Tak Pernah Asing

Tak Pernah Asing
Apakah ini Awal?


__ADS_3

Hari ini adalah hari Senin, mereka tidak ada kuliah pagi hari ini. Namun, Riri tetap harus ke kampus karna janjinya pada Rendy bahwa dia akan memberikan buku 'love story' pada Rendy.


Pukul 09.00, Riri menunggu Rendy datang di perpustakaan sambil membaca buku yang lain disana.


Hingga jam menunjuk pukul 9.30 lewat tapi Rendy tak kunjung datang juga, Riri sempat berfikir dia akan meletakkan saja buku itu di raknya kembali, tapi dia juga takut jika orang lain akan mengambilnya dan Rendy tak akan punya kesempatan untuk membacanya.


Akhirnya Riri memilih untuk tetap menunggu, karena bosan Riri mendengarkan musik dengan earphonenya tanpa disadarinya seseorang memanggilnya dari samping.


"Permisi! Riri!!" ternyata itu adalah Rendy yang baru saja datang, Riri yang mendengar sekilas seperti ada yang memanggilnya menoleh "Oh bang Rendy sudah datang" Riri segera melepas earphone kemudian tersenyum ramah menyapa Rendy.


"Kamu sudah menunggu lama?" tanya Rendy.


"Engga kok bang, lagipula aku juga sedang membaca buku yang lain" jawab Riri.


"Buku apa itu?"


"Buku tentang English comunication"


"Kamu sangat tertarik dengan English language?"


"Iya bang sedikit"


"Lalu apakah kamu sudah selesai membaca 'love story'?" tanya Rendy lagi.


"Sudah bang, ini bukunya" jawab Riri sambil mengulurkan buku itu, Rendy mengambil buku itu. Rendy tak langsung pergi dia duduk dibangku sebelah Riri dan mulai membuka buku itu untuk membacanya.


"Apa dia akan membacanya disini?" pikir Riri, ini akan membuat Riri sangat canggung dengan Rendy.


"Ohya ri kamu sebelumnya dari SMA mana?" tanya Rendy, tatapannya masih kearah buku.


"SMA Garuda bang" jawab Riri.


"itu bagus, jarang yang bisa masuk kesana. Itu SMA elite kan"


"Gak juga kok bang, menurutku semua SMA itu elite deh" Riri berusaha untuk merendah, Rendy hanya mengangguk-angguk.


"Kenapa dia cuman mengangguk? apa yang harus aku katakan lagi" pikir Riri dalam hatinya.


"Kamu punya pacar?" tanya Rendy tiba-tiba, pertanyaan itu sontak membuat Riri kaget dan menoleh kearah Rendy.


"Apa?"


"Kenapa kamu sekaget itu? aku hanya bertanya apakah kamu punya pacar?" Rendy mengulang pertanyaannya lagi sambil tersenyum melihat tingkah Riri.


"Gak bang" jawab Riri singkat.


"Cobalah untuk memulai lagi ri, kamu gak akan sembuh jika terus berada dititik yang sama, bergeraklah!!" ucap Rendy, ucapan Rendy itu membuat Riri bingung sebenarnya kemana arah pembicaraan Rendy ini.


"ee ituu.." Riri bingung harus mengatakan apa


"Ini" Rendy menunjukkan kertas kecil yang terselip didalam buku 'love story' itu, ternyata itu adalah kertas semalam. Jadi, ceritanya malam tadi Riri iseng saja menulis isi hatinya, dia tak sadar telah meletakkannya disela buku itu. Itulah sebabnya Rendy bertanya seperti itu pada Riri, Riri sudah salah sangka kalau Rendy akan mengajaknya berkencan.


"Ah sungguh memalukan" keluh Riri dalam hatinya


"Maaf bang, aku gak sengaja meletakkannya disana, lagipula itu cuman kata-kata iseng aja kok" ucap Riri mencoba beralasan.


"Hm begitu ya" respon Rendy kemudian kembali membaca bukunya.


