
"Tera?"
Zalva berhenti tepat di bawah pohon yang bayangannya cukup luas dan teduh untuk menaungi mereka berdua.
Cukup nyaman untuk bicara empat mata.
"Iya. Dia sakit."
Doki menghentikan langkahnya tepat dua meter di samping Zalva yang mendudukkan dirinya di ujung trotoar.
"Jadi kau berhenti karena Tera sakit?"
Zalva mengangguk.
Ia segan menatap mata Tera sebab mendengar nada bicaranya yang meninggi.
Ia sudah bertekad menjadi anak penurut untuk menghadapi kemarahan Doki.
Teman kecilnya ini sungguh menyeramkan ketika marah.
"Kau sungguhan membela anak ingusan itu?"
Zalva mulai menatap Doki setelah sekian menit terdiam memandangi jalanan.
"Tera bukan anak ingusan."
Doki menatap marah ujung mata Zalva yang mengikuti pergerakan barisan semut kecil di jalanan tidak rata.
"Anak lemah begitu kalau bukan ingusan apa namanya!"
Kali ini Zalva menatap Doki dengan mengangkat kepalanya.
"Jaga mulutmu. Omonganmu sudah kelewatan."
Doki menendang pohon mangga yang berdiri kokoh diantara mereka, membuat batangnya mengayun pelan merontokkan beberapa helai daunnya.
"Kamu selalu membela anak ingusan itu!"
Zalva menatap runtuhnya dedaunan yang terombang-ambing di udara sebelum tergeletak di tanah.
Daun hijau yang harusnya masih menikmati segarnya air dan matahari yang bersatu mengaliri tubuhnya.
"Kau tahu tidak, Tera itu yang menghalangi sulivan bergerak maju!"
Doki mengatur napasnya yang berkejaran karena melampiaskan emosinya menendang pohon mangga yang tetap berdiri kokoh seakan mengejeknya.
"Harusnya kamu tidak mengasihani Tera saat itu, dan menerimanya masuk ke sulivan!"
Zalva menatap Doki yang masih sibuk mengatur napasnya naik turun, tak menyangka Doki benar-benar semarah ini.
"Kalau aku tahu salah satu kalian akan terluka, aku tidak akan memulai semua ini."
Doki memalingkan muka dan tubuhnya, membelakangi Zalva yang juga memalingkan wajahnya.
"Kalau sulivan dilanjutkan, bukan hanya Tera yang akan terluka, kamu dan Rio mungkin akan jadi korban selanjutnya."
Zalva menatap dedaunan hijau yang kembali terombang-ambing tertiup angin.
"Jangan sia-siakan tubuhmu. Masa depan kalian masih panjang."
Doki yang mulai bisa mengatur paru-parunya, mengambil napas panjang sampai air matanya keluar membasahi bola matanya.
Segera dikedipkan matanya cepat-cepat agar air matanya tertahan dan tidak merembes turun mengaliri ujung matanya.
Otaknya kembali mengingat kenangan masa kecilnya bersama Zalva.
__ADS_1
Kenangan tentang alasannya diikutkan les karate secara paksa oleh sang ayah yang sempat membuatnya tantrum tak mau masuk sekolah selama dua hari.
Ia tidak terima dikatai sang ayah sebagai anak lemah dan kurang berolahraga; meski masa kecilnya memang lebih banyak dilalui dengan keluar masuk rumah sakit karena paru-parunya sedikit lemah.
Selama dua hari itulah Zalva terus mengunjunginya dan membujuknya untuk kembali sekolah, bahkan membujuknya untuk menuruti ayahnya.
Saat itu, ia dengan tangisan kencang menolak keras saran Zalva sambil menjerit ia mau ikut kalau Zalva juga ikut.
Jadilah mereka berdua sama-sama mengikuti les karate sejak kelas dua SD, hasil dari tantrum masa kecilnya.
Jika hendak diurutkan satu persatu dari awal dan dicari penyebab semua ini terjadi, maka dirinya dan paru-parunya akan keluar sebagai jawaban paling akurat.
Kalau saja paru-parunya tidak selemah itu, mungkin ia dan Zalva akan menjalani kehidupan biasa seperti remaja pada umumnya.
Kalau saja egonya tak menjulang tinggi hanya karena tubuh yang tadinya sakit-sakitan menjadi tubuh yang pandai berkelahi, mereka mungkin akan menghabiskan setiap malam mereka dengan mengerjakan PR dan menyiapkan materi ujian; bukan belajar menendang titik vital dan mencari cara tercepat menumbangkan lawan.
Kalau saja ia tak termakan hasutan Bi yang dengan tawa mengejeknya berkata bahwa Zalva keluar karena ia kalah taruhan pribadi dengannya, siang ini mereka mungkin akan menyusuri jalan pulang dengan canda tawa seperti biasanya.
Tanpa bertukar kata-kata buruk.
Tanpa memunggungi satu sama lain.
