
Sena menelan cuilan mie goreng berbentuk kotak mengikuti sang wadah sambil berkonsentrasi menghapus satu baris panjang penyelesaian matematika yang salah.
Ketidaktelitiannya menambahkan variabel x pada variabel yang tidak sejenis membuat satu baris bukunya penuh tipe-x cair yang hampir meluberi angka-angka di bawahnya.
Kedua tangannya kemudian sibuk mengipasi cairan itu agar tidak keluar jalur dan segera mengeras untuk menutupi kesalahannya.
Bekalnya yang masih setengah jalan mau tidak mau harus diabaikan.
Bekal yang dibuatnya asal-asalan karena ia bangun kesiangan dengan kondisi ayah ibunya sudah berangkat.
Mereka sudah mewanti-wantinya untuk memasang alarm tiap menit karena itu.
Tapi karena kupingnya begitu kuat dan kokoh, beragam musik alarm yang sengaja disetel oleh sang ibu hanya sekedar lewat tanpa sempat menyampaikannya ke otak.
Mulai dari musik konser, lagu kondangan yang trebelnya bisa menggetarkan aliran darah, jedag-jedug playlist angkot, sampai bunyi sirine dilewatinya dengan bermimpi.
Meski begitu, dengan percaya diri ia bangun dengan riang gembira, sempat meregangkan otot kesana kemari, berasa di atas awan karena merasa bisa bangun pagi tanpa bantuan alarm.
Sebelum tangannya bersenandung mengambil ponsel lalu menjerit setelahnya ketika menyadari sepuluh alarm sudah terlewati.
Dan tersisa tiga puluh menit lagi sampai bel masuk berbunyi.
Pagi itu, kekuatan super Sena otomatis diaktifkan.
Kesaktiannya terbukti ketika melakukan berbagai kegiatan dalam satu waktu.
Memasak mie, menggoreng nugget, menyiapkan buku pelajaran, menata tempat bekal, menguncir rambut, dan mencari kaos kaki.
Selebihnya ia lakukan di perjalanan menuju sekolahnya; sambil berjalan sedikit cepat karena lututnya belum sepenuhnya sembuh.
Di saat-saat seperti inilah ia sangat merindukan badan sehatnya.
Lenguhan Zalva akibat tangannya yang tak sengaja mengenai lengan sang teman sebangku yang sedang tertidur pulas itu membuatnya membeku sejenak.
Merasa bersalah karena mengganggu tidur nyenyak seseorang yang jarang sekali tidur.
Kebekuan tangannya mencair sedikit demi sedikit, lantas bergerak mengelus pelan tempat tangannya melakukan khilaf tadi.
Pelan-pelan diangkatlah tangan Sena untuk kembali menulis lanjutan jawaban matematika yang sejenak ia lupakan.
Soal tugas yang harus dikumpulkan siang nanti sebagai syarat remedialnya.
Satu soal lagi setelah ini, dan ia bisa menikmati bekalnya dengan nyaman.
Itulah motivasinya untuk kembali mengumpulkan konsentrasi dan mengomando sel otaknya untuk bekerja.
Namun dua soal berikutnya malah dilalui sambil terbayang-bayang perpisahannya dengan Zalva kemarin sore.
Ketika ia diminta pulang mengikuti kumpulan kelas sebelah karena teman Zalva yang datang menyapa dengan wajah marah.
Jiwa penolongnya merasa bersalah meninggalkan mereka yang kemungkinan besar bertengkar tanpa melerainya.
Namun sebagian sisi bijak dalam dirinya mencegah kakinya untuk berbalik; mendikte bahwa itu bukan urusannya.
Jadilah ia pulang dengan ketidaknyamanan menggeluti pikirannya.
Apakah itu penyebab utama sang teman sebangku tiba-tiba berubah menjadi tukang tidur?
Matanya nampak merah sejak pagi tadi.
Juga selama pelajaran yang membuatnya bergantian menyangga kepala dan pipinya dengan mata hampir tertutup.
Sena yang sudah mahir dalam hal tidur di kelas jadi berhasil melewati setengah harinya tanpa sedikitpun rasa kantuk karena terheran-heran.
Heran menatap Zalva sang anak rajin mengantuk selama pelajaran.
Meski ia yakin Zalva dapat memahami semua materi tadi tanpa terkecuali.
Mengalahkan otaknya yang hanya bisa menyerap tiga jam pelajaran pertama walau mata dan pikirannya sepenuhnya terjaga.
Lalu ketika bel istirahat makan siang berkumandang, Zalva menumpuk tiga buku paket tebal dan menumpukan pipi kiri di atasnya.
Tidur sambil menghadap Sena karena menghadap jendela yang terlalu cerah berpotensi mengganggu kepulasannya.