"Apa yang kamu suka dari buku love story?" tanya Rendy.


"Kutipannya dan cara penulis ingin menyampaikan isi hatinya, ada salah satu kalimat mengatakan kalau 'jika kamu disuruh memilih antara sahabat dan cinta, apa yang akan kamu pilih?, seharusnya kamu memilih cintamu', tapi aku tidak setuju dengan isi kutipan itu".


"Kenapa?"


"Bukankah cinta sering sekali berkhianat? cinta itu kadang membuat luka" ucap Riri.


"Tapi bukankah kita bisa mengartikannya berbeda?" sanggah Rendy.


"Bagaimana maksudnya?"


"Begini.. Cinta dan sahabat, bukankah kita dapat menyatukan mereka?, mungkin maksud penulis dia ingin menyampaikan jika seseorang memiliki sahabat lawan jenis namun dia mulai menyukai sahabatnya itu, dia jadi bingung apakah dia harus memilih antara tetap menjadi sahabat atau malah cinta. Kata dari kalimat tadi 'seharusnya kamu memilih cintamu', artinya jika kamu memilih cintamu kamu bisa juga menjadi sahabat nantinya, kamu bisa bersahabat dengannya meskipun kalian bercinta. Kalau kamu pilih sahabat kamu tak akan bisa jadi cinta karena bisa saja salah satu diantara kalian akan mendapatkan cinta yang lain diluar sana suatu hari nanti, tentunya kalian tidak bisa terus bersama terlebih lagi pabila kekasih kalian melarang kalian masih bersahabat" ucap Rendy menjelaskan.


"Ohh.. Berarti bang Rendy beranggapan begitu, cinta dan sahabat itu bukan hanya tentang pertemanan dan percintaan ya tapi kita bisa menyatukan keduanya itu" Riri mengerti dengan pendapat Rendy.


"Betul sekali.. Lalu apa kamu tahu tentang kutipan 'cinta tak harus memiliki'?" tanya Rendy.


"Hm iya aku sering membacanya di love story" jawab Riri.


"Sebagian besar setuju kan dengan kalimat itu, namun aku tidak" jelas Rendy.


"Kenapa? Bukankah itu kalimat yang benar?" tanya Riri penasaran dengan pendapat Rendy yang selalu berbeda dengan orang lain.


"Jika cinta tak harus memiliki lalu kenapa kita memulai cinta? seharusnya kita harus memilikinya, bagaimana bisa seseorang mengatakan bahwa mereka bahagia pabila melihat kekasihnya bahagia meskipun bukan dengan dirinya, itu sebuah kebohongan, mereka sudah menipu diri mereka sendiri. Pasti rasa sakit itu ada, jika kekasihnya mendapatkan cinta pada yang lain apa mungkinkah dia akan menunggu? kalau dia menunggu berarti sama saja dia tak mengindahkan 'cinta tak harus memiliki ini' karena sama saja dia masih mengharapkan kekasihnya itu. Jadi, intinya semua itu bohong. Saat seseorang ditinggalkan kemungkinan besar mereka akan mencari orang baru dan perlahan melupakan kekasihnya, bagaimana itu masih bisa disebut cinta kalau dia juga sama seperti itu?" ucap Rendy mengutarakan pendapatnya.


"Ah maaf sepertinya kamu bingung dengan maksudku" tambah Rendy saat melihat muka Riri yang terlihat bingung dengan penjelasannya.


"Bukan begitu bang, hanya saja aku dalam pendapat yang berbeda" sanggah Ririm


"Itu bukan tentang cara dia melupakan kekasihnya lalu menemukan kekasih lain, tapi menurutku itu tentang bagaimana dia bisa ikhlas. Dia memang mengatakan kalau dia tak harus memiliki orang itu jika dia mencintainya, itu seperti dia memberikan kekasihnya memilih pilihannya sendiri, jika pilihan kekasihnya itu adalah pergi maka dia harus siap merelakan karna dia mencintai kekasihnya.. Jadi, itu bukan perihal melupakan tapi merelakan" penjelasan Riri membuat Rendy seakan terpukau, dia tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, entah itu respon setuju atau kagum, tidak ada yang tahu.


