
"Itu … aku … tentu saja aku latihan donk Ma, aku latihan diam-diam, takut ketahuan sama Mama dan Papa aja," jawab Sahara sekenanya.
"Oh, kalau gitukan Mama sama Papa mana mungkin melarang kamu, pikir kamu aja yang nggak mau, ya udah sana istirahatlah, Mama mau nunggu Papa saja," ucap Nyonya Mila.
"Iya Ma, aku capek banget," jawab Sahara.
"Ya udah, pergilah," jawab Nyonya Mila..
Sahara pun masuk ke dalam kamarnya, ia membuka jaket lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Ia menatap langit-langit. "Tidak menyangka aku akan kembali ke dunia di mana Mama sama Papa masih hidup, aku harap aku bisa menjalani hidup yang semestinya. Bisa mendapatkan seseorang yang benar-benar tulus mencintai aku dan kedua orang tua ku, yang akan menjagaku hingga akhir hayat. Mencintai Rendi adalah kesalahan terbesar dalam hidupku, tapi hikmahnya aku bisa kembali ke dunia yang tak pernah terpikirkan sebelumnya dan aku mendapatkan system ajaib ini, ini sungguh berkah yang sangat luar biasa bagiku," ucap Sahara melihat tangannya yang ia angkat ke atas menutupi lampu kristal di atas plafon menggantung dengan indah.
Akan tetapi ia harus tidur, karena besok ia harus ke kantor.
***
Hujan rintik-rintik turun ke bumi. Sahara sudah siap dengan baju kantornya dan ia pun turun ke bawah menuju meja makan.
Sarapan sudah tersedia di meja makan, akan tetapi kursinya kosong.
"Lho Mama Papa belum bangun lagi?" tanya Sahara.
"Sudah Nona dan mereka sedang pergi ke kantor polisi," jawab bibi.
__ADS_1
"OOO." angguk Sahara mengambil roti dan melahapnya.
"Oh ya, Tuan pesan, nanti setelah pulang dari kantor polisi Tuan akan ke kantor," ucap bibi.
Sahara mengangguk-angguk mengerti, setelah rotinya habis, Sahara meneguk susunya dan meninggalkan meja makan lalu masuk ke dalam mobil.
Perlahan-lahan mobil pun melaju di jalanan.
"Padahal ini mobil tadi malam di tabrak dari belakang, tapi kok nggak rusak ya, hebat banget," ucap Sahara kagum.
Sesampainya di kantor, Sahara tidak melihat Rendi. Yang ada saat itu sekretaris Anna yang saat ini sedang berada di dalam kantor.
"Di mana Rendi?" tanya Sahara.
"Masa kamu nggak tau sih? Bukannya tadi malam Rendi tidur di rumah mu? Kemana lagi dia akan tidur setelah ku usir," ucap Sahara menyudutkan Anna.
"Sa-saya benar-benar tidak tahu Nona," ucapnya lagi kali ini ia membungkukkan badan.
"Anna, kau pikir aku tidak tahu apa yang sudah kau perbuat di belakang ku bersama Rendi? Aku tau semuanya, jadi kau tetaplah waspada," ucap Sahara.
'Jika dia tahu hubungan ku dengan Rendi kenapa dia tidak mengeluarkan aku?' batin Anna dengan kepala masih tertunduk.
"Tentu saja, karena kau dan Rendi masih mah kerja di sini jadi aku biarkan dulu," jawab Sahara.
__ADS_1
Anna sungguh terkejut dengan jawaban Sahara, padahal ia berkata di dalam hatinya, tangannya gemetaran dan ia terlihat gugup.
"Yang kau takuti suatu hari nanti akan datang, hanya saja ... Ya sudahlah, kau buatkan aku kopi," perintah Sahara berjalan meninggalkan Anna menuju ruang CEO-nya.
"Hanya saja saat ini aku ingin bermain-main dengan kalian," ucap Sahara tersenyum sinis dan ia duduk di kursi CEO.
Sahara mengecek systemnya dan ia melihat berapa tingkat kepercayaan pemegang saham yang akan percaya padanya. Hari ini adalah rapat yang seharusnya rapat untuk promosi Rendi menjadi CEO, tapi akan di gantikan oleh dirinya.
"Setelah ini, aku yang akan menguasai perusahaan ini, akan ku buat para pemegang saham itu tak berkutik jika mereka tidak setuju jika aku yang jadi CEO, sekali pun perusahaan ini tidak punya pemenang saham pun aku sendiri akan memajukannya," ucap Sahara mengengam erat.
Anna masuk ke dalam ruangan CEO, kali ini ia terlihat berhati-hati karena ia takut jika Sahara akan menyiram tangannya lagi. Secepatnya ia meletakkan cangkir gelas itu dan ia melepaskan tangannya dari gelas tersebut.
"Kau kenapa? Takut? Kau tahu takut tapi kau melakukan yang seharusnya tidak kau lakukan. Entah siapa yang memulai duluan," ucap Sahara mengambil gelas yang berisi kopi itu dan menseruputnya.
Terdengar suara keramaian di luar, Sahara pun keluar dari ruangannya dan ia melihat para pemegang saham itu berdatangan.
Sahara sama tidak menyambutnya, karena ia adalah CEO perusahaan ini yang seharusnya tunduk adalah mereka bukan dirinya.
"Selamat pagi Nona," sapa pemegang saham itu menyapa Sahara.
"Selamat pagi," jawab Sahara.
Para pemenang saham itu berbincang sambil masuk ke dalam ruangan dan itu di persilakan oleh Anna sebagai sekretaris.
__ADS_1