Tak Pernah Asing

Tak Pernah Asing
LOVE STORY


__ADS_3

Hari ini dikampus mereka tidak ada kelas karena kebetulan dosen yang mengajar sedang ada urusan penting, sementara Ayu di kelas berbeda tetap melakukan perkuliahan.


"Gimana kalau kita ke cafe kampus aja yok" ajak Maya.


"Setuju"


"Kalian duluan saja kalau begitu ya, aku mau ke perpus dulu" ucap riri, kemudian ia berdiri hendak ke perpus.


"Rajin banget ri" sahut Bella yang ikut berdiri.


"Ada buku yang mau kucari, ntar aku susul kalian, kalian duluan saja" suruh Riri lagi.


"Baiklah"


Mereka keluar kelas dan menuju arah yang berbeda, di perjalanan ke perpus Riri menyapa beberapa orang yang ia temui meskipun Riri tak mengenal mereka.


.


**Diperpustakaan**


Riri mulai mencari buku yang ia inginkan di rak demi rak "dimana buku itu ya?" sahut Riri sambil masih mengotak-atik buku-buku disana.


"Nah ini dia" Riri menemukan buku itu, namun saat ia hendak mengambilnya, di sebrang lemari tinggi itu ada juga yg memegang buku tersebut hendak mengambilnya juga.


"Maaf kak, tapi saya yang duluan memegang buku ini" ucap Riri pada orang itu, wajah orang itu tak terlalu terlihat karna tertutup beberapa buku yang berjejer. Riri bukannya tidak mau mengalah, hanya saja dia sudah lama ingin membaca buku tersebut namun tak pernah ada kesempatan dan saat ada kesempatan buku itu malah tinggal satu.


Orang disebrang sana masih menarik buku itu juga, "sekali lagi maaf kak, bisakah saya yang membacanya dulu?" pinta Riri.


"Sebentar" dia melepas tarikan buku itu dan berjalan menghampiri Riri.


Ternyata orang itu adalah cowok yang ia tabrak beberapa hari yang lalu di gerbang dan di cafe kampus, Riri kaget sampai menjatuhkan buku yang dipegangnya.


Cowok itu membantu mengambilkan buku Riri, mukanya bingung melihat Riri yang kaget ketika melihat dirinya seperti baru saja melihat hantu.


"Apa kamu sungguh sangat ingin membaca buku ini?" tanyanya pada Riri, Riri hanya mengangguk dengan wajah masih kebingungan dan canggung.


"Tapi aku juga ingin membacanya" tambahnya.


"Maaf kak.. Tapi bisakah saya yang membacanya dulu, saya sudah menunggu untuk membaca buku ini lama sekali" pinta Riri.


"Baiklah kalau gitu, jika kamu sudah membacanya temui aku dan berikan bukunya" ucapnya setuju memberikan buku itu pada Riri, dia mengulurkan buku itu pada Riri.


"'Love story' kamu suka dengan buku ini?" tanyanya lagi.


"Oh.. Iya kak, aku sudah membacanya sedari SMA" jawab Riri.


"Okay.. Pantas saja kamu sangat excited" Riri hanya tersenyum dengan wajah menunduk ke lantai karena malu.


"Oh ya kenalkan aku Rendy" ucapnya sambil menjulurkan tangannya.


Riri mengangkat wajahnya dan meraih tangan Rendy "aku Arinda Amelia kak, bisa dipanggil Riri"


"Namamu cantik" pujinya.


"Terimakasih kak"


"Btw kamu mahasiswi pertanian juga kan, sepertinya aku sudah beberapa kali bertemu kamu" ucap Rendy, sepertinya Rendy ingat Riri yang menabraknya. Riri hanya mengangguk menjawab pertanyaan rendy.


"Baguslah" tambahnya


"Kalau begitu aku permisi dulu ya ri, selamat membaca" ujarnya sambil melangkah meninggalkan Riri.


"Permisi! tunggu kak!" panggil Riri yang menghentikan langkah Rendy.


"Kenapa?"


"ee.. begini.. jika aku sudah selesai membacanya aku harus mengantarkannya kemana?" tanya Riri polos, Rendy tersenyun mendengar pertanyaan Riri, betapa manisnya senyum itu.


