
Satu minggu berlalu setelah ujian tes tertulis masuk perguruan tinggi, Riri sangat bersemangat sekali untuk melihat pengumuman kelulusannya.
Pagi-Pagi sekali ia sudah bangun dan bergegas mandi, kemudian bersiap-siap untuk berangkat ke kampus, ia tak sabar ingin mengetahui hasilnya. Meskipun deg-degan tapi dia juga penasaran akan hasilnya.
Pukul 06.00 pagi, diluar pun masih gelap. Tidak mungkin Riri ke kampus jam segini. Riri kembali membaringkan tubuhnya di kasur sambil bermain hp dengan posisi terlentang.
"Huft.. padahal udah siap begini" keluh Riri yang tetap menatap layar ponselnya itu
Selagi Riri menatap layar ponselnya, tiba tiba saja ada notifikasi masuk dari WhatsApp nya. Riri sering mendapat notif WA namun kali ini membuat dia terkejut tidak percaya notif dari siapa yang dia terima.
"Assalamualaikum wr.wb Riri" isi notifikasi wa tersebut. Riri tak bisa membuka chat tersebut, dia hanya melihat dari layar notifikasi saja.
"Wahh ini beneran aktif?" pikir Riri dengan hp yang ia letakkan di dadanya dengan mata menhadap ke loteng kamarnya .
"Balas tidak ya?" Riri masih ragu apakah dia harus membalasnya atau justru mengabaikannya.
Riri membuka WA nya dan masih melihat nama orang yang menghubunginya itu seakan benar-benar tak percaya, Riri bingung apa yang harus ia lakukan akan hal itu.
"Ri kamu ambil jurusan pertanian ya?" notifikasi masuk lagi, mungkin karena Riri online tapi tidak membalas dia mengirimi chat lagi.
Riri merasa tidak apa-apa jika hanya saling berbalas pesan chat, riri memutuskan untuk membalasnya saja
"iya bang" balas riri singkat agar dia dikira masih terlihat cuek.
"Wahh cepat sekali readnya" Riri bangun dari baringnya.
"Wahh semoga saja Riri lulus ya" balasnya.
Riri bingung harus mengatakan apa karna dia canggung jika harus berurusan dengan mantan.
Ya.. Orang yang menghubungi Riri itu adalah mantan pacarnya waktu smp, mereka pacaran cuman beberapa bulan.
Riri memang trauma akan urusan percintaan dan masa lalunya tapi bukan dengan orang ini.
Mantan pacarnya ini bernama bagas, dia 2 tahun diatas Riri. Mereka pacaran saat Riri kelas 3 smp yang artinya bagas saat itu sudah kelas 2 SMA. Tidak ada cek cok diantara mereka sampai sekarang bahkan sewaktu itu mereka juga putus secara baik-baik. Hanya saja sedari mereka putus Riri tak pernah mendengar kabar bagas lagi walaupun saling save nomor WA, saling follow-followan sosial media. Riri bahkan tidak tahu sekarang bagas melanjutkan pendidikannya dimana atau malah tidak melanjutkan pendidikan.
Riri mengira nomor WA bagas ini mati karna baga tidak pernah update story bahkan melihat story Riri saja tak pernah.
Itulah yang membuat Riri kaget sebab tiba-tiba saja dia menghubungi Riri lagi.
Riri memilih untuk tidak membalas chat bagas tadi, alasannya bukan dia tidak bisa moveon tetapi dia hanya merasa malas berhubungan dengan masa lalunya, mau siapapun itu. Ia benar-benar sudah trauma dengan cinta-cinta.
Dia tahu kalau bagas mungkin tidak akan memintanya kembali seperti dulu tetapi tetap saja, masa lalu adalah masa lalu. Masa lalu tidak bisa jadi masa depan apapun alasannya.
Saking lamanya melamun akan kebingungan itu, riri sampai tertidur dengan hp masih berada diatas dadanya.
..
"Sayang bangun.." suara ibunya yang berusaha membangunkan Riri yang ketiduran.
"Heii ini udah jam 08.00, kamu gak ke kampus?" ucap ibu sambil membuka jendela kamar Riri.
