
Tring tring tring..
Telepon Rumah berbunyi sekitar jam 9 pagi. Siapa yang menelpon ke telepon rumah. Ibu mengangkat telpon itu.
"Hallo Assalamualaikum" Suara dari balik telpon itu, suara yang ibu kenali, itu adalah Aldo. Aldo menelpon karena mencari Riri. Dia menelpon kerumah setelah berkali-kali menelpon ke nomor Riri tetapi tidak dijawab.
"Iya waalaikumsalam.. kenapa Aldo?
"Tante, Ririnya belum bangun ya?" tanya Aldo memastikan dugaaannya.
"Iya masih tidur tu anak, biasa lah dia kalau hari libur bangunnya lama" ujar Ibu Riri menjelaskan.
"Oh yasudah tan, kalau Riri bangun bilangin ya kalau Aldo telpon" Aldo mengucapkan salam kemudian mematikan telponnya.
.
Sementara di kamar Riri, Seorang gadis sedang asik tidur dengan bermacam gaya, siapa lagi kalau bukan Riri. Dia bahkan tak menyadari kalau hp nya sudah jatuh ke lantai. Sinar matahari sudah mulai menyinari sela-sela dinding kamarnya. ibu masuk ke kamar Riri dan membangunkannya, membuka jendela kamar Riri agar udara bisa masuk.
"Sayang bangun, udah jam berapa ini masih tidur aja" ujar ibunya sambil membuka jendela.
Karena tak bangun juga ibu membangunkan riri dengan menarik selimut riri, setelah itulah baru riri bangun dan duduk sejenak.
Huaaa
Gadis malas di hari libur itu menguap, terlihat ia masih sangat mengantuk tapi dia harus memaksakan diri untuk bangun, walaupun hari ini libur tetap saja dia harus melaksanakan rutinitasnya, apalagi dia harus membereskan kamarnya yang sudah lama tidak ia bersihkan.
Ibu menyampaikan pesan dari Aldo yang mencari Riri, kemudian ibu turun untuk mempersiapkan sarapan.
Ada yang menjadi pertanyaan mungkin dari reader, kenapa tidak ada pembantu di rumah Riri, padahal mereka orang kaya? Alasannya karna sebelumnya mereka sudah punya pembantu, sopir ataupun satpam tetapi ada suatu masalah dulu dengan pembantu membuat mereka berhati-hati mencari pembantu lagi.
Masalahnya bukan tentang pembantunya mencuri tapi tentang pembantunya yang hendak meracuni putri mereka yaitu Riri dengan memasukkan obat kedalam makanannya. Tapi sayangnya ketahuan saat itu ibu riri hendak kedapur dan tak sengaja melihat pembantunya memasukkan sesuatu kedalam bekal Riri.
Setelah itulah ibu dan ayah Riri memecat pembantu itu karna pembantunya juga mengaku bahwa dia tidak suka kalau Riri terlalu dimanjakan. Dia punya seorang putri yang sebaya dengan Riri, tapi putrinya bernasib berbeda terlahir dari keluarga miskin, dia bahkan tak bisa memberikan apa-apa untuk putrinya, dia iri melihat Riri yang bernasib baik berbeda dengan putrinya.
Lalu kenapa satpam dan supir juga dipecat?. Satpam ataupun supir tidak dipecat, mereka hanya diberikan waktu oleh keluarga Riri untuk istirahat selama beberapa bulan dengan tujuan agar tak terjadi masalah-masalah lain lagi, mereka akan kembali setelah keluarga Riri menghubungi mereka. Jadi, mereka tidak dipecat, hanya diberi kesempatan untuk tidak berkerja sementara waktu.
Hebatnya dan baiknya keluarga Riri, meskipun satpam dan supir itu tidak bekerja selama beberapa bulan, ayahnya tetap memberikan gaji kepada mereka, keluarga riri tahu kalau mereka tak bekerja disini mereka pasti menganggur tak dapat apa-apa, maka dari itu keluarga riri memutuskan untuk tetap menggaji mereka tiap bulan.
Untuk pembantu, ibu Riri sendiri masih belum mau untuk mencarinya, dia bertekad untuk melakukan semua pekerjaan rumah sendiri untuk sementara waktu sampai benar-benar ada orang baik yang tak bermaksud jahat yang akan menjadi pembantu rumah tangganya. Salah satu alasannya tidak melukai putri-putrinya. Begitulah kasih sayang ibu.
.
Setelah melamun beberapa menit, Riri mencari hp nya yang entah kemana dan menemukannya di bawah lantai.
