
“Wah? Seriusan?”
Rere menutup mulutnya dengan mata terbelalak, tak mempercayai apa yang baru saja ditampilkan di layar ponselnya.
Lima detik kemudian, ketika dirasa batinnya sudah siap untuk kembali melihat postingan instagram itu, diangkat ponselnya pelan-pelan.
Dari kepala yang sengaja dijauhkan dari tangannya yang bergetar, sekali lagi ia melihat poster berwarna dasar kuning pastel itu.
Warna representasi kafe perpustakaan favoritnya, yang siang itu sedang diskon kilat selama tiga jam.
Diskon yang terjadi setiap tiga bulan sekali di tanggal yang tidak selalu tetap.
Ia merasa sungguh beruntung karena di hari ini, hari pertama membuka instagram setelah sekian lama ponselnya rusak, ia mendapat durian runtuh berupa diskon besar-besaran.
Rere bersemangat membaca kalimat pertama poster yang berbunyi diskon 20% semua menu dessert dan gratis membaca selama satu jam.
Matanya berbinar membaca setiap huruf yang tertera di sana, dengan tangan kiri tergenggam menahan sukacita yang hampir meluber.
Tiba di baris selanjutnya, genggaman tangan kirinya mengendor.
Merasa putus asa membaca kalimat berikutnya berupa syarat yang harus dipenuhi demi meraup diskon.
Berlaku untuk dua orang.
Matanya lalu berkedip-kedip, memikirkan di mana ia akan mendapatkan seseorang untuk menemaninya.
Karena rutinitas setiap harinya adalah sekolah-TK-rumah, berputar terus di area itu dan tempat-tempat yang dilewatinya seperti taman bermain atau supermarket, menjadikan Rere sebagai seorang penyendiri tanpa seorangpun teman.
Di sekolah, ia hanya akrab dengan penjaga kebun berusia lanjut yang selalu berkata ia mirip dengan cucunya yang tinggal jauh di pulau lain.
Saat menjemput sang adik pulang, ia juga akrab dengan para gurunya; yang sayangnya bukan akrab sebagai seorang teman.
Lebih ke guru dan wali murid yang selalu membahas mengenai tumbuh kembang adik pintarnya.
Sedangkan rumah mereka berjejeran dengan rumah tua yang rata-rata berisi lansia, tanpa seorangpun cucu yang seumuran dengannya tinggal bersama mereka.
Di mana kira-kira ia bisa mendapatkan seseorang untuk menemaninya?
Rere menghembuskan napasnya pasrah, lalu kembali menatap poster itu, hanya untuk mendapati kalimat terakhir yang cukup menjengkelkan baginya.
Ayo bawa temanmu dan nikmati kenangan indah kalian di sini!
Jarinya langsung bergerak memencet tombol power lalu memasukkan ponsel itu kembali ke dalam tasnya, tersinggung dengan tulisan paling panjang yang berada di posisi paling bawah sang poster.
Agaknya ia memang harus pergi sendirian kali ini, tanpa menikmati diskon.
Rere berjalan pulang dengan lemas, sayang sekali melewatkan kesempatan satu jam kosongnya karena sang adik yang sedang pergi berwisata.
Bahkan adiknya punya teman yang lebih banyak dibandingkan dirinya yang sudah remaja.
Jantungnya kembali berdetak antusias ketika netranya menemukan Sena berdiri di kejauhan.
Segera dilangkahkan kakinya untuk berlari mendekat, meyakinkan otaknya untuk berpikir optimis.
Untuk mendukung keoptimisannya, pikirannya memutar reaksi Sena ketika ia memberikan sekotak yoghurt, yang diterjemahkan otaknya sebagai lampu hijau ke tahap selanjutnya.
Rere berlari dengan mata berbinar, menghampiri Sena bagaikan mendatangi oasis di tengah gurun sahara.
“Hai, Sena!”
Ia mengatur napasnya yang memburu, lalu menatap Sena yang terdiam di tempatnya.
Mata Sena nampak lebih sayu dari terakhir kali mereka bertemu.
“Kau kelihatan...lelah.”
Sena menyisir rambutnya ke belakang, tersenyum tipis menanggapi kalimat yang terlontar dari bibir Rere.
“Tidak, aku hanya...”
Sena mencoba menemukan kata yang tepat untuk membalasnya.
Yang diterjemahkan oleh otak Rere sebagai anak sekolah yang mengeluhkan pelajarannya, sama seperti sang adik yang mengeluhkan pelajaran meronce yang paling dibenci.
