Tak Pernah Asing

Tak Pernah Asing
BERTEMU


__ADS_3

Kring kring kring..


Jam weker kamar Riri berbunyi tepat pukul 7 pagi, Riri bergegas bangun untuk bersiap-siap. Dia begitu bersemangat di hari pertamanya ini, meskipun hari ini hanya pengenalan kampus aja atau biasa disebut ospek. Namun, Riri sangat merasa senang, bagaimana tidak? Dia berhasil masuk ke universitas yang diinginkannya sejak dulu tentu saja dia sangat bahagia dan bersemangat sekali.


Setelah selesai mandi dan memakai seragam hitam putih yang ditetapkan kampus, Riri turun menuju meja makan menemui ibunya, seperti biasa ayahnya sudah berangkat duluan ke kantor.


"Ayah sudah berangkat duluan lagi?" tanya Riri pada ibunya sesaat setelah sampai dimeja makan.


"Iya, ayah ada meeting pagi ini jadi berangkat lebih awal" jawab ibunya sambil merapikan piring bekas sarapan ayahnya


Riri pun akhirnya hanya sarapan sendiri saja, sewaktu sedang sarapan Riri teringat apa yang dikatakan Bagas malam tadi yang membuat suasana kembali menjadi canggung.


.


**flashback-malam tadi - Dimobil Bagas**


Mereka asyik bercanda ria dan berbincang-bincang, bahkan hal random sekalipun mereka bincangkan. Namun, Bagas tak sengaja mengatakan sesuatu yang membuat mereka berdua sontak canggung hingga saling diam-diaman selama perjalanan pulang.


"Bang Bagas itu pasti banyak yang suka kan?, secara kan dulu bang Bagas termasuk kategori populer dikalangan cewek-cewek" goda Riri pada Bagas.


"Iya dong, tapi Riri jauh lebih populer loh, bahkan banyak yang bertanya tentang Riri pada abang" Bagas malah membalas Riri dengan menggoda Riri balik.


Riri tertawa mendengar lelucon yang dibuat oleh Bagas, "lelucon yang bagus" sahut Riri, Bagas pun ikut tertawa bersama Riri.


"Tapi yang terpenting Abang menang taruhan dulu sama mereka kan" ucap Bagas, seketika ia mengatupkan bibirnya karna ia merasa baru saja kecoplosan tentang rahasianya dulu, bahwa sebenarnya dia pacaran dengan Riri hanya iseng saja, dia taruhan dengan teman-temannya siapa yang bisa mengajak Riri pacaran maka mereka akan menang taruhan dan Bagas beruntung karena Riri menerima ajakannya untuk pacaran.


"Taruhan?" tanya Riri yang kaget dengan pernyataan Bagas


Bagas bingung harus memberikan alasan apa pada Riri, akibatnya dia megarang cerita kalau dia hanya bercanda pada Riri. Riri tahu kalau Bagas berusaha berasalan tentang itu. Dari perkataan Bagas itulah membuat mereka hanya berdiam selama perjalanan, Riri pun tidak bertanya lagi setelah Bagas berasalan seperti itu. Dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa Bagas adalah orang yang baik. Namun, semakin dia meyakinkan dirinya semakin kata-kata Bagas itu menghantuinya.


.


.


"Ri, udah mau berangkat kah?" pertanyaan ibu membuat Riri tersadar dari lamunannya, ia baru menyadari kalau sarapannya telah habis. Dia bergegas untuk berangkat ke kampus setelah berpamitan pada ibunya.


Sesampai Riri diluar dia kaget bercampur bahagia karna melihat ada motor baru untuknya dihalaman rumah, Riri memanggil ibunya dan bertanya tentang itu.Iibunya ikut gembira melihat Riri yang senang mendapatkan motor itu.


"Itu dari ayah, hadiah untukmu sayang" ucap ibu.


.


Riri pergi ke kampus menggunakan motor barunya, betapa bahagianya dia hari ini. Kurang dari 15 menit Riri sampai di kampusnya, dia memarkirkan motornya di gerbang utama, sudah lumayan banyak mahasiswa yang datang. Sayangnya Riri tak mengenal siapapun disini, Hilda yang ia kenal sewaktu tes kemarin tidak lulus jadi dia mungkin hanya sendiri disini sebelum mendapat teman baru. Riri berjalan memasuki gerbang kedua.


