
"Ba-baik Nona," jawab mereka terpaksa.
"Baiklah, kalian semua pulang," ucap Sahara.
"Baik Nona," jawab pengawal itu.
"Kalian berdua juga boleh pulang," ucap Sahara menatap kedua orang pria yang berlutut tersebut.
"Kami boleh pulang?" tanya mereka bingung.
"Iya, kalian boleh pulang." angguk Sahara.
Mereka saling berpandangan dan merasa heran.
"Terima kasih Nona," jawab mereka berdiri lalu membungkukkan badan.
Kedua pria itu pun pergi meninggalkan tempat tersebut sambil tersenyum dan menekuk alisnya.
"Aku pikir Nona Sahara akan menghukum kita dengan berat, tapi dia malah melepaskan kita begitu saja. Dia itu baik atau polos?" tanya pria itu menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1
"Jadi sepertinya kita tidak perlu khawatir masalah ini, lebih baik bersantai di rumah tidur dengan nyenyak," ucap temannya dan mereka tertawa bersama.
Albazero melihat mereka yang sudah pergi lalu menatap Sahara.
"Kenapa kau biarkan mereka pergi begitu saja?" tanya Albazero.
"Kau pikir aku membebaskan mereka begitu saja? Aku tidak sebaik itu," ucap Sahara tersenyum licik.
"Kau memang bijak," ucap Albazero tersenyum.
"Apa yang kau tunggu lagi di sini! Tidak ingin pulang kah?" tanya Sahara.
"Hm … baiklah kalau begitu, kita pergi ke perusahaan mu," jawab Sahara mengangguk.
Sahara masuk ke dalam mobilnya dan begitu juga Albazero masuk ke dalam mobilnya sendiri.
Mobil pun melaju di jalanan dan tak lama mereka pun sampai di perusahaan Albazero. Perjalanan yang memakan waktu cukup lama itu sungguh membuat Sahara memang tak pernah mengetahui jika ada perusahaan besar lainnya di kotanya.
Ya, selama ini ia memilih di rumah dan program kehamilan, karena pernikahan mereka beberapa tahun itu belum juga mempunyai momongan membuat ia tidak tahu dunia luar.
__ADS_1
"Ini perusahaan mu?" tanya Sahara tercengang.
"Ha? Apa kau tidak pernah melihat perusahaan ku?" Albazero Bali bertanya.
Aneh rasanya jika ada orang yang tidak tahu perusahaannya karena ia sering nongol di TV dan media sosial lainnya demi mempromosikan produk keluaran terbarunya.
"Tidak pernah, aku biasanya hanya di rumah menanam bunga di taman dan lebih banyak rebahan karena aku …." Sahara tidak melanjutkan ucapannya karena waktu itu ia sedang masa program bayi, tapi bayinya tidak ada karena ia kembali ke masa lalu.
"Lupakan itu, apa Tuan tidak ingin mengajakku masuk?" tanya Sahara mengalihkan pembicaraannya.
"Oh baiklah. Silakan masuk Nona Sahara," ucap Albazero mempersilakan.
Sahara pun masuk ke dalam dan mereka menuju ke ruang penyimpanan.
"Inilah 2 kotak yang pecah itu," ucap Albazero memperlihatkan packing kayu yang di dalamnya berisi 40 parfum pecah semua.
Bau wangi yang bercampur adik itu memenuhi ruangan. Berhubungan parfum ini terbuat dari bahan alami, jadi baunya tidak begitu menyengat seperti parfum lainnya.
"Total pecah ada 2 kotak itu berati 80 buah. Satu buahnya itu seharga 200 ribu. Total kerugian 16 juta, tapi ini bulan masalah uang, tapi tentang kenyamanan pelanggan. Jadi untuk 80 parfum ini tidak perlu di bayar, kau boleh cek yang lain juga agar tidak ada yang cacat, jika ada maka kembalikan saja ke perusahaan ku," ucap Sahara menatap parfum yang menjadi pecahan kaca.
__ADS_1
"Yang rusak juga tidak banyak, aku akan tetap membayarnya," ucap Albazero bersikeras.