"Disini saja, tetapkan saja hari apa itu dan aku akan datang" saran Rendy.


"Senin?"


"Okay setuju" jawabnya, "ohya Riri hati hati ya, jangan sampai nabrak lagi"


Riri sangat malu karena ia telah menabrak Rendy dua kali, namun Riri pura-pura tak tahu bahkan tak meminta maaf tadi


Riri meninggalkan perpus kemudian segera menuju cafe menemui Maya dan Bella disana.


"Sepertinya kamu kurang lama ri" ledek Maya setelah Riri sampai di hadapan mereka.


"Maaf guys, tadi ada masalah sedikit"


"Masalah apa?" tanya Bella


"Bukan masalah besar, hanya saja tadi buku ini tinggal satu dan ada yg ingin mengambilnya juga. Namun, sudah selesai kok dia setuju aku yg membacanya duluan" jawab Riri menjelaskan.


"Love story? sepertinya aku sudah lama tidak melihat buku itu, kamu sangat menyukainya?" tanya Maya.


"Benar, aku sangat menyukainya. Aku sudah baca beberapa series juga, aku sudah mulai suka buku ini sejak kelas 2 SMA" jelas Riri ceria.


"Kamu terlihat sangat senang dan excited sekarang"


"Btw ri siapa orang yang juga menginginkan buku ini?" tanya Bella penasaran.


"Hm iya siapa? Aneh saja kenapa dia mau mengalah, apa dia cowok?" tambah Maya.


"Iya dia cowok" jawab Riri singkat, membuat mereka berdua tambah penasaran.


"Siapa itu?"


"Kalian ingat cowok yang aku tabrak disini kemarin?, dia cowok yang sama yang ku tabrak di gerbang, dia orangnya" jelas Riri pada mereka.


"Benarkah?" tanya mereka berdua serentak dengan suara agak keras hingga beberapa orang menatap mereka.


"Pelankan suara kalian!"


"Wahhh Daebak.. Apakah itu nyata? Bagaimana bisa? itu seperti takdir" mereka berdua seakan tak percaya bahwa cowok itu adalah orangnya.


"Lalu siapa namanya?" tanya Maya dengan wajah penasaran menatap bola mata Riri.


"Ada apa dengan kalian, kalian membuatku takut" ucap Riri sambil menyadarkan dua temannya yang masih terheran-heran itu, "Namanya Rendy, dia senior kita" jawab Riri.


"Wahhh.. Dia benar-benar tampan kan", "kamu sangat beruntung ri", "pasti dia menyukaimu, mana ada orang mau ngalah seperti itu", "oh tidak, itu karena Riri cantik, mana ada cowok yang tidak mau mengalah" mereka tak henti-hentinya mengomel.


"Eiyy kalian ini selalu saja salah sangka seperti itu, dia hanya menyukai love story juga, hanya itu.."

__ADS_1


"Lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?"


"Aku akan memberikan buku ini padanya setelah selesai membaca" jawab Riri.


.


Setelah selesai makan dan minum mereka bertiga segera pulang, hari ini hanya ada satu mata kuliah jadi mereka bisa pulang lebih awal.


"Hei guys" panggil Ayu.


Mereka menoleh ke arah ayu "masih ada kelas yu?" tanya Riri.


"Iya nih, ada satu kelas lagi.. Apa kalian mau pulang?"


"Sepertinya begitu yu" jawab Maya.


"Hm yasudah sampai ketemu besok ya"


"Oh iya yu tadi kami sempat bincang masalah rencana kita akhir tahun ini" ucap Maya.


"Rencana apa?"


"Gimana kalau kita akhir tahun ini pergi liburan, sesekali aja mumpung Seninnya juga libur" ucap Riri menjelaskan.


"Wah itu ide bagus, tapi mau kemana?"


"Hiking?" saran Bella yang memastikan teman-temannya setuju apa gak.


"Serius? cuman berempat?" tanya Riri ragu kalau mereka bisa pergi hanya berempat.


"Iya nih aku juga ragu kalau kita bisa pergi hiking berempat saja" ucap Maya yang juga ragu.