Selanjutnya Riri melihat ada 24 panggilan tak terjawab, sebegitu niat kah Aldo menghubungi Riri, apakah ada hal penting yang ingin ia sampaikan, pikir Riri.
Riri menelpon kembali Aldo untuk menanyakan maksudnya.
Tit tit tit..
Tersambung, tapi aldo tak mengangkatnya. Riri menelpon lagi sampai aldo mengangkat telponnya hingga akhirnya aldo mengangkatnya.
"Ya hallo kenapa?" suara Aldo dari telpon itu
"Apanya yang kenapa? seharusnya aku yg nanya kamu menelponku tadi kenapa?" tanya Riri sedikit emosi karna Aldo bukannya bilang maksudnya menelpon pagi tadi malah nanya kenapa riri yang telpon.
"Hahaha" Aldo tertawa mendengar Riri yang emosi.
"Kok malah ketawa sih ahh" ucap riri kesal.
__ADS_1
"lu baru bangun ya dek?" tanya Aldo yang masih menahan tawa. Riri tak menjawab pertanyaan Aldo, malahan dia mengancam jika akan mematikan telponnya kalau Aldo tak kunjung mengatakan apa maksudnya menghubungi Riri pagi-pagi sekali.
"Iya deh maaf- maaf"
"Jadi gini dek, malam ini ada acara loh di taman budaya, mau ikut gak? banyak banget loh wahana-wahana disana. Kamu pasti kangen kan bermain wahana semasa kecil itu?" ucap Aldo mengajak Riri ke taman budaya, atau lebih tepatnya menawarkan riri untuk ikut
Tentu saja Riri sangat merindukan wahana masa kecil itu, begitu banyak kenangan yang ia lewati.
"Jam berapa emang mau pergi?" tanya riri pada Aldo. Aldo tak menjawab pertanyaan Riri tapi malah balik bertanya apakah Riri mau ikut atau tidak. Riri langsung saja mengiyakan ajakan Aldo tersebut.
"Nah jadi kita perginya jam 8 aja, lu siap-siap aja ntar gue jemput kerumah" Ujar Aldo menjelaskan rencananya. Riri menyetujuinya dan menyuruh Aldo yang meminta izin pada ayah dan ibunya untuk keluar karna memang Riri tidak boleh keluar malem-malem kecuali bersama orang rumah.
Aldo menyetujui itu dan akan berbicara pada orangtua Riri. Lagian gue ini kan abng lu, pasti diizin lah. Begitulah jawab Aldo dengan ketus.
"Oh ya emang cuman berdua?" tanya Riri lagi yang merasa pasti ini bukan cuma berdua.
"astaga gue lupa bilang.. Gak cuman berdua kok, nanti ada pacar gue juga. Tapi lu tenang aja lu gak bakal dikacangin karna gue bakal bawa seseorang, cowok loh" lanjut aldo menjelaskan.
Riri bingung dengan Aldo yang mengatakan ada seorang yang lain juga ikut dengan mereka, siapa itu?.
"Siapa sih? jangan aneh-aneh ya" tanya Riri dengan nada ngegas.
"Ahh nanti lu juga bakal tahu, pokoknya lo siap-siap ya nanti gue jemput" Ucap Aldo yang kemudian memutuskan sambungan telponnya. Dia bahkan tak mengucapkan salam dan langsung mematikan telponnya.
Setelah Aldo menutup telponnya, Riri turun dari kasurnya hendak melakukan aktifitas pagi. Pertama-tama ia turun untuk sarapan pagi, tentunya sarapan sendiri saja karna ayahnya sudah berangkat kerja dan ibunya sudah sarapan dahulu bersama ayahnya.
"Bu.. bang aldo ngajak aku ke taman budaya malam ini" Ujar Riri memberikan informasi sekaligus minta izin dahulu pada ibunya yang sedang menemaninya sarapan.
Ibu menatap riri sejenak lalu tersenyum. Riri tak mengerti mengapa ibunya tak menjawab pernyataan dari Riri. Riri merasa kalau ibunya tak mengizinkan riri pergi.
Riri merupakan anak bungsu yang penurut, dia tidak akan pergi jika tak mendapatkan izin dari kedua orangtuanya. Padahal dia sudah remaja tapi tetap saja dia merasa izin dari orang tuanya jauh lebih penting.
Riri melahap sarapannya tanpa memperdulikan apakah dia diizinkan ikut atau tidak. Setelah riri selesai makan dia duduk bersadar sejenak di kursi meja makan. Rencananya setelah ini ia akan membereskan kamarnya serta merapikan baju-bajunya.
