
Riri kaget melihat orang yang diajak oleh Aldo seakan tak percaya. itu Bagas? bagaimana bisa orang yang dimaksud Aldo itu bagas. Bagas mendekat dan menyapa mereka semua.
"Udah lama gas?" tanya Aldo sesaat setelah Bagas tiba dihadapan mereka, "gak kok bang, Bru nyampe juga nih" jawab Bagas.
Sementara Riri tak tahu harus mengatakan apa, dia merasa benar-benar canggung.
Bagas menatap Riri "hallo Riri, engga nyangka ternyata kamu ikut juga" ucap Bagas pada Riri seolah sedang menggoda Riri. Riri hanya mengangguk tersenyum karna dia benar-benar canggung menghadapi Bagas.
Bagas sendiri merupakan adik tingkat Aldo dulu semasa SMP dan mereka baru dekat setelah membuat komunitas geng motor yang dipimpin oleh Aldo sewaktu Bagas baru memasuki SMA, sebenarnya geng motor itu sudah lama terbentuk hanya Bagas saja yang baru bergabung saat dia SMA. Begitulah yang Aldo jelaskan pada Riri bagaimana mereka berdua bisa saling kenal.
"Gas kenalin ini cewek gue Dwi" Aldo mengenalkan ceweknya pada Bagas, Bagas dan Dwi saling berjabat tangan untuk berkenalan.
"Riri dan Bagas sudah saling kenal ya?" tanya Dwi karna ia baru tahu Riri dan Bagas sudah saling kenal, "iya kak, bang Bagas dulu teman dekat Riri" jawab Riri sambil malu menatap Bagas, Bagas tahu Riri sedang berbohong, dia tidak berani mengatakan kalau sebenarnya Bagas itu adalah mantan pacarnya dulu.
"Oh begitu, sekarang gak dekat lagi ya?" tanya Dwi lagi seperti sedang meledek mereka berdua. mereka berdua seperti malu-malu dengan pertanyaan Dwi, begitupun Aldo yang tertawa dengan perkataan dari Dwi tersebut.
"Iya sayang, mereka terlihat canggung kan" sambung Aldo yang ikut meledek mereka.
"Bukan begitu kak, Bagas dan Riri emang sudah lama tidak komunikasi makanya jadi canggung begini" ucap Bagas untuk meyakinkan. Mereka tertawa dan mengiyakan pernyataan Bagas
.
Setelah berbincang-bincang diparkiran, mereka berjalan masuk menuju wahana. Saat sampai dipos satpam, Aldo mengatakan kalau mereka harus berpisah disana, Aldo mengatakan kalau ia mau menghabiskan waktu berdua bersama ceweknya dan menyuruh Bagas untuk bersama Riri, Riri merasa Aldo sengaja melakukan itu agar Riri dan Bagas bisa bersama tapi itu akan membuat Riri sangat canggung apalagi hanya berdua dengan Bagas. Bagas mengiyakan perkataan dari Aldo, termasuk Riri yang tak berani menolak apa yang dikatakan Aldo itu. Akhirnya mereka berpisah disana dan menuju tujuan mereka masing-masing.
"Riri, kamu mau main wahana apa?" tanya Bagas memulai pembicaraan.
"Riri gak suka naik wahana bang" jawab Riri dengan wajah menunduk karna masih malu menatap Bagas.
"Ya sudah kalau gitu Riri mau makan apa?" tanya Bagas lagi. Riri hanya diam dan kemudian berani menatap Bagas, Bagas heran kenapa Riri menatapnya seperti itu setelah ia menanyakan hal tersebut.
"Ada apa ri?" tanya Bagas heran. Riri tersadar dari diamnya dan mengatakan kalau saat ini dia tidak ingin makan apa-apa. Alasannya karena dia sudah makan dirumah sebelum pergi. Mendengar itu Bagas jadi bingung akan mengajak Riri kemana lagi, kemudian Bagas teringat akan sirkus. Sirkus hanya menonton saja jadi mereka tidak perlu untuk mengikuti wahana-wahana.
"Bagaimana kalau kita melihat sirkus badut?" tanya Bagas mengajak Riri. Hal itu kembali membuat Riri kaget dan menatap Bagas lagi, Bagas merasa kalau dia sudah salah bicara lagi pada Riri sehingga ia langsung mengatakan "kalau Riri tidak mau gapapa kita bisa melakukan hal yang lain" ucap Bagas untuk mencairkan suasana yang tegang dan mencekam itu.