Setelah sampai gerbang kedua


Drukk.. Ah Riri tak sengaja menabrak seseorang. Dia spontan meminta maaf pada orang itu, saat dia melihat orang yang ditabraknya itu "hah.. dia tidak memakai seragam seperti kami dan juga dia punya almamater, waduhh pasti dia senior ini. Matilah aku" kata Riri dalam hatinya sehabis melihat seorang cowok yang ditabraknya itu. Cowok itu sangat tampan dan juga tinggi, pasti dia juga termasuk populer di kampus ini. Riri berharap semoga saja dia bukan di jurusan Riri, itu akan malah membuatnya sangat malu.


"Tidak apa-apa, kamu gapapa kan?" tanyanya pada Riri, dia malah menanyakan keadaan Riri padahal Riri yang menabraknya.


Riri menggelengkan kepalanya untuk menjawab serta berkali-kali meminta maaf pada senior itu. Senior itu mengiyakan dan dia langsung melangkah masuk ke kampus, begitu pun Riri yang melangkah masuk kekampus.


Riri bingung dia harus kemana, dia tak memiliki seorang pun teman disini, saat itu dia teringat pada Nadin dan Dwi, dia berusaha mencari Nadin dan Dwi namun tak bertemu juga. Seperti biasa dia duduk dikursi taman disana berharap Nadin akan datang menghampirinya seperti kemaren. Namun, tetap saja dia tak datang.


"Apakah aku harus berkenalan dengan mereka" pikir Riri setelah melihat mahasiswa baru lain disekitar sana.


Saat Riri hendak berdiri ingin berkenalan, pengumuman pun tedengar yang meminta mahasiswa-mahasiswi baru untuk berkumpul di lapangan sesuai dengan jurusan mereka masing-masing


Riri bergegas kelapangan dan berkumpul bersama teman sejurusannya. Ternyata begitu banyak yang lolos dijurusannya, kalau dilihat-lihat itu sekitaran 50 orang lebih.


**Dilapangan**


"Permisi apa benar ini jurusan pertanian?" tanya Riri pada seorang cewek di lapangan itu.


"Oh iya benar kak, ini jurusan pertanian" jawabnya ramah.


"btw boleh kita kenalan dulu" ucap Riri mengajak cewek tersebut berkenalan dengan menjulurkan tangannya "namaku Arinda Amelia, panggil aja Riri.


"Oh hai Riri, kenalkan aku Maya" balasnya sambil menjabat tangan Riri.


Tak lama setelah itu datanglah dua orang menghampiri mereka, tepatnya menghampiri Maya, tampaknya mereka adalah teman-teman Maya.


"Oh iya Riri kenalkan mereka ini teman-temanku, ini ayu dan ini Bella" ucap Maya mengenalkan teman-temannya. Riri mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan mereka berdua, begitu pun meraka yang senang berkenalan dengan Riri.


"Apa kalian satu sekolah dulu?" tanya Riri pada mereka.


"aku dan ayu dulu satu SMP, sementara Bella ini teman ayu sewaktu SMA. Makanya kami bisa saling kenal" jelas Maya, Riri mengangguk.


Dari bnyaknya temannya sewaktu SMA cuman dia yang mengambil kampus ini, makanya dia jadi tak punya teman pada awalnya disini. Untungnya Riri mudah bergaul dengan yang lain, jadi dia cepat mendapatkan teman baru.

__ADS_1


Pengumuman mulai terdengar lagi, panitia menjelaskan apa yang harus dilakukan maba, semua mahasiswa diperintahkan untuk mengumpulkan tanda tangan kakak tingkat sambil berkenalan dengan mereka. Sebelum mereka melakukan itu panitia menjelaskan tentang kampus ini juga, gedung-gedungnya serta jurusan-jurusan yang ada disini, kemudian mereka dipersilahkan untuk melakukan tugas mereka.


