SULIVAN

SULIVAN
Kunci


__ADS_3

Setelah mendapatkan jawaban dan memastikan Rere sedang dalam perjalanan kemari, Tina memasang pendengarannya lekat-lekat.


Pancaran sinar matahari yang berkilau dari pantulan logam memudahkan target untuk dilacak.


Juga warna dasar hitam yang menjadikan sang target berupa kunci gedung olahraga indoor itu terlihat mencolok diantara kunci-kunci lain yang bergerombol bersama.


Ia memastikan kakinya menapak sehalus dan sepelan mungkin, kalau bisa sampai tidak menimbulkan suara apapun.


Memastikan agar sang pembawa kunci, Oki, tidak mengetahui penguntitannya.


Setelah membuat Sena tergeletak lemah di sana, berani-beraninya teman tidak tahu diri itu menjebak dirinya dengan mengatakan akan menyebarkan berita palsu tentang perisakan Sena oleh dirinya kalau ia tidak mau tutup mulut.


Apalagi dengan barang bukti kuat berupa fotonya menyeret tubuh Sena yang dipotret tanpa sepengetahuannya.


Membuat Oki tertawa terbahak-bahak ketika memamerkan hasil jepretannya.


Menertawai ekspresi marah-namun-tak-bisa-melakukan-apapun yang terpancar di wajahnya.


Dengan percaya diri Oki berkata akan mengirim foto ini kepada tim redaksi sekolah lalu mengarang cerita menarik untuk membuatnya tampil paling besar di mading lobi masuk.


Mendengar omong kosong itu, kebencian yang tak tertahankan membuat para sel otaknya bergerilya mencari cara untuk membalas jebakan itu.


Seraya memastikan Sena berbaring dalam keadaan nyaman dengan menaruhnya di atas matras, pikirannya menyusun berbagai strategi.


Dimulai dengan menghubungi Rere, mencuri kunci, memberikan kunci dan menyerahkan Sena pada Rere, sampai melaporkannya.


Ia akan mencoba mencari barang bukti setelah semua ini selesai, lalu pergi melaporkannya pada sang pelatih.


Adapun pelatihnya akan percaya atau tidak, itu urusan belakangan.


Yang paling penting saat ini adalah ia harus memastikan Sena keluar dari gedung itu dalam keadaan sehat.


Kurang lebih lima meter di depannya, Oki tiba-tiba menghentikan langkahnya.


Membuat seluruh tubuhnya ikut membeku, berikut napasnya.


Suara gemerincing kunci yang saling bertabrakan diantara sunyinya lorong membuat jantungnya berdegup tak karuan.


Panik karena tidak ada benda apapun yang bisa ia gunakan untuk bersembunyi.

__ADS_1


Saat ini, mereka sedang berjalan di lorong yang hanya berisi dua tembok panjang, lantai, dan langit-langit; tanpa satupun meja atau lemari yang nampak.


Hanya ada satu jendela kaca besar yang berada tepat di samping kanan Oki.


Dalam situasi genting ini, pikirannya mengembara panik mencari alibi yang tepat kalau-kalau Oki berbalik dan menemukannya.


Namun sampai hampir satu menit lamanya, otaknya tak kunjung menemukan alibi yang logis dan kuat.


Membuat Tina menggigit bibir bawahnya, memohon dalam diam agar Oki tetap memandang lurus ke depan.


Memohon agar rencananya berjalan mulus; setidaknya sampai ia memberikan kunci itu pada Rere.


Harapannya terkabul melihat tangan Oki yang terlihat berhasil melepaskan kunci hitam itu dari komplotannya.


Lalu membuangnya keluar melalui jendela di sebelah kanannya dan kembali melanjutkan langkahnya.


Membuat Tina menghembuskan napas lega seraya memegangi jantungnya yang meloncat-loncat.


Ia masih mengawasi gerak-gerik Oki dalam diam setelahnya, khawatir kalau-kalau ia hendak mengecek situasi di belakangnya dengan berbalik.


Untungnya, Oki tetap berjalan maju tanpa sekalipun memalingkan kepala.


Begitu Oki menghilang dari pandangannya, Tina beranjak menuju jendela tempat Oki membuang barang bukti.


Membuat Tina kembali menggigit bibir bawahnya.


Beberapa detik kemudian, kakinya melangkah melewati jendela yang terbuka setengahnya itu.


Sambil menghipnotis dirinya sendiri bahwa bau busuk yang menguar itu bukan berasal dari kotak sampah di depannya.


Sepuluh menit kemudian, sampailah Rere di depan pintu gedung olahraga dengan terengah-engah.


Ditumpukan kedua tangannya di atas lutut sambil menarik napas dalam-dalam guna mengatur napasnya.


Ia mengusap cepat keringat yang mengalir di dahinya sebelum terkejut dengan tangan yang tersodor di hadapannya.


Di atas telapak tangan itu, terdapat kunci hitam yang tergeletak di sana.


Rere terkejut begitu menemukan tangan dan kunci itu adalah satu-satunya bagian yang bersih dari kotoran.

__ADS_1


Selebihnya penuh dengan noda dengan bau busuk yang menguar kemana-mana.


Adalah Tina, yang berdiri menyerahkan kunci itu tanpa berani menatap wajah Rere.


"Sena pingsan di sana, di atas matras samping pintu."


Rere mengambil kunci itu dengan berbagai pertanyaan melingkupi pikirannya, namun tak satupun pertanyaan itu berniat diucapkan oleh bibirnya.


"Terimakasih dan... maaf."


Rere menangkap penyesalan terpancar dari sorot mata Tina yang menatap matanya sekilas.


Lalu berbalik pelan dan pergi.


Sesuai permintaan Tina, ia membuka pintu gedung lalu membangunkan Sena yang nampak seperti tertidur lelap dengan menepuk pipi dan menggoyangkan pundaknya pelan.


Ketika dilihatnya Sena telah membuka mata, Rere mengambil sebotol air mineral dari tasnya untuk diberikan kepada Sena yang berusaha mendudukkan diri.


Pelan-pelan Sena menelan air yang berada di rongga mulutnya, sambil mengingat-ingat mengapa Rere menatapnya dengan begitu panik.


Sebelum suara jeritan yang tidak asing terdengar di telinganya.


Suara Zalva.


Mengembalikan semua ingatannya sebelum pingsan, kemudian dijalin satu persatu dengan situasi saat ini oleh otaknya.


Satu menit kemudian, kakinya berjalan menelusuri lorong, dengan Rere yang mengikutinya dengan khawatir.


Perkataan Rere yang memintanya untuk beristirahat diindahkannya sambil terus berusaha mempercepat langkahnya.


Ia yakin wajah salah satu geng Oreo yang dilihatnya sebelum pingsan berkaitan erat dalam kerusuhan yang didengarnya saat ini.


Membuat tubuhnya seketika membeku begitu kakinya melangkah keluar dari lorong dan menyaksikan adegan perkelahian di depan matanya.


Ia terkejut melihat kobaran api merayapi punggung Rio, Doki, dan Tera, sedangkan Zalva tengah memukuli Bi dengan beringas.


Membuat Rere menjerit kaget dan menutup mulutnya.


Tubuhnya seketika lemas, tak sanggup menahan Sena yang tiba-tiba berlari menuju kerusuhan itu.

__ADS_1


Dan hampir saja merosot ke tanah karena kakinya melemah melihat Sena dipukul oleh tangan seorang wanita paruh baya yang menjerit kencang sekali.


"BERANINYA KAMU MEMPERMALUKAN IBU, ZALVA!!"


__ADS_2