"Riri mau kok" jawab Riri yang langsung memalingkan wajahnya dari Bagas. Bagas tersenyum karna Riri tidak menolak ajakannya, tanpa Bagas tahu kalau sebenarnya Riri punya trauma masa lalu di sirkus badut, tapi Riri tidak mau memberitahu Bagas yang sebenarnya karena takut Bagas kecewa, lagipula Riri sudah dua kali menolak ajakan Bagas.
Mereka melangkah menuju gedung tempat sirkus tersebut, kemudian membeli tiket dan masuk. Mereka duduk dikursi tengah untuk menonton sirkus, saat sirkus dimulai Riri menelan ludah, Bagas menyadari itu dan menatap Riri tanpa sepengetahuan Riri.
"Ada apa dengan Riri" tanya Bagas dalam hati, dia heran kenapa Riri begitu takut pada wahana-wahana ini.
Badut keluar dengan atraksi-atraksi mereka, Riri melihat badut itu melakukan atraksi membuat dia mengingat kejadian masa lalu, hingga akhirnya badut itu meminta 2 anak kecil untuk mengikuti atraksi mereka, hal itu persis seperti yang terjadi 15 tahun yang lalu.
Riri seketika berteriak "jangan lakukan itu!" teriakan Riri seperti dia melihat kejadian 15 tahun yang lalu akan terjadi lagi. Semua mata tertuju pada Riri, Bagas melihat Riri berteriak menjadi heran kenapa Riri melakukan itu padahal itu cuman atraksi biasa dan aman-aman saja.
"Ada apa Riri? kamu gapapa?" tanya Bagas dan berusaha menenangkan Riri yang kelihatan panik.
Riri menatap Bagas dan kemudian menangis, dia berlari keluar tanpa menghiraukan orang disekelilingnya yang memperhatikannya. Bagas juga ikut mengejar Riri keluar.
"Riri" teriak Bagas memanggil Riri yang berlari sambil menangis. Namun, Riri tak kunjung berhenti, Bagas terus mengejar Riri dan akhirnya Riri berhenti di salah satu taman disana, dia duduk di kursi dan masih menangis. Bagas datang menghampiri Riri untuk menenangkannya.
"Ada apa ri, apa ada masalah?" tanya Bagas yang masih heran dengan apa yang terjadi pada Riri. Riri masih menangis dan tak menjawab pertanyaan Bagas, Bagas duduk dikursi samping Riri "kalau kamu takut melihat sirkus kita bisa menyaksikan wahana yang lain" ucap Bagas, tapi ucapan Bagas itu ternyata malah membuat Riri kesal dan mengatakan kalau dia tidak suka wahana apapun, "kenapa kamu gak mengerti juga kalau aku gak suka melakukan itu" bentak Riri.
__ADS_1
Namun, saat sudah membentak Bagas Riri malah merasa bersalah kemudian mengatakan kalau ia takut. Bagas memeluk Riri untuk menenangkannya, Riri masih menangis dipelukan Bagas.
.
Setelah ia sedikit tenang Bagas kembali bertanya apa yang terjadi padanya, berharap Riri mau memberitahunya yang sebenarnya. tanpa disangka ternyata Riri mau menceritakan kejadian 15 tahun yang lalu itu pada Bagas, Bagas yang mendengar pun kaget dan ia mengerti kalau ternyata Riri masih dengan traumanya itu, tapi mengapa dia mau ikut ke wahana ini jika benar dia trauma akan kejadian 15 tahun lalu.
"Aku pikir trauma itu sudah hilang, ternyata dia masih ada. Aku sangat takut kalau itu terjadi lagi" jelas Riri pada bagas.
Bagas berusaha menenangkan Riri dengan mengatakan kalau Riri tidak apa-apa, trauma itu akan segera hilang dan ia menyuruh Riri untuk tidak memaksakan dirinya sendiri.
Bagas berdiri dan pergi membeli minuman untuk mereka berdua, mereka duduk ditaman itu sambil menatap langit dan melihat kembang api yang melintas dilangit. Riri sudah tenang sekarang dan sudah mulai bercanda gurau lagi dengan Bagas. Bagas yang melihat Riri sudah tenang menjadi lega.
"Riri.. kamu tahu gak kalau aku begitu merindukanmu?" ucap Bagas tiba tiba, Riri kaget dengan pernyataan Bagas itu. suasana mulai berubah menjadi mencekam. Riri hanya terdiam.
