
Kedua orang itu terlihat ketakutan.
"Eh, mana bisa begini Nona, itu makanan Nona, mana boleh kami memakan makanan punya tamu," ucap pegawai itu cengengesan.
"Begini … Gaji kalian berapa?" tanya Sahara.
Mereka melihat ke arah Albazero. "5 juta," jawab mereka hampir bersamaan.
"Baiklah, aku akan beri kalian satu orang 10 juta dengan syarat makan makanan ini sampai habis, apa mau mencobanya?" tanya Sahara.
Mereka berdua saling berpandangan. "Tapi apa benar Nona ingin memberikan uang 20 juta kepada kami berdua?" tanya mereka ragu-ragu.
Sahara mengambil tas kecilnya dan mengeluarkan dompetnya. Ia mengeluarkan sebuah kartu.
"Di dalam kartu ini ada uang, jika kalian memakan habis nanti aku transfer uangnya kepada bos kalian ini," ucap Sahara.
Mereka pun mengambil mangkok milik Sahara dan mereka berdua pun memakannya. Mereka tidak peduli mau sakit perut bagaimana pun, mendapatkan uang 2x lipat dari gaji mereka itu sangat menyenangkan.
"Mereka tidak kau gaji dengan baik ya?" tanya Sahara melihat ke arah Albazero.
"Hm … maksud mu?" tanya Albazero tidak mengerti.
"Lihatlah, mereka bahkan mau memakan makanan yang sudah mereka beri sesuatu di dalamnya demi mendapat uang yang lebih," ucap Sahara melihat kedua pegawai itu dengan senyum merendahkan. Kedua pegawai itu langsung berhenti makan.
"Benarkan? Katakan dengan jujur, kalian taro apa di dalam makanan itu?" tanya Sahara menatap tajam kedua pegawai itu.
"Jadi kau mempermainkan kami ya!" pegawai itu tidak terima, ia berdiri sambil bercekak pinggang dengan emosi.
__ADS_1
Sahara berdiri dan menatap dalam. "Heh! Dengan uang 10 juta ternyata bisa membeli harga diri kalian rupanya, dan juga bisa membuat kalian membuat kalian menjilat ludah kalian sendiri," ucap Sahara tersenyum sinis sambil melipat tangannya.
"Sebenarnya apa yang kalian lakukan? Kalian menaruh apa di dalam makanannya dan apa tujuan kalian?" tanya Albazero menatap tajam ke arah kedua pegawainya, ia terlihat gusar.
Kedua pegawai itu ketakutan dan gemetaran.
"Ka-kami … ti-tidak meletakan apa-apa kok Tu-tuan," jawab pegawai itu gemetaran.
Tiba-tiba saja perut mereka terasa sangat sakit.
"Aduh! Aduh! Aduh!" teriak kedua pegawai itu memegang perutnya.
"Kalian kenapa?" tanya Albazero menekuk alisnya.
"Maaf Tuan, kami ke toilet sekarang," ucap mereka tidak tahan lagi.
"Tidak Tuan, kami beneran tidak tahan lagi," ucap pegawai itu.
Baru saja mereka mengatakan itu tiba-tiba saja bunyi seperti mencret.
Seketika ruangan menjadi hening.
Bau busuk pun tercium semerbak memenuhi ruangan.
"Kalian … Silakan keluar," ucap Albazero sudah tak tahan mencium bau busuk itu.
Sahara dan Albazero pun keluar mencari udara segar.
__ADS_1
"Mereka itu benar-benar keterlaluan! Maaf ya, baru saja kamu datang untuk makan di sini malah menemukan sesuatu yang tidak mengenakan begini," ucap Albazero.
Sahara melihat ke arah Albazero beberapa detik, lalu ia pun melihat ke arah jalan.
"Jangan salahkan mereka, salahkan dirimu yang mempesona itu." Sahara memelankan suaranya.
Albazero tersenyum, dia antara dengar dan tidak, Albazero tetap mendengarnya walau hanya mendengar di ujung kalimat.
"Sebagai gantinya, aku akan bawa kamu ke restoran lain deh, biar kamu bisa makan dengan tenang. Masalah kedua pegawai itu aku akan memecatnya, tapi … Aku minta kamu jangan trauma datang ke sini lagi ya, aku benar-benar minta maaf, aku nggak tau kompensasi apa yang harus aku berikan pada mu," ucap Albazero merasa bersalah.
"Kompensasinya adalah … kau tadinya memesan 10.000 botol parfum, di tambah menjadi 20.000 botol parfum," bagaimana?" tanya Sahara.
"Baiklah, aku akan pesan 100.000 botol parfum dari perusahaan mu," jawab Albazero.
"Hm? Kau yakin ingin beli sebanyak itu untuk awal kerja sama perusahaan kita?" tanya Sahara mengangkat alisnya.
"Kenapa tidak yakin? Asalkan kau memaafkan ku dan demi kebaikan hubungan kerja sama perusahaan kita itu sama sekali tidak rugi," jawabnya.
"Baiklah, itu sama sekali tidak menyakiti hati ku, aku akan beritahu pada pegawai ku untuk memproduksi lebih banyak lagi," ucap Sahara tersenyum.
Mereka pun keluar dari restoran dan masuk ke dalam mobil.
Mobil pun melaju di jalanan mencari restoran yang lain. Albazero sengaja tidak membawa Sahara ke restorannya yang lain, ia takut jika kejadian yang sama akan terulang kembali.
Ia sungguh tak menyangka jika pegawai yang sudah bekerja bertahun-tahun malah melakukan hal yang memalukan, sungguh membuat ia malu di depan orang yang di mana ia sudah mulai tertarik dengan Sahara.
Ia tak mau melepaskan kesempatan untuk mendekati Sahara.
__ADS_1