Swordmaster : The Origin

Swordmaster : The Origin
Situasi Darurat


__ADS_3

Setelah Nix menjelaskan kepada Lina mengenai dirinya yang bisa sampai di ujung dunia, Lina terdiam sejenak sambil berpikir.


Itu karena Lina berusaha memproses apa yang baru saja dia dengar dari Nix, mengenai Nix yang bertemu dengan Lilith dan dirinya yang berakhir ke ujung dunia akibat sihirnya.


Ketika menjelaskan kepada Lina tadi, Lina sama sekali tidak berbicara dan hanya mendengarkan Nix sambil sesekali terkejut mendengar penjelasannya


Yang menandakan bahwa Lina mendengarkan perkataan Nix dengan serius dan tidak menganggapnya sebagai bualan belaka.


Itu membuat Nix sedikit lega, sebab dia mengira bahwa Lina akan menganggapnya sebagai cerita karangan yang dibuat-buat olehnya.


Sebab Nix memanglah dikirim ke ujung dunia oleh Lilith, menggunakan sihir tingkat tinggi bernama World Teleport End.


Setelah 3 menit Lina terdiam sambil berpikir, Lina akhirnya berkata kepada Nix yang berada di depannya.


"Begitu ya, jadi intinya, kamu bertemu dengan seorang Jenderal Iblis secara tiba-tiba, dan kamu diserang menggunakan sihir bernama World Teleport End yang membuatmu bisa berada di sini sekarang." Ucap Lina.


Nix mengangguk menanggapi ucapan Lina.


Lina yang melihat itu segera melanjutkannya.


"Jujur saja, aku tidak tau kenapa seorang Jenderal Iblis memindahkan seorang siswa biasa sepertimu ke sini."


"Tetapi yang pasti, mengenai sihir bernama world teleport end itu sepertinya bukan bohongan, karena itu adalah salah satu hal yang masuk akal untuk menjelaskan dirimu yang bisa sampai di sini sekarang." Perjelas Lina.


Nix memang memberitahu Lina mengenai dirinya yang dikirim ke sini oleh seorang Jenderal Iblis, tetapi Nix tetap menyembuntikan fakta bahwa dirinya berhasil memojokkan Jenderal Iblis itu.


Itu karena Nix tidak ingin Lina menganggapnya sebagai kehobongan belaka, sebab seorang siswa berumur 14 tahun yang bertarung seimbang melawan seorang Jenderal Iblis tentu saja tidak akan bisa dipercaya dengan mudah.


Karena itu Nix memutuskan untuk menyembunyikan kekuatannya dulu saat ini.


Sampai tiba saaatnya dimana Nix bisa menunjukkan kekuatannya yang sesungguhnya kepada Lina.


"Aku juga tidak tau kenapa seorang Jenderal Iblis tiba-tiba muncul di dekatku, mungkin saja dia salah menargetkan sihirnya kepada orang yang dia incar, dan sialnya itu malah mengenaiku."


Lina terdiam sesaat setelah mendengarkan penjelasan Nix.


"Kau benar, itu mungkin saja yang terjadi." Ucap Lina pelan.


Setelah percakapan singkat mengenai bagaimana Nix bisa sampai di ujung dunia, sebuah ketukan muncul dari depan pintu rumah Lina.


*Tok tok tok! {Suara pintu diketuk}


Lina yang mendengarnya langsung segera kembali ke wajah biasanya dan pergi ke arah pintu rumahnya.


"Ya, sebentar." Lina membukakan pintunya.


Nix hanya terdiam di tempatnya sambil melihat ke arah Lina yang berada di pintu rumah.


Nix mendengar ada beberapa suara orang laki-laki yang sepertinya berumur 40 tahunan, dan suara itu bukan hanya 1 namun ada beberapa.


Dan mereka berbicara mengenai sesuatu seperti monster yang datang menyerang, tetapi Nix tidak dapat mendengarkannya dengan jelas karena tertutup suara angin yang kencang dari luar.


