Swordmaster : The Origin

Swordmaster : The Origin
Frederica Nobell


__ADS_3

"Apakah aku memberi kesan yang cukup bagus untuknya?" Pikir Nix dalam hati.


Setelah Nix keluar dari kelasnya, Nix pergi menuju taman akademi yang tidak jauh dari kelasnya dan duduk di salah satu bangku kayu yang ada di sana.


Sambil duduk, Nix memikirkan mengenai perbuatannya ketika menolong teman sekelasnya yaitu Elvia.


Nix khawatir apakah perbuatan dia dalam menolong Elvia saat itu sudah tepat, karena dia ingin pandangan Elvia mengenai dirinya bagus di matanya.


Nix belum pernah mempunyai teman di kehidupan dia sebelumnya, jadi dia tidak tau bagaimana cara berinteraksi dengan benar.


Alasan utama kenapa saat itu Nix menolong Elvia adalah karena ia ingin mendapat teman.


Di kehidupan Nix sebelumnya, Nix merupakan seseorang yang pendiam dan jarang bersosialisasi dengan orang yang ada di sekitarnya.


Nix adalah seorang petualang solo peringkat Z yang saat itu hampir tidak pernah membuat party sama sekali.


Satu-satunya saat ketika ia bergabung dengan party adalah ketika ia masih menjadi pemula dan masih belum bisa bertarung sendiri.


Namun setelah Nix menjadi petualang peringkat C dan bisa bertarung sendiri, Nix memutuskan untuk tidak mengikuti party lagi. Karena baginya itu hanyalah membuang-buang tenaga dan pikiran dalam memikirkan bagaimana caranya melindungi teman partynya selagi ia bertarung.


Tetapi hal itu berhasil dibantah ketika ia kalah melawan Raja Iblis dan membuat dunianya hancur.


Keberadaan party sangatlah diperlukan ketika berhadapan dengan musuh yang sangat kuat, mereka bisa mendukungmu dengan berbagai sihir pendukung dan serangan lainnya yang dapat membuat lawan kesusahan dalam menghadapinya.


Maka dari itu, di kehidupan kali ini Nix bersumpah bahwa dirinya akan membuat banyak teman untuk membantunya dalam melawan Raja Iblis.


Dan langkah pertama yang dia ambil adalah adalah membuat Elvia menjadi temannya.


Mungkin seseorang bertanya-tanya mengapa harus Elvia? bukankah ada seseorang yang mungkin lebih cocok dijadikan teman dibandingkan dia? sudah begitu dia adalah bangsawan.


Jawabannya sangatlah simpel.


Pertama, Elvia adalah seorang bangsawan, dan posisi bangsawan di akademi sekarang bisa dibilang sangatlah buruk. Dengan memanfaatkan itu, Nix bisa membuat beberapa bangsawan berteman dengannya dengan membantu mereka ketika sedang dikucilkan. Berbeda dengan rakyat jelata yang mungkin lebih susah karena posisi mereka yang cenderung lebih tinggi sekarang.


Kedua, Elvia bukanlah tipe petarung, melainkan seorang tipe support. Sehingga itu sangatlah menguntungkan untuk Nix jika ia bisa berteman dengan seorang support yang dapat mendukungnya dari belakang.


Untuk kedua alasan itu, Nix memutuskan untuk membuat Elva menjadi teman pertamanya.


Namun Nix bingung apa yang harus dilakukannya selanjutnya, sebab ia belum berpengalaman dalam membuat teman sebelumnya.


"Mungkin aku harus mengajaknya keluar? tetapi siswa akademi pasti akan curiga jika aku keluar dengan seorang gadis bangsawan." Nix menggaruk kepalanya berpikir.


Nix berpikir keras mengenai apa yang harus dilakukannya selanjutnya.


Ketika sedang berpikir sambil memejamkan matanya, Nix disadarkan oleh suara yang memanggilnya dari belakang.


"Hey." Panggil suara seorang Gadis.


"?"


Nix membuka matanya dan mengarahkan wajahnya ke belakang untuk melihat ke sosok yang memanggilnya tadi.


Dari belakang, terlihat seorang gadis berambut hitam yang pernah dilihat Nix sebelumnya.


Ya, dia adalah seseorang yang membuat Nix tertarik di ujian kenaikan peringkat sebelumnya, seorang perempuan bernama Frederica Nobell.


