
Sesosok bayangan manusia muncul dari balik listrik yang mulai mereda.
Sosok manusia itu adalah seorang lelaki yang mengenakan seragam putih yang tidak asing di mata Nix.
Itu adalah seragam dari Akademi Sihir Timur Lumina, seragam dari sebuah Akademi yang terus menerus menyerang Akademi Heraklios hingga 4 hari berturut-turut.
Nix yang mengira bahwa dia tidak akan melihat seragam itu malam ini, tersenyum karena menyadari bahwa dugaannya salah.
Namun kali ini ada yang berbeda, seorang siswa yang muncul di depan Nix kali ini mempunyai aura yang cukup berat dikarenakan tekanan mana yang berasal dari tubuhnya.
Menandakan bahwa laki-laki di depan Nix ini mempunyai kekuatan yang cukup besar.
Laki-laki itu mengenakan seragam yang sama persis seperti para siswa Lumina yang pernah Nix lawan sebelumnya, namun perbedaannya adalah laki-laki ini mempunyai segelintir lencana di saku kanan bajunya.
Walau dia tidak mempunyai bentuk tubuh yang mencolok, Nix tau bahwa tubuh laki-laki yang ada didepannya ini cukup terlatih secara stamina maupun fisik.
Ia juga terlihat seperti orang veteran, dilihat dari caranya menatap ke arah Nix untuk memeriksa dan tidak adanya celah saat dia berdiri.
Laki-laki itu juga membawa sebuah tongkat berwarna merah di tangan kanannya, yang diikuti oleh logam emas yang mengelilinginya, menandakan bahwa tongkat itu cukup mewah untuk seorang murid biasa.
Nix melihat baik-baik laki-laki yang ada di depannya ini, sambil tidak menurunkan kewaspadaanya sama sekali, Nix menaruh tangan kanannya di gagang pedang untuk bersiap apabila pertempuran terjadi.
Namun ketika Nix sedang bersiap-siap, laki-laki yang ada di depannya tersenyum dan berkata kepadanya.
"Apakah kamu yang bernama Nix?" Ucap laki-laki itu.
"Eh?" Nix terkejut karena laki-laki di depannya bisa mengetahui namanya.
Nix yang merasa belum pernah bertemu laki-laki di depannya, bertanya balik padanya.
"Darimana kamu tahu namaku?" Tanya Nix.
Laki-laki itu tersenyum mendengar pertanyaan Nix.
"Ah, mohon maafkan aku, sepertinya aku terlalu blak-blakan disini. Pertama-tama, izinkan aku memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Namaku adalah Riel Field, Ketua OSIS dari Akademi Timur Lumina."
Nix menyipitkan matanya mendengar perkataan Riel.
"Ketua OSIS? ada urusan apa sampai-sampai seorang Ketua OSIS repot-repot datang ke sini?" Tanya Nix.
"Untuk menjawab pertanyaanmu, aku akan menjelaskannya secara singkat." Riel berdeham sedikit sebelum melanjutkan.
"Alasan aku datang ke sini adalah karena aku ingin bertemu denganmu, seorang pendekar pedang bernama Nix yang berkali-kali mengagalkan rencana penyerangan kami di sini. Dengan itu, seharusnya kamu sudah paham kan?"
Nix langsung mengerti maksud dari perkataanya.
"Ya, aku benar-benar mengerti. Intinya kamu datang ke sini untuk membalas dendam pada orang yang telah berkali-kali mengagalkan rencanamu kan? tetapi itu tidak menjawab pertanyaan pertamaku tentang kenapa kamu bisa tahu namaku."
"itu sangatlah mudah, dengan jaringanku sebagai Ketua OSIS, aku dapat mengetahui nama seorang siswa dengan mudah."
"Hoooh, begitukah? sepertinya Ketua OSIS dari Akademi Lumina memanglah sangat luar biasa."
"Tentu saja, jangan meremehkan Akademi Timur Lumina."
"Begitukah? lalu kenapa kita tidak langsung mulai saja? bukankah tujuanmu ke sini bukan hanya sekedar menyapa saja? jika kamu ingin, aku bisa melawanmu sekarang." Nix menyiapkan kuda-kudanya.
__ADS_1
Riel menghela napas mendengar perkataan Nix.
"Kau benar, lagipula aku ingin tau seberapa kuat kamu sebenarnya. Kalau begitu...:"
"?!"
Sebuah lingkaran sihir biru berukuran besar muncul dari bawah Nix.
Lingkaran sihir itu mengeluarkan banyak rantai yang melilit Nix hingga dia tidak bisa bergerak.
"Cih, crowd control ya." Nix mencoba menggerakan tubuhnya.
Crowd Control adalah jenis sihir yang membuat pergerakan seseorang menjadi terbatas.
