
Sahara terdiam sejenak. "Lalu … Tuan Albazero ada urusan apa menelpon ku dengan nomor pribadi?" tanya Sahara.
"Tidak ada, aku hanya ingin beri tahu Nona kalau ini nomor pribadi ku, jadi biar Nona tidak kaget dengan nomor baru ku. Di simpan ya, aku hanya ingin mengatakan ini saja," ucap Albazero.
"Ooh," jawab Sahara manyun.
"Oke, terima kasih sudah mengangkat teleponku, aku permisi dulu, selamat siang. Oh ya apa Nona Sahara sudah makan siang? Maukah Nona makan bersama ku?" tawar Albazero.
"Hm … sepertinya hari ini tidak bisa, aku sedang mengawasi seseorang. Lain kali saja," jawab Sahara.
"Hm … Baiklah jika begitu, semoga lain kali Nona tidak terkejut dengan ku, aku permisi dulu, selamat siang," ucap Albazero.
"Selamat siang," jawab Sahara. Panggilan pun di putuskan. Sahara kembali menyimpan ponselnya.
'Berhubungan kamu nggak mau keluar dari perusahaan ini maka aku akan menyiksa mu," batin Sahara sambil tersenyum.
Krucuk! Krucuk! Krucuk!
Sahara memegang perutnya yang berbunyi. "Aduh, lapar banget," ucap Sahara.
"Anna, ke sini kamu," panggil Sahara melambaikan tangannya.
Anna melihat sekilas ke arah Rendi, kemudian berjalan mendekati Sahara.
"Ada apa Nona?" tanya Anna.
"Aku lapar, belikan aku makanan. Chicken katsu, kepiting asam pedas dan telor ceplok. Minumannya cappucino cincau, teh hijau dan jeruk peras," ucap Sahara.
"Tapi Nona itu tempatnya berbeda, kenapa nggak pesan online saja?" tanya Anna.
"Aku tidak mau online, apa gunanya aku punya karyawan tapi hanya makan gaji buta. Cepat sana pergi!" perintah Sahara.
__ADS_1
"Uangnya?"
Sahara merogoh uang dari tas mungilnya lalu memberikan beberapa lembar uang.
"Ini uangnya, aku mau kamu cepat pulang, aku sudah lapar!" perintah Sahara.
"Sini, biar aku saja yang pergi," ucap Rendi mengambil uang dari tangan Sahara.
"Oh, tidak menyangka ternyata ada yang berbaik hati membela seseorang, kau benar-benar sangat perhatian ya," ucap Sahara tersenyum.
Rendi pun langsung pergi, ia tak sanggup berlama-lama di hadapan Sahara dari para mematung jadi batu karena mendengar ucapan Sahara yang pedas itu.
"Wah, senang sekali ya di perhatikan? Kenapa selama ini aku tidak sadar jika kalian berdua sangat dekat?" tanya Sahara.
Anna terdiam dan tidak menyahutinya.
"Ya udah sana, kerjakan pekerjaan yang belum selesai itu!" perintah Sahara sambil melipat tangannya, ia pun berlenggok berjalan masuk ke dalam ruangan CEO meninggal Anna.
Anna menatapnya tajam melihat kepergian Sahara, setelah Sahara masuk Anna melempar sapu tersebut dan ia menghempaskan bokongnya di kursi yang ada di sana.
Sahara mengambil ponselnya dan menelpon Rendi.
Tuuut! Tuuut! Tuuut!
"Halo," jawab Rendi dengan suara yang tidak suka.
"Aku mau kamu beli langsung dari restorannya, aku nggak mau kau beli dari online. Jangan membohongi ku karena aku terus memantau mu di mana pun kamu berada," ucap Sahara.
"Sahara! Kamu jangan keterlaluan donk! Kau pikir 6 pesanan itu bisa pergi sekaligus," ucap Rendi dengan nada tinggi.
"Siapa suruh kau ingin menggantikan dia. Tapi aku ingin tanya pada mu, kenapa kau sangat baik dan perhatian banget sama dia di banding aku? Sepertinya dia adalah istri mu, bukan aku," ucap Sahara seenaknya.
__ADS_1
Rendi menarik nafasnya dengan menggertakkan gigi karena geram.
"Sahara! Kau …."
"Berhubungan kau sangat ingin jadi pembantu, maka kau lebih cocok jadi pembantu saja," potong Sahara sambil tersenyum.
Rendi langsung memutuskan panggilannya dan ia pun pergi membeli pesanan Sahara.
"Wanita ini, dia sungguh membuat ku kesal!" teriak Rendi murka. Tapi mau tak mau ia tetap harus juga membeli apa yang di inginkan oleh Sahara, saat ini ia tak punya kekuasaan apa pun untuk melawan Sahara.
Tak lama, Rendi menenteng beberapa makanan dan ia pun meletakan makanan itu di atas meja Sahara dengan wajah yang memerah karena panas.
"Wah, banyak sekali," ucap Sahara senang. Rendi pun berbalik badan ingin segera pergi dari ruangan yang rasanya lebih panas dari pada di bawah terik mata hari.
"Tunggu sebentar!" panggil Sahara tiba-tiba membuat Rendi terpaksa menghentikan langkahnya.
"Ada apa lagi?" tanya Rendi terlihat kelelahan.
"Ya ke sini dulu," ucap Sahara. Ia mengambil makanan itu lalu membukanya.
"Kau mau kau mencicipi makanan ini satu persatu, tapi hanya satu sendok saja," ucap Sahara.
"Untuk apa?" tanya Rendi penasaran.
"Lakukan saja!" perintah Sahara.
Rendi pun mengambil sendok dan menyendoknya satu persatu lalu melahapnya.
"Oke, kamu boleh pergi," ucap Sahara saat melihat Rendi baik-baik saja.
Rendi pun pergi dengan merasa heran.
__ADS_1
Sahara melakukan itu karena ia memastikan jika makanannya tidak di racuni oleh Rendi, makanya ia meminta Rendi untuk mencicipinya. Rendi terlihat biasa saja itu menandakan jika ia tidak melakukan sesuatu pada makanannya.
"He-he-he Rendi, karena kau sangat ingin di siksa, maka aku akan terus menyiksa mu sampai puas," ucap Sahara tersenyum.