Swordmaster : The Origin

Swordmaster : The Origin
Dungeon


__ADS_3

Setelah pihak panitia memberikan penjelasan mengenai Ujian dan aturannya, sebuah portal biru berukuran besar muncul di tengah-tengah lapangan.


Seluruh siswa akademi yang ada di lapangan diarahkan untuk masuk ke portal itu secara bergiliran.


Nix dan partynya masuk ke portal itu, lalu ia sampai di sebuah hutan dengan pintu labirin besar yang ada di depan mereka.


Pintu labirin besar itu bewarna abu-abu, dengan ukiran gambar misterius yang terukir di pintu itu.


Frederica, Elvia, maupun seluruh party yang ada di depan pintu labirin tersebut terpukau melihat pintu besar yang ada di hadapan mereka.


"Woahhh...."


"Besar sekali...."


"Jadi ini pintu labirin ya..."


Nix melihat pintu itu sambil mencoba memahami ukiran yang ada di sana, walau dia tau bahwa itu sia-sia dengan pengetahuannya yang masih sedikit.


Pintu portal yang masih berada tidak jauh di belakang Nix, tertutup ketika semua siswa dan panitia sudah masuk ke dalamnya.


"Semua siswa harap untuk berbaris rapi sampai pemberitahuan selanjutnya dari pihak panitia diberikan!" Teriak salah satu panitia ujian.


Setelah mendengar itu, siswa akademi membentuk 3 barisan kebelakang yang diisi oleh masing-masing anggota party dari samping.


5 menit kemudian, pintu labirin terbuka secara perlahan, bersamaan dengan itu, tanah di sekitarnya bergemuruh. Membuat beberapa siswa yang sedang berada di lapangan terkejut.


"Oi-oi, apakah membuka pintu labirin saja bisa membuat sebuah gempa bumi?


"S-sepertinya begitu.."


Setelah pintu labirin terbuka sepenuhnya, panitia ujian memberitahu kepada semua party yang ada untuk masuk ke dalam labirin dengan tertib.


...----------------...


Di dalam labirin gelap yang hanya diterangi oleh batu sihir bercahaya yang melayang di udara, Terdapat 4 lorong besar yang merupakan jalan untuk memasuki bagian dalam labirin.


Di depan keempat lorong besar itu, seluruh panitia ujian yang berjumlah 20 orang berkumpul untuk memberikan pengarahan terakhir kepada para siswa.


Orang yang berada di tengah-tengah panitia ujian, seorang lelaki berambut hijau dengan mata merah dan tubuh terlatih, berteriak di depan para siswa dan party yang sedang sibuk mengobrol dan melihat-lihat ke sekitar labirin.


"Semuanya! tutup mulut kalian dan dengarkan aku!!"


Para siswa yang sedang sibuk segera menghentikan kegiatan mereka dan fokus pada orang yang ada di depan mereka.

__ADS_1


Lelaki itu segera berbicara kembali setelah melihat suasana sudah menjadi kondusif


"Namaku adalah Raiden Wrath, seseorang yang ditunjuk oleh ketua OSIS untuk menjadi ketua panitia ujian kali ini. Untuk yang terakhir kalinya, aku akan mempertegas kembali kepada kalian tentang apa yang harus kalian lakukan dilabirin ini." Ucap Raiden.


Raiden mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya, sebuah kunci emas yang dia perlihatkan kepada seluruh murid.


"Ini adalah kunci labirin, kunci yang harus kalian dapatkan untuk lolos dari ujian kali ini. Mungkin belum diberitahu sebelumnya, tetapi ada total 10 kunci yang tersebar di seluruh labirin. Tujuan kalian hanya 1 yaitu mencari dan mendapatkan mereka." Perjelas Raiden.


Raiden memasukkan kembali kunci emasnya kedalam kantungnya.


"Perlu diingat, para siswa bebas menyerang party lain asalkan tidak membunuhnya, jadi berusahalah untuk tetap bertahan dan bertarunglah sampai akhir. Itu saja pemberitahuan dari saya, sekian."


Setelah menyelesaikan perkataannya, Raiden dan semua panitia ujian yang berada di depan lorong labirin menepi ke samping labirin.


