Swordmaster : The Origin

Swordmaster : The Origin
Pertemuan tak terduga


__ADS_3

Setelah memenangkan pertempuran melawan Hob-Goblin, Nix dan kelompoknya pergi menuju singgasana Hob-Goblin yang dibawahnya terdapat peti harta karun.


Peti harta karun itu tidak berukuran besar, sehingga Nix dapat dengan mudah mengambilnya.


Nix membuka peti harta karun itu secara perlahan.


*Cklek!


"I-ini..."


"Jadi mereka benar-benar menyimpan 1 di sini ya.."


Sebuah kunci emas yang sama persis dengan yang ditunjukkan oleh panitia ujian sesaat sebelum masuk ke dungeon, sebuah kunci labirin.


Nix dan kelompoknya tersenyum menyadari bahwa mereka telah menyelesaikan ujian ini dengan cepat.


"Tidak kusangka, ternyata secepat ini ya..." Frederica menghela napas sedikit


"Kau benar, kukira akan jauh lebih sulit dari ini." Elvia tersenyum pahit


"Kita sudah mendapatkannya, itu artinya. Kita hanya perlu balik ke titik awal untuk menunjukkannya pada panitia." Nix memasukkan kunci labirinnya ke dalam kantungnya.


Frederica dan Elvia mengangguk setuju mendengar perkataan Nix.


Setelah mereka puas dengan hasilnya, mereka berniat untuk segera keluar dari ruangan Sub-bos dan pergi menuju titik awal, tetapi...


"?!"


"!!"


"!?"


Dihadapan Nix dan kelompoknya, berdiri sebuah party berisi 3 orang yang semuanya adalah laki-laki.


"Yo, sepertinya kalian bersenang-senang ya." Ucap salah satu lelaki dari party tersebut.


"Ck!" Nix mendecikkan lidahnya kesal.


Tidak lama setelah lelaki dari party tersebut memberi salam, mereka berjalan mendekat ke arah Nix..


Frederica dan Elvia yang ada dibelakang Nix ketakutan oleh sosok lelaki yang berada di tengah-tengah kelompok tersebut mendekat ke arah mereka.


Itu dikarenakan mereka kenal dengan sosok lelaki itu.


Sosok lelaki yang telah membuat para siswa khususnya bangsawan mendapat kecaman keras dan pengucilan di seluruh akademi.


Seorang lelaki yang telah menaikkan reputasi rakyat jelata dan menurunkan reputasi bangsawan hingga titik terendahnya.


Seorang lelaki yang merupakan salah satu dari murid terbaik dalam ujian kenaikkan peringkat kemarin.


Ya, laki-laki itu adalah Teorine Petra.


"P-petra..." Ucap Elvia ketakutan.

__ADS_1


Petra tersenyum melihat Frederica dan Elvia ketakutan.


Namun Nix yang menyadarinya segera menghalangi pandangannya dan menatap tajam ke arahnya.


"Apa maumu?" Nix menatap tajam ke arah Petra.


Ketika sudah cukup dekat dengan Nix, Petra menghentikan langkahnya dan menjawab pertanyaan Nix sambil terus tersenyum ke arahnya.


"Kau adalah Nix bukan? orang yang mendapat gelar murid terbaik dalam kategori menyerang pada ujian kenaikkan peringkat kemarin?" Tanya Petra.


"Jika itu benar lalu kenapa?" Balas Nix.


Petra menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan Nix.


"Apakah kau tau? ketika aku sedang melawan monster di ruangan yang tidak jauh dari tempat ini, aku merasakan sebuah getaran hebat di kakiku."


"Sehingga aku yang penasaran segera mencari asal dari getaran itu, dan ketika aku dan partyku mencari jejaknya, kita sampai di ruangan ini." Perjelas Petra.


"Jadi kalian melihat pertempuran tadi?" Tanya Nix memastikan.


Petra menunjuk ke arah pintu ruangan dibelakangnya.


"Ya, kami melihatnya dari belakang sana, karena aku menganggap jika kita saat itu masuk ke dalam, kita hanya akan menganggu kalian yang sedang berfokus melawan sub-bos tadi." Ucap Petra.


"Lalu setelah pertempuran usai, kalian berniat untuk menyerang kita begitu?" Tanya Nix.


"Betul sekali."


"!!"


"Sebelum kamu melakukan itu, bisakah mendengar penjelasanku dulu?" Ucap Petra.