Setelah beberapa saat, orang-orang yang berada di luar itu sempat mengintip ke dalam rumah untuk melihat sekilas.


Dan mereka sedikit terkejut ketika melihat Nix.


"Siapa orang itu? apakah kenalanmu Lina?" Tanya salah satu dari orang itu sambil melihat ke arah Nix.


"Hm? ah, dia adalah muridku."


"Murid? sebelumnya aku belum mendengar bahwa kamu mempunyai murid.."


"U-um, dia itu...baru saja kuangkat menjadi muridku."

__ADS_1


"Hoooh, begitu ya."


Tidak lama setelah itu, Lina melanjutkan obrolannya dengan beberapa orang itu dan kembali menutup pintunya


"Fuhhh... kenapa harus di saat seperti ini sih?" Lina menghela napas kecil


Nix yang melihat Lina mengeluh, langsung bertanya ke padanya tentang apa yang terjadi.


"Apakah ada sesuatu?" Tanya Nix.


Lina mengarahkan wajahnya ke Nix


"Beberapa monster beruang keluar dari sarangnya dan mulai menyerang warga sekitar yang tinggal di sini, beberapa dari mereka meminta tolong padaku untuk mengusirnya." Ucap Lina.


"Monster beruang?"


"Ya, namanya adalah White Ursus, mereka mempunyai badan besar, kulit keras, berbulu tebal, cakar yang tajam, dan penciuman yang tajam. Mereka bahkan bisa melihat dengan jelas di kabut putih yang sangat tebal."


"Bukankah itu berbahaya? kenapa warga sekitar sampai meminta ke kamu untuk mengusirnya?"


Lina mengabaikan pertanyaanku sejenak dan pergi mengambil jaket dan ranselnya serta mengambil beberapa keperluan yang diperlukannya untuk berburu.


"Itu karena aku pernah membunuh White Ursus sebelumnya, dan ketika itu warga desa mulai bergantung padaku untuk melindungi mereka dari monster di sini." Lina memasukkan beberapa panah lipat ke dalam tas.


"Hoooh, apakah kamu mempunyai memang mempunyai banyak pengalaman bertarung Lina?"


"Ya, begitulah...aku sudah terbiasa membunuh berbagai monster" Lina menutup ranselnya dan berjalan menuju crossbownya yang digantung di dinding.


"Heeeh, begitu ya."


Nix hanya berdiri diam sambil melihat Lina yang tengah bersiap-siap.


Tidak lama setelah itu, Lina yang sudah siap langsung memakai kacamatanya sebelum membuka pintu dan menghadap ke arah Nix.


Nix mengangguk menanggapi ucapan Lina.


Setelah melihat Nix mengangguk, Lina langsung keluar dari rumah dan menutup pintunya.


*Cklek


...----------------...


Sudah 2 jam sejak Lina pergi, dan Nix sudah berkeliling ke sekitar dalam rumah untuk melihat-lihat.


Rumah Lina adalah rumah sederhana dengan 90% perabotan yang terbuat dari kayu.


Itu adalah hal yang lumrah, karena susah untuk mendapatkan bahan seperti keramik di lingkungan dingin seperti sekarang.


Ada beberapa hiasan kepala hewan yang tergantung di dinding rumah Lina, dan 1 perapian api yang membuat rumah selalu terasa hangat.


1 dapur yang digabung dengan meja makan, 1 toilet, dan 1 ruang tamu yang digunakan untuk tidur.


Tidak ada kamar pribadi di rumah Lina, mungkin karena hanya dirinya yang tinggal sendiri.


Ada beberapa makanan yang dibekukan, dan di simpan di dalam lemari dapur.


Ada juga beberapa panah yang digantung di dinding rumah, mungkin untuk memudahkannya dalam mengisi amunisi.


Nix sudah sepenuhnya memahami tata letak dan berbagai peralatan yang berada di rumah Lina.


