
"Terima kasih atas pujiannya, Anda adalah orang pertama yang memuji putri saya seperti itu. Ya sudah, silakan bicara dengan Sahara. Ayo Sahara bawa Tuan Albazero keliling perusahaan kita," ucap Tuan Hary tersenyum.
"Mari," ucap Sahara yang terlebih dahulu berdiri dan mempersilakan.
Albazero berdiri dan berjalan terlebih dahulu. Sahara pun mengikutinya dari belakang.
Rendi pun berdiri ingin mengikuti mereka.
"Mau kemana?" tanya Tuan Harry.
"Mengikuti mereka Pa," jawab Rendi.
"Menurut Papa jangan, Papa takut jika Tuan Albazero terganggu di ikuti," ucap mertuanya.
"Tapi …."
"Sudah, ini juga demi kebaikan perusahaan kita," ucap Tuan Hary.
Rendi mengurungi niatnya tapi ia juga tak rela bila Sahara bersama pria asing tersebut.
Mereka pun berjalan beriringan. Sahara merasa canggung karena ia ingat sandi brangkasnya ia gunakan nama pria di sampingnya.
Pria yang terlihat masih muda itu sangat berkarisma dan mempunyai jiwa pemimpin, selain tinggi, menawan dan mempesona, ia sangat bersih dan rapi. Semua orang juga ingin menjadi kekasih hatinya.
'Astaga! Pria ini benar-benar tampan,' batin Sahara meliah sekilas ke arah Albazero.
"Hm … Nona Sahara tidak ingin mengatakan sesuatu?" tanya Albazero melihat ke arah Sahara.
"Hm … Oh ya, jadi Anda setuju bekerja sama dengan perusahaan kami?" tanya Sahara mendadak, ia juga bingung ingin mengatakan apa di hadapan pria itu. Rasanya sangat beda berbicara dengan Rendi.
"Haishhhh, Anda sedang tidak fokus ya?" tanya Albazero.
"Eh, Tuan Albazero sangat teliti," puji Sahara.
"Bahkan kau sangat membenci suami mu aku juga tahu," sahutnya.
"Apa itu terlihat jelas?"
"Sangat jelas. Aku melihat di diri Nona sedang seperti menangkap perselingkuhan, apa aku benar?" tanya Albazero.
__ADS_1
Sahara menatap Albazero datar. "Baiklah, aku akui Anda sangat jeli, jika tidak mana mungkin Anda punya perusahaan yang besar itu. Oh ya, boleh aku tanah sesuatu?" tanya Sahara.
"Silakan."
"Anda sudah punya istri?"
"Dulu, sekarang tidak," jawabnya.
"Bercerai?"
"Ya."
"Sudah lama?"
"Sepertinya Anda sangat tertarik dengan kehidupan pribadi saya," ucap Albazero tersenyum.
"Maaf, ya sudah kita lanjutkan pembicaraan tentang kerja sama saja," ucap Sahara mengalihkan pembicaraan.
"Aku bercerai sudah 3 tahun yang lalu. Aku sama dengan mu, memergoki istriku selingkuh dengan sahabat ku sendiri yang menjabat sebagai manajer pemasaran. Rasanya sangat sakit ya? Tapi itu sudah lama dan aku lupakan. Lagian mereka sudah hidup bahagia mungkin," ucap Albazero.
'Saat aku menanyakannya kau bilang aku kepo, saat aku tidak bertanya kau malah mengatakan sendiri,' batin Sahara.
"Baiklah Nona Sahara, setelah kontrak tanda tangan di tanda tangani maka perusahaan kita akan bekerja sama. Jadi aku akan memesan saat produk terbaru kalian. Jadi agar kerja sama kita semakin dekat jadi bolehkan aku minta nomor telepon Anda, agar aku bisa langsung menghubungi Anda," ucap Albazero tersenyum.
"Nona."
"Eh iya, sebentar ya," ucap Sahara mengambil ponselnya dari dalam tas mungilnya.
Sahara pun mencari nomornya dan memperlihatkan nomornya. Albazero pun menyimpannya.
"Oke, sepertinya aku harus pergi sekarang, senang sekali di temani oleh Nona Sahara, kapan hari aku pasti akan ke sini lagi," ucap Albazero.
"Mari saya antar," ucap Sahara.
Mereka pun berjalan kembali ke tempat semula dan mengantar Albazero hingga sampai di depan perusahaannya.
Rendi dan sekretaris Anna juga berdiri di depan pintu utama.
Mobil Albazero pun melaju meninggalkan perusahaan PT SHR.
__ADS_1
"Bicara apa kalian tadi?" tanya Rendi penasaran.
"Hm? Kau yakin ingin mendengarkannya?" tanya Sahara melipat tangannya dengan memiringkan kepalanya.
"Memangnya kenapa?" Rendi balik bertanya.
"Hanya saja aku takut hati mu memanas," jawab Sahara setengah mengejeknya.
"Katakan saja."
"Oh baiklah. Tadi dia mengatakan jika dia saat ini masih lajang yang ingin mencari pendamping. Aku takut jika aku di taksir olehnya," ucap Sahara tersenyum sambil memutar ujung rambutnya.
"Sahara! Aku ini masih suami mu! Kau jangan pernah coba-coba memikirkan pria lain di depan ku!" hardik Rendi geram.
"Oke! Aku tidak akan memikirkan pria lain di depan mu, tapi aku akan memikirkannya di belakang mu," jawab Sahara santai tanpa rasa bersalah.
Ucapan Sahara benar-benar membuatnya pitam. "Sahara! Kamu itu masih punya suami, tolong hargai aku sebagai suami mu," ucap Rendi pelan api dengan emosi.
"Oh, begitu kah? Lalu selama ini apa kau pernah lihat aku sebagai istri mu?" tanya Sahara menatap tajam Rendi.
"He, apa kau cemburu?" tanya Rendi tersenyum.
"Hey! Aku lebih baik lihat kotoran dari pada melihat mu! Sungguh menjijikkan!" ucap Sahara ketus dan ia pun pergi meninggalkan Rendi dan Anna.
"Nona tunggu sebentar!" panggil Anna. Sahara berhenti dan balik badan.
"Jika benar Tuan Albazero mencari pendamping, tolong rekomendasikan aku padanya," ucap Anna.
Sahara diam tidak menjawabnya, ia pun menuju ruang utama CEO.
"Hey! Kau ini apa-apaan!" seru Rendi membelalakkan matanya.
"Aku punya rencana ku sendiri, kau jangan marah dulu," ucap Anna menenangkan.
"Kau yakin kau punya rencana? Bukan karena kau tertarik dengannya?" tanya Rendi mengintrogasi.
Anna melihat ke kiri dan kanan memastikan jika tidak ada yang mendengarkannya. "Ayolah, kau jangan cemburu begitu donk, mana mungkin aku berpaling dari mu," ucap Anna mencolek tangan Rendi.
"Baiklah, aku percaya pada mu, awas saja jika kau berpaling dari ku," ucap Rendi pelan.
__ADS_1
"Iya, tidak akan," jawab Anna manja.
"Jadi bagaimana? Apa kau yakin memimpin perusahaan ini" tanya Tuan Hary memastikan.