
Arinda Amelia, begitulah namanya. Seorang gadis yang sering mendapat panggilan sehari-harinya "Riri". Panggilan itu sudah melekat pada dirinya sejak kecil.
Sewaktu kecil neneknya sangat suka sekali memanggil namanya dengan sebutan Riri sehingga semua orang dirumahnya ikut memanggilnya Riri, tak cukup sampai disitu teman-temannya pun juga memanggil namanya dengan panggilan Riri, hingga akhirnya ia pun setuju jika dipanggil Riri oleh semua orang.
Riri berasal dari keluarga yang berada, Ayah Riri mempunyai perusahan dan saham pribadi yang ia kelola sedari 0. Tak tertutup fakta bahwa Riri menjadi orang kaya karena hasil kerja keras ayahnya, faktanya juga ibu Riri sewaktu awal menikah dengan ayahnya tidak memiliki apa-apa.
Masa muda ibunya adalah seorang penari ballet. Namun, setelah sekian lama menjadi penari ballet ibunya berhenti karena masalah dengan kakek Riri dulu (ayah ibunya), kakeknya sangat melarang keras ibunya untuk menjadi penari ballet tanpa tahu apa alasan beliau melarangnya.
Setelah ibu dan ayahnya betemu, kemudian memilih untuk menikah dan terbentuklah keluarga Riri yang amat bahagia ini.
Riri juga memiliki seorang kakak namanya Elisa, akan tetapi kakaknya kuliah diluar negeri, jadi sangat sulit sekali bagi Riri untuk bertemu, saling komunikasi pun mereka jarang sebab kakaknya sangat sibuk dengan kuliahnya.
Tahun berikutnya Riri akan segera masuk perguruan tinggi, ia pun sudah mencari tahu banyak tentang perguruan tinggi yang ingin dia tuju. Riri ditawari masuk kedokteran oleh ayah dan ibunya, namun ia menolak tawaran tersebut karna ia sama sekali tidak ada minat terjun ke dunia kesehatan.
"Sayang bagaimana kalau tahun besok kamu ambil jurusan kedokteran saja" tawar ayahnya saat mereka sedang sarapan pagi.
"Ibu yakin Riri pasti udah memikirkan hal itu juga kan" sambung ibu sambil tersenyum lebar menatap Riri.
Riri seketika berhenti makan dan menatap wajah kedua orang tua nya itu seakan penuh harap pada dirinya agar ia masuk dunia kesehatan.
"Ibu,ayah.. Riri udah cari tahu kok perguruan tinggi mana yang Riri mau" Riri berdiri dari kursinya dan langsung berjalan mengambil sepatu sekolahnya.
"Bagus dong, itu artinya kamu udah siap masuk kedokteran kan?" tanya ayahnya yang ikut berdiri untuk berangkat kerja.
"Tapi Riri gak ada minat masuk kedokteran yah, Riri udah cari tahu banyak kok tentang jurusan pertanian" imbuh Riri
Ayah dan ibunya terdiam seolah-olah harapan mereka satu-satunya untuk masuk kuliah kedokteran pupus sudah, kakak Riri dulu juga ditawarin hal yang sama oleh keduanya tapi kakaknya juga menolak karna ingin sekali mendalami kuliah bahasa mandarin.
__ADS_1
"Kamu ngerti tentang pertanian sayang?" tanya ibu sembari merapikan piring-piring untuk dibawa ke dapur.
Riri melamun sejenak kemudian mengingat hal lama, dimana dulu sewaktu kecil ia sering sekali diajari neneknya tentang tanaman, oleh karena itulah dia jadi suka hal-hal yang berhubungan dengan itu. Saat neneknya meninggal dunia neneknya pun menyuruh ia tetap memilih apa yang dia suka suatu saat nanti dan menurut Riri inilah yang ia suka.
"Ayo berangkat" ayah keluar pintu tanpa membahas lagi soal kuliah tadi.
"Sepertinya ayah kecewa deh" pikir Riri dalam hatinya.
Riri selesai memasang sepatunya langsung pamitan pada ibu kemudian keluar pintu dan berangkat sekolah yang diantar oleh ayahnya menggunakan mobil, kantor ayahnya searah dengan sekolah Riri, jadi ayah mengantar Riri terlebih dahulu dan setelah itu langsung ke kantor.