Riri mulai beres-beres dari membersihkan tempat tidur, meja belajar, menyapu, mengepel lantai dan lainya. setelah beberapa menit kemudian selesai juga kamarnya dibersihkan.
Riri berbaring ditempat tidur sejenak melepas penat usai membereskan kamar, lalu ia melihat ponselnya dengan posisi tubuh masih telentang menghadap loteng kamar.
Ia teringat WhatsApp dari bagas kemaren yang belum dia balas juga, ia merasa tidak enak karena tidak membalas pesan itu, dia tidak mau apabila nanti bagas berfikir kalau Riri adalah gadis yang sombong karna mengabaikan chat darinya.
Akhirnya setelah berfikir panjang Riri memutuskan untuk membalas chat dari bagas tersebut.
"maaf bang, Riri kemarin ikut tes tertulis jadi lupa membalas chat" balas Riri memulainya dengan minta maaf.
"Ahh dia gak di read padahal centang dua, pasti dia kesal karna aku cuek padanya" pikir riri sembari masih melihat layar poselnya itu menunggu jawaban dari bagas.
tak selang waktu lama, centang dua tadi berubah menjadi centang biru, itu artinya bagas sudah melihat pesan dari Riri.
Saat itu juga bagas terlihat sedang mengetik balasan dari chat Riri tadi, Riri seperti tak sabar ingin melihat balasan dari bagas.
"Iya gapapa Riri, gimana hasilnya? apakah baik?" balas bagas sekaligus bertanya tentang hasil tes Riri.
Betapa senangnya riri saat bagas membalas chat Riri seolah bagas care pada Riri, Riri menjadi salting sendiri akan hal itu. Sejenak riri pun terdiam..
"Aku ini kenapa? dia itu kan masalalu"
"Enggak Riri.. kamu gak boleh seperti ini, dia itu masa lalu dan akan tetap jadi masa lalu, okee?" ujar Riri pada dirinya sendiri karena terlalu excited ketika menerima chat dari bagas yang merupakan mantan pacarnya itu.
Riri menarik nafas dalam kemudian membalas chat dari bagas tadi dengan tenang.
__ADS_1
"Alhamdulillah riri lulus bang" jawab riri membalas chat bagas. sembari itu riri tetap menenangkan dirinya sendiri agar tak terlalu excited.
Bagas begitu cepat membaca chat dari Riri, tapi kali ini dia tidak mengetik balasan dari chat itu. Riri masih memandangi ponselnya menunggu balasan dari bagas. Akan tetapi..
treng treng trengg (suara handphone)
"Astaga kenapa dia malah menelpon?" ternyata bagas malah menelpon Riri yang membuat Riri menjadi panik, jika dia tidak mengangkatnya maka dia akan dikira sombong karna dia sewaktu itu sedang online. Tapi jika dia mengangkatnya dia bingung harus bicara apa terlebih lagi dia sudah lama sekali tidak berkomunikasi dengan Bagas.
Akhirnya Riri memutuskan untuk mengangkatnya saja, ia tak peduli apa yang akan dia bicarakan nanti, dia yakin Bagas pasti bisa mengawali pembicaraan sehingga tidak akan canggung nantinya.
"Hallo assalamualaikum" ucap Riiri memulai obrolan.
"Waalaikumsalam wr.wb" Bagas menjawab salam dari Riri.
"Selamat ya Riri akhirnya kamu lulus juga di pertanian, sesuai dengan yang kamu inginkan sejak dulu kan" Bagas mengawali obrolannya dengan mengucapkan selamat untuk kelulusan Riri, tetapi ada yang membuat Riri bingung karna Bagas tahu kalau jurusan pertanian itu adalah yang Riri inginkan sejak dulu padahal Riri tidak mengatakan apa-apa kepada Bagas bahkan mereka saja baru berkomunikasi lagi kemaren, lalu bagaimana bagas tahu?
Riri memilih untuk diam saja akan hal itu tanpa menanyakan pada Bagas darimana ia tahu itu adalah impian Riri sejak dulu.
"Iya bang terimakasih" Riri terlihat sangat canggung saat mengobrol dengan Bagas meskipun itu hanya di telepon.
"Oh iya udah lama ya kita ga ketemu ri, Riri gak mau apa ketemu sama abang lagi?" tanya Bagas, Riri merasa sangat canggung saat Bagas menanyakan pertanyaan itu seolah-olah ia ingin mengulang kembali cerita dulu.
Riri hanya tertawa kecil-kecil mendengar pertanyaan Bagas, Bagas yang tahu Riri terlihat canggung langsung mengawali obrolan lagi.
