Swordmaster : The Origin

Swordmaster : The Origin
Permintaan Lina


__ADS_3

Setelah Nix memberitahu Lina mengenai kekuatannya yang sebenarnya, Lina langsung memahami tentang alasan sebenarnya kenapa Nix bisa berada di ujung dunia.


Bukan karena sihir yang menyasar, tetapi karena Nix membuat Jenderal Iblis yang bernama Lilith terpojok ketika melawannya.


Nix awalnya ragu memberitahu itu karena mengira Lina akan menganggapnya sebagai bualan belaka.


Tetapi setelah menunjukkannya dengan mengalahkan sekelompok White Ursus sebelumnya, Lina jadi mempercayai Nix sepenuhnya.


"Begitu ya...aku mengerti sekarang." Ucap Lina pelan.


"U-um, maafkan aku jika aku tidak memberitahu ini sebelumnya." Nix menundukkan kepalanya.


"Tidak apa-apa, jika aku di situasimu kemungkinan aku juga akan melakukan hal yang sama.." Balas Lina.


"T-tetapi mengenai pedangnya..."


"Ah, pedang kaca itu? jika kamu memang masih bisa menggunakannya, kamu boleh menggunakannya, tetapi sebenarnya aku menyimpan pedang yang saat itu kamu jatuhkan saat pingsan loh."


"Eh? benarkah?" Nix terkejut.


"Iya, tunggu sebentar." Lina berdiri dari kursinya dan berjalan menuju ke salah satu lemari di dapur.


Setelah selesai mengambilnya, Lina kembali ke arah Nix dan memperlihatkan pedangnya padanya


"Ini bukan?" Lina memperlihatkan pedang yang ia temukan di tumpukan salju ketika Nix pingsan.


"I-iya, jadi kamu benar-benar menyimpannya ya.."


"Ambilah." Lina menodongkan pedang itu kepada Nix.


Nix yang melihatnya langsung segera menerimanya.


Nix menaruh tangannya di bilah pedangnya untuk memeriksanya.


"Sepertinya bilahnya menjadi sedikit beku karena sempat tertimpa salju ya..." Ucap Nix


"Sepertinya begitu." Balas Lina.


Setelah memeriksa bagian pedang lainnya, Nix langsung berterima kasih pada Lina.


"Terima kasih." Nix menundukkan kepalanya.


Lina menggelengkan kepalanya melihat Nix.


"Tidak apa-apa kok, justru akulah yang harusnya berterima kasih. Kamu benar-benarlah seseorang yang telah menyelamatkan situasi orang-orang di sini karena telah mengalahkan sekelompok White Ursus tadi." Ucap Lina.


"Tidak-tidak, jika kamu tidak menyelamatkanku saat aku pingsan, mungkin aku sudah tidak ada di sini sekarang. Akulah yang harus berterima kasih." Balas Nix.


"Baiklah-baiklah, siapapun bisa berterima kasih oke? baik kamu maupun aku." Lina tertawa kecil melihat dia dan Nix yang bertengkar layaknya anak kecil barusan.


Nix juga tertawa kecil akibat itu.


Namun setelah mereka tertawa dan suasana menjadi hening, tiba-tiba Lina yang tadinya berwajah ceria mengubah ekspresinya menjadi serius.


"Nix, apakah kamu...bisa melatihku cara menggunakan energi yang kamu jelaskan tadi itu?" Ucap Lina dengan wajah serius.

__ADS_1


Saat menjelaskan mengenai kekuatannya, Nix memang sempat membahas tentang penggunaan energi yang ia pakai agar pedang kaca yang ia pakai dari kotak Lina itu tidak pecah.


Nix juga sedikit menjelaskan tentang penggunaan energi yang dapat memperkuat tubuh dan melindungi tubuh dari serangan.


"Aku tidak apa-apa sih, namun jika boleh bertanya, bolehkah aku tau alasannya?" Tanya Nix.


Lina memasang wajah yang rumit ketika mendengar pertanyaan Nix.


"I-itu, bagaimana menjelaskannya yah..."


Nix hanya terdiam melihat Lina yang kesusahan dalam melanjutkan perkataannya.


Dan setelah 2 menit, akhirnya Lina melanjutkan perkataanya.


"Kamu tau? sebenarnya aku bukanlah berasal dari sini." Ucap Lina.


Nix terkejut mendengar perkataan Lina.


"Bukan dari sini? itu berarti kamu datang ke sini dari negeri lain?" Tanya Nix.


"Iya, tepatnya dari kerajaan Qira." Jawab Lina.


"QIRA?!" Nix membelalakkan matanya.


Qira adalah negara yang berada jauh dari arah timur Kerajaan Heraklios.