"Itu bagus ri.. Artinya dengan love story ini kita bisa mengutarakan pendapat kita masing-masing kan, meskipun kadang pendapatnya berbeda namun itu bukan masalah, yang terpenting kita sudah dapat intinya" tambah Rendy.


"Iya bang, terimakasih ya sudah mau berbagi cerita hari ini" ucap Riri berterima kasih.


Riri merasa sangat senang sekali hari ini karna ada yang bisa dia ajak bercerita tentang love story. Sebelumnya dia belum pernah menemui orang yang benar-benar menyukai love story, mereka kebanyakan hanya sekedar tahu saja tapi tak membacanya.


"its okay" jawab Rendy.


Sejenak mereka berdua jadi hening dan fokus pada buku mereka masing-masing, hingga Riri ingin berpamitan pulang pada Rendy karena jam sudah menunjuk pukul 11.30, tak terasa waktu berjalan begitu cepat.


"Eh udah hampir Zuhur, sepertinya Riri harus pamit pulang dulu deh bang" ucap Riri sambil membereskan barang-barangnya


"Sudah mau pulang?" tanya Rendy.


"Iya bang, Riri harus mengerjakan sesuatu yang lain juga", jawab Riri.


"Hari ini kamu free? gak ada kuliah kah?" tanya Rendy lagi.


"Pagi ini kosong, siang ini sepertinya kosong juga deh, dosen yang mengajar katanya sedang ada rapat".


"Hm begitu ya"


"Lalu Abang ga ada kuliah kah?" tanya Riri balik.

__ADS_1


"Aku sekarang sedang mengajukan tesis" jawab Rendy.


"Really? Artinya Abang mahasiswa akhir ya?"


"Iya begitulah"


"Kalau begitu fighting ya bang, sukses!!" ucap Riri menyemangati Rendy. Rendy menatap Riri dengan penuh ketulusan saat Riri menyemangatinya, Riri tak menyadari hal itu terus merapikan barang-barangnya.


"Iya makasih, btw kalau tidak sibuk mainlah kelantai atas, disana banyak kakak tingkat yang lain mungkin kamu bisa mendapat pengetahuan baru jika bergaul dengan orang yang telah sudah, Riri bisa mengajak teman Riri juga" tawar Rendy.


"Bolehkah?" tanya Riri senang mendengar tawaran rendy.


"Tentu saja boleh"


"Baiklah, nanti jika Riri ingin kesana Riri akan menghubungi bang Rendy dulu ya"


"okay kalau begitu catat nomormu disini!" ucap Rendy sambil memberikan hpnya.


"Oh.. Okay" Riri mencatat nomor ponselnya di hp Rendy kemudian Rendy menghubungi nomor itu agar Riri juga bisa mendapatkan nomor Rendy, mereka sudah berbagi nomor hp sekarang.


"Thank you" ucap Rendy setelah memberikan nomornya


"Iya bang" Riri tak tahu dia harus berekspresi seperti apa, apakah dia harus senang atau malah kaget karena orang setampan Rendy meminta nomor hpnyam


"Ga jadi pulang?" tanya Rendy saat melihat Riri hanya diam membisu.


"Oh iya jadi lupa, sampai jumpa bang" ucap Riri mengambil barangnya kemudian pergi meninggalkan perpustakaan, Rendy tersenyum melihat tingkah Riri yang menggemaskan, Riri seperti anak polos yang berperilaku apa adanya tanpa dibuat-buat.


Setelah keluar dari perpustakaan Riri bertemu dengan Ayu didekat pintu toilet. Ayu baru saja keluar dari toilet wanita itu.


"Ada kuliah yu?" tanya Riri saat berpapasan dengan Ayu.


