
Di sebuah ruangan gelap yang tidak terlihat apapun di dalamnya, Nix dan partynya melanjutkan langkah mereka untuk masuk ke dalam ruangan sub-bos.
"G-gelap sekali." Ucap Elvia.
"Kau benar, aku tidak bisa melihat apapun di sini." Frederica menyipitkan matanya
"Berhati-hatilah ketika melangkah, karena bisa saja ada perangkap yang terpasang di ruangan ini." Ucap Nix.
Di kehidupan sebelumnya, Nix sudah pernah masuk ke dalam ruangan bos ataupun sub-bos di labirin sebelumnya, jadi dia tau bahwa di dalamnya terkadang ada sebuah perangkap tersembunyi yang hanya akan aktif bila dipicu.
*Crack!
"?"
"?!"
"!!"
Nix dan Elvia terkejut karena tiba-tiba mendengar suara, lalu mereka langsung mengarahkan pandangan mereka ke asal suara itu.
Suara itu berasal dari lantai yang diinjak oleh Frederica.
"Frederica! bukankah aku menyuruhmu untuk berhati-hati?" Ucap Nix.
"M-maafkan aku! aku tidak sengaja menginjakny-"
*Klik!
Tiba-tiba, sebuah obor api yang tertempel di dinding menyala dan menerangi seluruh ruangan.
Ruangan yang tadinya sangat gelap hingga tidak bisa terlihat apa-apa, sekarang sudah sepenuhnya terang dan dapat dilihat oleh mata.
"A-apa yang..."
"Nix! lihat itu!" Elvia menunjuk dengan jarik telunjuknya
"?"
Nix melihat ke arah dimana Elvia menunjuk.
Di arah yang ditunjuk Elvia, Nix melihat sebuah monster dengan badan besar berwarna hijau, berhidung mancung, dan membawa sebuah pedang di punggunya.
Monster itu duduk di singgasana sambil tertidur.
Nix langsung mengenali siapa monster yang dilihatnya, sebab dia sudah pernah melawan monster itu di kehidupan dia sebelumnya.
"G-goblin.." Ucap Frederica.
Nix menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Frederica.
"Kau salah, monster itu bukanlah sekedar goblin biasa, dia adalah Hob-Goblin." Nix menatap tajam ke arah Hob-goblin yang tertidur tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Hob-Goblin?" Frederica memasang wajah bingung.
"Ya, sebuah goblin raksasa yang mempunyai kekuatan fisik jauh lebih kuat dari goblin biasa, insting dan penciuman mereka juga sangatlah tajam, rata-rata dari mereka mempunyai skill berpedang yang lumayan bagus.
__ADS_1
"Mereka kebal terhadap serangan artileri fisik, kebal terhadap serangan api, kebal terhadap racun, dan kulit mereka cukup keras, mereka adalah sub-bos monster berperingkat A." Ucap Nix menjelaskan.
"Peringkat A?!" Frederica terkejut mendengar penjelasan Nix.
"Ya, dan mereka juga memiliki kecerdasan yang cukup tinggi, mereka biasanya mulai dengan menyerang barisan paling belakang, membuat party kewalahan dalam menghadapinya
Peringkat monster sama saja dengan peringkat petualang, dibedakan berdasarkan kekuatan yang dimulai dari peringkat terendah E.
Tyrant yang dilawan sebelumnya adalah peringkat D, diikuti dengan Ymor yang berperingkat C.
Frederica menelan ludahnya mendengarkan penjelasan Nix.
Elvia yang juga mendengarkan penjelasan Nix dari belakang, memasang wajah suram sambil melihat ke arah Hob-Goblin yang tertidur di singgasana.
Nix berpikir sejenak mengenai apa yang harus dilakukan kelompoknya di situasi saat ini.
Sebenarnya, setelah seseorang atau sebuah party memasuki ruangan sub-bos, mereka bisa kembali apabila tidak membuat monster yang menjaga tempat itu bangun.
Tetapi, jika mereka meninggalkan tempat itu, pintu akan tertutup secara otomatis dan tidak bisa dibuka lagi selama 24 jam.
Yang artinya Nix dan kelompoknya akan kehilangan kesempatan dalam memperoleh peti harta karun yang kemungkinan saja di dalamnya terdapat kunci labirin yang dapat mengakhiri ujian ini.
Tetapi, Nix berpikir bahwa kemampuan kelompoknya tidak terlalu menguntungkan di situasi saat ini, dengan kemampuan mereka sekarang, akan susah untuk melawan Hob-Goblin yang memiliki kekuatan jauh di atas rata-rata.
