
Setelah kali ketiga panggilan teleponnya yang tak kunjung diangkat, Doki mondar mandir di depan jendela kamar Zalva.
Kemasan styrofoam berisi bubur ayam yang dibawanya ikut terguncang kesana kemari.
Apakah Zalva semarah itu dengannya?
Wajar sih, ia memang berkelakuan kurang ajar kemarin.
Bertengkar dengan membawa-bawa keadaan Tera adalah wujud keterlaluan yang sesungguhnya.
Bahunya menurun lemas ketika memikirkan opsi paling ditakutinya itu.
Tapi... pesannya semalam dibalas, kok, oleh Zalva.
Doki mengecek kembali ponselnya untuk memastikan balasan yang ia dapatkan dari Zalva benar-benar diterimanya semalam.
Akhirnya dengan sedikit harapan, ia memutuskan untuk kembali menghubunginya.
Namun lagi-lagi meskipun tersambung, panggilannya tidak diangkat.
Dalam kepasrahan itu, samar-samar ia mendengar nada dering yang tidak asing menggetarkan gendang telinganya.
Nada dering ponsel Zalva.
Doki lalu menengadahkan kepalanya, menatap jendela kamar berwarna hitam yang masih tertutup rapat berikut gordennya.
Pemandangan yang sangat asing di kedua pupilnya.
Karena Zalva selalu membuka jendela kamarnya untuk membiarkan sejuknya udara luar merambahi kamarnya, entah di hari biasa maupun hari libur.
Kecuali saat ia sedang pergi menginap.
Membuka jendela adalah hal yang pertama kali dilakukannya ketika sampai di basecamp.
Rahasia kecil Zalva yang teman-temannya tahu adalah, dia punya sedikit obsesi pada jendela.
Bahkan Doki belum pernah sekalipun melihat Zalva bertempat duduk selain di dekat jendela.
Entah itu duduk di depan, tengah, atau belakang, ia selalu bertempat di samping jendela.
Begitu muncul pemberitahuan di ponselnya mengenai panggilan yang tidak terjawab, Doki memutuskan untuk memanjat pagar dan memasuki jendela itu.
Baginya, itu bukan sesuatu yang sulit dilakukan.
Tubuhnya sudah mengingat celah kayu mana saja yang aman untuk dijadikan tumpuan dan tidak aman menopang tubuhnya.
Jemarinya juga mengingat dengan jelas kiat-kiat membuka jendela itu dari luar.
Itu semua dipelajari Doki setelah berulang kali menjemput Zalva untuk pergi main ketika ia sedang dikurung oleh ibunya.
Mereka bertemu secara diam-diam melalui jendela itu.
__ADS_1
Membuat kaki panjangnya sudah berada di dalam kamar Zalva setengah menit berikutnya.
Dan sesuai perkiraannya, ponsel Zalva tergeletak di kasur, bersisian dengan dua bantal besar di ujung sikunya.
Doki segera menjulurkan tangan mengambil ponsel itu, mengabaikan kejanggalan yang ditemui pupilnya.
Sebagian baju yang tergantung di balik pintu yang sedikit terbuka itu jatuh berserakan, berjajar dengan koper hitam yang belum ditutup sempurna.
Apakah Zalva hendak kabur?
Seabstrak itulah pikirannya tentang kondisi terkini Zalva kalau saja ia tak membuka pesan dari Bi yang sangat mengejutkannya.
Pesan berupa foto Rio dan Tera yang membuat kakinya kembali menjulur keluar menuruni tangga.
Memaksanya memacu motor meninggalkan dua kotak bubur ayamnya yang masih tergeletak di meja belajar Zalva.
Pemimpin Oreo sialan itu, masih saja tak puas dengan mengelabuinya akan cerita bualan bahwa Zalva keluar karena ketidakbecusan para anak buahnya.
Yang kebetulan saat itu sangat sesuai dengan kondisi terkini mereka; yaitu Tera yang berobat ke rumah sakit dan Rio yang hampir selalu sibuk dengan lesnya.
Kala itu, ia masih menampik perkataan culas dari sang musuh.
Sampai Bi mengatainya bodoh karena kelakuannya sekarang bagaikan membangun istana pasir yang akan selalu terkikis ombak.
Karena istana yang dibangunnya susah payah sejak dulu, hancur lebur karena sapuan ombak dari kaki teman-temannya sendiri.
Membuatnya hampir meninju keras ulu hati Bi kalau saja bocah sialan itu tidak segera berlari kencang sambil mengejeknya.
Namun serangkaian kalimat dari mulut panas Bi itu terus terngiang di pikirannya.
Tanpa sadar mempengaruhi otaknya untuk mengabaikan berbagai pesan Zalva dan percakapan grup mereka.
Tanpa sadar membuatnya menyalahkan Zalva yang mendadak ingin berhenti ketika mereka sedang jaya-jayanya.