“Pelajarannya pasti berat banget, ya..”
Rere menurunkan pundaknya, menghembuskan napas panjang sambil menatapnya.
Sena membuka mulutnya, hendak menjawab kalimat yang belum terpikirkan oleh sang otak.
Pelajaran hari ini memang cukup berat, namun ia baik-baik saja karena melaluinya sambil bermimpi.
Yang terasa lebih berat adalah dua jam setelahnya dan kejadian beberapa menit sebelum ini.
Tapi mana mungkin ia memberikan jawaban jujur berupa sesuatu yang sama sekali tak berhubungan dengan Rere?
__ADS_1
“Ah, padahal aku ingin mengajakmu ke Leo..”
Gerutuan pelan Rere terdengar samar-samar di telinga Sena.
"...leo?”
“Ah..“ Rere menggaruk pipinya canggung
Ia lalu mengeluarkan ponsel yang tadi dimatikannya secara paksa untuk menunjukkan postingan instagram yang dimaksud.
Sena membaca setiap kalimatnya dengan cermat, lalu menyetujuinya tanpa pikir panjang.
“…serius?”
Rere membelalakkan mata, tak percaya dengan anggukan Sena. Mata sipitnya jadi terlihat sedikit lebih besar dari mata awalnya.
“Iya. Pikiranku kebetulan sedang kalut jadi..”
"Yes! Oh, maaf, aku nampak senang di atas penderitaanmu-"
Sena tertawa melihat reaksi Rere yang bingung namun bahagia sambil menggelengkan kepalanya.
"Tenang! Aku traktir!"
Lalu mengikutinya berjalan setelah terhenti sekian detik tadi.
Sena menatap jalan setapak dihiasi remang cahaya yang masuk melalui celah-celah dedaunan.
Membuat jalan itu bagaikan layar proyektor alami yang menampilkan gerakan pelan dedaunan yang terkena semilir angin.
Kalau dipikir-pikir, kejadian saat ini mirip dengan kejadian pasca pertandingan di mana ia gagal menyabet juara.
Dengan intensitas kesedihan dan putus asa yang sama.
Ayah ibunya tidak akan memeluk dan menyemangati dirinyanya yang berjalan lesu seperti yang dilakukan orang tua lain yang anaknya kalah.
Mereka hanya menepuk pundaknya dalam diam, seperti seorang teman yang saling menguatkan.
Lalu sepulang pertandingan, mereka membawanya pergi ke restoran dan mengijinkannya memesan menu apapun dan makan sepuasnya.
Selesai makan, mereka berbagi pituah dengan pembicaraan yang amat santai, seperti pembicaraan tongkrongan anak muda pada umumnya.
Mengatakan bahwa ini adalah jatahnya mengalami hari buruk, bukan karena teknik yang salah atau kurang usaha sebagaimana yang diungkapkan pelatihnya.
Setelah itu ia akan tertidur semalaman penuh, mengubur kenangan buruknya hari itu dalam-dalam untuk kembali terasa bugar keesokan harinya.
Seperti hari ini, hari yang sangat panjang dan melelahkan ini, adalah jatah hari buruknya.
Tina meninggalkannya bukan karena ia buruk dan tak pantas berteman.
Bukan karena ia tidak lagi bisa berlari.
Bukan karena kesalahannya.
Setidaknya ia sudah menjadi teman yang baik selama ini, selalu mendukung dan menemani masa-masa sulitnya.
Sena menatap langit biru yang begitu cerah dengan hati yang kelabu.
“Di sana ada jus jambu yang enak! Dia ada krim dan meses diatasnya, kamu pasti suka!"
Rere berusaha menyemangati Sena yang nampak muram, menjadi tidak enak dengan ajakannya yang lebih mirip paksaan.
Apakah ia terlalu memaksa?
"Jadi penasaran dengan rasanya..."
Sena tersenyum tipis membalas kalimat Rere.
Raut mukanya sudah agak mendingan, lebih berwarna dibanding lima detik yang lalu.
"Kamu nampak seperti siswa biasa yang pusing karena banyak tugas."
Sena tertawa mendengarnya, karena pernyataan itu salah sekaligus benar.
Salah karena ia nampak lesu bukan karena pelajaran.
Benar karena selama seminggu sekolah ia sudah mendapat tiga buah tugas rumah yang baginya cukup banyak dan memuakkan.