"Iya nih ri, hari ini jadwalnya padat" jawab Ayu sambil merapikan bajunya.


"Kamu udah mau pulang?" tanyanya balik pada Riri


"Iya baru mau pulang nih"


"Bukunya udah kamu kasih?" tanya Riri lagi.


"Udah barusan" jawab Riri


Mereka berjalan berdua menuju kelas Ayu, sebenarnya Riri bisa lebih cepat dengan berjalan menuju pintu samping tanpa melewati kelas Ayu. Namun, Riri tak enak dengan Ayu makanya dia memilih untuk berjalan bersama Ayu saja


"Ohya.. Btw kamu diberitahu juga kan oleh Maya tentang kemaren itu?" tanya Ayu.


"Iya yu, sebaiknya kita tidak membahas itu lagi. Kasian Maya dia pasti sangat tidak enak pada Bella, aku juga kasian dengan Bella karena dia harus menanggung akibat kedengkian Miko pada Dio" saran Riri.


"Kamu benar, lagipula Bella itu orangnya cepat emosi dan tersinggung. Dia terkadang juga egois, aku sudah mengenalnya selama 3 tahun, dia akan marah jika seseorang berbuat kesalahan padanya. Namun, dia bisa juga tiba-tiba jadi pengiba, tentu saja dia sudah diajari mandiri oleh ayahnya sejak ibunya meninggal" ucap Ayu menjelaskan karakter bella.


"Aku pikir Bella baik deh, untuk masalah emosi kadang kita pun punya sifat itu, semua orang punya amarah. Hanya saja Bella tidak bisa mengontrol amarahnya ketika menghadapi masalah" Sambung Riri.


"Setuju"


Akhirnya mereka sampai didepan kelas Ayu, dosennya sudah masuk kelas jadi Riri tak bisa berbicara banyak pada ayu.


"Kamu mau aku tunggu gak?" tanya Riri menawarkan diri.


"Gak usah ri.. Kamu duluan saja" jawab ayu.


"Gapapa ri"


Karena ayu tidak mau ditunggu, akhirnya Riri berpamitan pada ayu untuk pulang duluan, dia juga menyuruh Ayu untuk mengabarinya bila sudah sampai dirumah nanti.


Ayu menuju parkiran untuk mengambil motornya, tanpa diduga diparkiran dia melihat Dio. Namun Dio tak sendirian, dia seperti bersama seseorang, itu adalah cewek.


"Siapa cewek yang bersama Dio?" pikir Riri saat melihat Dio dari kejauhan, Riri segera bersembunyi agar tidak ketahuan Dio, wajah cewek itu tak terlalu terlihat karena dia membelakangi Riri, mereka mengobrol seperti orang pacaran.


"Apakah mereka pacaran?" pikir Riri lagi


Kemudian berikutnya yang terjadi mereka berdua berpelukan membuat Riri kaget, kenapa mereka berani berpelukan disini, ada lumayan banyak orang juga disini. Saat cewek itu menoleh kebelakang untuk pergi dari parkiran itu, alangkah kagetnya Riri ternyata cewek itu adalah..


"Bella?" Riri kaget tak berkutik.


Bella pergi meninggal Dio diparkiran entah hendak menuju kemana. Riri yang melihat Bella pergi kearah yang berlawanan dengan Dio akhirnya memilih untuk menemui Dio saja diparkiran dan bertanya pada Dio langsung.


"Bang Dio" sapa Riri.


"Eh Riri, sudah lama ga ketemu ya" sapa Dio balik.


"Udah mau pulang bang?" tanya Riri untuk berbasa-basi dahulu.


"Iya udah mau pulang, Riri juga mau pulang?" tanya Dio balik, Riri mengangguk.


"Bang mau ngobrol sebentar gak? kita bisa mengobrol di cafe?" ajak Riri santai, Riri tak risau kalau Dio akan menolak ajakannya itu.


"Ada sesuatu yang mau kamu katakan?" tanya Dio.