"Bagaimana kalau kita ajak aja teman kita yang lain, yang cowok ataupun cewek gamasalah, lebih rame lebih seru" saran Bella.


"Boleh tuh" mereka semua setuju.


"Nanti kita coba aja ajak teman yang mau hiking, ohya btw aku bakal ngajak cowokku boleh gak?. Dia pulang akhir tahun ini juga" pinta Ayu.


"Tentu boleh dong yu"


"Okay makasih ya"


"Malau begitu kamu pulang duluan ya yu dahh" ucap mereka.


"Dahhh sampai jumpa"


Mereka bertiga pulang kerumah mereka masing-masing, ditengah perjalanan pulang Riri mampir dulu di supermarket untuk membeli beberapa cemilan, saat di supermarket Riri tak sengaja bertemu dengan Miko.


"Riri" sapa Miko saat berpasan dengan Riri.


"Oh hallo bang" sapa Riri balik.


"Kamu udah pulang kampus?"


"Udah bang, ini mau beli cemilan dulu makanya mampir bentar"


"Riri boleh aku tanya sesuatu?"


"Boleh, mau nanya apa emang bang?"


"ee ituu" Riri ragu mengatakannya.


"Katakan saja ri gapapa" pinta Miko.


"Anu bang, sebenarnya bang Dio itu pernah pacaran sebelumnya dengan Bella, mereka putus juga karna bang Dio bilang kalau dia menyukai cewek lain. Riri ga mau aja kalau Bella beranggapan cewek itu adalah Riri, padahal kan kita ga tau apakah bang Dio ternyata juga menyukai cewek lain selain Riri" ucap Riri menjelaskan.


"Oh ternyata begitu" respon Miko singkat, Riri sampai berfikir kenapa respon Miko hanya begitu seperti dia sudah tau kalau Dio memang pernah pacaran dengan Bella.


"Abang tahu kalau bang Dio pernah pacaran dengan Bella?" tanya Riri memastikan.


"Hm iya tahu, tapi aku ga tau kalau cewek itu adalah Bella. Jadi ceritanya saat masih ospek kalian dulu, Dio bilang kalau dia punya cewek tapi dia juga menyukai cewek lain yaitu kamh, hanya itu" jawab Miko.


"Berarti dia tidak bilang kenapa dia memalsukan identitasnya?" tanya Riri lagi.


"Huh? Dio memalsukan identitasnya? kesiapa?"


"Bang Dio mengenalkan dirinya pada Bella sebagai Alwi, bahkan semua sosmednya bernama Alwi. Aneh kan?.. Padahal semua orang tahu kalau sosmed bang Dio itu namanya Dio" jawab Riri.


Dari ekspresi wajah Miko sepertinya dia juga baru mengetahui hal itu, dia menjadi membisu seperti memikirkan sesuatu.


"Bang Miko" Riri menyadarkan Miko yang melamun.


"Eh maaf ri, aku hanya gak percaya aja kalau ternyata dia memalsukan identitasnya dan sebelumnya pun dia gak bilang apa-apa sama aku" jelas Miko.


"Hm ya udah bang gapapa kita kayaknya gausah bahas itu lagi deh, mungkin saja bang Dio punya alasannya" ucap Riri, Miko mengangguk.


"Kalau begitu Riri mau beli cemilan dulu ya bang, sampai jumpa lagi" sambung Riri sambil berpamitan.


"Oiya silahkan ri, aku juga mau pulang setelah ini, sampai jumpa"


.


Sesampainya dirumah Riri langsung kekamarnya, membaringkan tubuhnya dikasur kemudian mengambil ponselnya.


"Hah ada 9 panggilan tak terjawab?" ucap Riri saat melihat ponselnya, panggilan itu dari nomor yang tak dikenal, nada dering Riri mati makanya dia tidak mendengar kalau ada yang menelpon. Riri menelpon balik nomor itu untuk memastikan siapa yang menelpon, ia takut kalau orang itu ada urusan yang penting dengan riri karna dia menelpon sebanyak 9 kali.