"Jujur saja aku gak mau meninggalkanmu waktu itu, itu adalah kesalahan terbesarku. Kenapa waktu itu pikiranku belum dewasa?" sambung Bagas.
"Saat itu aku meninggalkanmu dan memilih cewek yang menurutku jauh lebih baik, padahal sebenarnya yang lebih baik itu adalah kamu, betapa bodohnya aku ketika itu karna terlalu sulit untuk melupakan masa laluku" Bagas masih tetap berbicara menjelaskan kesalahannya dulu, sementara Riri masih diam tak tahu harus berkata apa.
"Kalau sekarang kamu mau gak jadi teman baikku lagi?" tanya Bagas, Bagas tidak mengajak Riri pacaran lgi namun mengajak Riri untuk menjadi teman baiknya.
"huh?" Riri kaget dan langsung menatap kearah Bagas.
"Sulitkan jika harus memulai percintaan dari awal lagi, namun tidak sulit memulai pertemanan lagi" ujar Bagas sambil tersenyum melihat Riri, dalam hati Bagas sebenarnya ia masih sangat mencintai Riri namun dia takut jika dia memulai lagi. Jika endingnya tetap sama hubungan mereka akan menjadi renggang, maka dari itu Bagas memilih agar mereka berteman saja, dengan berteman mereka juga bisa menjadi dekat.
"Mengapa kamu dan mengapa aku?" tanya Riri pada Bagas dengan mata berkaca kaca
"Karna itu kita" jawab Bagas seolah-olah tak ada yang terjadi dulu.
"Ri.. mereka semua gak salah, itu adalah takdir. Kamu dipertemukan dengan seseorang dan kemudian dipisahkan.. Bukankah kamu bisa jadikan itu sebuah pengalaman?" Bagas berusaha untuk menenangkan Riri untuk kedua kalinya.
"Emang kamu tahu apa?" tanya Riri yang sudah mulai emosi dengan keadaannya sendiri.
"Itu karena Fajri?" pertanyaan Bagas itu sontak membuat Riri kaget kemudian spontan menatap dalam Bagas
"Kali ini siapa yang memberitahumu?" Riri merasa Bagas sudah kelewatan, dia mencari tahu semua tentang Riri termasuk dimana Riri akan melanjutkan pendidikan yang sebelumnya tidak pernah Riri beritahu padanya.
"Bukankah itu sudah kelewatan?, kamu mencari tahu semua tentangku, kenapa?. Aku bahkan tidak memberitahumu siapa orangnya, kemudian juga kamu tahu dimana aku akan kuliah padahal aku tak pernah memberitahumu, kita saja baru memulai komunikasi lagi dan bagaimana itu bisa terjadi?, ada apa denganmu?" Riri mengungkapkan semua isi hatinya dengan penuh amarah.
Bagas hanya diam dan menunduk, ia berusaha untuk tidak larut dalam emosi karna dia tahu kali ini adalah salahnya, tapi itu bukan berarti dia terobsesi dengan riri.
Pada akhirnya Bagas berani menjelaskan yang sebenarnya pada Riri bagaimana dia mengetahui semuanya "kamu benar, itu memang sebuah kesalahan, tapi aku tidak sebahaya itu ri. Memang benar kita baru saja komunikasi namun sebelumnya aku sudah bertanya pada seseorang tentang kamu" jelas Bagas untuk meyakinkan Riri, Riri membisu..
"Aldo.. dia adalah orang yang memberitahuku kamu akan kuliah di pertanian, itulah makanya aku jadi tahu" Riri memandangi Bagas dan melihat matanya, tampaknya Bagas berkata jujur.
"Dan untuk orang yang menyakitimu itu, bagaimana aku tahu? seseorang juga memberitahuku dan itu bukan kemaren atau satu tahun yang lalu.. Kejadiannya sudah semenjak kamu disakiti olehnya".
"Lalu kenapa tiba-tiba orang itu memberitahumu?" tanya Riri ragu dengan penjelasan Bagas.
"Karna hari kamu disakiti olehnya itu adalah hari dimana aku sudah menyesal atas kesalahanku juga. Jadi, artinya aku memberitahu orang itu kalau aku menyesal dan dia kemudian menjelaskan bahwa kamu sudah disakiti oleh Fajri, Fajri meninggalkanmu" jelas Bagas lagi dan langsung direspon spontan oleh Riri "Dia tidak meninggalkanku, hanya saja kami tidak bisa terus bersama" sanggah Riri.