Riri yang masih setengah sadar melihat ibunya dan belum menyadari kalau dia harus berangkat ke kampus
__ADS_1
"Kamu gak jadi ke kampus?" tanya ibunya lagi.
Riri tersadar setelah melihat jam sudah menunjuk pukul 8 lewat "ahh ibu kenapa gak bangunin akuu.." ucap Riri panik.
Riri melangkah mengambil tasnya dan memasukkan apa yang harus dia bawa hari ini kedalam tas.
"ibu kira kamu gak jadi pergi" ucap ibunya yang merasa bersalah tidak membangunkan anaknya itu.
"mana mungkin bu.. kan hari ini pengumumannya" Riri bergegas turun untuk ke halte bus yang jaraknya lumayan dekat dari rumah Riri, Hari ini Riri tak dianatar ayahnya karna pasti ayahnya sudah berangkat kerja jam segini.
Riri belum mempunyai kendaraannya sendiri, sejak dari SMA dia selalu naik bus ke sekolah dan sekali-kali juga diantar oleh ayahnya, ketika pulang sekolah dia naik taksi atau bus. Riri berasal dari keluarga yang berada, bisa saja jika ayahnya membelikannya sepeda motor tetapi ayahnya tidak mengizinkan Riri menggunakan sepeda motor sebelum ia masuk perkuliahan, itulah mengapa Riri tidak menggunakan kendaraan pribadinya ke sekolah.
Riri sudah pernah belajar mengendarai sepeda motor saat ia kelas 2 SMA dan itu membuat ia mengerti bagaimana cara mengendarai motor, hanya saja sewaktu itu dia tidak mendapat izin ayahnya mengendarai motor ke sekolah.
Ayahnya sudah berjanji padanya jika ia akan dibelikan sepeda motor saat ia sudah masuk perkuliahan, tentunya ia tidak akan repot lagi karna punya motor sendiri..
..
Riri berlari menuju halte bus untuk segera berangkat ke kampus, padahal hari pengumuman itu tidak ada batas waktu kapan pun kita ingin melihatnya, hanya saja riri sangat penasaran akan hasil tesnya makanya ia jadi buru-buru ingin ke kampus.
setiba di halte bus, Riri langsung menaiki bus arah tujuan ke kampusnya. Bus mulai melaju, kampus Riri hanya berkisar 15 menit dari halte bus itu jadi tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk sampai disana.
Tit tit tit
ahh suara klakson bus ini sangat candu sekali ditelinga Riri, dia jadi ingat sewaktu kecil dia rela berdiri di pinggir jalan demi mendengar suara klakson bus. Memang aneh tetapi dengan hal kecil itu saja bisa membuat dirinya bahagia sewaktu itu.
Bus berhenti di depan gerbang utama kampus, Riri segera turun memasuki gerbang utama. Sudah ramai sekali orang di kampus, pasti mereka juga ingin melihat hasil pengumuman itu, dan para senior ini pasti ingin memantau calon-calon maba, pikir Riri saat itu..
Riri melewati parkiran yang sangat luas setelah gerbang utama, kemudian sampai di gerbang kedua pintu masuk sebenarnya kampus yang besar ini.
Setelah 10 menit menunggu akhirnya sedikit dari mereka bubar, Riri punya sedikit luang untuk melihat hasil tes itu.
Riri berjalan menuju mading dan menatap lembar setiap lembar kertas dipapan pengumuman itu berharap namanya ada disana.
Riri mencari dan mencari berulang kali mengecek dari awal kertas, sampai akhirnya dia menemukan namanya lulus disana. Betapa bahagianya Riri setelah melihat hasil pengumuman itu.
Riri melangkah pergi, berjalan menuju taman kampus dan duduk dibangku yang kemarin, ia membuka hp nya dan segera memberikan berita baik ini ke semua keluarganya, termasuk kakaknya yang ada di luar negeri.
Kelurganya mengucapkan selamat atas keberhasilan Riri, mereka mendoakan agar riri sukses untuk selanjutnya.
"Riri.." panggil seseorang sesaat riri sedang fokus dengan hp nya, Riri melihat ke arah asal suara yang memanggilnya itu. Ternyata itu adalah Nadin, seniornya kemarin yang ia temui di pintu gerbang.