Contohnya adalah sihir yang digunakan pada Nix sekarang.
"Hoooh, sepertinya kamu sedikit mengerti tentang jenis sihir, namun itu saja tidak akan membuatmu menang loh." Ucap Riel.
Riel mengarahkan tongkatnya ke arah Nix.
Lalu Riel mengucapkan mantra untuk menyerang Nix
"Bola api." Cahaya kemerahan menyala dari ujung tongkat Riel.
Dalam sekejap, cahaya kemerahan itu berubah menjadi bola api besar yang dilemparkan ke arah Nix di depannya.
*Duar {Suara Ledakan}
Melihat Nix terkena serangannya, Riel melihat ke asap yang mengumpul di depannya akibat ledakan tadi.
"Hmm? dia menghilang?" Gumam Riel.
Riel yang bingung karena Nix menghilang, disadarkan dengan suara yang memanggilnya dari atas.
"Di atasmu!" Nix menyerang Riel yang berada di bawahnya menggunakan pendangnya.
Riel dengan cepat memundurkan tubuhnya ke belakang untuk menghindari serangan Nix
*Slash
Setelah menghindari serangan Nix, Riel mengucapkan mantranya lagi untuk menyerang Nix.
"Spectre beam" Cahaya keunguan menyala dari ujung tongkat Riel.
Sebuah laser ungu ditembakkan lurus ke arah nix yang berada di depan.
Nix yang melihat itu tidak memblokirnya menggunakan pedangnya, namun ia menjatuhkan dirinya ke tanah untuk menghindari laser tersebut.
"Hoooh, pinter juga kamu." Puji Riel.
Spectre beam adalah sebuah mantra yang dapat melelehkan tubuh lawan ataupun senjatanya jika terkena.
Nix yang mengetahui itu memilih untuk menghindarinya dibanding memblokirnya.
Sebab jika dia memblokirnya menggunakan pedangnya, maka laser itu dalam sekejap akan menembus pedangnya dan mengenai dadanya, membuatnya mati dalam sekejap.
__ADS_1
Nix kembali berdiri dan berlari ke arah Riel yang berada di hadapannya setelah menghindari Spectre Beam.
Riel yang melihat itu langsung mengaktifkan transmisi instan untuk berpindah tempat ke belakangnya secara cepat.
Lalu setelah merasa bahwa jarak dia dengan Nix sudah jauh, Riel mengucapkan mantra.
"Graveyard." Cahaya abu-abu menyala dari ujung tongkat Riel
Di sekitar tanah yang berada tidak jauh dari Riel, munculah sebuah lingkaran sihir yang mengeluarkan sebuah skeleteon memakai pedang dan perisai yang memblokir pergerakan Nix.
Namun tanpa mengurangi kecepatannya, Nix langsung menebas semua skeleton yang menghalangi jalannya.
*Slash Slash Slash
Skeleton yang terkena serangan Nix langsung hancur dalam sekejap.
Nix yang melihat Riel sudah berada di dekatnya langsung melompat ke arah Riel untuk menyerangnya.
Namun Riel sudah menyiapkan perangkap untuk berjaga-jaga apabila Nix mendekat ke arahnya.
"?!"
Sebuah tangan batu tiba-tiba muncul dari tanah dan menghempaskan tubuh Nix ke langit.
"Ugh!" Rintih Nix kesakitan.
Melihat Nix berada di langit, Riel memanfaatkan kesempatan itu untuk merapalkan sihir serangan ke arahnya.
"Shadow Orb" Cahaya kehitaman menyala dari ujung tongkat Riel.
Sebuah bola hitam berjumlah banyak muncul di sekitar punggung Riel.
lalu ketika Riel mengarahkan tongkatnya ke arah Nix, bola hitam itu secara otomatis menembakkan dirinya menuju Nix.
Nix yang melihat bola hitam itu segera menggunakan pedangnya untuk menebasnya.
*Slash Slash Slash
Setelah menebas begitu banyak shadow orb di langit, Nix kembali mendarat di tanah.
Riel yang melihat dari kejauhan terkejut karena Nix bisa menebas semua shadow orb yang dia lemparkan.
Lalu Riel mengarahkan tongkatnya ke arah Nix untuk mengucapkan mantranya lagi
Namun ketika hendak merapalkan mantra lagi ke arah Nix, Riel yang mengedipkan matanya satu kali tiba-tiba tidak melihat Nix yang tadi berada di hadapannya.
"?!"
Tidak lama setelah itu, tiba-tiba Riel merasakan sebuah sensasi dingin yang mencekam di sekitar tulang punggungnya, yaitu sebuah sensasi akan kematian yang telah mendekatinya.
"Kena kau." Ucap Nix
Dibelakang Riel, Nix menebaskan pedangnya ke arah tubuhnya.
*Slash!
__ADS_1