Lebih tepatnya, jika dibandingkan antara jarak Kerajaan Heraklios dan Qira dari Ujung dunia, maka Qira bisa dibilang lebih jauh 2x lipat.


Itulah yang mengakibatkan Nix terkejut ketika mendengar Lina berasal dari Qira.


"Tidak hanya berjalan kaki sih, kadang kala aku menggunakan tumpangan kuda jika ada yang mengizinkan."


"T-tetapi tetap saja kan? berapa lama waktu yang diperlukan olehmu untuk sampai ke sini?" Tanya Nix.


"Ummmm, seingatku sekitar 7 tahun?"


"7 TAHUN?! bentar-bentar, berapa umurmu yang sekarang Lina?"


"Tidak sopan untuk menanyakan umur seorang perempuan, namun aku mengizinkannya untuk kali ini, umurku sekarang tepatnya 23 tahun."


"2-23 tahun? b-berarti kamu mulai pergi ke ujung dunia ketika berumur 16 tahun?"


"Itu benar."


"......"


Nix masih tidak percaya pada apa yang barusan didengarnya sekarang.


Seorang wanita muda berumur 16 tahun, menghabiskan waktu 7 tahun berharganya untuk pergi ke Ujung Dunia, apa tujuannya?


Memikirkan itu, Nix langsung menanyakannya kepada Lina.


"Aku yakin itu bukan tanpa alasan kan?" Tanya Nix


Lina kembali memasang ekspresi rumit pada wajahnya.

__ADS_1


"Ya, alasan aku rela berpegian hingga 7 tahun ke sini adalah karena ada sesuatu yang ingin kudapatkan." Ucap Lina.


"Sesuatu yang ingin kamu dapatkan?"


Lina menghela napas sedikit sebelum melanjutkan.


"Ya, itu adalah salah dari 7 senjata legendaris, Eternal Freezer Bow (Panah pembeku abadi)


"?!"


7 senjata legendaris adalah 7 senjata yang hanya bisa didapatkan dari menaklukan 7 dungeon legendaris.


Black Rose dan Sky Splitter adalah salah satu darinya.


Di dalam dungeon legendaris, akan ada satu bos dungeon yang sangat sulit ditaklukan di lantai yang paling terdalam, salah satunya adalah Death Ripper yang pernah Nix kalahkan di dunianya sebelumnya untuk mendapatkan Black Rose.


Eternal Freezer Bow adalah salah satu dari 7 senjata legendaris, namun Nix belum tau dimana letak dungeonnya selama ini.


Tetapi ketika mendengar Lina rela datang ke sini selama 7 tahun, itu artinya dungeon itu berada di Ujung Dunia.


"Apakah itu artinya kamu sudah menemukan letak dungeonnya?" Tanya Nix.


"Ya, itu berada 10 km dari sini, aku sudah menemukannya sekitar 6 bulan yang lalu, namun aku tidak berani memasukinya karena monster di sana sangatlah kuat dan agresif." Perjelas Lina.


Monster yang menjaga dungeon legendaris rata-rata adalah monster berperingkat A-S


Dan Sub-Bos dan Bos di sana sudah pasti berperingkat Z.


Yang artinya mereka memiliki kekuatan setara Jenderal Iblis.


"Apakah kamu benar-benar ingin menaklukinya? kamu tau sendiri kan seberapa kuatnya Bos di dungeon legendaris itu?" Ucap Nix.


Lina mengepalkan tangannya erat-erat mendengar penjelasan Nix.


"Aku tau itu...namun aku tetap ingin pergi, karena aku sudah berjanji pada orang tuaku.." Ucap Lina dengan suara pelan.


Nix tidak bisa mengetahui apa yang sebenarnya dimaksud oleh Lina, sebab itu berkaitan dengan orang tuanya.


Dan Nix juga tidak bisa menanyai itu kepada Lina, karena itu mungkin adalah privasinya.


Nix memikirkannya sebentar mengenai permintaan Lina tentang dirinya yang ingin dilatih tentang penggunaan energi.


Itu karena Nix tidak ingin Lina mati sia-sia karena nekad bertarung sendirian di dungeon legendaris.


Setelah memikirkannya selama 5 menit, Nix memberikan jawabannya pada Lina.


"Baiklah, aku akan mengajarimu, tetapi dengan syarat bahwa aku akan membantumu menaklukan dungeon itu."


"?! Benarkah?!" Lina gembira mendengar jawaban dari Nix.


"Ya, tetapi jangan salahkan aku jika kamu kapok ya, sebab latihannya tidak akan mudah." Ucap Nix.


"Ya!" Teriak Lina bersemangat.


Nix akhirnya memutuskan untuk mulai melatih Lina mengenai penggunaan energi.

__ADS_1


__ADS_2