Dua soal yang dikerjakannya sembari bercabang memikirkan Zalva akhirnya selesai.
Mata Sena berbinar menutup buku tulisnya dan menarik kembali bekal yang belum diselesaikannya.
Kelas nampak sangat lengang hari ini.
Hanya ada mereka berdua di kelas; selebihnya pergi menonton pertandingan final basket antar-sekolah yang sedang berlangsung di lapangan indoor mereka.
Bahkan koridor yang biasanya ramai berisi lalu lalang siswa menjadi sangat sepi.
Wajar saja, karena tim basket sekolah mereka ikut bertanding hari ini.
__ADS_1
Desas-desus yang beredar sejak tadi pagi menyebutkan guru kimia mereka -yang akan mengajar dua jam pelajaran terakhir hari ini- akan masuk terlambat demi mendukung anaknya yang ikut bertanding.
Jadilah hampir seluruh kelas tidak ragu menonton pertandingan itu.
Kecuali dua orang asing yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing; tidur dan makan.
Ketika Sena selesai dengan santapan siangnya, matanya bersitatap dengan seseorang yang berdiri di luar kelas mereka.
Adalah Doki, yang bermaksud datang untuk berbaikan dengan Zalva, tapi malah menemukan sang teman tertidur pulas.
Apalagi ia telah kepergok oleh teman sebangku Zalva, yang membuatnya menggaruk kuping dan berbalik pelan, hendak kabur senatural mungkin.
Agaknya Doki tidak mengenali Sena yang berada di tempat kejadian perkara ketika dirinya bertengkar dengan Zalva.
Sedangkan Sena mengenali potongan rambut dan perawakan tinggi besar Doki.
Membuatnya menatap manusia yang tertidur di sebelahnya setelah kepergian Doki.
Kejadian ini mengingatkannya pada dua hari silam sepulang sekolah, di mana Tina dan dirinya tidak sengaja berpapasan di jalan pulang.
Sebelum sempat berpikir respon seperti apa yang hendak ia keluarkan, Tina lebih dulu melengos dan berjalan menghilangkan diri di tengah kerumunan.
Meninggalkan dirinya yang mematung kebingungan.
Apakah pertengkaran mereka kemarin juga tidak terselesaikan dengan benar?
Apakah Zalva juga kehilangan seorang teman, sama seperti dirinya?
Tanpa sadar tangan kirinya yang bebas menjulur menyentuh rambut Zalva.
Mengelusnya dari atas ke bawah, menikmati kegelian rambut yang terselip diantara jemarinya.
Toh berdasarkan perhitungan kasarnya, Zalva tidak akan terbangun.
Mengingat napasnya tetap naik turun teratur meski riuh rendah mulut para manusia berbondong-bondong ingin ikut menonton pertandingan basket.
Rambutnya yang halus membuat Sena senang menyentuhnya, sambil bertanya-tanya sampo apa yang ia gunakan untuk mendapatkan rambut selembut ini; meski sang pemilik terlihat tak begitu peduli dengan produk rambutnya.
Rambut sang ayah juga mirip seperti ini.
Meski beliau hanya keramas ketika kepalanya terasa sudah sangat berkeringat, rambutnya tetap halus dan lembut; menyenangkan untuk disentuh saat mencabuti ubannya.
Di tengah kesenangan Sena merasakan kegelian jemarinya meraba pangkal kepala, Zalva membuka mata.
Menatap Sena yang seketika membeku dengan tangan yang masih bertumpu di rambutnya.
"A-ada.. serangga tuh tadi," ucap Sena demi menghapuskan bukti.
Zalva yang masih setengah mengantuk hampir tertawa mendengar celotehan gagap Sena.
Tangan kanan yang bertumpu lurus menyangga tubuhnya diangkat untuk meletakkan jemari Sena kembali ke rambutnya.
Lalu menutup mata untuk memulai lagi tidur siang yang sudah lama tidak dinikmatinya.
Kebekuan Sena mencair perlahan meski beragam pertanyaan muncul di otaknya.
Jemarinya kembali menelusuri rambut Zalva dan mengelusnya pelan, belum sinkron dengan sang otak yang masih terkendala.
"Jadi dari tadi kamu gak tidur?"
Sena menarik sedikit rambut Zalva untuk melampiaskan rasa malunya, membuat dahi Zalva sedikit mengernyit.
"Tidur."
Sena makin mengencangkan jepitan rambut Zalva diantara jempol dan telunjuknya.
"Tidur kok bisa jawab, gimana sih?"
"Aduh- sakit tau."
Zalva kembali merilekskan otot dahinya setelah mengernyit cukup lama.
Terbuai oleh kenyamanan jemari Sena yang menari di atas rambutnya.