Titt titt titt


"Hallo" suara dari telepon itu


"Hallo, selamat siang"


"Kamu baru mengangkatnya sekarang ri? Baru pulang kuliah?" ucap seseorang dibalik telepon itu, cara bicaranya seperti dia mengenal Riri. Apakah dia orang yang Riri kenal?


Riri berfikir sejenak mengenali suara itu dan mengingat siapa pemilik suara di telepon itu.


"Bang Bagas?" tanya Riri memastikan


"Betul"


"Oh maaf bang Riri kira siapa yang menelpon karena nomornya berbeda" ucap Riri memberikan alasannya.


"Gapapa ri, abang memang sengaja ganti nomor makanya Abang menghubungi Riri dulu" jelas Bagas.


"Oh begitu"

__ADS_1


"Ohya Riri sore ini ada waktu gak?" tanya Bagas.


"Riri free sih bang sore ini, kenapa ya?"


"Bagaimana kalau kita ketempatnya bude? katanya bude rindu ketemu riri" ajak Bagas.


"Ohh benarkah? hm boleh kok, tapi bang Bagas duluan saja ke rumah bude Riri bakal nyusul nanti" jawab Riri.


"Riri gak mau dijemput nih?" tanya Bagas.


"Bukan gitu bang, hanya saja Riri ada sesuatu yang lain dulu yang harus dilakukan" jelas Riri meyakinkan Bagas.


"Okay kalau gitu Riri datang langsung aja ya" ucap Bagas menyetujui.


Okay kita cerita tentang bude sedikit, Bu de itu adalah bibinya Bagas, dia sangat menyayangi Bagas dan Riri karna dia tak memiliki anak, suaminya juga meninggalkannya karena ia tidak bisa hamil, saat mereka masih pacaran Riri sering sekali diajak kesana oleh Bagas, bude juga tinggal sendiri jadi tak masalah bagi bude kalau mereka kesana, Riri itu adalah tipe orang yang suka sekali masak dan sangat ingin belajar, kebetulan bude juga memilki hobi yang sama seperti riri, itulah sebabnya mengapa bude sangat menyayangi Riri. Bahkan saat Riri dan Bagas putus bude berkali-kali menghubungi Riri untuk bertanya alasannya, namun Riri tak bisa mengatakan apa-apa sewaktu itu karna Bagas pergi tanpa alasan


.


"Ri.. ibu dan ayah mau kerumah temannya ayah bentar ya, kamu baik-baik dirumah" ucap ibu pada Riri.


"Iya Bu, tapi Bu.."


"Ada apa?" tanya ibunya penuh kekhawatiran.


"Riri boleh pergi kerumah bude gak sore ini?" tanya Riri meminta izin, bagi Riri apapun yang ia lakukan izin dari orangtuanya adalah suatu hal yang penting bahkan untuk hal kecil sekalipun. Selain itu ibunya juga sudah mengenal siapa bude yang dimaksud Riri itu jadi mereka akan sangat percaya.


"Bareng Bagas?" tanya ibunya


"Iya Bu"


"Kalau begitu kamu hati-hati ya, bawa motornya jangan kebut-kebutan" ucap ibunya mengizinkan Riri.


"Terima kasih Bu"


.


Sorenya Riri berangkat kerumah bude yang tak jauh dari rumahnya, itu sekitar 6 menitan. Di rumah bude Bagas sudah datang terlebih dahulu.


"Assalamualaikum" ucap Riri memberi salam sembari masuk kedalam rumah.


"Waalaikumsalam" jawab bude dan Bagas.


"Oh sayangku" ucap bude yang menghampiri Riri dan memeluk Riri, pelukan bude penuh dengan cinta dan kasih sayang untuk Riri, dekap sekali.


"Bude apa kabar?" tanya Riri.


"Bude baik Alhamdulillah, kamu gimana? gak ada masalah kan?".


"Alhamdulillah ga ada bude, semuanya baik-baik saja"


"udah lama sekali bude ga ketemu kamu, kamu ga tau betapa rindunya bude" ucap bude yang penuh kebahagiaan.


