
Akan tetapi ada sebuah mobil yang di kenali oleh Sahara berhenti di depan perusahaannya.
"Dia?" Sahara menekuk alisnya.
Albazero keluar dari mobilnya, ia tersenyum ke arah Sahara sambil melambaikan tangannya.
Sahara menekuk alisnya merasa heran dengan kedatangan Albazero.
"Selamat pagi Nona Sahara," sapa Albazero.
"Kenapa Anda ke sini?" tanya Sahara.
"Aku ke sini ada urusan," jawabnya.
"Urusan apa?" tanya Sahara bertambah heran.
"Aku sudah konfirmasi sama papa Nona untuk memesan produk parfumnya hari ini," jawabnya.
"Kenapa Anda tidak memberitahuku terlebih dahulu?"
"Maaf, aku menelpon papa Nona tadi," ucapnya.
"Giliran hal tidak penting baru menelpon ku," ucap Sahara sewot dengan memutar bola matanya.
"Makan siang bersama Nona juga adalah hal penting, karena banyak sekali yang ingin makan bersama ku termasuk mantan istriku, tapi aku lebih memilih makan bersama Nona," ucap Albazero.
Sahara bertambah manyun saat mendengar Albazero menyebut mantan istrinya.
__ADS_1
'Eh, kenapa aku mendadak tidak suka saat dia menyebutkan tentang mantan istrinya? Seharusnya aku tidak perduli dengan urusannya makan dengan siapa,' batin Sahara.
"Baiklah Nona, jadi siang ini kita makan bersama untuk membahas masalah saya order produk Anda," ucap Albazero tersenyum.
"Untung saja Anda mengatakan ini, jika tidak saya benar-benar akan membatalkan makan siang kita," ucap Sahara.
Sebuah mobil datang mendekat dan itu adalah mobil papanya. Di belakang juga ada mobil dan itu mobil Rendi.
"Tuan Albazero, Anda mampir ke sini juga?" sapa Tuan Hary saat melihat Albazero sedang berbincang dengan putrinya ia menyalami Albazero.
"Ah iya Tuan Hary, saya meminta izin pada Anda untuk membincangkan masalah yang saya beritahu kepada Anda tadi pagi bersama Nona Sahara siang nanti," pinta Albazero.
"Oh silakan, tadinya saya juga ingin mengatakan masalah ini kepada Anda untuk berbicara langsung dengan Sahara saja, karena ia adalah pemimpin perusahaan ini kedepannya, saat ini dia akan di promosikan menjadi CEO, saat masa promosinya saya ingin melihat hasil kerjanya dan membuktikan jika dia layak menjadi CEO," ucap Tuan Hary.
"Wah, Anda sungguh Ayah yang pengertian dan terbaik untuk Sahara," puji Albazero.
"Silakan Tuan, maaf jika menganggu dengan kedatangan saya," ucap Albazero.
"Tidak masalah, saya sangat senang jika Anda mau berkunjung di sini, kalau begitu saya permisi dulu ya. Sahara ayo ikut Papa," ajak Tuan Hary. Mereka pun berjala menuju ruangan di mana para pemegang saham berada.
Albazero juga di minta menunggu duduk di sofa yang di suguhi teh hijau.
"Selamat pagi semuanya," sapa Tuan Hary.
"Selamat pagi," jawab mereka.
"Hari ini saya ingin menyampaikan bahwa putri saya Sahara yang akan di promosikan menjadi CEO, silakan Sahara berikan keterangan mu," ucap papa Sahara.
__ADS_1
Para pemegang saham merasa heran dan penuh tanda tanya.
"Bukankah Anda merekomendasikan jika menantu Anda yang akan di promosikan?" tanya salah satu pemegang saham di sana.
"Ya, tadinya begitu, karena aku adalah pewaris perusahaan ini maka aku punya kewajiban untuk memimpin perusahaan ini. Seorang menantu kapan saja bisa berkhianat dan aku tidak mau perusahaan yang sudah susah payah di bangun oleh papa ku akan hancur begitu saja atau namanya tergantikan oleh orang lain. Maka dari itu, aku yang harus maju ke depan," ucap Sahara mantap.
"Tapi bukankah selama ini Nona Sahara tidak pernah berkecimpung langsung masalah perusahaan ini?" tanya mereka lagi.
"Kalian tenang saja, di balik ini aku sudah belajar beberapa tentang perusahaan, semenjak aku di promosikan nanti, akan ku tunjukkan cara kinerja ku, aku yakin aku bisa membuat perusahaan ini berkembang," jawab Sahara.
[Ding Ding]
[Misi baru]
[Membuat para pemegang saham semua setuju Nona di promosikan menjadi CEO]
[Status mis: Sedang berlangsung]
'Oh jadi di antara mereka pasti ada yang tidak setuju,' batin Sahara.
"Tapi masalahnya kami nggak mau rugi bagaimana jika kamu malah gagal," ucap mereka tidak setuju.
"Selama masa promosi CEO, Tuan Hary akan tetap menjadi CEO, di saat masa promosi ku maka aku akan bekerja keras, mencari klien dan mencari partner kerja sama yang saling menguntungkan."
"Masalahnya Nona itu perempuan, biarkan saja Tuan Rendi saja di promosikan menjadi CEO, kerja dia selama ini bagus tidak di ragukan lagi. Dia lebih pantas menjadi CEO," ucap pemegang saham itu.
"Oh, bukan karena aku perempuan aku tidak bisa memimpin perusahaan, tapi jangan-jangan kamu yang punya rencana lain bersama Rendi?" tebak Sahara terang-terangan menatap pria itu tajam.
__ADS_1