"Riri ayo!" ajak Maya pada Riri yang memintanya untuk bergabung dengan mereka bertiga, Riri akhirnya punya teman dalam menelusuri kampus dan berkenalan dengan kakak tingkat, dia tidak akan sendiri.


"Riri kamu tadi dari SMA Garuda kan?" tanya Bella.


"Iya, kenapa?" Riri balik bertanya kenapa Bella bertanya SMA nya dulu.


"Oh itu.." Bella ragu untuk mengatakan maksudnya bertanya pada riri, ayu dan Maya melihat Bella ragu seperti itu tahu kalau ada yang salah akan hal itu.


Ternyata benar, ayu selaku teman dekat Bella dia sudah mengetahui kalau Bella punya sesuatu dengan SMA Garuda Namun, Maya dan Riri yang baru berkenalan dengan Bella tidak mengetahui apa-apa.


"Kenapa masih ingin membahas hal itu?" ucap Maya yang kelihatan kesal dengan Bella.


"Ada apa memangnya yu? kenapa kamu terlihat kesal pada Bella" Maya yang menyadari kalau ayu kesal penasaran akan ada hubungan apa bella dengan SMA Garuda.


"Iya, ada apa ya bel? apa kamu punya suatu hal yang tak bisa diungkapkan di SMA ku?" tanya Riri yang juga penasaran.


"Maaf yu, bukannya aku ingin membahasnya lagi, tapi kamu tahu kan tadi aku bertemu siapa, kenapa aku harus bertemu dengannya disini?" ucap Bella yang berusaha untuk meyakinkan ayu.


Riri mengingat kalau temannya satu kelas tak ada satu pun yang memilih kampus ini, apa itu temannya dikelas lain. Riri terus mengingat siapa teman satu angkatannya yang juga ada disini.


"Siapa?" tanya Riri lagi setelah Bella meyakinkan ayu


Bella menatap ayu, kemudian setelah ayu menganggukkan kepalanya, Bella mau mengatakan siapa orangnya.


"Alwi" jawab Bella, Riri segera memikirkan siapa temannya yang bernama Alwi, namun setaunya tidak ada orang yang dikenalnya bernama Alwi


"Dia kelas apa? kenapa aku gak mengenalnya?" Riri yang bingung, kemudian Bella menyadari kalau dia lupa menyebut Alwi kelas apa, Bella menjelaskan kalau Alwi 2 tahun diatas mereka, artinya Alwi adalah kakak tingkat Riri dulu sewaktu SMA, tapi kenapa Riri tak tahu siapa orangnya.


"Apakah aku introvert? Kenapa aku tidak tahu siapa Alwi?" tanya Riri dalam hatinya.


"Aku tidak tahu siapa dia bel, apa dia dijurusan kita sekarang?" Riri masih penasaran tentang orang itu.


"Iya, dia senior kita disini, aku pun juga kaget kenapa harus bertemu dia, parahnya lagi aku dan dia satu jurusan.. ahh" keluh Bella.


"Nah itu dia" ucap ayu sambil menunjuk kearah Alwi yang sedang bersama para adik tingkat yang berkenalan dengannya, baru saja dibicarakan orang yang dibicarakan sudah ada dihadapan mereka.


"Bang Dio?" orang yang ditunjuk oleh ayu itu bukan Alwi melainkan Dio, senior waktu SMA yang dia kenal dulu. Dio termasuk populer di SMA nya. Lalu kenapa Bella mengatakan itu Alwi?


"Itu bang Alwi ri, bukan Dio" sanggah Bella saat Riri mengatakan kalau orang yang baru saja mereka liat itu adalah Dio.


"Hah? Alwi?" Riri yang masih bingung kembali mengingat, setelah mengingat ternyata benar bahwa itu adalah Dio bukan Alwi, dia ingat sekali sewaktu dia ospek SMA dulu, lagian Dio itu termasuk populer.. "Bel, apa dia mengenalkan dirinya padamu sebagai Alwi?" tanya Riri yang merasa kalau Dio telah berbohong soal identitasnya.


"Begini bel.. Aku rasa kamu sudah ditipu deh, dia itu bukan Alwi tapi Dio, aku yakin akan itu karena bang Dio termasuk populer di SMA kami" mereka bertiga kaget mendengar penjelasan dari Riri, terlebih lagi Bella.