"Bagus, bahkan saat seperti ini pun kamu masih saja membela dia" ucap Bagas yang tidak mengerti mengapa Riri sangat mencintai Fajri.
__ADS_1
"Dan apa kamu tahu, jika ada orang yang harus kamu ingat maka itu seharusnya aku, karna apa? karna aku tidak menyakitimu seperti itu ri.. Aku memang meninggalkanmu, bahkan saat itu aku tidak menjelaskan apa alasannya. Sekarang aku akan menjelaskan padamu kalau aku terpaksa melakukannya" Bagas seperti sudah terlarut dalam emosinya, ia menjelaskan semua pada Riri dengan mata sudah mulai berkaca-kaca.
"Terpaksa? kamu gak sadar bagaimana aku saat itu? walaupun aku menerima kamu pergi begitu saja tapi dalam hatiku aku gak rela dan Fajri dia datang menyembuhkan lukaku itu karna kamu, dia juga menjadi obat untukku" Riri juga sudah larut dalam emosinya, mereka berdua seperti akan mengungkapkan segalanya malam ini.
"Cukup tentang Fajri cukup, kamu gak tahu apa yang sebenarnya terjadi.. Aku memang terpaksa meninggalkanmu karna ada yang menyuruhku untuk meninggalkanmu, kamu tahu siapa? dia adalah Latifa" Riri kaget mendengar pernyataan Bagas yang menyebut Latifa lah yang menyebabkan semua ini.
Latifa sendiri adalah sabahat dekat Riri semasa SMP, dia juga berteman dekat dengan fajri.
"Gak mungkin.. Kenapa kamu berusaha untuk menuduh Latifa disini?" Riri menyangkal.
"Aku tahu kamu gak akan percaya, asal kamu tahu aja dia mengatakan bahwa kamu lah yang bersalah disini.. Dia mengirimiku fotomu bersama Rio" kali ini penjelasan Bagas benar benar membuat Riri kaget seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi karna Rio itu adalah pacarnya Latifa sewaktu itu, mereka memang pernah foto bertiga sewaktu ulang tahun Rio, kemungkinan foto itu dipotong oleh Latifa.
"Kamu pasti bertanya-tanya kenapa aku hanya diam dan pergi begitu saja? itu karena Latifa yang memintaku, dia mengatakan bahwa kamu sekarang sudah bahagia, dia juga mengatakan bahwa dia tak akan berhubungan denganmu lagi karena kamu merebut Rio darinya, tapi beberapa bulan kemudian aku melihat kamu bersama Latifa lagi, betapa hancurnya hatiku karna tahu kalau Latifa berbohong atas semua itu, aku sangat ingin memberitahumu semuanya tapi saat itu aku sedang menjaga hati seseorang. Jadi, aku memilih untuk diam sampai hari ini datang, hari ini adalah harinya" sambung Bagas. Sementara Riri masih tidak bisa percaya dengan kenyataan yang ia terima.
"Kamu tahu dia menyukai fajri lalu kenapa kamu pacaran dengan Fajri?" tanya Bagas setelah ia selesai menjelaskan semuanya.
"Itu karena Latifa memintaku. Saat dia masih pacaran dengan Rio, dia memintaku untuk melupakanmu dan mengatakan kalau aku harus memulai dari awal, dia juga mengatakan bahwa itu bukanlah kesalahanmu, karna dia tahu kamu adalah orang yang baik dan pasti punya alasan untuk itu, kemudian dia mendekatkan Fajri padaku, setelah aku dan Fajri berpacaran kami berempat sering sekali untuk jalan bareng" jawab Riri.
Bagas akhirnya mengerti ternyata itu adalah taktik dari Latifa, jika pacarannya Riri dengan Fajri dia bisa terus dekat dengan Fajri juga tanpa harus putus dengan Rio. Riri yang mengetahui hal itu benar-benar tak percaya akan kenyataan. Ternyata sahabatnya sendiri lah yang berusaha untuk menghancurkannya. Namun, anehnya saat itu dia tidak bisa menangis seperti tadi lagi, malah dia hanya terdiam membisu.