"Iya bang, rasanya tak enak jika harus mengobrol disini" jawab Riri.


"Baiklah kalau gitu ayo kita ngobrol dan minum di cafe" Dio menyetujui ajakan Riri.


Mereka berdua berjalan menuju cafe kampus yang agak lumayan jauh dari parkiran itu, kampus mereka sangat besar maka dari itulah perjalanan terasa sangat jauh.


Di cafe mereka berdua memesan minum dan segera duduk dikursi yang agak ujung dekat jendela.


"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Dio.


"Kenapa buru-buru sekali? apakah Abang ada sesuatu yang harus dikejar setelah ini?"


"Ahh engga lah, aku penasaran aja kamu mau ngomong apa, sebelumnya kan kita gak pernah saling ngobrol seperti ini" jelas Dio, mereka berdua memang sedari SMA tak pernah saling bicara meskipun mereka satu sekolah. Hanya hari ini pertama kalinya mereka mengobrol berdua begini.


"Benar juga ya, padahal dulu kita satu sekolah tapi kenapa kita tak pernah mengobrol" sambung Ririm


"Karena dulu kita gak dekat, kmu gak mau sih dekat denganku dulu" ucap Dio menggoda Riri.


"Iya sayang sekali ya" mereka tertawa, mereka tahu kalau apa yang mereka ucapkan itu bukanlah hal yang serius tapi hanya untuk mencairkan suasana saja agar tak terlalu tegang.


"Bang Dio sekarang punya pacar?" tanya Riri.


"Kenapa? kamu mau jadi pacarku?" bukannya menjawab serius pertanyaan Riri, Dio malah bercanda dan menggoda Riri lagi. Namun, Riri tak mau bercanda karena ia mau bertanya serius dengan Dio kali ini.


"ee.. mungkin jawabannya setelah Abang menjawab pertanyaanku" sanggah Riri.

__ADS_1


"Baiklah, sekarang I'm single" jawab Dio serius.


"Really?"


"Ya, aku sedang tidak dengan siapa-siapa" jawab Dio lagi meyakinkan Riri.


"Hm lalu bagaimana perasaan Abang dengan Bella sekarang?" tanya Riri lagi, Dio terdiam menatap Riri lalu kembali bertanya pada Riri "apa kamu mengenal Bella?" Dio sebelumnya belum mengetahui kalau Riri mengenal Bella karna identitas hubungan mereka dulu tidak diketahui siapapun kecuali geng Dio saja, itu yang membuat Dio kaget kalau Riri mengetahui tentang Bella.


"Iya aku kenal" jawab Riri santai lalu meminum minumannya, Riri tak tegang sedikitpun berbicara seperti itu pada Dio


"bagaimana kamu kenal dia?" tanya Dio khawatir Riri mengenal Bella sewaktu SMA.


"Itu bukan yang terpenting, yang penting Abang jawab dulu pertanyaanku" sanggah Riri.


"itu penting bagiku" ucap Dio dengan suara agak meninggi.


"Abang marah padaku?" tanya Riri saat Dio berbicara keras padanya, Dio menghela nafasnya kemudian dia kembali tenang.


"Kamu tahu soal hubungan kami dulu?" tanya Dio lagi


"tentu" jawab Riri singkat.


"Tolong ri, aku serius sekarang. Tolong katakan bagaimana kamu bisa tahu semua itu?" pinta Dio.


Riri tak menjawab pertanyaan Dio tapi ia malah mengatakan hal yang lain "apa kamu tidak curiga aku yang menyebarkan berita hoax tentang kalian berdua dulu?" ucap Riri masih dengan santainya, mendengar pernyataan Riri itu membuat dio kesal.


"Jangan menguji kesabaranku" ucap Rendy, wajahnya sudah memerah menahan emosi, dia seperti mau melampiaskan emosinya pada Riri saat itu.


