SULIVAN

SULIVAN
Nomor


__ADS_3

Sena membungkukkan badannya dua kali dalam tempo yang cepat, lalu menengadah menatap pria yang duduk di depannya seraya mundur pelan-pelan menuju pintu yang terbuka.


"Terimakasih, Pak Dokter! Sehat selalu!"


Raut bahagia Sena membuat dokter muda itu ikut tersenyum dan melambaikan tangannya.


"Sama-sama. Saya tunggu kabar baiknya."


Pintu itu tertutup dengan senyuman lebar Sena yang membalas lambaian tangan sang dokter.


Berjalanlah Sena dengan seruan senang yang berusaha ditahan untuk tidak keluar begitu kencang, mengingat ia masih berada di rumah sakit sekarang.


Sebagai gantinya, kakinya berjingkatan senang menyalurkan energi bahagia yang siang ini meluap-luap.


Karena hari ini adalah hari terakhirnya melakukan check-up.


Lututnya telah dinyatakan sembuh total setelah melewati beragam pemeriksaan dan terapi selama hampir enam bulan lamanya.


Saatnya mengucapkan selamat tinggal pada jalan kaki pelan-pelan yang memuakkan.


Juga pada jadwal kontrol dua mingguan yang selalu menghasilkan harapan palsu.


Juga pada kerumitan fisika beserta hukum-hukumnya yang ternyata lebih memuakkan dibandingkan matematika.


Juga pada terjaga sampai larut demi mengerjakan tugas yang terus mengalir tanpa henti.


Waktunya mengucapkan selamat datang kepada latihan pagi sampai sore yang ternyata tidak semengerikan itu jika dibandingkan dengan duduk berjam-jam mendengar penjelasan guru yang terdengar bagaikan nina bobo.


Setidaknya ia tidak akan kepikiran tugas ketika tengah menikmati akhir pekannya.


Satu pesan kemudian muncul menggetarkan ponselnya.


Pesan dari sang pelatih yang menyuruhnya berangkat latihan mulai Senin depan.


Yang artinya ia punya empat hari untuk lebih beralas-malasan dan makan makanan apapun yang ia inginkan sebelum kelak akan dilarang.


Ingin rasanya menyampaikan kabar bahagia ini secepat mungkin pada Rere, yang mungkin saat ini masih sibuk latihan.


Ia mungkin akan terkejut jika Sena mengiriminya pesan bahwa mereka akan menjadi lawan satu sama lain dalam kompetisi daerah yang akan berlangsung tiga setengah bulan yang akan datang.


Ah, kalau tidak ia akan mengatakannya di akhir pekan sambil berkunjung ke rumahnya nanti.


Ia merindukan tingkah manis dan kecerewetan Rara yang sudah lama tidak didengar.


Sebab dirinya yang sibuk mempersiapkan diri mengikuti ujian akhir sebagai siswa kelas reguler pada umumnya.


Sena sempat kehilangan harapan begitu dokter belum juga menyatakannya sembuh sampai ujian akhir mendekat.


Lalu sebulan kemudian tepatnya di hari ini, voila! Dokter Derry mengumumkan kesembuhannya dengan senang hati.


"Sena?"


Kepalanya berpaling mencari suara familiar yang memanggilnya dari sekian bunyi keramaian manusia di ruang tunggu pasien.


"Oh, Doki! Kau di sini?"


Sena terheran-heran menatap pemandangan tidak biasa yang menyapa matanya.


Biasanya ia akan berpapasan dengan Rio atau Tera atau bahkan keduanya ketika sedang berada di area ini.


Baru kali ini ia bertemu Doki selain di kantin sekolah.


"Iya, ngambil ini punya si Tera."


Sena mengangguk menatap Doki berjalan mendekat membawa dua lembar kertas.


Ia mungkin akan mendengar kabar baik tentang kondisi Tera juga hari ini.


Mereka kemudian berjalan berdampingan menuju pintu keluar.


"Bagaimana keadaannya? Kabar baik, kah?"


Doki memiringkan kepalanya memandangi kedua tumpukan kertas itu.

__ADS_1


"Tentu saja, meskipun bukan kabar baik yang kamu maksud."


Sena menolehkan kepalanya dan menatap Doki dengan alis terangkat.


Bertanya-tanya dengan maksud kalimat Doki.


"Biaya perawatannya sudah dibayar lunas."


Membuat Sena semakin melebarkan matanya sekaligus mengukir senyum lebar di bibirnya.


"Oh, wow! Kabar yang sangat sangat baik!"


Doki membalasnya dengan kepala manggut-manggut menyetujui Sena.


Mereka telah keluar dari pintu utama rumah sakit dan memutuskan untuk membeli es kopi di kantin depan.


"Lututmu bagaimana?"


Sena membalas pertanyaan Doki dengan cengiran bahagia.


"Lihat, nih!"


Lalu berlari cepat memutari tiang bendera selama tiga kali.


"Widiih... Sudah sembuh?"


Sena mengangguk senang lalu kembali berlari.


Perjalanan mereka menuju kantin seketika berubah menjadi pertandingan gerakan kaki yang paling cepat.


"Senangnya... Gak akan ada lagi penyusup yang bergabung ke meja kami pas lagi makan di kantin, nih?"


Sena melayangkan tangannya pada punggung Doki.


"Heh, itukan karena aku gak bawa bekal... Dan karena aku gak kenal siapapun kecuali kalian."


Yang dibalas dengan lenguhan Doki yang sengaja dibuat-buat.