"Lalu kenapa kamu putus dengan Fajri?" tanya Bagas
"Di hari ulangtahunku Fajri tidak melakukan apapun, maksudku bukan berarti aku ingin dia membelikan sesuatu, memberikan surprise atau hal spesial lainnya. Aku tak menginginkan itu, aku hanya ingin dihari ulangtahunku Fajri terus bersamaku. Namun, dia beralasan kalau dia belum ada waktu untuk itu. Aku juga sudah memakluminya saat itu, sampai akhirnya aku mengetahui kalau dihari itu dia pergi dengan Latifa berdua" Riri berusaha menjelaskan dengan tenang agar dia tidak menangis lagi.
"Bahkan saat ketahuan pun aku masih berfikir positif tentang dia, mungkin saja dia akan memberikan sesuatu padaku dan meminta bantuan Latifa karna Latifa adalah sahabatku. Namun, ternyata aku salah, mereka benar-benar pergi berdua karna mereka ingin" sambung Riri.
"Bagaimana dengan Rio?"
"Rio pun sama, dia tak melakukan apapun selain mengakhiri hubungannya dengan Latifa, tapi yang anehnya Fajri dan Latifa tidak pacaran juga saat itu. Entah apa yang terjadi pada mereka berdua, aku tak pernah bertanya apapun tentang itu pada Latifa" jelas Riri.
"Dan itu yang kamu sebut obat bagi lukamu?. Ri, dia yang menjadi obat tidak akan pernah menjadi luka, begitu juga sebaliknya. Jika kamu merasa terobati dengan dia lalu mengapa kamu juga merasa tersakiti? Jangan bodoh jika itu masalah cinta, kamu berharga. Jadi, jangan hanya karena Fajri kamu jadi mati rasa seperti ini" ucap Bagas yang menasehati Riri seperti dia menasehati adiknya sendiri.
"Aku mengatakan ini karna aku sayang padamu, masa depanmu masih panjang ri. Kemudian tentang Latifa, kamu sungguh begitu baik dengan memaafkannya dan tetap berteman dengannya, tak masalah dengan itu. Mungkin kamu menganggap itu adalah hal yang benar. Namun, bagaimana dengan Fajri? Kamu masih membelanya setelah apa yang dia lakukan padamu?. Aku memang mencintaimu ri tapi bukan berarti aku ingin memilikimu, kalau kamu ingin aku bisa membuat Fajri terluka dalam satu hari saja karna dia telah melukaimu, kamu sudah seperti adikku sendiri sekarang" sambung Bagas.
"Aku tidak memintamu untuk memukulnya bang" Riri khawatir Bagas akan melakukan hal yang tidak-tidak pada Fajri.
"Kata siapa aku akan memukulnya, terluka itu banyak macamnya ri, bahkan hal seperti itu saja kamu belum sepenuhnya tahu bagaimana bisa kamu ingin memulai sebuah percintaan?".
Riri terdiam dan menyadari apa yang dikatakan Bagas itu benar, Riri memang bodoh jika itu sudah menyangkut cinta dan kebodohannya itu akhirnya membuat dia menjadi mati rasa hingga tak ingin memulai hubungan percintaan lagi.
Riri menatap Bagas seolah berterima kasih atas apa yang telah Bagas lakukan untuknya, dia tahu Bagas memang lelaki yang baik, dia hanya dihasut oleh seseorang saat itu dan ditambah lagi sewaktu itu pikiran mereka masih sama-sama belum dewasa.
Mereka berbincang-bincang malam itu tanpa disadari malam sudah larut, Riri harus segera pulang karena besok pagi dia sudah mulai kuliah hari pertamanya yaitu perkenalan kampus.
Namun, dikarenakan Aldo dan Dwi masih asyik bermain berdua disana, Aldo meminta Bagas yang mengantar Riri pulang, Riri pun juga tak bisa menolak karna jika bukan Bagas siapa lagi yang akan mengantarkannya pulang.
Setelah berpamitan pada Aldo dan Dwi, Bagas dan Riri menuju mobilnya Bagas, mereka segera berangkat menuju rumah Riri. Selama perjalanan mereka masih biasa berbincang seperti halnya mereka dulu, tak ada rasa canggung lagi. Tapi, Bagas mengatakan sesuatu yang membuat suasana kembali diam, bahkan setelah sampai dirumah riri pun mereka tak bicara apa-apa selain terima kasih dari Riri pada Bagas sebab telah mengantarnya pulang.
lalu apa yang dikatakan Bagas itu?
Bersambung..
__ADS_1