Ia hampir saja kembali tidur pulas sebelum Sena menanyakan pertanyaan yang menarik jiwanya yang hampir terlelap.
"Kemarin kamu... jadi bertengkar?"
Zalva tersenyum menanggapi pertanyaan yang terdengar unik di telinganya.
"Jadi, lah."
Agaknya Sena punya bakat menanyakan hal aneh.
"...parah, ya?"
__ADS_1
Zalva terlalu malas mengabaikan sensasi pijatan kulit kepalanya demi menanggapi pertanyaan aneh Sena.
"-sampai tak bisa tidur begitu."
Kali ini ia mengangkat bibirnya, tersenyum mendengar kesimpulan Sena yang sepenuhnya salah.
Memang benar ia tidak bisa tidur, tapi bukan karena pertengkaran sepelenya dengan Doki; namun karena Tera dan Rio mengajaknya push rank sampai larut malam.
Ia tak perlu khawatir dengan omelan sang ibu karena semalam beliau menginap di kantornya.
Apalagi sejak pertengkaran mereka terakhir kali, sang ibu membebaskan pola kehidupan sehari-harinya; tentu saja selagi nilai matematikanya tetap cemerlang dan peringkat paralelnya bertahan kokoh di puncak piramida.
Ibu Zalva memang tipe-tipe ibu tsundere yang diam-diam perhatian pada anaknya.
"Kalau kamu ada masalah, ceritain lah biar lega."
Kalimat yang diucapkan bibir Sena kali ini membuatnya terdiam.
"Meski gak pandai ngasih saran, aku pandai loh dengerin keluhan orang."
Sena menatap kedua mata yang tertutup meski bola matanya terlihat bergerak pelan.
"Saat ini mungkin kamu belum merasa butuh,"
Zalva menarik napas dalam-dalam dengan pelan.
"-tapi kalau besok-besok kamu pingin banget cerita,"
Sena menyisirkan jemarinya senada dengan intonasi kalimatnya.
"-aku masih tetap di sini, siap dengerin cerita kamu."
Zalva membalikkan wajahnya menghadap pantulan sinar matahari siang yang menyilaukan.
Yang saat ini dirasa lebih baik untuk dihadapi daripada menghadap wajah Sena yang tiba-tiba membuatnya merasa ingin bersembunyi.
Ia merasa Sena seolah-olah dapat melihat jauh ke dalam lubuk hatinya.
Mengatakan sesuatu yang ingin sekali didengar oleh jiwanya.
Zalva bersyukur hanya ada mereka berdua di kelas ini.
Ia merasa akan mati kutu kalau saja ada manusia lain yang menyaksikan.
Apalagi kalau Doki, Tera, dan Rio yang memergokinya.
Niscaya mereka akan mengungkitnya terus menerus demi menatap wajahnya yang merah padam meski berpura-pura terpejam.
Sementara itu, Rio yang sedang berhati-hati membawa dua buah es krim di masing-masing tangannya hampir saja menjatuhkan pesanan Tera ini karena tertabrak seseorang yang melewatinya sambil bercanda.
Hampir saja ia berceramah panjang lebar kalau saja sang penabrak tidak membungkukkan badan untuk meminta maaf.
Jadilah ceramahnya disingkat jadi satu paragraf pendek tepat sebelum teman sang penabrak menyerahkan ponselnya yang terjatuh.
Yang membuatnya hendak mengumandangkan ceramah paragraf kedua kalau saja tak ingat kondisi terkini es krim yang dibawanya.
Berlalulah Rio dengan menahan kesal karena terpaksa memaafkan sang penabrak dan temannya.
Setelah Rio berlalu, teman sang penabrak berjalan menuju Bi yang mengawasi kejadian itu dari tribun atas.
Adalah sang anak buah yang sukses menjalankan misinya dan mengirimkan hasilnya lewat pesan.
Begitu pesan itu diterima, senyuman Bi merekah selebar-lebarnya.
Merayakan celah yang baru saja didapatnya.
Ia kemudian menelepon seseorang untuk meluapkan kebahagiannya tersebut.
"Hei, kita akan berpesta!"
"Iya, besok sabtu. Tepat di ulang tahun musuh kita tercinta, Zalva."
"Tentu saja, kita harus merencanakannya sematang mungkin agar berhasil, tidak seperti rencana mempengaruhi Doki yang sepertinya gagal total."
"Benar, sialnya si kunyuk itu punya bawahan yang loyal dan setia."
"Jangan khawatir."
"Oke."
Tut... tut... tut....
Bunyi sambungan terputus semakin melebarkan seringai Bi.
Ia nampak seperti singa kelaparan yang akhirnya menemukan banteng berbadan gemuk setelah sekian lama berjalan dengan lambung kosong.
__ADS_1
Siap menerkam sang korban lalu berpesta pora setelahnya.