Karena itu, sekarang yang dia lakukan adalah duduk di salah satu kursi yang ada di ruang tamu sambil melihat ke arah api yang berada di perapian.


"Lina lama juga ya..." Gumam Nix pelan.

__ADS_1


Sudah 2 jam sejak Lina pergi dan masih belum pulang.


Nix diberitahu olehnya untuk tetap di rumah dan tidak pergi ke luar karena berbahaya.


Nix juga menyadari itu, sebab dirinya kesusahan dalam mencari arah terutama di luar yang ditutupi oleh kabut tebal.


Namun, Nix sedikit khawatir terhadap Lina yang pergi untuk membunuh monster beruang yang bernama White Ursus.


Sebab Nix tidak tahu seberapa kuat White Ursus itu, atau mungkin berapa jumlahnya yang dilawan Lina.


Lina mengatakan sebelumnya bahwa dia memang pernah mengalahkan White Ursus sebelumnya, namun mungkin itu hanya 1 White Ursus, bukannnya berkelompok.


Sambil memikirkan itu, tiba-tiba sebuah suara ketukan datang dari depan pintu rumah.


*Tok tok tok! {Suara ketukan}


"Hm?" Nix yang sedang berpikir langsung disadarkan oleh suara ketukan yang ia dengar.


Jika itu Lina, maka dia tidak perlu mengetuk untuk masuk ke dalam rumahnya, yang berarti itu adalah orang lain.


Nix langsung berdiri dari kursinya dan menuju ke depan pintu rumahnya.


*Cklek* Nix melihat seorang lelaki yang ia lihat sebelumnya ketika mengobrol dengan Lina.


Lelaki itu berlumuran darah sedikit di sekitar kepalanya, dan ia juga gemetaran sekaligus kehabisan nafas.


Nix tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada orang itu, tetapi yang Nix tahu adalah bahwa orang ini sedang panik sekarang.


"A-anu...kalau tidak salah..kamu adalah muridnya Lina bukan?" Ucap orang itu terengah-engah.


Nix langsung teringat tentang Lina yang memberitahu kepada orang yang datang di rumahnya bahwa dia adalah muridnya.


Itulah mengapa orang yang ada di depannya saat ini melihat Nix sebagai murid Lina.


"I-iya, apakah ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Nix.


Lelaki di depan Nix dengan cepat mengatur napasnya dan menatap wajah Nix dengan serius.


"L-lina...dia dalam keadaan bahaya sekarang."


Nix sontak terkejut mendengar perkataan lelaki itu.


"Bisakah kamu beritahu aku apa yang terjadi?" Tanya Nix dengan wajah serius kepada lelaki itu.


"Beberapa White Ursus datang secara tiba-tiba setelah kami mengalahkan beberapa dari mereka, dan sekarang Lina dan yang lainnya sedang berusaha untuk menahan mereka.


"Namun, dilihat dari kondisinya, sepertinya Lina tidak bisa menahannya lebih lama lagi...karena itu, apakah kamu yang merupakan murid Lina bisa membantuku?" Tanya orang itu.


Nix dengan cepat langsung berjalan ke dalam dan melihat ke salah satu dinding kayu yang disana terdapat sebuah pedang yang dipajang di dalam kotak kaca.


Nix yang sekarang tidak mempunyai pedang, memutuskan untuk mengambil pedang itu.


"Maaf." Nix memukul ke arah kotak kaca itu


*Prang! Nix memecahkan kotak kaca itu dan mengambil pedang yang ada di dalamnya.


Lalu ia segera bergegas berlari ke arah lelaki itu.


"Bisakah kamu beritahu aku jalannya?" Tanya Nix ke lelaki tersebut.


Lelaki tersebut langsung mengangguk dan mengarahkan Nix menuju lokasinya.


"Ikuti aku ke sini." Ucap Lelaki itu.

__ADS_1


__ADS_2