Nadin menghampiri Riri dan kembali menyapa, Riri tersenyum bahagia karna nadin masih ingat pada Riri, itu artinya nadin bukannlah salah satu senior yang galak dan sombong seperti yang sering dilihatnya di tv, ada banyak senior sombong dan berlagak sok di kampus-kampus, bahkan ada yang sangat-sangat galak, tapi tampaknya nadin buka termasuk golongan itu.
"Hallo kak nadin" sapa Riri kembali saat nadin sudah tepat berada di depannnya.
"kamu udah liat pengumuman itu?" tanya nadin pada riri sambil duduk di bangku kosong sebelah riri.
"Iya sudah kak, Alhamdulillah aku lulus" Riri meletakkan tangannya didada seolah dia merasa bersyukur karna telah diberi kebahagian hari ini.
"Syukurlah.. berarti Riri udah fiks jadi maba disini, Riri harus semangat ya" Nadin benar-benar tipe senior yang ramah dan selalu memberikan support kepada juniornya. Riri berharap setelah masuk kuliah nanti Nadin tetap menjadi senior yang baik di mata Riri.
Riri mengucapkan terima kasih karna Nadin sudah baik padanya dan membantunya, nadin bahkan menawarkan diri kemarin untuk mengantarkan ia ke ruangan tes, Riri sangat berterima kasih pada nadin.
__ADS_1
Mereka mengobrol banyak hal tentang kampus, Nadin orangnya sangat asik jika diajak ngobrol, Riri pun merasa senang jika mengobrol dengan Nadin.
"Ohya kak.. jadi tuh aku punya abang sepupu namanya Aldo, dia punya cewek disini trus ceweknya itu dijurusan yang sama kayak aku.. Apa kakak tau siapa orangnya? aku lupa menanyakan nama kakak itu, males juga nanya ke bang aldo nanti dikirannya aku terlalu kepo" ucap Riri yang mulai terbuka pada Nadin, riri merasa nadin adalah orang yang tepat sebagai teman sekaligus kakaknya untuk saat ini.
Begitulah jika kita sudah nyaman dengan seseorang, mau orang itu baru kita temui sekalipun, jika kita merasa nyaman kita akan semakin terbuka pada orang itu dan dengan leluasa bercerita tanpa memikirkan bahwa kita baru saja bertemu dengan orang itu.
Dan jika orang itu sudah lama kita kenal sekalipun, tetapi kita tidak merasa nyaman tetap saja kita tidak bisa terbuka dan bercerita masalah kita pada orang itu. Semua itu tergantung kita kalau sudah merasa seseorang menjadi orang yang tepat untuk mendengarkan cerita kita, maka kita pasti akan langsung bercerita tanpa berpikir panjang.
"Maksudmu Dwi?" tanya nadin balik setelah mendengar cerita Riri.
Riri menggelengkan kepala dan mengatakan bahwa dia tidak tahu siapa nama kakak itu.
"Dwi itu temanku, dia juga punya pacar namanya Aldo. Mungkin saja yang kamu maksud itu dia" lanjut nadin menjelaskan "Nanti kalau ketemu aku bakalan kenalin kamu sama dia,oke?"
Riri merespon Nadin dengan tersenyum dan mengangguk menyetujui, dia merasa nadin sudah banyak membantu dirinya.
Selagi mereka asik mengobrol datanglah seseorang yang Riri kenal mendekati mereka berdua. Namun, dari ekspresinya orang itu tampak sedih, apakah dia mendapatkan masalah yang buruk?. Orang itu adalah Hilda, teman yang ia temui di hari tes seminggu yang lalu. Hilda tak terlihat bahagia, pasti terjadi sesuatu.
"Hilda kamu kenapa?" tanya Riri sesaat setelah hilda sampai dihadapan mereka.
"Siapa?" tanya Nadin pada Riri karna baru pertama kali melihat hilda.
"Dia temanku kak, namanya Hilda.. Dan Hilda kenalkan ini kak Nadin senior kita" ujar Riri memperkenalkan masing-masing dari mereka. Nadin dan Hilda bersalaman dan mengucapkan salam kenal.
