di sekolah seluas ini.
Sampai di aula, Sena meletakkan pel yang dibawanya ke sudut ruangan lalu bergabung dengan Zalva yang tengah memindahkan kursi lipat ke tembok belakang.
Dan membuat Zalva terdiam beberapa detik sebelum membuka mulutnya.
"Ngapain kesini?"
Sena menekuk bagian empuk kursi ke dalam sampai terlipat rapi.
"Balas budi."
Zalva mengambil dua buah kursi di masing-masing tangannya sambil tersenyum, menertawakan alasan Sena.
Satu per satu kursi lipat berjajar rapi menyandar tembok.
Giliran meja putih yang diangkat Zalva menuju barisan kursi dan menaruhnya di samping mereka.
Sena mempelajari metode Zalva lalu mempraktikkannya pada meja di depannya.
Namun hanya dua kaki depan yang bisa terangkat meski sudah mengerahkan banyak tenaga.
Kedua kaki belakang yang susah lepas dari gravitasi berhasil terangkat dengan bantuan Zalva.
Sena melepaskan meja yang diambil alih oleh tangan Zalva.
"Hei..!!"
Zalva menghindari kepalan tangan Sena yang menjulur ke arahnya.
Tinju separuh tenaga itu hanya mengenai udara kosong, membuat Zalva menertawakannya.
Pertengkaran penuh tawa itu berlangsung selama satu menit, sampai sang pengejar kehabisan tenaga.
Sena lalu mengambil sapu dan mulai menyingkirkan debu lantai, sedangkan Zalva mengangkat sisa meja.
"Kamu gak membalas kelakuan licik mereka?"
Zalva meluruskan sisi meja atas yang ditumpuk keadaan terbalik agar sejajar dengan sisi meja bawah.
"Buat apa?"
Sena menjulurkan tangannya untuk meraih kolong meja.
"Ya biar mereka gak keterlaluan."
Zalva memposisikan kedua tangannya di pinggir meja, menyiapkan tenaga untuk mengangkatnya.
"Gak ada gunanya. Mereka cuma ingin berontak dan kebetulan punya samsak yang pas untuk jadi sasaran."
Sena menatap Zalva yang tengah meletakkan meja pelan-pelan.
"Tetap saja, mereka gak harus sekejam itu padamu."
Zalva kembali fokus mengangkat tiga meja yang tersisa, tanpa terbesit keinginan untuk menimpali kalimat Sena.
"Kenapa hanya kamu? Padahal ada banyak anak yang jauh lebih buruk darimu."
Zalva tertawa mendengar gerutuan Sena, lalu meletakkan meja terakhirnya dengan hati-hati.
__ADS_1
"Karena aku orang asing bagi mereka."
Sena meraih sarang laba-laba yang tersembunyi di belakang lemari, sambil memikirkan kalimat yang tepat untuk membantah argumen itu.
Namun sebelum otaknya selesai menyusun kalimat, otak Zalva bereaksi terlebih dahulu.
"Terimakasih sudah membantuku hari ini. Tapi besok-besok kamu tidak perlu melakukannya."
Kalimat apresiasi itu dibalas dengan alis mengernyit dan tatapan bertanya-tanya dari Sena.
"Kamu mungkin akan diasingkan juga."
Sena menatapnya sambil tertawa.
"Tidak apa-apa. Aku juga orang asing di sana."
Mereka lalu melanjutkan kegiatan bebersih diiringi dengan percakapan hangat dan candaan yang mengalir tanpa halangan.
Bercanda menggunakan alat apapun yang ada di sana, dengan pancaran sinar matahari yang mulai masuk lewat tembok kaca.
Mencatatkan kejadian ini sebagai momen tertawa paling banyak di masa-masa penuh pikiran rumit ini.
Selesai beberes, mereka berdiskusi untuk menentukan siapa yang akan naik mengunci pintu kelas dan siapa yang akan membuang sampah.
Zalva mengusulkan ia saja yang naik mengunci kelas dan membawa turun tas mereka berdua, lalu Sena menunggunya di halaman depan begitu selesai membuang sampah.
Yang disetujui oleh Sena dengan mengangkat plastik sampah dan menepuk bahu Zalva sedikit keras.
"Sampai nanti."
Hiruk pikuk siswa yang tengah mengikuti kegiatan ekstrakurikuler membuat lapangan depan nampak lebih ramai dibandingkan di dalam gedung.
Klub basket di pinggir kanan, badminton di sisi kiri, sedangkan klub taekwondo sedang pemanasan berlari mengelilingi lapangan.
Tatapan Sena mengikuti barisan pemuda pemudi berseragam putih itu.
Membuatnya bernostalgia ke masa-masa kejayaannya, yang sehari-hari disibukkan dengan berlari.
Mengawali pagi hari dan menutup sore hari dengan memutari lapangan.
Hari-hari ketika lelahnya masih terasa menyenangkan.
Hari-hari ketika ia dan Tina masih saling berbagi canda dan tawa.
Sena masih menyukai kenangan indah itu, meski Tina tak lagi berteman dengannya.
Cahaya matahari sore menerpa wajahnya, menebarkan kehangatan ke setiap sel kulitnya.
Menemani langkah Sena menuju tempat sampah besar di balik tembok sekolah.
Selepas membuang plastik dan menepuk tangannya untuk menyingkirkan debu, Sena dikagetkan oleh seorang pemuda yang berdiri di belakangnya, bersandar di batang pohon mangga.
"Hai."
Sena menolehkan kepala ke kanan dan kiri, mencari manusia yang mungkin disapa oleh pemuda yang seragamnya dipakai dengan asal-asalan ini.
Semua kancing seragamnya di buka, menampilkan kaos hitam bergambar naga hijau di baliknya, dengan sisi yang hanya dimasukkan sebagian.
"Sayang sekali kamu pingsan di pertemuan pertama kita."
Pupil Sena berputar pelan, bekerja keras menebak arah pembicaraan mereka.
Seingatnya ia hanya merasakan dua kali pingsan, selama latihan menuju turnamen pertama karena demam dan saat insiden perusak lututnya.
"Syukurlah sekarang kau sudah sehat, meski lututmu terlihat buruk."
Otak Sena mengirimkan sinyal peringatan yang membuatnya menatap tajam laki-laki yang berjalan pelan mendekatinya.
"Kau harus berterimakasih padaku."
Pemuda itu membalas tatapan Sena dengan seringai tipis.
"Bukankah karena insiden itu, kau jadi dekat dengan Zalva?"
__ADS_1