Tanpa sadar menumbuhkan kebenciannya pada Zalva yang menuntunnya pada perkelahian mereka dua hari yang lalu.
Kali ini ia betulan ingin menargetkan ulu hati Bi yang terlewat begitu saja kala itu.
Berani-beraninya kunyuk itu mengobrak-abrik pertemanan mereka dengan silat lidah dan kelicikannya.
Ditambah ingatan sang otak yang muncul memberikan informasi penting bahwa tepat pada hari ini ibu Zalva mengisi seminar di aula sekolahnya.
Yang makin memperjelas bahwa target hari ini adalah keruntuhan Zalva.
Membuatnya semakin memacu motornya kencang.
Gerbang belakang sekolah yang terbuka ditrabasnya begitu saja; mengabaikan peraturan tidak tertulis tentang mematikan mesin motor ketika memasuki gerbang.
Dengan cekatan tangannya melepas helm dan jaketnya seraya mengamati situasi.
Dari pemindaian singkatnya, terlihat Rio dan Tera yang masih tak sadarkan diri dalam keadaan terikat, sedangkan Zalva sedang mengatasi tiga anak buah Bi yang hendak membatasi pergerakannya.
__ADS_1
Nampaknya Zalva tengah mengincar botol yang berada di tangan Bi.
Begitu selesai dengan motor dan pernak-perniknya, Doki melarikan kakinya menuju dua temannya yang sedang terikat.
Lalu menampar keras kedua pipi mereka agar mereka segera terbangun dan menyadari situasi genting ini.
Tangannya bergantian antara mencubit dan melepas tali tambang yang diikatkan pada tubuh mereka.
Dari bau menyengat yang tercium dari tambang itu, ia jadi mengetahui botol yang hendak ditendang jauh-jauh oleh Zalva berisi minyak tanah.
Yang berarti Bi berniat membakar Rio dan Tera, atau berpura-pura membakar mereka untuk menggoda Zalva.
Tangan kanan yang berkeliling guna melepaskan lilitan pada tubuh kedua temannya itu mengepal erat-erat, melampiaskan kejengkelannya akan perilaku biadab Bi yang sangat diluar batas kewajaran.
Rio mengaduh kesakitan merasakan tamparan kali ketiga pada pipi kirinya, lalu menopang tubuhnya yang terhuyung tiba-tiba.
Menyadari Rio sudah siuman, Doki lalu berbalik dan menemukan hal yang lebih mengejutkan di belakangnya.
Para peserta seminar mulai berdiri berjajar memperhatikan kerusuhan mereka.
Bahkan dua tiga orang mulai berlari keluar menuju pintu, hendak menyaksikannya dari jarak yang lebih dekat.
Botol minyak yang berada di tangan Bi terlempar jauh sekali oleh tendangan Zalva untuk kesekian kalinya.
Membuat Bi tersenyum senang menatap bola mainannya menuruti segala kemauannya hari ini.
Begitu menyadari keberadaan Doki, ia segera berlari mengambil botol ketiga yang telah disiapkannya di dekat mobil lalu membuka tutupnya; bergerak cepat selagi Zalva tengah ditahan oleh ketiga anak buahnya.
Disiramkannya seluruh isi botol itu ke arah para korban yang tengah sibuk dengan keadaannya masing-masing, tanpa menunggu reaksi Zalva seperti yang dilakukannya dari tadi.
Doki yang tengah terdiam menatap kumpulan wartawan yang siap siaga dengan kameranya kaget karena merasakan cairan dingin membasahi punggungnya.
Aroma anyir dari minyak tanah menyadarkannya untuk menoleh ke arah kedua temannya yang masih menyesuaikan diri setelah sekian menit tak sadarkan diri.
Tepatnya Rio yang juga tersadarkan oleh cipratan cairan itu, dan Tera yang masih tergeletak meski berkali-kali ditampar oleh tangan lemah Rio.
Doki menyadari keseriusan situasi ini kalau Tera tidak berhasil terbangun.
Sementara Bi mengambil korek api gas dari saku celananya yang telah tersulut, lalu memamerkannya pada Zalva yang nampak mulai kelelahan.
Dilambaikan api hijau kecil itu sambil berdendang di depan muka Zalva yang kedua tangan, tubuh, dan kakinya dipegang rapat-rapat oleh ketiga anak buahnya.
Membuat Zalva mengerahkan seluruh tenaga dan tekniknya untuk melepaskan diri, mencoba memadamkan api kecil itu.
Melihat tatapan mematikan Zalva yang tergambar jelas di seluruh tubuhnya membuat Bi makin tertawa bahagia.
Membuatnya membuang korek api itu tepat sebelum Zalva behasil menumbangkan ketiga parasitnya.
Membuat suara ledakan berikut sang api membumbung naik.
Membuat parameter akal sehat Zalva pecah berkeping-keping menatap ketiga temannya hilang dilahap api.
__ADS_1