SULIVAN

SULIVAN
Jambu


__ADS_3

Empat potongan jambu biji dari satu buah berukuran sedang dibasuhnya di bawah air mengalir pada wastafel.


Setelah dirasa cukup, Zalva meletakkan potongan-potongan itu di atas tisu yang terlentang di atas piring.


Dengan cekatan tangannya memasukkan satu per satu potongan itu bersama sesendok gula pasir dan dua cangkir air ke dalam blender.


Berputarlah campuran itu menjadi satu, berubah menjadi cairan pekat berwarna merah muda.


Selagi blender berputar, Zalva mengambil gelas plastik besar dan saringan kecil dari laci paling kanan di bawah meja dapur.


Tak lupa ia mengawasi microwave yang sedang berputar di belakangnya; mengecek berapa lama lagi makanan di dalamnya selesai dipanaskan.


Entah mengapa pagi ini ia sangat ingin makan pizza yang dibawa sang ayah pulang larut malam.


Pizza yang semalam nampak tidak menarik karena perutnya sudah cukup kenyang itu, pagi ini seketika terlihat menggugah selera.


Mungkin karena semalam sang ayah mendeklarasikan piknik ke resor baru di hari minggu besok.


Tepatnya berangkat sore ini, setelah ibunya menyelesaikan seminar dan ayahnya menyelesaikan sisa pekerjaan kantor.


Jadilah separuh lebih sepotong pizza yang tersimpan rapi di kulkas itu ia keluarkan untuk dihangatkan.


Bunyi ting sang microwave mengirim tanda pada Zalva bahwa pizzanya sudah siap disantap.


Dikeluarkanlah pizza itu untuk berpindah tempat ke atas meja makan.


Tidak lupa Zalva mengeluarkan jus jambu ke dalam cangkir yang sudah ia siapkan melewati saringan tehnya.


Ia mempelajari teknik pembuatan jus jambu ini dari sang ibu, berupa menyaring hasilnya agar biji kecilnya tidak ikut terminum.


Ia bahkan tahu bagaimana caranya biji itu tetap utuh meski diblender; dengan menekan sekejap tombolnya beberapa kali sampai jambunya hancur, baru kemudian memblender semuanya.


Berdirilah jus jambu ini tepat di samping pizza setelah Zalva menaruh tiga kotak es batu ke dalamnya.


Adapun motif pemilihan jus jambu untuk menemani pizzanya adalah karena ia tergiur melihat Sena yang selalu minum jus jambu dalam kemasan kotak kertas.


Apapun jajan yang dibeli, minuman Sena selalu sama; jus jambu kotak.


Kekonsistensian itu membuat Zalva jadi ingin mencobanya.


Rasanya ya... seperti jambu.


Versi lebih mudah ditelan karena tanpa kumpulan biji-bijinya yang mengganggu.


Mungkin sebenarnya Sena suka jambu biji, tapi karena biji-biji yang sulit dipisahkan dari dagingnya, ia jadi lebih suka dengan jus jambu.


Zalva manggut-manggut menyetujui kesimpulan yang dibuatnya sendiri.


Selesai memikirkan alasan Sena menyukai jus jambu, otaknya beralih memikirkan barang apa yang belum dimasukkan ke dalam koper.


Kopernya sudah dibentangkan sejak semalam, dengan isian satu buah kaos biru, satu buah kemeja kuning, celana kain putih panjang, sebuah jeans pendek, dan sepasang sepatu putih.


Tas kamera berikut lensanya sudah ia siapkan di sisi koper, agar tak lupa diangkut ketika berangkat.

__ADS_1


Otaknya berkata ia sudah membawa semua kebutuhannya, sedangkan perasaannya bersikeras ia melupakan sesuatu.


Sampai gigitan terakhir potongan pizza keduanya, otaknya belum menemukan barang apa yang ia lupakan tersebut.


Ponsel yang sejenak ia lupakan bergetar dan berpendar di depannya.


Diraihnya ponsel itu sambil menyesap jus jambunya.


Lalu terbatuk kencang sampai jus itu hampir memasuki saluran pernapasannya ketika membaca pesan yang baru saja dibuka.


Pesan dari Bi yang berupa dua buah foto.


Foto pertama berisi Tera dan Rio yang ditali jadi satu dan didudukkan di atas rerumputan.


Foto yang menaikkan separuh lebih skala keterkejutannya.


Zalva langsung berpikir untuk mengambil jaket dan kunci motornya lalu menyelesaikan masalah ini dengan sedikit kekerasan karena Bi tak kunjung percaya bahwa ia betulan berhenti.


Berkali-kali perkataan seriusnya dianggap angin lalu oleh Bi; sampai-sampai ia melakukan prank kacau ini untuk mengelabuinya.


Baiklah, ia akan meladeni Bi kali ini. Menunjukkan taringnya agar Bi kapok mengganggunya dan teman-temannya.


