
Rere mempercepat langkahnya begitu melihat tali kuning terpampang di depan matanya.
Beberapa langkah lagi dan latihannya selama beberapa bulan ini akan terbayar lunas.
Kepercayaan dirinya meningkat kala melihat tidak ada satupun lawan berlari mendahuluinya.
Rere menggigit bibir bawahnya, bersiap meluruskan punggung untuk meraih tali kuning tepat di depan matanya.
Namun sebelum menyentuh perutnya, tali itu terlebih dahulu menyentuh perut lain.
Membuat kekecewaannya muncul karena tak jadi membawa pulang medali emas dan memamerkannya pada Rara.
Namun begitu melihat sosok yang terpampang di layar lebar yang tergantung di tengah-tengah lapangan, wajahnya yang murung kembali ceria.
Segera dilangkahkan kembali kakinya untuk mengejar dan memeluk sang pemenang yang tengah berlari pelan merentangkan tangannya.
Menikmati sensasi yang sudah lama tidak dirasakannya.
"Akhirnya... Final ditutup dengan manis oleh kembalinya juara kitaaa!!"
Layar itu memperbesar wajah sang juara pertama yang terlihat berkaca-kaca sebelum tubuhnya hampir oleng karena seorang lawan yang memeluknya sambil melompat.
"SENAPATI ADISAA..!!"
Sorak sorai penonton bergema di seluruh dinding stadion.
Termasuk ayah dan ibu Sena yang berdiri dari kursinya sembari mengayunkan balon panjangnya ke udara.
Sang Ayah bahkan meraih spanduk kain yang dipegangnya lalu memutarnya cepat di udara seraya menaiki bangku.
Ditambah kehebohan sorak sorai Rio dan Doki di belakangnya yang masing-masing berdiri mengapit ujung spanduk besar dan merentangkannya setinggi mungkin.
Spanduk kain buatan tangan amatir mereka itu bergoyang-goyang mengikuti arahan sang penyangga.
Mereka berseru keras merayakan kemenangan epik Sena yang membalap Rere di detik terakhirnya menuju garis finish.
Berbanding terbalik dengan Tera yang mengeraskan suara tangisannya.
Membuat beberapa pasang mata di sekitar mereka mengarah padanya.
Orang-orang akan mengira ia adalah pendukung sang juara tiga kalau saja mereka tak melihat spanduk karton besar berisi foto Sena yang tengah di pegangnya erat.
"Udah woi, malu-maluin tau!"
Sikutan Rio di dadanya membuatnya mencoba mengatur suara tangisannya, lalu melanjutkannya lagi dengan suara yang lebih pelan.
Sena memeluk Rere sembari melompat senang, lalu melambaikan tangannya pada perkumpulan kaos hijau neon yang berada di baris ketiga di tribun selatan.
Perkumpulan pendukungnya yang terdiri dari orang tuanya dan para sulivan.
Setelah sekian lama tidak berlari, ia sangat bahagia bisa kembali merasakan detak jantung yang terpacu cepat dan napas memburunya.
Yang dikenali tubuhnya sebagai sinyal kebebasan.
Kesulitan sembilan bulan belakangan melebur menjadi air mata yang keluar membasahi bola matanya.
Tak percaya akan merasakan kemenangan ini sekali lagi.
Sekaligus memantapkan mimpinya untuk tetap berlari di jalur ini selagi lututnya masih kuat mengatur sang tungkai.
__ADS_1
Final ini sekaligus menutup Turnamen Provinsi yang diadakan oleh sang gubernur dalam rangka ulang tahun ke-40.
Turnamen besar ini diliput secara langsung oleh media televisi lokal maupun nasional.
Membuat wajah menangis Sena terpampang di semua stasiun televisi yang menayangkannya.
Setelah rangkaian acara penutup berupa penyerahan hadiah dan penampilan salah seorang penyanyi, Sena keluar dari stadion dengan membawa banyak buket bunga.
Sang ibu yang berdiri di tribun memberikan isyarat padanya untuk menunggu mereka di belakang gedung.
Rencananya hari ini mereka akan merayakan comeback-nya dengan makan bersama.
Ayah dan ibunya mengundang Doki, Rio, dan Tera untuk bergabung.
Mereka berencana mengajaknya ke restoran all you can eat jika menang dan restoran mie oriental jika kalah.
Membuat motivasinya terbakar untuk memakan daging panggang yang sudah lama tak memasuki lambungnya.
Karena membawa banyak buket dan hadiah, tasnya sudah diberikan sang pelatih kepada ibunya.
Hadiah dan buket yang didapatnya dari teman-teman seperjuangan yang mendukungnya.