Mana mungkin dia ditipu, dia saja sudah berpacaran dengan Alwi dan juga sudah bertemu bahkan sosial media Alwi saja dia tahu, itu suatu hal yang tidak mungkin kalau dia ditipu.


"Kamu yakin dia itu Dio ri?" tanya ayu yang juga ragu.


"Kenapa aku harus berbohong disaat sepeti ini" Riri berusaha meyakinkan mereka lagi.


"Gini aja deh, bagaimana kalau kita berkenalan saja dengan dia, bukankah dengan itu kita bisa tahu nama aslinya" ucap Maya memberikan saran. Mereka menyetujuinya saran dari maya.


"Maya dan Riri saja yang berkenalan, Maya tanyakan dulu namanya siapa dan setelah itu Riri yang mengatakan kalau Riri mengenal dia, sedangkan aku dan ayu akan kesenior lain sambil menunggu kalian selesai" Bella menjelaskan rencananya pada mereka.


"Itu ide yang bagus" mereka menyetujui ide Bella


Riri dan Maya melangkah menuju tempat dimana mantan pacar Bella itu berada, mereka akan mencari tahu identitasnya yang sebenarnya.


"Hallo bang.. boleh kami bergabung?" sapa Maya yang sangat friendly. Para senior disana menatap Maya, entah mereka kesal atau malah suka tidak ada yang tahu. Salah seorang senior membolehkan mereka bergabung.


"Silahkan kenalkan nama kalian" suruh salah seorang senior, disana hanya ada senior cowok saja, sekitaran 5 orang termasuk mantan pacar Bella itu.


"Hallo bang, perkenalkan nama saya Arinda Amelia, bisa dipanggil Riri" ucap Riri memperkenalkan dirinya dengan sopan.


"Kalau panggil sayang boleh gak" goda salah seorang dari mereka. Riri hanya tersenyum merespon omongannya


"Kamu silahkan!" suruh mantan pacarnya Bella itu seakan berusaha untuk mengalihkan pembicaraan dari temannya yang menggoda Riri.


"Kenalkan bang, saya Maya Putri Cantika, bisa dipanggil Maya" setelah Maya dan Riri berkenalan mereka semua diam, termasuk Maya dan Riri.


"Lalu apa yang mau kalian lakukan?" tanya mantan pacar Bella


"Boleh kami tahu nama abang-abang sekalian, setelah itu kami mau minta tanda tangan Abang" maya menjelaskan maksud mereka berdua. Namun, itu membuat mereka semua tertawa seperti mengganggap kalau ucapan Maya itu lucu.


"Memangnya kami artis mau minta tanda tangan segala" ucap salah seorang dari mereka dengan masih tetap tertawa.


"Itu aturannya bang" jawab Riri keras yang membuat mereka semua berhenti tertawa, kemudian pandangan mereka semua tertuju pada Riri, Riri yang menyadari bahwa dia sudah salah langsung menunduk, dia tidak mau kalau mereka bakal menganggap Riri tak sopan, begitu pun dengan Maya yang ikut menunduk.

__ADS_1


"Oh itu aturannya ya, kenalkan aku Deni" ucap salah seorang dari mereka, dia juga meminta buku yang dipegang oleh Riri dan Maya Agar dia bisa menandatangi buku itu. Riri senang ternyata ada juga senior yang mengerti mereka, yang lainnya pun ikut menyebutkan nama mereka satu-satu. Namun, mantan pacar Bella tidak mengenalkan dirinya dan juga tidak menandatangani buku mereka.


"Hei Riri, kamu pikir kampus ini milikmu?, bahkan kalau kamu anak rektor sekalipun tak seharusnya kamu berteriak pada kami seperti tadi, dan lagipula apa gunanya aturan ini?. Sopan santun dan saling menghormati lah yang diutamakan, buku ini dan tanda tangan tak ada gunanya, bahkan nama kami saja tak akan penting bagi kalian semua kalau kalian seperti tadi pada kami, ini hari pertamamu kan? maka dari itu jangan buat ulah dihari pertama" ucap mantan pacar Bella menasehati Riri.