"Aku cuma bercanda kok ri, kamu sekarang jadi pendiam atau gimana ni?" tanya Bagas lagi untuk mencairkan suasana yang tegang dan mengcekam itu.
"Enggak kok bang, sebenarnya Riri bingung aja karna kita udah lama gak komunikasi" jelas Riri pada Bagas.
"Iya, sebenarnya aku cuma mau tau kabar kamu aja karna udah lama kan gak ketemu, jangankan ketemu komunikasi aja baru kali ini" ucap Bagas.
Bagas ternyata masih tetap orang yang sama karna dia selalu bisa mencairkan suasana dan selalu ada sesuatu yang bisa ia katakan. Berbeda dengan Riri yang pendiam dan canggung setiap kali berbicara dengan orang, terlebih lagi kalau dia lelaki, entah mengapa Riri seperti itu.
Walaupun ia tak punya rasa terhadap orang itu tetap saja dia merasa grori bila harus berbicara. Tetapi jika sudah kenal dekat, Riri malah menjadi orang yang tak tahu malu.
Dengan Bagas kan udah kenal? iya hanya saja Riri baru komunikasi kembali dengan Bagas, maka dari itu membuat dirinya bingung sekaligus kaget tak percaya.
"Kabar Riri baik kok" jawab Riri yang masih belum nyaman dengan obrolan mereka.
"Riri tidak bertanya gimana abang kah?" goda Bagas ke Riri karna Riri seperti orang yang baru saja berkenalan dengan Bagas.
"Oh iya.. Bang Bagas sekarang kuliah dimana?" tanya Riri pada Bagas.
"Aku cuti, kemarin kuliah jurusan teknik tapi keluar karena ada masalah" jelas Bagas.
"Masalah kenapa? tanya riri lagi, sepertinya riri sudah mulai tidak canggung untuk mengobrol dan begitu pun dengan Bagas yang terlihat senang karna Riri sudah mulai nyaman berbicara dengan dirinya.
"Masalah dengan kawan sekelas aja, masalah kecil kok cuman hanya tidak bisa dipertahankan saja" jelas Bagas lagi meyakinkan Riri bahwa itu bukan masalah besar.
"Nanti kalau ada waktu kita bertemu aku akan ceritakan kronologinya, kalau diceritakan sekarang gak akan cukup ini waktu, bisa sampai membangun rumah tangga ni kita" sambung Bagas sambil memberikan candaannya, Bagas memang tak banyak berubah, ia masih saja suka bercanda dan membuat orang lain tertawa.
Riri tertawa seperti orang yang sedang kasmaran dan merespon Bagas "iyalah bang, doakan aja ya kita bisa bertemu.. Mana tahu bertemunya di pelaminan" balas Riri lagi atas godaan dari bagas tadi, Riri sudah mulai terbiasa dan tidak canggung lagi berbicara dengan Bagas..
Mereka berdua saling bercanda gurau di telpon seperti dulu,bmemang dulu Riri terkenal sebagai pelawak juga di SMP nya makanya mereka dulu dikenal dengan sebutan pasangan humoris karna jarang sekali bertengkar, selalu saja bercanda ria..
Riri dan Bagas sebenarnya tidak satu SMP dulu. Namun, banyak yang mengenal Bagas di sekolah Riri sebab Bagas merupakan tipikal orang yang ramah, juga termasuk populer pada saat itu, jadi banyak yang mengenal Bagas. Terlebih lagi Bagas pacaran dengan Riri membuat teman-teman Riri memberikan julukan Riri dan Bagas sebagai pasangan yang sefrekuenzi dan humoris.
Tak terasa sudah 30 menit mereka mengobrol di telpon, akhirnya riri menutup telpon itu dan mengatakan kalau dia ingin membantu ibunya sebentar. Bagas mengiyakan dan berharap mereka bisa tetap berkomunikasi, Riri mengucapkan salam dan menutup telponnya.
Riri berfikir jika hanya berkomunikasi itu tidak akan membuat mereka jatuh cinta kembali bukan?, lagipula Riri sudah benar-benar melupakan Bagas, dia tidak mau cepat membuka hati buat siapapun lagi.
__ADS_1
Riri merasa lega karna telah membalas chat Bagas yang tertunda kemarin dengan itu Bagas tidak akan berfikir kalau Riri ini sombong ataupun membenci Bagas, lagipula memang Riri tidak ingin memiliki musuh dalam hidupnya makanya tidak ada alasan untuk dirinya membenci Bagas.
Bersambung..