Kali ini seperti Nix, dia mengenakan lencana perak keemasan di saku kanannya. Menandakan bahwa ia adalah siswa terbaik yang lolos di ujian kenaikan peringkat sebelumnya.


Melihat Frederica, Nix kembali mengarahkan pandangannya ke depan dan membalas sapaan Frederica tanpa melihat ke arahnya.


"Apakah ada perlu sesuatu denganku?" Tanya Nix.


Frederica yang melihat Nix menanyainya tanpa melihat ke arahnya, merasa sedikit kesal padanya.


"Sepertinya kamu cukup sombong juga, menanyai orang tanpa menatap wajahnya secara langsung." Ucap Frederica.


Nix sengaja melakukan itu karena ia gugup jika berhadapan dengan orang lain secara langsung.


"Aku memanglah seperti ini, jika kamu tidak suka, maka jangan berbicara padaku."


Frederica menghela nafas sedikit setelah mendengar perkataan Nix


"Aku mengerti, tetapi setidaknya balaslah sapaanku ketika aku menyapamu."


"Begitukah? apakah itu etikat wajib ketika mengobrol dengan seseorang?"


"Itu adalah etika paling dasar dari yang paling dasar."

__ADS_1


"Begitu ya, aku akan mengingat itu."


"...."


Suasana di sekitar menjadi hening sejenak.


Nix yang merupakan seseorang dengan skill mengobrol hampir tidak ada, berterima kasih dalam hatinya pada Frederica yang mengajarkannya mengenai etikat berbicara.


Sebab dengan mengetahui itu, Nix dapat berinteraksi dengan orang lain lebih baik, sehingga kesempatan dia dalam mendapatkan seorang teman menjadi lebih tinggi.


"Hey, bolehkah aku duduk disampingmu?" Tanya Frederica.


"Hmm? untuk apa?"


"Untuk apa? apakah kamu benar-benar mengatakan itu pada seseorang yang memintamu untuk duduk di sebelahmu?" Ucap Frederica kesal.


"Eh? apakah ini termasuk dari salah satu etikat ketika berbicara dengan seseorang?"


"Itu benar, apakah kamu bahkan tidak tahu hal sesimpel itu?"


"Ah, begitu ya? maafkan aku, Kamu bisa duduk di sebelahku sekarang." Nix menggeser badannya ke samping untuk membuat ruang.


Frederica yang masih kesal karena tanggapan Nix sebelumnya, dengan enggan duduk disebelahnya.


Suasana menjadi sunyi sekali lagi, dan Nix mengambil insiatif untuk bertanya padanya.


"Jadi... adakah sesuatu yang ingin kamu bicarakan denganku? Tanya Nix.


Frederica masih cemberut dengan tangannya yang disilang dan mukanya yang menghadap kesamping.


Namun karena Frederica juga tidak ingin bersama-lama, dia langsung berbicara ke intinya.


"Aku ingin kamu untuk membuat party denganku."


".... Eh?"


Nix tidak mengerti kenapa Frederica tiba-tiba mengajaknya untuk membuat party.


Namun, ini kesempatan langka untuk Nix agar dapat membuat party dan memperoleh teman dengan cepat.


"Aku tidak keberatan sih dengan itu, tetapi untuk apa?" Tanya Nix.


"Aku ingin bergabung dengan OSIS." Frederica menatap Nix dengan wajah serius.


"Hah? OSIS?" Ucap Nix bingung.


"Ya, mereka akan mulai membuka pendaftaran untuk anggota baru besok, dan salah satu syaratnya adalah membentuk party beranggotakan 3 orang."


"T-tetapi, aku tidak ingin bergabung dalam OSIS... "


"Tidak apa-apa, kamu hanya harus membantuku untuk mendapat posisinya, jika kamu tidak ingin, kamu dapat menolak untuk menjadi anggota mereka.


"Tetapi kenapa memilih aku?"


"I-itu karena...."


Frederica mengalihkan wajahnya ke samping.


"I-itu karena kamu adalah salah satu dari siswa terbaik yang lolos di Ujian peringkat sebelumnya!" Perjelas Frederica.


"Bukankah ada Teorine Petra?"


"D-dia sudah kuajak sebelumnya, tetapi dia bilang dia sudah mendapat party."