Nix hanya terdiam sambil terus dalam posisi siap menyerangnya.


Melihat itu Petra melanjutkan perkataannya.


"Memang betul daritadi aku melihat kalian bertiga bertarung dengan sub-bos itu, namun aku tidak tertarik dengan melawan kalian bertiga, aku hanya tertarik dengan 1 orang, yaitu kamu. Nixerick Xiphos."


"....."


Nix yang melihat Petra ternyata hanya tertarik padanya bertanya padanya.


"Bolehkah aku tau kenapa?" Tanya Nix.


Petra tersenyum lebar mendengar pertanyaan Nix.


"Sudah jelas bukan, ketahanan fisik, kecepatan kaki, kekuatanmu dalam mengayunkan pedang, dan kemampuanmu dalam bertarunglah yang membuatku tertarik padamu."


"Apakah kau tau? ketika aku melihatmu menghempaskan Hob-Goblin itu dalam 1 kali tendangan, itu membuatku sangat bersemangat hingga aku ingin segera menyerangmu saat itu!" Teriak Petra bersemangat.


Nix mengernyitkan matanya mendengar perkataan Petra.


Itu dikarenakan artinya Petra sudah sadar akan kekuatan yang disembunyikan Nix.

__ADS_1


Dan anehnya, Petra malah tertarik untuk melawannya setelah mengetahui kekuatannya itu.


Jika orang biasa yang melihatnya, sudah pasti reaksi normal mereka adalah menjauhi orangnya bukan mendekatinya.


Oleh karena itu Nix menganggap bahwa Petra adalah sejenis orang yang gila bertarung terutama dengan orang yang lebih kuat darinya.


"Karena itu, Nixerick Xiphos, berduellah denganku sekarang." Ucap Petra sambil menunjuk ke arah Nix.


Nix yang mendengar itu segera mengakhiri kuda-kudanya dan kembali berdiri berhadapan dengan Petra.


"Aku tidak keberatan, namun dengan 1 syarat." Ucap Nix.


"Aku sudah tau, jangan melibatkan anggota party kita bukan?"


Nix menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Melihat itu, Petra menyuruh ke dua anggota partynya menjauh darinya.


Begitu juga dengan Nix yang segera berjalan ke arah Elvia dan Frederica yang berada di belakangnya untuk memberitahu mereka.


"Elvia, Frederica, bisakah kalian pindah ke tempat lain selagi aku berduel dengan Petra?" Ucap Nix pada mereka.


Elvia dan Frederica yang masih ketakutan ragu-ragu untuk mengambil keputusan.


"N-nix, apakah kamu benar-benar yakin bahwa kamu bisa menang melawannya?" Ucap Frederica.


Nix menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan Frederica.


"Sudah jelas bukan? aku bisa menang melawannya jika aku serius. Oleh karena itu aku minta kalian untuk menyingkir sebentar selagi aku berfokus melawannya" Ucap Nix.


Frederica dan Elvia yang mendengar itu segera mengangguk kecil dan berpindah tempat selagi percaya pada Nix dan melihat ke arahnya dari jauh.


Nix yang sudah melihat keduanya menjauh, segera menghadap kembali ke arah Petra yang ada di depannya.


"Petra, aku sudah siap." Ucap Nix.


"Ya, seranglah aku kapanpun kamu mau." Balas Petra.


Nix segera memasang kuda-kudanya kembali dan menatap tajam ke arah Petra yang ada di depannya sambil memegang gagang pedangnya dengan tangan kanannya.


"Aku tidak akan menahan diri kali ini, oleh karena itu jangan salahkan aku jika kamu sampai terluka." Kata Nix memperingati.


Petra tertawa kecil mendengar ucapan Nix.


"Hehehe, justru itu yang kumau. Seranglah dengan segala kekuatan yang kamu punya dan janganlah menahan diri bahkan sedikitpun Nix.." Balas Petra.


Petra segera mengeluarkan pedangnya dengan perlahan dari sarung pedangnya dan mengarahkan pedangnya ke arah Nix.


"Ayo kita mulai." Petra menunjuk Nix menggunakan pedangnya.


Setelah melihat Petra sudah bersiap, Nix menghela napas sebentar sebelum meluncur ke arah Petra.


"Kalau begitu...aku maju!" Nix menghentakkan kakinya ke tanah dan meluncur ke arah Petra dengan cepat.

__ADS_1


__ADS_2