Riri menunduk merasa dia telah melakukan kesalahan besar, para senior ini pasti menandainya sebagai junior yang sangat tidak sopan. Namun, Riri juga tak bisa diam saja, dia harus memberikan penjelasan mengapa dia melakukan itu.


"Maaf bang bukannya saya mau bersikap seperti itu dan bicara begitu, tapi Abang semuanya tadi tertawa seakan-akan yang diucapkan oleh teman saya itu lucu, kami hanya mengikuti apa yang ditugaskan oleh kampus, Abang dulu juga pasti pernah melakukan seperti yang kami lakukan sekarang ini kan" ucap Riri yang menjelaskan klarifikasinya pada mantan pacar Bella.


"Kamu berani menjawab?" teman-teman mantan pacar Bella itu berusaha untuk memanas-manaskan suasana. Riri kemudian diam dan menunduk lagi. Maya berusaha memberikan kode pada Riri menyuruh Riri untuk tidak menjawab lagi.


"Maaf bang, kami melakukan kesalahan besar. Kami benar-benar minta maaf" ucap Maya meminta maaf pada mereka semua, namun mereka tak terima permintaan maaf Maya karena mereka menganggap Maya tidak bersalah tapi malah minta maaf.


Mereka masih berada disana selama beberapa menit, ayu dan Bella yang sudah selesai dengan senior lain melihat mereka masih juga dengan para senior cowok itu seperti ditahan. Ayu dan Bella tak berani menghampiri mereka


.


sementara para senior itu masih menahan Maya dan Riri


"Ri.. kamu gak kenal siapa aku?" tanya mantan pacar Bella setelah mereka lama diam. Riri kaget dengan pertanyaannya, seolah dia tahu kalau Riri berasal dari SMA Garuda, padahal dulu Riri tak terlalu populer, bagaimana mungkin dia tahu Riri. jadi, Riri hanya diam saja tak menjawab


"Aku Dio, seniormu dulu di SMA Garuda" sambungnya lagi, Maya dan Riri terperangah dan langsung saling berhadapan.


"Kenapa kalian sekaget itu?" tanya orang yang mengaku dirinya Dio itu setelah melihat Maya dan Riri yang kaget.


"Oh gapapa bang" jawab Maya, sementara itu Riri tetap diam saja.


"Riri kamu benar-benar tidak mengenalku?" tanya Dio pada Riri. Riri mengangkat wajahnya dan melihat Dio.


"Aku mengenal Abang, tapi aku hampir tak percaya bagaimana bisa Abang mengenalku padahal aku dulu tak sepopuler Abang" ucap Riri.


"Tentu saja aku tahu, kamu bahkan gak tahu kan kalau aku dulu menyukaimu" ungkap Dio, ungkapannya itu membuat semua yang ada disana kaget terutama Riri yang hampir tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Huh?"


"Kamu kaget lagi, aku berkata jujur ri.. Aku memang gak ngungkapin ini ke kamu dulu karna saat itu aku punya pacar, yang sebenarnya adalah aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kali kamu mengenalkan dirimu dihari ospek SMA dulu" sambung Dio, teman-teman Dio yang mendengar itu langsung diam semua, bagaimana bisa dia mengungkapkan perasaannya pada Riri didepan teman-temannya dan juga didepan Maya, yang membuat Riri bingung harus menjawab apa.


"Jangan khawatir aku sudah tak punya rasa itu lagi, aku sudah melupakanmu sejak dulu, hari ini ternyata kamu disini dan mengapa seolah kamu tak mengenalku.."


"Ohya aku tadi gak marah padamu kok karna aku sudah tahu kamu sejak dulu, kamu memang sangat berani seperti itu agar kamu gak ditindas kan, itu yang aku suka dari seorang Riri, tapi kamu harus tahu ri sopan santun itu memang tidak boleh hilang" sambung Dio, itu pertama kalinya Dio menasehatinya seperti itu layaknya seorang kakak, Dio memang pantas mendapat julukan cowok populer karena kebaikannya dan keramahannya kepada semua orang.