Lalu Raiden mengeluarkan sebuah pistol dari sakunya dan mengarahkannya ke atas.


"SEMUA SISWA BERSIAP!!"


Seluruh siswa termasuk Nix dan partynya menyiapkan diri mereka untuk masuk ke dalam labirin.


Frederica dan Elvia yang tengah bersiap untuk masuk mengeluarkan keringat dari wajah mereka.


"A-apakah kita akan baik-baik saja di dalam sana?" Cemas Elvia.


"Santai saja, kita hanya perlu mendapatkan kunci itu. Setelah mendapatkannya, kita akan langsung keluar dari sana, jadi ayo semangat!" Ucap Frederica menyemangati Elvia.


Dia berharap bahwa dengan mengikuti ujian ini, hubungan antara mereka termasuk Nix akan menjadi lebih baik.


Nix melihat ke arah 4 lorong, sambil berpikir tentang ke arah mana partynya akan ambil.


Sementara itu, Raiden yang melihat para siswa telah bersiap, langsung menembakan pistolnya ke atas.


"MULAI!!"


*DOR*


Dengan dilepaskannya ditembakan, ujian pemilihan OSIS telah resmi dimulai.


...----------------...


Nix dan partynya berdesakan dengan party lain yang sedang berlari menuju lorong pilihan mereka.


Nix yang masih belum tau akan mengambil lorong mana, bertanya pada Frederica dan Elvia yang berada di sampingnya.

__ADS_1


"Frederica, Elvia, lorong mana yang akan kita ambil?" Ucap Nix sambil berlari.


Frederica menggelengkan kepalanya pada pertanyaan Nix.


"Aku tidak tau, tetapi mungkin sebaiknya kita mengambil lorong yang paling kanan. Kalau Elvia sendiri bagaimana?"


"U-um... beri aku waktu sebentar." Elvia memejamkan matanya.


Tidak lama setelah itu, Elvia membuka matanya kembali.


"Dari aliran sihir yang kurasakan, aliran sihir yang paling lemah sepertinya berada di lorong paling kiri, jadi mungkin tidak ada banyak monster yang ada di sana." Perjelas Elvia.


Nix dan Frederica yang mendengar Elvia mengangguk kepalanya sebagai persetujuan.


"Baiklah, kalau begitu, ayo kita ikuti idenya Elvia."


"Ya, aku juga setuju."


Setelah memberi persetujuan, Nix dan kelompoknya pergi menuju lorong paling kiri di labirin.


...----------------...


Setelah masuk kedalam, Nix dan partynya yang berlarian sambil berdesakan selama 5 menit, sampai di sebuah ruangan besar yang berisi banyak monster yang telah bersiap untuk menyerang mereka di sana.


Monster itu adalah sebuah tengkorak hidup dengan pedang di tangan kanannya dan perisai di tangan kirinya.


Namun karena Nix termasuk di bagian belakang kerumunan, ia dengan bebas dapat melewati monster itu dan menyerahkan mereka kepada kelompok yang berada di depan.


"Mereka tidak mengincar kita, ayo kita masuk lebih dalam." Ajak Nix.


Frederica dan Elvia mengangguk sebagai persetujuan.


Nix dan kelompoknya berlari lebih jauh lagi ke dalam.


Semakin ke dalam, semakin sedikit kelompok yang tersisa, hingga akhirnya hanya ada beberapa kelompok yang masih berlari.


Nix dan kelompoknya yang termasuk dalam barisan paling belakang, termasuk dalam salah satu kelompok party yang sudah memasuki bagian paling dalam labirin.


Artinya, Nix dan partynya termasuk dalam salah satu kelompok yang sudah paling jauh masuk ke dalam dibandingkan kelompok lainnya yang masih bertarung monster di belakang.


"Di depan ada ruangan yang sepertinya dipenuhi monster, persiapkan diri kalian." Ucap Nix kepada kelompoknya.


"Ya, aku sudah menyiapkan sihir pendukung untuk mendukung kalian." Ucap Elvia.

__ADS_1


"Aku juga sudah siap." Frederica memegang sarung pedangnya.


Setelah memastikan bahwa partynya sudah siap, Nix dan kelompoknya bergegas menuju ruangan yang diterangi oleh cahaya hijau yang redup.


__ADS_2