Riri memalingkan wajahnya dari dio "Aku curiga kalau sebenarnya Abang sudah mengetahui semua itu"


Dio tak menjawabnya dan masih tetap menatap Riri penuh amarah "Abang tahu kan kalau Miko yang melakukan semua itu?" tanya Riri memastikan.


"Lalu kamu ingin aku melakukan apa jika aku tahu?" balas Dio yang sudah mulai kesal dengan Riri.


"Kenapa aku peduli kamu mau melakukan apa? lagipula kesal denganku juga tak ada gunanya kok, Bella adalah temanku sekarang, kami dekat. Dia belum mengetahui kebenaran ini, perlukah aku mengatakan padanya?".


"Jangan.." ucap Rendy seperti takut Riri akan mengatakan pada Bella.


"Wahh.. kamu terlalu khawatir bang, kenapa? Bukankah Miko juga sudah jahat padamu?" tanya Riri memojokkan Dio.


"Ini masalahku dengan Miko, jangan libatkan Bella dalam hal ini. Aku ga mau dia kenapa kenapa" jawab Dio tenang.


"Soswet sekali.. Kamu ternyata sangat mencintai Bella ya" ucap Riri meledek Dio, Dio tak bergumam saat Riri meledeknya begitu.


"ohya bang, sebelumnya aku minta maaf karna mungkin caraku bicara membuat Abang kesal. Sekarang aku serius, aku mau tau apa alasan bang Dio memalsukan identitas Abang?" tanya Riri serius.


Dio menatap mata Riri seakan percaya Riri serius dengan pertanyaannya itu "itu karena.. Karena aku punya tunangan" jawab Dio, namun jawaban Dio itu bisa membuat bahkan seisi dunia kaget(lebay). Mata Riri melotot seperti orang yang benar-benar kaget.


"Tidak ada yang tahu ini kecuali keluargaku, bahkan gengku saja tidak tahu, karena sebelumnya bella dari kota lain jadi dia benar-benar baru mengenalku. Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk memalsukan identitasku dan pacaran dengan Bella, Ayu juga tidak tahu siapa aku" jelas Dio yang sudah mulai serius dari cara bicaranya.


"Lalu kenapa kamu pacaran dengan Bella kalau kamu sudah punya tunangan?" tanya Riri.


"Ceritanya panjang, itu terjadi saat aku kelas 1 SMA, ayahku dan direktur perusahaan terkenal bekerja sama, putrinya bernama Veni sedang menderita sakit parah, dia ingin segera menikahkan putrinya sebelum kematian putrinya itu, aku bahkan tak pernah bertemu dengan dia sekali pun, tiba-tiba saja kami diundang dan diumumkan kami akan bertunangan kemudian menikah setelah lulus SMA. Aku saja belum lulus waktu itu tapi sudah dikatakan akan menikah, ayahku juga menjanjikan saham padaku dan aku akan dijadikan pewaris perusahaan jadi aku tak perlu bekerja keras mencari pekerjaan" ucap Dio menjelaskan


"Karena aku tidak menyukai Veni, aku berusaha agar pertunangan itu dibatalkan, aku selalu jutek padanya tapi Veni selalu sabar menghadapiku, sampai akhirnya saat aku kelas 2 SMA aku bertemu dengan Bella di bus waktu itu, dia memang cantik. Namun, tujuanku hanya untuk membuat batal pertunangan kami yaitu dengan kehadiran Bella, aku tak menyukainya saat itu, aku memalsukan identitasku padanya sebagai Alwi agar tidak ada yang tahu kalau aku punya pacar, citraku sebagai seorang yang disukai semua cewek disekolah bisa saja hancur" ternyata benar kalau Dio takut citranya hancur karena memiliki pacar.


"Bella berbeda, dia berhasil membuatku jatuh cinta padanya hingga pada hari ospek itu aku bertemu denganmu ri.." Dio berhenti menjelaskan seakan ragu untuk mengatakan itu.


"Ada apa?"