"Riri pun juga rindu sekali dengan bude, rindu masak bareng bude juga"


Bagas melihat Riri dan budenya matanya seperti berkaca-kaca, dalam hatinya penuh dengan penyesalan karna ia telah meninggalkan Riri dulu, andaikan dia tak meninggalkan Riri pastinya mereka sudah sangat dekat untuk sekarang ini. Bagas berjanji pada dirinya kalau dia tak akan mengulangi kesalahan di masa lalunya lagi.


"Riri mau makan apa hari ini" tanya bude.


"Apa yang bude ingin masak aja deh, karna apapun makanannya kalau bude yang memasaknya pasti enak" puji Riri.


"Ah kamu bisa aja, bude jadi malu" bude tersipu malu


"Beginilah kalau bude sudah ketemu Riri, sampai Bagas pun selalu di cuekin" keluh bahas seakan meledek budenya.


"iya dong, karna bude udah bosan ngeliat wajah kamu setiap hari" jawab bude sinis, mereka tertawa mendengar jawaban bude.


.


Mereka berbuncang-bincang tentang banyak hal, bude dan Riri juga tak lupa memasak makanan bersama seperti yang mereka lakukan dulu. Saat hari sudah hampir sore barulah mereka berpamitan pulang pada bude.


Dirumah Riri hanya mengurung dirinya dikamar dan tak ikut makan malam bersama ayah dan ibunya dikarenakan dia sangat lelah hari ini, hingga tak terasa dia pun tertidur sambil melihat layar ponselnya yang masih menyala.


Ibu masuk kamar kemudian melihat Riri yang sudah tertidur dengan hp nya masih menyala, ibu mematikan hp Riri dan juga menyelimuti putrinya itu, betapa sayangnya ibu terhadap Riri. Apalagi Riri adalah satu-satunya putrinya yang ada disini karna kakak Riri yang jarang sekali pulang kampung


.


Besok paginya Riri bangun dan bersiap untuk berangkat ke kampus, hari ini ada kelas pagi jadi Riri harus bergegas. Riri menemui ayah dan ibunya di meja makan untuk sarapan.


"selamat pagi yah Bu" sapa Riri saat sampai dimeja makan


"pagi sayang"


Riri sarapan setelah itu berpamitan pada ayah dan ibunya


**Dikelas**


Bella dan Maya sudah datang duluan, namun mereka hanya saling diam-diaman saja.


"Heyy kenapa kalian hening saja nih?" tanya Riri pada mereka, mereka tetap saja diam dan hanya menatap Riri, Riri yang bingung kembali bertanya lagi "ada apa ya? apa ada masalah?" tanya Riri lagi.


"Engga ada kok ri, duduk saja" jawab Maya, sedangkan Bella masih tetap diam saja.


Selama jam pelajaran Bella tak mengatakan apapun pada mereka berdua, itu seperti telah terjadi sesuatu pada Bella. Bahkan seusai perkuliahan Bella langsung berjalan keluar tanpa bicara sepatah katapun pada Riri dan Maya.


"Ada apa dengan dia? Dia marah pada kita?" tanya Riri pada Maya, Maya hanya diam saja tak menjawab pertanyaan Riri membuat Riri bingung harus berbuat apa.


Riri keluar kelas dan berusaha mengejar Bella untuk menanyakannya langsung "Bella.. Bel" panggil Riri, namun Bella tak menghiraukan panggilan dari Riri.


"Bel.. Tungguu!!" Riri masih mengejar Bella yang disusul oleh Maya.


Bella akhirnya terhenti karena berpapasan dengan Ayu.


"Ada apa bel? Kenapa kamu lari? Dan mengapa kamu gak jawab Riri memanggilmu?" tanya ayu, Bella hanya diam saja tak berkutik.


Riri dan Maya sampai dihadapan mereka berdua


"Bel kamu kenapa? Kamu marah pada kami?" tanya Riri dengan nafas masih terengah-engah.


Bella masih membisu dan menatap Riri tajam, "Atau kamu marah padaku?" tanya Riri lagi sambil mengatur nafasnya.


"Kamu tahu kalau kamu itu sangat brengsek?" ucap Bella tiba-tiba pada Riri, matanya penuh dengan kebencian terhadap Riri dan nada bicaranya juga keras.


"Apa maksudmu? Apa jangan-jangan kamu?..."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2