Terutama, akal mereka yang sedikit cerdas hingga membuat seseorang yang melawannya kewalahan.
Nix memikirkan keuntungan dan kerugian dalam pikirannya saat ini, berpikir keras untuk memutuskan apakah dia harus membuat kelompoknya maju, atau mundur.
"Apa yang sebaiknya harus dilakukan..." Nix berpikir keras dalam pikirannya.
Frederica yang melihat Nix dengan wajah gelisah, datang ke arahnya untuk berbicara kepadanya.
"?!"
Nix terkejut dengan perkataan Frederica yang tiba-tiba.
"Apakah kamu tidak mendengar penjelasanku tadi?" Tanya Nix.
Frederica menggelengkan kepalanya terhadap pertanyaan Nix.
"Aku mendengarnya. Namun, aku merasa bahwa sebaiknya kita mencoba dulu." Ucap Frederica.
"Tetapi apakah kamu benar-benar yakin? mereka bukanlah sekedar goblin biasa."
"Aku tau itu, hanya saja, entah kenapa aku merasa yakin bahwa kita bisa memenangkan ini."
"Kenapa?" Tanya Nix.
"Itu karena aku yakin kekuatanmu sudah lebih dari cukup untuk mengalahkannya Nix."
"?!"
Nix terkejut dengan jawaban Frederica.
Memang dengan kemampuan Nix, ia mungkin dapat mengalahkan Hob-Goblin itu seorang diri. Namun, dengan tujuannya yaitu membuat temannya mendapat pengalaman bertarung, ia tidak ingin mereka bergantung padanya.
__ADS_1
"A-aku rasa aku tidak mempunyai kekuatan sebesar itu." Ucap Nix.
Elvia yang melihat Frederica memutuskan untuk bertarung, mengepalkan tangannya dan bertekad.
"Nix, ayo kita lakukan." Elvia menghampiri Nix.
"!"
Dengan ini, Elvia dan Frederica telah memberikan persetujuan mereka.
Namun Nix masih ragu-ragu mengenai keputusan yang akan ia ambil.
"Nix, dengarkan aku. Mungkin kamu merasa khawatir dengan kami, tetapi percayalah, kami tidak akan menjadi beban untukmu."
"Elvia dan aku akan memberikan kemampuan terbaik kami saat ini. Karena itu, aku mohon biarkan kami melawannya." Frederica menatap Nix dengan mata seriusnya.
Nix melihat ke mata Frederica dan Elvia yang berada di hadapannya
Dari situ, Nix melihat mata mereka yang sudah penuh dengan tekad untuk bertarung.
Nix secara tidak sadar tersenyum karena itu.
"Untuk apa kamu ragu-ragu Nix? dengan melawan sub-bos ini, mereka dapat mendapat pengalaman yang bagus bukan? lagipula, jika seandainya mereka kesusahan, kamu dapat dengan mudah mengatasinya dengan kekuatan yang kamu punya." Pikir Nix dalam hati.
"Kalau begitu, ayo kita mulai dengan menyusun rencana." Ucap Nix.
Mendengar jawaban Nix, Frederica dan Elvia tersenyum bersemangat sambil menganggukan kepalanya.
...----------------...
10 menit kemudian, setelah Nix dan kelompoknya sudah menyusun rencana, Frederica maju ke depan untuk membangunkan Hob-Goblin yang tertidur.
"Aku maju!" Frederica berlari ke arah Hob-Goblin.
Setelah sampai di depannya, Frederica menggunakan pedangnya untuk membangunkan Hob-Goblin yang tertidur di singgasana.
*Slash!
"Guuuu?!" Hob-Goblin terkejut karena serangan Frederica di kakinya.
Setelah melihat bahwa Hob-goblin sudah terbangun, Frederica mundur menjauh.
"Nix, giliranmu!" Teriak Frederica.
"Ya, serahkan padaku." Nix berlari ke arah Hob-Goblin.
Hob-Goblin yang melihat Nix berlari ke arahnya, dengan cepat mengeluarkan pedang dari punggungnya.
"Gawa!!!!!" Hob-Goblin berlari ke arah Nix.
Nix mengeluarkan pedang dari sarungnya, dan melompat ke arah Hob-Goblin.
Hob-Goblin yang melihat Nix melompat juga mengarahkan pedang nya ke arah Nix.
*Tang!
__ADS_1
Suara pedang Nix yang terkena dengan pedang Hob-Goblin bergema di seluruh ruangan.
"Mari kita mulai, Hob-Goblin!"