"Kayaknya kakak tidak akan jadi seniorku deh" ucap Hilda setelah bersalaman dengan Nadin
Nadin dan Riri saling tatap saat hilda berkata begitu, kemudian mereka menatap hilda seakan bertanya apa maksud perkataan Hilda itu. Sebenarnya dalam hati Riri sudah merasa pasti ini ada masalah dengan hasil tes itu, apa jangan-jangan Hilda tidak lulus tes.
"Aku gak lulus Ri" Sambung Hilda. Ternyata dugaan Riri benar bahwa hilda tidak lulus tes itu.
Riri dan Nadin terdiam seolah tak bisa berkata apa-apa, Hal itu karena Hilda terlihat sangat pintar dan ambisius. Jadi, mana mungkin seorang Hilda tidak lulus tes itu.
"Kamu serius?" tanya Riri yang masih kurang yakin dengan apa yang dikatakan Hilda. Hilda mengangguk dan kemudian menangis dihadapan Riri dan Nadin.
Nadin dan Riri yang melihat hilda menangis merasa bahwa apa yang dikatakan Hilda itu adalah serius bukan candaan. Nadin berusaha untuk menenangkan Hilda dan memberikan motivasi padanya, dia juga menjadikan teman-temannya yang gagal tes dulu sebagai motivasi agar hilda tak patah semangat.
Setelah mendapat motivasi dari Nadin akhirnya Hilda cukup merasa tenang, dia mau berbagi cerita pada Nadin dan Riri tentang alasan kenapa dia sampai tidak lulus tes. Ternyata Hilda sendiri sudah merasa bahwa dirinya tidak akan lulus tes.
"Aku sudah yakin kalau aku tidak akan lulus, mungkin dimata orang aku kelihatan pintar dari tampilanku dan kelihatan sangat ambis dari perilaku ku. Tapi sebenarnya itu semua salah, aku tidak pintar. Bahkan jika dibilang aku ambis itu juga salah, aku hanya ingin mencoba memahami apa yang aku lakukan karena aku sangat sulit sekali fokus jika terganggu sedikit saja, lagipula aku punya masalah dengan otakku yang sangat sulit memahami suatu materi pelajaran" ucap Hilda menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
Riri merasa sangat bersalah karna dia sudah menganggap Hilda anak yang terlalu ambisius dan tidak peduli pada sekitarnya. Tapi kenyataannya malah berbeda, Hilda begitu karna dia punya kekurangan dan dia mencoba untuk menutupi kekurangannya dengan menjadi orang yang terlihat berbeda. Namun, dirinya yang berbeda malah membuat orang lain salah paham akan dirinya.
"Itu semua bukan salahmu Hilda, kamu sudah hebat sekali karna sudah mau berusaha. Kamu tidak gagal kok, hanya saja kamu belum menemukan jalan yang tepat. Aku yakin pasti kamu bakal jadi orang yang hebat suatu saat nanti. Masih banyak kok jalan yang bisa dilewati, jadi ayo kita coba lagi!" ujar Nadin memberikan semangat kepada Hilda agar dia tidak pesimis.
Namun Riri, dia hanya diam saja selagi Nadin menyemangati Hilda. Riri masih merasa bersalah pada dirinya sendiri dan Hilda, padahal Hilda juga tidak tahu kalau Riri mengganggapnya anak ambis tapi tetap saja Riri merasa dirinya sudah bersalah.
Setelah Hilda merasa tenang, dia pamit untuk pulang duluan pada Riri dan Nadin. Dia berkata bahwa dia ingin mengistirahatkan dirinya dulu agar tidak stress. Dia pulang dijemput oleh ayahnya.
Sementara Nadin dan Riri tetap berada di taman melanjutkan obrolan mereka, Mereka tetap asik mengobrol tentang banyak hal. Dari situlah Nadin dan Riri pun menjadi dekat.
Karena Keasyikan ngobrol mereka sampai lupa waktu, jam sudah menunjuk hampir pukul 2 siang. Riri yang merasa bahwa dia sudah terlalu lama di kampus berpamitan pada Nadin untuk segera pulang kerumah. Sementara Nadin tetap berada di kampus karena ada sesuatu yang harus ia kerjakan.
Riri sekali lagi berterima kasih pada Nadin, dia berharap kalau nadin bisa membimbingnya nanti di kampus.
__ADS_1
"Sampai ketemu di hari pertama masuk kuliah"
Bersambung..