Doki membenarkan tas punggungnya yang melorot sampai ke lengan, lalu pergi tanpa sanggup mengucapkan sepatah katapun pada Zalva.
Ia perlu mendinginkan pikiran dan hatinya yang mendidih.
Dilihat dari bagian manapun, ia adalah penjahat di cerita ini.
Zalva menatap langkah cepat Doki yang buru-buru pergi, berlawanan arah dengan rumah mereka.
Lalu menghembuskan napas lega.
Berdasarkan pengalamannya selama beberapa tahun sebagai teman, ia yakin Doki telah luluh dan akan kembali ke setelan pabriknya beberapa saat lagi.
Perkelahiannya dengan Doki selalu terjadi seperti ini.
Frekwensinya semakin mengecil seiring dengan bertambahnya kedewasaan mereka.
Dulu kala masih SD, paling tidak sebulan sekali mereka pasti terlibat cekcok.
Namun sejalan dengan pemikiran mereka yang berkembang, mereka jadi saling mengerti.
Sampai di tahap ketika mereka berseteru seperti hari ini, mereka bisa saling memahami gejolak pikiran satu sama lain.
Memahami alasan masing-masing yang mendasari perbuatan mereka.
Getaran ponselnya di sakunya kemudian mengalihkan fokusnya.
Diambilnya ponsel itu untuk membaca pesan yang baru saja diterima.
Barangkali Doki sudah mendinginkan kepalanya; meski ia ragu kepalanya bisa mendingin secepat ini.
Napasnya sedikit tercekat begitu melihat nama kontak sang pengirim pesan dan membaca pesan-pesannya.
...Adisa Sena...
^^^Hei^^^
^^^Kamu baik?^^^
^^^Kalau ada sesuatu bilang, ya?^^^
Sementara sang pengirim juga ikut tercekat begitu ponsel yang sengaja dibalik bergetar, menandakan sebuah pesan masuk.
Ia heran sekaligus senang Zalva membalasnya secepat ini.
__ADS_1
Begitu dibuka, ternyata pesan dari Rere yang mengirimkannya sebuah foto.
Foto yang membuatnya menghentikan langkahnya dan terdiam.
Foto berisi dirinya yang sedang berlari sambil tertawa dengan latar belakang lapangan outdoor dengan seseorang yang sedang berjalan membelakanginya.
Seseorang yang menjadi teman sebangkunya saat ini.
Zalva.
Sena menatap foto itu sambil termenung, mengingatkan otaknya akan kenangan pertamakalinya mereka bertemu.
Juga mengingatkan sang otak akan kalimat menyakitkan yang dilontarkan musuh Zalva siang tadi.
Bukankah karena insiden itu, kau jadi dekat dengan Zalva?
Agaknya kalimat itu memang benar adanya.
Kalau saja ia menjaga baik-baik dompetnya hingga tak sampai hilang diambil.
Kalau saja ia menelepon polisi tanpa ikut campur menolong Tera.
Kalau saja-
Ponselnya kembali bergetar, menghentikan perandaian negatifnya.
Kali ini berasal dari Tera yang membalas pesannya.
^^^Kok kamu tahu?^^^
Tera menatap ponselnya dengan mulut menganga demi membaca balasan pesannya, tidak percaya akan mulut Zalva yang ternyata seember itu.
^^^Zalva yang bilang^^^
Apa-apaan ini? Bukannya kerahasiaan penyakit adalah hak pasien?
Tapi sepertinya Sena tidak mengetahui penyakit yang dideritanya secara rinci.
Sena hanya tahu bahwa dirinya sakit.
Kemudian Rio datang menepuk pundaknya dan membuatnya kaget.
Dengan bangga ia menunjukkan kartu pengambilan kue ke depan wajah Tera.
Membuat Tera bersorak senang sampai hampir mengangkat tangannya.
Ia sudah pesimis ketika mendengar sang kasir berkata pesanan untuk hari minggu mungkin sudah penuh.
Ia lalu keluar untuk menerima telepon dari sang ibu, sedangkan Rio tetap berdiri menanti sang kasir mengutak-atik layar di depannya.
Penantian Rio berbuah manis kala sang kasir berkata ada seseorang yang membatalkan pesanannya di hari itu.
Membuatnya langsung memesan kue klappertart berukuran besar dan tambahan tulisan SULIVAN di atas krim putihnya.
Kue kesukaan Zalva yang khusus mereka pesan untuk hari ulang tahun pemimpin mereka minggu nanti.
Sekaligus perayaan pembubaran Sulivan yang cukup berarti dalam kenangan masa muda mereka.
Rio mengambil alih ponsel Tera dan memotret kartu pengambilan kue tersebut, kemudian mengirimkannya kepada Doki.
Mereka memang belum mengatakan rencana dadakan ini yang baru terpikirkan siang tadi kepada Doki.
^^^Buat ulang tahun Za sabtu besok.^^^
Pesan dari Tera mengejutkan Doki.
__ADS_1
Meninggikan rasa bersalahnya dan meraksasakan penyesalannya.