Sampai jarinya menggeser foto kedua, dimana wajah Sena yang pingsan muncul sangat dekat memenuhi hampir seluruh layar.


Membuat skala keterkejutannya membumbung tinggi, mengeraskan rahangnya serta meluluh-lantakkan kemarahannya.


Kalau sampai Sena; yang tak bersalah dan tidak ada hubungannya dengan masalah mereka juga ikut terluka, ia sungguhan akan menghabisi ketua geng sombong itu.


Lapangan belakang sekolah.


Zalva menaiki motornya kesetanan, melaju cepat membalap semua kendaraan yang menghalanginya.


Mengimbangi emosinya yang sudah mencapai titik teratas.


Sampai ia bertemu dengan Bi dan para anteknya yang menertawakan kehadirannya.


Anehnya, tak satupun dari mereka membawa senjata; meskipun mereka terkenal dengan kelicikannya bertarung membawa senjata tajam meski melawan orang-orang bertangan kosong.


Di belakang mereka, terdapat Rio dan Tera yang terikat tak sadarkan diri.


Hatinya teriris perih menatap dua pasang kaki tak beralas dan kaos rumahan yang masih melekat di tubuh mereka.


Yang berarti orang-orang licik itu menyergap mereka berdua di kediaman mereka.


Menebalkan asap kemarahan yang sedari tadi mengepul mengarungi angkasa.


"Katanya sudah berhenti, kenapa susah-susah kemari?"


Celotehan Bi disusul tawa mengejek rekan-rekannya, menghina pimpinan musuh yang entah mengapa terlihat sangat kecil hari ini.


"Kenapa? Ragu-ragu untuk memulai kembali?"


Bi meremehkan Zalva yang masih diam di tempat sembari menatapnya garang.

__ADS_1


Diangkatnya sang tangan untuk memberi aba-aba pada anak buahnya yang berjaga di dekat Tera dan Rio.


Kedua anak buah itu masing-masing mengambil minyak tanah dan korek api yang telah disiapkan di dekat mereka.


Yang langsung mendapat reaksi sesuai perkiraan Bi.


"HENTIKAN!"


Zalva berteriak kencang lalu berlari menuju kedua orang itu.


Tak mengindahkan pukulan dan tendangan yang mengenai tubuhnya demi menyingkirkan sebotol minyak dan korek api itu.


Dengan tangannya yang cekatan, korek apinya terlempar dan botol minyak itu menggelinding jauh.


Memunculkan seringai licik sang penonton, Bi, yang merasa puas dengan reaksi Zalva.


Ia lalu berjalan mendekati Zalva yang tak berkutik karena berhasil dilumpuhkan oleh ketiga anak buahnya, sembari membawa botol berisi minyak tanah lain.


Kali ini dengan tutup terbuka, sampai aroma menyengatnya menguar ke segala arah.


"Harusnya kau memegang ucapanmu untuk berhenti." Ucap Bi seraya mengarahkan tangan pemegang botolnya ke arah kanan.


Zalva memalingkan pandangannya pada arah itu.


Arah aula sekolah tempat diadakannya seminar, di mana sang ibu hendak berdialog di sana.


Tembok kaca yang mengelilingi hampir keseluruhan ruangan membuat seisi ruang seminar terlihat dari luar.


Dan sebaliknya, keadaan luar ruangan terlihat dari dalam seminar.


Begitu menatap keterkejutan yang ditampilkan Zalva, Bi melangkahkan kakinya menuju dua korban yang pingsan tersebut sambil menggoyang-goyangkan botolnya.


Membuat Zalva mengerang menatapnya tajam.


Tangan kirinya yang bebas menjentikkan jarinya, memberikan aba-aba pada anak buahnya untuk melepaskan Zalva.


Sedangkan tangan kanannya bersiap membuang isi dalam botol itu menuju ke arah kedua korbannya.


Namun minyak tanah yang terbang itu melesat menghempas rerumputan karena tendangan cepat Zalva pada sang botol.


Membuat Bi tertawa sekencang-kencangnya, sampai merebut atensi beberapa peserta seminar untuk mengalihkan pandangan mereka.


Salah satu anak buahnya kemudian mengambil botol minyak yang tadi menggelinding dan melemparkannya ke arah pemimpinnya.


Bi bersiap menerima botol itu sebelum pipinya ditinju dengan keras oleh Zalva.


Sampai tubuhnya terhuyung tumbang bersama botol minyak yang tak sempat disentuhnya.


Darah segar yang mengalir dari hidungnya membuat tawa Bi semakin menggema.


Ia sudah siap untuk menerima apapun yang akan diperbuat sang musuh pada dirinya dan anak buahnya.


Toh ia yakin Zalvalah yang akan rugi besar saat ia berdarah-darah dan pingsan.

__ADS_1


__ADS_2