Berlanjutlah lontaran ejekan demi ejekan yang saling beradu sebelum dua gelas es kopi tersaji di depan mereka.


Mengakhiri gurauan mereka siang ini.


Setelah membayar, Doki kemudian bercerita mengenai fakta mencengangkan yang baru saja diterimanya dari sang sepupu.


Fakta bahwa guru biologi kelas satu yang dirumorkan menjadi selingkuhan ayah Zalva ternyata adalah anak dari sekretaris sang ayah.


Wanita cantik yang biasa dipanggil Bu Mega itu memang dimintai tolong oleh Ayah Zalva untuk mengawasi Zalva di sekolah, menggantikan dirinya yang jarang berada di rumah.


Maka dari itu, semua berita miring tentang Zalva dan perisakan yang diterimanya diketahui oleh sang ayah untuk kemudian diteruskan pada sang wali kelas.


Doki meyakini kebenaran berita ini karena sepupunya adalah adik kandung suami Bu Mega yang menikahinya bulan lalu.


Sena manggut-manggut, memahami sudut pandang baru dari kesalahpahaman itu.


Mereka telah sampai di parkiran selagi membicarakan perkara Bu Mega.


Doki kemudian menawarinya tumpangan, yang ditolak oleh Sena karena sebentar lagi sang ayah akan menjemputnya.


"Naik motor biru itu?"


"Iya."


Doki melebarkan matanya dan memberikan kedua jempol pada Sena.


"Anaknya mantan geng motor gitu loh!"


Yang ditanggapi dengan wajah datar oleh Sena.


Perkataan Pak Didi kala itu memang betulan kenyataan.


Berdasarkan cerita sang ibu yang kalau dibayangkan terdengar mengada-ada.


Apalagi melihat ketakjuban Rio, Doki, dan Tera yang langsung mempercayai cerita sang Ayah ketika datang menjemputya di sekolah.

__ADS_1


Membuat keragu-raguan semakin mengakar kuat dalam dirinya.


Masih tidak percaya bahwa ayahnya betulan anggota geng motor terkenal di masanya.


Meskipun telah divalidasi sang ibu berupa gen atletisnya yang tentu saja didapatkan dari sang ayah.


"Ah iya lupa-"


Doki menyerahkan salah satu dari dua lembar kertas yang berada di tumpukan paling bawah.


"Itu nomor telepon orang yang membiayai pengobatan Tera."


Sena menatap kertas yang sebagian besar berisi angka itu dari atas ke bawah, sampai matanya tersangkut pada tulisan tangan yang tertulis tepat di bawah tanda tangan.


Zalva Wimala.


"Nomornya aktif, barusan kutelpon tadi. Sampai jumpa."


Pergilah Doki meninggalkan Sena yang masih mematung.


Jantungnya kembali berdebar kencang begitu menatap nomor telepon dengan kode negara Australia tertulis di bawah namanya.


Sena terus menatap kertas itu sampai klakson motor menyapa telinganya.


Segera dilipatnya kertas itu menjadi empat bagian lalu naik ke kursi penumpang dan melenggang berbaur bersama kendaraan lain.


Sena merenung menatap kawanan burung yang terbang berbaris dalam formasi.


Merenungkan nomor yang selama ini selalu dicarinya.


Ia masih tidak percaya akan menjumpai hari di mana nomor itu benar-benar muncul di hadapannya.


Rasanya ingin sekali nomor itu dihubungi begitu kakinya mendarat di kasur empunya.


Tapi apakah Zalva akan mengangkatnya?


Dan kalau diangkat, apa yang hendak ia katakan?


Apakah suaranya masih sama seperti enam bulan yang lalu?


Apakah Zalva akan mengenali suaranya?


Apakah Zalva masih mengingatnya?


Beragam pertanyaan berkecamuk di otak Sena, berlomba-lomba ingin muncul menguasai pikirannya.


Kalau Zalva masih mengingatnya, bukankah enam bulan kemarin tidak akan berakhir dengan lost-contact?


Meskipun nomornya masih tetap sama dengan nomor yang disimpan di kontak Zalva sebagai 'Sena dua-tiga'.


Dirinya juga masih sama dengan perempuan yang enam bulan lalu menjadi teman sebangku Zalva.


Namun, apakah Zalva juga masih sama?


Nomor yang berubah tanpa kembali menghubunginya tidak menutup kemungkinan bahwa Zalva juga telah berubah.


Telah menemukan teman sebangku yang lebih berguna dan bermanfaat dibanding dirinya.


Telah menemukan teman sekelas yang lebih hangat dan selalu mendukungnya.


Telah menemukan hidup baru yang jauh lebih menggembirakan dibandingkan masa enam-bulan-lalunya yang suram.


Sena takut akan merusak kegembiraan itu kalau ia menghubunginya sekarang.


Ia takut membawa kembali kenangan menyakitkan jika memperdengarkan suaranya.


Meski ia sangat merindukan Zalva, ia tak mau kerinduannya berbalik menjadi malapetaka bagi Zalva.


Tak mau perasaannya mengundang awan hitam di kehidupan berwarna Zalva.


Membuat Sena mengayunkan kuat-kuat tangan yang menggenggam lipatan kertas itu ke kanan, tepat di kobaran api yang sedang membakar sampah dedaunan kering.


Mencoba membuang dan membakar kertas berisi kehidupan Zalva.

__ADS_1


Sekaligus perasaannya.


__ADS_2