"Hmm? apakah itu berarti Petra berniat untuk menjadi anggota OSIS juga?" Pikir Nix dalam hati


"Tetapi walaupun aku bergabung sekarang, jumlah anggotanya masih kurang kan?"


"A-aku akan berusaha untuk mencari yang lain."


"Benarkah? tetapi aku masih penasaran mengenai alasanmu ingin masuk ke OSIS."


"I-itu...."


Frederica terdiam menanggapi pertanyaan Nix.


Sepertinya Frederica tidak ingin memberitahukan itu padanya.

__ADS_1


"Baiklah, lupakan tentang itu." Ucap Nix.


"Eh? apakah tidak apa-apa?*


"Ya, tetapi sebagai gantinya, apakah kamu sudah menyiapkan balasannya jika aku bergabung dengan partymu?" Tanya Nix.


"Eh?"


"Tentu saja kamu tidak lupa dengan itu kan?, jika kamu meminta bantuanku untuk membantumu bergabung dalam OSIS. Maka kamu juga harus memberikan hal yang setimpal padaku sebagai gantinya."


"A-aku rela melakukan apapun untukmu!"


"Hah? apakah kamu serius mengatakan itu?" Nix terkejut dengan perkataannya


"Aku serius! jika kamu benar-benar bisa membuatku bergabung, maka aku akan menuruti semua permintaanmu!"


"Sebenarnya apa tujuan gadis ini?" Pikir Nix dalam hati.


"Apakah posisi OSIS memanglah sepenting itu untukmu?"


"i-itu sangat penting! k-karena aku.."


Frederica tidak terlihat seperti bisa melanjutkan kalimatnya.


Nix berpikir sejenak mengenai tawaran Frederica.


Setelah berpikir sejenak mengenai keuntungan yang bisa dia ambil, Nix memberi jawaban pada Frederica.


"Baiklah, aku akan membantumu."


"!!"


"Tetapi, bisakah aku mengajak seseorang untuk bergabung dengan kita?"


"A-apakah kamu mempunyai teman?"


"Oi-oi, begini-begini aku juga mempunyai teman tahu."


"A-ah, m-maafkan aku." Frederica mendukkan kepalanya


"Tidak apa-apa, jangan dipikirkan. Untuk orang yang akan bergabung dengan kita, dia adalah seorang bangsawan. Apakah kamu tidak keberatan dengan itu?" Tanya Nix.


Karena posisi bangsawan sedang buruk sekarang, Nix meminta konfirmasi Frederica untuk memastikan.


"Tidak apa-apa kok, karena aku juga seorang bangsawan."


"Eh? benarkah?" Nix terkejut karena dia tidak tahu.


"Iya, kamu bisa melihat lambang keluargaku di telingaku."


Frederica menggeser rambut panjangnya untuk memperlihatkan telinganya.


Di atas telinganya, terlihat sebuah gambar kecil berupa mawar.


"Kamu benar, aku sama sekali tidak sadar tentang itu."


"Itu sudah biasa, karena hanya segelintir orang yang pernah melihatku bersama orang tuaku."


"B-begitu ya, dan juga karena lambang keluargamu sedikit tertutup."


"Iya, tetapi aku tidak apa-apa dengan itu, justru aku senang karena semua orang menganggapku setara dengan mereka.


"Hooh, ada juga bangsawan yang bersifat sepertimu ini ya..."


"Tentu saja, tidak semua bangsawan bersifat buruk. Hanya saja kebanyakan dari mereka memang seperti itu." Frederica menegaskan.


Setelah mendengar perkataan Frederica, Nix mengubah sedikit pandangannya mengenai bangsawan.


"Begitu ya, mungkin aku saja yang tidak beruntung." Ucap Nix.


"Ahahahaha, gimana bisa kamu bertemu orang yang baik sepertiku jika etikat bicaramu saja seperti itu." Ejek Frederica.


"B-berisik! aku juga sedang berusaha tau!"


"Ahahahaha, kamu memanglah seseorang yang lucu Nix."


"D-diam! jangan meledekku."

__ADS_1


"Ahahahahaha"


Di langit siang yang menuju sore, kedua siswa tertawa lepas di taman yang tidak terlihat adanya orang sama sekali.


__ADS_2