"Maaf bang sebelumnya Riri bersikap seperti itu, Riri juga berterima kasih karna Abang mengingat Riri. Riri harap kita bisa jadi kakak dan adik tingkat yang akrab nantinya" ucap Riri pada akhirnya.


"Hm.. Kamu yang rajin kuliahnya ya, kalau mau minta tolong sesuatu jangan segan-segan mengatakannya, dan Maya juga" Dio menawarkan dirinya untuk membantu mereka berdua jika mereka mengalami kesulitan. Maya dan Riri mengiyakan dan berterima kasih kepada Dio, juga tak lupa berterima kasih kepada teman-teman Dio disana, kemudian mereka meninggalkan tempat itu pergi.


.


Ayu dan Bella melihat mereka sudah selesai tak sabar ingin mengetahui hasil dari ide mereka tadi.


"Gimana?" tanya Bella saat Maya dan Riri baru sampai dihadapan mereka, bahkan mereka belum selesai menghela nafas, Bella sudah bertanya saja tak sabar mendengarkannya.


"Namanya Dio" jawab Maya sambil melihat kearah Riri, Maya memberi kode pada Riri untuk tidak mengatakan pada Bella kalau Dio dulu menyukai Riri, Riri juga tak mungkin mengatakan itu pada Bella karena dia mau menjaga perasaan Bella dan lagipula Bella adalah teman barunya, dia tak mau hanya karna itu pertemanan mereka jadi rusak.


Setelah mengetahui itu, mereka melanjutkan berkenalan dengan senior-senior lain tanpa membahas hal tersebut lagi karena dilarang oleh ayu, hingga tak terasa hari sudah hampir siang, mereka memutuskan untuk makan siang di cafe kampus.


Saat hendak memesan makan Riri tak sengaja lagi bertabrakan dengan seseorang sepeti di gerbang pagi tadi, ternyata orang itu adalah orang yang sama yang ia tabrak pagi tadi di gerbang.


"Maaf maaf" Riri meminta maaf sambil membungkukkan badannya.


"Ahh gapapa, sudahlah" orang itu menerima permintaan maaf dari Riri, sepertinya dia tak mengingat wajah Riri. Riri bersyukur dia lupa wajah Riri yang menabraknya pagi tadi, jika tidak Riri pasti akan sangat malu.


.


**Dimeja cafe**


"Hei kamu beneran nabrak dia?" tanya ayu pada Riri setelah mereka duduk dikursi.


"Aku sudah minta maaf kok, ya ampun aku benar-benar malu karena pagi tadi aku juga menabraknya digerbang, untungnya dia tidak mengingat wajahku. Jadi, mungkin dia berfikir aku adalah orang yang berbeda" jelas Riri.


"Mana mungkin dia bisa lupa begitu saja, apalagi baru pagi tadi" sanggah Maya.


"Tapi mungkin sih menurutku, mungkin saja pagi tadi itu ramai jadi dia tak terlalu memperhatikan" sambung Bella.


"Tidak peduli akan hal itu, tapi bukankah dia tampan" ucap ayu tiba-tiba sambil memperhatikan mereka bertiga satu persatu.


Mereka bertiga malah menggoda ayu dengan mengatakan ayu tak bisa melihat serbuk Belian, sekali saja melihat langsung terpesona.


Namun, apa yang dikatakan oleh ayu ada benarnya, cowok tadi memang tampan dan juga rupawan, pasti banyak cewek yang terpesona dengannya, Riri senang dia bisa bertemu dengan cowok itu hari ini meskipun dia tak tahu siapa namanya. Sewaktu perkenalan tadi dia juga tak menunjukkan dirinya makanya mereka berempat tak berkenalan dengannya. Disamping itu, mereka juga tidak berkenalan dengan para senior saja, mereka juga berkenalan dengan teman-teman mereka yang lain, baik itu sejurusan dengan mereka maupun dari jurusan lain untuk menambah daftar pertemanan mereka.


Mereka berjanji bahwa mereka berempat akan menjadi sahabat, bagaimana pun dan sebanyak apapun teman kita, hanya sahabat lah yang selalu ada untuk kita, begitulah prinsip mereka.

__ADS_1


Sampai jumpa di episode berikutnya..


Bersambung...


__ADS_2