Juga paper bag dari beberapa teman sekelasnya di kelas dua-dua dulu.
Juga paper bag berisi jam tangan dari Dokter Derry yang datang dan mendukungnya.
Juga buket besar dari Tina yang diserahkan lewat Rere.
Agaknya Tina masih belum berani menatap matanya, meski ia sudah melupakan insiden itu jauh-jauh hari dan memaafkannya.
Dilangkahkan kakinya pelan menuju parkiran belakang seraya menikmati sinar matahari sore yang menerpa wajahnya.
Ia berencana membasuh keringat dan mandi lalu berganti pakaian di perjalanan nanti.
Yang paling penting sekarang adalah mengisi perut kosongnya.
Hari ini adalah hari yang tepat untuk sebanyak-banyaknya makan makanan yang haram dimakan selama latihan.
Suara klakson kemudian menyapa telinganya.
Mobil putih yang berhenti tak jauh dari tempatnya berdiri menurunkan kedua kacanya pelan-pelan.
Menampilkan sang wali kelas dan murid-muridnya yang melambaikan tangan.
Sena membalas lambaian tangan mereka dengan melambaikan buketnya.
Yang disambut oleh tawa mereka karena menatap tangan Sena yang kewalahan membawa hadiah-hadiah itu.
Klakson itu berbunyi lagi ketika jalanan telah lengang dan memberikan kesempatan bagi sang mobil untuk menyeberang.
Sena menganggukkan kepalanya menyambut perpisahan itu dengan riang gembira.
Lalu menghela napasnya pelan seraya menatap langit biru di balik gemerisik dedaunan yang menari tertiup angin.
Ia tidak tahu langit biru yang biasa ditatapnya bisa terlihat lebih indah di momen membahagiakan seperti ini.
Sebuah kertas melayang di depannya, menarik netranya untuk memperhatikan gerakan anggun sang kertas.
Ia meliuk-liuk pelan sebelum akhirnya mendarat tepat di atas buketnya.
__ADS_1
Direndahkannya buket bunga itu untuk melihat lebih dekat kertas putih yang teronggok di atasnya.
Sebuah tulisan tangan singkat tercetak rapi di tengahnya.
Selamat.
Sena memalingkan pandangannya ke kanan, hendak mencari tahu siapa gerangan yang mengiriminya kertas ini.
Namun hanya hiruk pikuk keramaian orang-orang yang terpotret sang mata di sisi kanan, kiri, maupun belakangnya.
Sena berbalik pelan dengan hasil nihil.
Lalu membeku menemukan seseorang berdiri tepat tiga meter di depannya.
Orang yang menutupi sebagian rambutnya dengan topi itu membawa buket dan tersenyum manis menatapnya.
"Selamat atas kemenanganmu."
Membuat Sena melangkahkan kakinya melepaskan genggaman buket-buketnya.
Lalu berlari memeluk tubuh tinggi itu.
Memastikan untuk kesekian kalinya bahwa perasaan lamanya masih tersimpan rapi di lubuk hatinya.
Zalva membalas erat pelukan Sena lalu membawa hidungnya mendekat pada rambut yang dikuncir kuda itu untuk menghirup udara yang dirindukannya.
Menyerap sebanyak-banyaknya pasokan udara untuk mengisi bagian kosong dari paru-parunya.
Namun sebelum bagian itu terpenuhi, Sena mendadak melepaskan pelukan mereka dan menjauhkan diri.
"Hei, jangan dekat-dekat, aku belum ganti pakaian.."
Membuat Zalva mengernyitkan alisnya.
Padahal yang pertama kali mendekatkan diri padanya adalah Sena.
"Kenapa memangnya?"
Sena menyilangkan kedua tangannya ke depan lalu mengendus lengannya.
"Aku bau."
Zalva lalu berjalan mendekat, mengendus pipi kanan Sena.
"Mana?"
Membuat wajah Sena memerah dan memukul lengannya.
"HEH!"
Dari kejauhan, ibu Sena yang melihat mereka berdua berkata mungkin mereka akan merayakan kemenangan Sena lain kali; karena acara hari ini diubah menjadi acara makan-makan biasa.
Membuat ketiga penumpang di belakangnya bersorak kencang menyetujui usulannya.
Apapun yang berurusan dengan traktiran pokoknya mereka setuju!
Doki menatap jalan setapak di seberang jalan, lalu menemukan alasan ibu Sena membatalkan acaranya.
Ia melihat Sena dan Zalva yang berjalan menelusuri jalan setapak itu sambil bergandengan tangan.
__ADS_1
FIN.