System Pembalasan Seorang Istri

System Pembalasan Seorang Istri
BAB 7


__ADS_3

"Tentu saja aku yang akan memimpin perusahaan ini, aku tidak ingin orang lain yang memimpinnya," jawab Sahara.


"Baiklah jika begitu, besok kita akan meeting dengan para pemegang saham, siapa saja yang akan setuju jika kamu menjadi CEO nantinya," ucap Tuan Hary.


"Papa, mau tidak mau mereka harus setuju aku yang menjadi CEO, jika mereka tidak percaya mereka boleh keluar dan mencari perusahaan lain. Lagian kita punya perusahaan yang kerja sama dengan kuat, aku yakin kerja sama antara perusahaan kita dan perusahaan Albazero akan membuahkan hasil," ucap Sahara percaya diri.


"Baiklah, ikut apa kata mu saja. Lagian perusahaan ini berdiri itu ide dari otak kecil mu waktu umur 4, perusahaan ini juga milik mu, Papa hanya menjalankan saja," ucap Tuan Hary mengalah.


"Pa, aku yakin bisa membuat perusahaan kita tambah maju," ucap Sahara.


"Ya sudah jika begitu. Papa pulang dulu, kamu tetaplah di perusahaan dan pelajari sistem perusahaan kita," ucap Tuan Hary.


"Baik Papa, Papa hati-hati di jalan ya," pesan Sahara.


"Iya." angguknya dan ia pun pergi dari perusahaan tersebut.


Sahara keluar dari ruang CEO dan melihat dari balik jendela, terlihat Anna di ruangannya sedang bermain ponsel. Sahara pun masuk ke dalam.


"Wah, sepertinya asik sekali kau bermain ponsel? Apa kau pikir papa ku mempekerjakan mu di sini hanya untuk berleha-leha bermain ponsel dan berduaan dengan Rendi? Sepertinya waktu mu sangat senggang, kalau begitu bersihkan ruang CEO sekarang!" perintah Sahara.


"Ta-tapi Nona, tangan ku masih sakit karena Anda menumpahkan kopi panas tadi," ucap Anna berani dalam ketakutan.


"Oh, kau bilang aku yang menumpahkannya ya? Atau sekarang ku buatkan kopi panas lalu ku siramkan ke wajah mu yang ayu itu agar Rendi tidak suka lagi? Iya? Mu ku buatkan?" tanya Sahara membelalakkan matanya.

__ADS_1


"Eh i-iya Nona, akan aku bersihkan." angguknya terpaksa.


Sahara memutar badannya dan menuju kembali ke ruang CEO. Dalam hati Anna yang terus mengutuk Sahara.


'Awas saja kau Sahara! Akan ku buat kau berkeping-keping suatu hari nanti,' batin Anna geram.


"Mau kemana?" tiba-tiba saja Rendi keluar dari ruangannya karena ia tidak mendapatkan balasan dari Anna lagi.


"Keruang CEO, Nona Sahara memintaku untuk membersihkan ruangannya," jawab Anna dengan suara yang menyedihkan seolah-olah dirinya sedang di tindas.


"Apa! Tapi tangan kamu kan sakit, mana mungkin bisa membersihkan ruang yang cukup besar itu. Sahara benar-benar keterlaluan!" denggus Rendi kesal dan mereka berdua masuk ke dalam ruangan tersebut dan terlihat Sahara sedang duduk cantik di kursi kebesarannya.


"Sahara! Apa yang kau lakukan? Kau menyuruh Anna membersihkan ruangan ini di saat tangannya sedang sakit, apa kau tidak memikirkan perasaan orang lain?" tanya Rendi menekuk alisnya dan marah-marah.


"Oh, kau juga datang untuk menggantikannya atau untuk membantunya?" tanya Sahara.


"Jika kau datang untuk membantunya untuk membersihkan ruangan ini itu akan sangat bagus dan pekerjaan akan menjadi mudah dan cepat. Jika perlu kau bisa membersihkan seluruh perusahaan ini," ucap Sahara.


"Sahara! Kau jangan keterlaluan begini!" seru Rendi.


"Kau mau membersihkan satu perusahaan ini atau kau akan ku tendang sekarang? Jika kau tidak mau kerja kau bisa angkat kaki, aku akan siapkan surat pengunduran sekarang juga dan menghapus identitas mu dari perusahaan ini. Aku kapan saja bisa mendepak mu, itu tergantung dari mu, jika kau ingin kerja di sini berbuatlah baik dan ikuti perintah ku. Jika kau tidak bisa mengikuti perintah ku maka silahkan keluar," ucap Sahara mengintimidasi.


"Eh, ba-baiklah, aku akan mengerjakannya," jawab Rendi pasrah. Saat ini kuasa ada di tangan Sahara, ia belum ingin keluar dari perusahaan itu sebelum ia mendapatkan apa yang ia inginkan.

__ADS_1


"Bagus, ayo kerjaan. Oh ya tunggu sebentar." Sahara berjalan keluar dan melihat seorang OB sedang menyapu.


"Hey kamu ke sini!" panggil Sahara.


OB itu datang mendekat. "Ada apa Nona?" tanyanya.


"Berikan sapu dan pel ini kepada mereka, jadi kalian para OB boleh pulang karena ada 2 orang yang baik hati untuk mengantikan kalian," ucap Sahara tersenyum.


"Terima kasih banyak Nona," ucap OB itu senang.


OB itu pun memberikan sapu dan pel kepada Rendi dan Anna, dan OB lain mendapatkan kabar itu bersuka cita dan mereka pun langsung pulang.


"Kalian tunggu apa lagi? Ayo bersihkan!" perintah Sahara.


Mau tak mau Rendi dan Anna pun mengerjakannya, Rendi mulai menyapu, sedangkan Anna mengepel lantai.


Sahara menyenderkan bahunya di dinding sambil memperhatikan mereka.


Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. "Hm? Siapa yang menelpon ku?" tanya Sahara heran karena nomor baru.


"Halo? Ini dengan siapa?" tanya Sahara tanpa basa basi.


"Ini aku, Albazero," jawabnya.

__ADS_1


"Hm? Kenapa ini nomor baru?" tanya Sahara.


"Ya, ini nomor pribadi ku, sedangkan nomor tadi adalah nomor bisnis ku. Tidak apa-apa kan jika aku menelpon dengan nomor pribadi ku?" tanya Albazero.


__ADS_2