"Bisa bebas latihan, makan apapun sepuasnya tanpa khawatir berat badan.. Aku iri, tau."
Sena menatap Rere sebentar lalu beralih mengamati jalanan ramai.
Mereka telah berhenti di lampu merah dan menunggu giliran menyeberang.
"Ya, aku dulu juga begitu. Tapi begitu masuk dan menjadi bagian dari mereka.."
__ADS_1
Rere menatapnya dengan wajah cemas.
"Sulit, ya?"
Sena mengangguk, tersenyum melihat Rere yang memproyeksikan emosinya dengan tepat, serasa ialah yang mengalaminya sendiri.
"Ya begitulah. Mungkin aku belum terbiasa."
Semakin banyak orang-orang berhenti berjalan dan menunggu lampu merah bersama mereka.
Bedanya, mereka berhenti tepat di bawah bayangan pohon, sejauh satu meter di belakang mereka yang bermandikan hangatnya sinar matahari.
Rere memperhatikan Sena yang menatap kerumunan manusia itu.
"Mau mundur?"
"Tidak, terlalu ramai."
Mereka berdua tertawa, tidak menyangka pikiran mereka serupa.
"Kayanya kita punya banyak kesamaan, seperti seorang teman."
Sena memperhatikan ekspresi Rere yang berubah sedih ketika mengatakannya.
Mengingatkannya pada masa-masa perundungan teman sepelatihan.
Yang mungkin masih terjadi sampai sekarang.
"Kita memang teman."
Rere menatap Sena dengan berbinar, semacam anak kecil yang mendapatkan hadiah permen kesukaan dari sang ayah.
"Boleh, nih, kita jadi teman?"
"Iya."
Lampu hijau berpendar di seberang jalan, membuat langkah mereka berbaur dengan berbagai langkah lain yang hendak menyeberang.
Rere hampir saja bertabrakan dengan seorang ibu yang berjalan menatap ponsel dari arah berlawanan kalau saja lengannya tidak ditarik oleh Sena.
Sena memperingatkan Rere untuk berhati-hati dan memperhatikan jalan setidaknya setelah mereka sampai di seberang.
"Wah, adegan tadi berasa seperti bukti bahwa kita beneran berteman.."
Sena menahan tawanya melihat Rere yang nampak terjebak antara ilusi dan dunia nyata.
"Sesenang itu kamu dapat teman?"
"Heh, tentu saja! Manusia buruk rupa ini akhirnya punya teman!"
Rere berjalan riang, dengan sedikit berjingkat dan bersenandung.
Kebahagiaan Rere agaknya mengobati jiwa Sena yang juga sedang berjuang mendapatkan seorang teman di kehidupan barunya.
Kalau ia ada di posisi Rere, kemungkinan besar ia juga akan bereaksi yang sama.
Mereka berdua memang punya kesamaan, seperti yang diungkapkan Rere beberapa saat yang lalu.
Sena mengalihkan tatapannya ke samping, bergantian ke kanan dan kiri menatap kesibukan orang-orang yang dilewatinya.
Ada pemuda yang membagikan brosur kafe yang akan segera buka, ada pedagang kerak telor yang sedang membuat adonan dengan berbagai pelanggan di sekitarnya, juga dua anak kecil yang bertengkar entah karena apa.
Dua anak berusia sekitar tujuh tahun itu bertengkar dengan lucu.
Salah seorang diantara mereka yang berperawakan lebih kecil dan gendut marah-marah dengan menghentakkan kakinya, sampai daging-daging pipinya ikut terguncang menggemaskan.
Sedangkan anak yang lebih besar dan tinggi hanya menatapnya sesenggukan, dengan air mata dan ingus yang meluber kemana-mana.
Adegan lucu itu mengingatkannya akan kejadian pertengkarannya beberapa saat lalu.
Juga kalimat terakhir Tina yang efek sakitnya masih bersarang dari hatinya.
"Hei, Rere."
Rere menoleh, mengalihkan pandangan pada perempuan di sampingnya.
Tinggi badan Sena membuatnya harus sedikit mendongak untuk menatap wajahnya.
"Hm?"
"Apa kamu berteman denganku karena berharap sesuatu dariku?"
Rere mengalihkan pandangannya ke depan, menjaga lehernya agar tidak kebas.
"Tentu saja."
__ADS_1
Membuat luka tak kasat mata di hatinya kembali terkoyak.