**Didalam Mobil**
"Ayah.. Riri benar-benar pengen banget kuliah pertanian, maaf kalau udah bikin ayah dan ibu kecewa tapi Riri gak tertarik sama sekali masuk kedokteran" Riri memulai pembicaraan karena ayahnya sedari berangkat dari rumah hanya diam saja dan membuat suasana dalam mobil jadi canggung.
Ayah tidak meresponnya, Riri semakin merasa bahwa ayahnya sedang marah pada dirinya.
Namun, ayah tetap saja diam tak merespon omongan Riri. Mobil tetap berjalan dengan laju yang cepat tanpa adanya perkataan apa-apa dari ayahnya.
Setelah hampir setengah jalan menuju sekolah Riri, Ayah tiba-tiba memperlambat laju mobilnya dan melirik Riri "Ayah tahu kok, lakukan saja apa yang riri suka oke?" akhirnya ayah merespon Riri.
Riri menatap Ayahnya dengan tatapan penuh rasa senang dan lega akhirnya ayahnya merespon omongannya tadi.
"Ayah gak marah kan sama Riri?" tanya riri meyakinkan bahwa ayahnya benar-benar tidak marah padanya.
"Tidak sayang, yang jelas Riri bahagia dengan apa yang Riri pilih ya! apapun itu. Apa yang riri pilih berarti apa yang harus Riri jalani, jangan pernah berpikir untuk menyerah. Kalau ada masalah jangan lari dari masalah itu, tetap jalani dan selesaikan masalah itu, mengerti sayang?" Riri menangis terharu karna dinasehati oleh ayahnya.
Ayah bukannya marah tapi malah sangat support Riri untuk tidak pernah menyerah, Riri tak bisa berkata apa-apa setelah itu, ia hanya bisa menangis terharu sepanjang perjalanan.
__ADS_1
Tak terasa sudah sampai di sekolah Riri, ayah memarkirkan mobilnya ke pinggir gerbang sekolah agar Riri bisa turun.
Riri turun dari mobil setelah berpamitan pada ayahhya ayahnya dan mengucapkan terima kasih karna sudah mengeti apa yang Riri inginkan.
Riri menjadi semakin semangat untuk belajar dengan giat, dalam pikirannya hanya ada kata belajar dan belajar sebab dia tahu tak beberapa lama lagi akan dilaksanakannya tes masuk perguruan tinggi, ia harus giat agar bisa lulus ke perguruan tinggi yang ia inginkan sejak dulu.
Riri masuk ke kelas menemui teman-temannya, ia bercanda tawa bersama teman-teman untuk melepas rindu nanti, mereka tahu sebentar lagi mereka akan berpisah mengejar impian mereka masing-masing.
Inilah perjuangan yang sebenarnya, dunia perkuliahan adalah awal mereka untuk menuju roma. Jalan manapun yang mereka pilih, mereka tetap berharap bertemu di titik yang sama yaitu titik kesuksesan.
Apapun yang terjadi nanti dan siapapun yang sukses duluan, mereka semua sepakat untuk tidak menganggap bahwa mereka gagal karena sukses itu semuanya butuh proses, terlambat bukan berarti gagal, hanya saja sedang mencari jalan mana yang tepat untuk dilewati.
Kenyataan pahit yang harus mereka terima adalah mereka harus berpisah dengan segala kenangan mereka semasa SMA, kenangan yang tak mungkin dapat diulang lagi dan hanya bisa untuk dikenang.
"Riri.. Tak disangka ya kamu yang aku kenal pertama kali gadis pendiam.. Ternyata aku salah, kamu orangnya malah asik banget. Mana mungkin ri aku bisa lupain kamu nanti" ucap Desi, teman sebangku riri saat mereka sedang nongkrong ciwi-ciwi dibelakang kelas.
Riri tersentuh dan memeluk Desi, teman-teman ciwi yang lain melihat itu ikut berpelukan (teletabis kali yak).
"Jangan pernah lupain satu sama lain ya teman-teman" ucap Riri
Hari ini jam kosong gurunya tidak hadir, mereka melanjutkan dengan bermain sebuah permainan bersama satu kelas. Permainan yang tentunya tidak menggangu ketenangan kelas lain, tapi tetap membuat mereka bahagia.
Mereka menikmati hari-hari yang penuh tawa ini sebelum hari yang penuh tangis itu datang..
Jalani saja teman masa remaja tidak datang dua kali..
Bersambung..
__ADS_1
Yok lanjut part berikutnya!