"ee.. tidak.. aku bertemu denganmu dan aku punya rencana mendekatimu karena kamu adalah anak direktur perusahaan terkenal, aku ingin kamu yang membuat pertunangan kami batal yaitu dengan meminta ayahmu bergabung bersama perusahaan ayahku. Aku tidak benar-benar menyukaimu ri.. Aku ketahuan oleh gengku saat aku sedang melihat sosial mediamu, saat itulah aku berbohong kalau aku menyukaimu, aku benar benar minta maaf untuk itu ri. Seharusnya aku tidak melibatkanmu dalam masalahku" semua terungkap lagi seakan diretakkan perlahan-lahan.


"Aku pikir aku tahu akan hal itu, aku sadar kalau dulu aku gak mungkin lebih cantik dari Bella, aku pun tak masalah akan hal itu kok. Tapi aku penasaran kenapa bang Dio juga berbohong sewaktu ospek kemaren? Kenapa bang Dio bilang kalau dulu Abang menyukaiku?" tanya Riri, perasaannya hampir tenang lalu menjadi gundah dibuat Dio. Entah Kenapa dia sedih dengan pernyataan dari Dio.


"Itu karena aku pikir kamu cantik, kamu menjadi sangat cantik sehingga aku hanya spontanitas saja mengatakan itu setelah melihatmu" jawab Dio, jawaban Dio sangat tidak masuk akal.


"Itu tidak masuk akal, tapi sudahlah.. Untuk yang tadi kalian putus karna apa?" Riri mencoba tidak membahas tentang dirinya lagi.


"Aku ketahuan oleh Bella, Bella berpikir aku menyukai seseorang, orang anonim mengirimkan dia pesan dan mengatakan hal buruk tentangku, Bella mempercayai semua itu. Tentu saja aku kesal karena dia lebih mempercayai pesan anonim itu daripada aku dan akhirnya aku mengatakan omong kosong kalau semua itu benar bahkan bodohnya aku, aku meminta hubungan kami berakhir" jelas Dio sambil memegang dahinya pertanda ia sangat menyesal.


"Apa yang terjadi pada kamu dan tunanganmu setelah lulus?"


"Aku dan Bella lost contact, sementara aku dan Veni sudah disiapkan untuk menikah. Namun, sebelum hari pernikahan sesuatu terjadi, Veni meninggal. Karena kematian putri mereka yang mendadak itu ayahnya membatalkan semua kontrak kerja dengan ayahnku, bahkan mereka menyalahkan kami atas kematian putrinya, titik paling akhir yang mereka lakukan yaitu menyebarkan berita bohong kalau aku telah menghamili Veni, mereka juga mendapatkan kemenangan di pengadilan atas kasus itu, hingga perusahaan ayahku pun menjadi bangkrut setelahnya" Riri sudah mendengarkan dari Maya sebelumnya tentang kebangkrutan ayah Dio disebabkan karena Dio menghamili anak orang, tapi ternyata semua itu tidak benar.


"Bagaimana bisa aku menghamilinya? aku saja tak pernah bertemu dengannya, bahkan aku baru mengenalnya. Sayang sekali mereka punya lebih banyak relasi sehingga memenangkan kasus" ucap Dio, wajahnya penuh dengan kesedihan, ternyata Dio tidak menghamili siapapun karena frustasi putus dengan Bella.


"Aku diizinkan kuliah dengan dana yang masih tersisa pada ayahku, hingga akhirnya aku kuliah sekarang setelah cuti satu tahun setelah lulus" tambah Dio.


Riri hari ini menjadi pendengar yang baik bagi Dio, untuk semua cerita dirinya yang ia ceritakan pada Riri membuat Riri sangat tersanjung atas kesabaran Dio dan keluarganya.


"Maaf bang.. Sepertinya aku sudah bertanya sejauh ini, apa kamu tidak papa?" tanya Riri khawatir keadaan Dio.


"Gapapa ri, aku menceritakannya padamu karna aku pikir kamu orang yang sama sepertiku, kamu orang yang tidak mau ditindas dan tegas. Namun, terkadang harus cukup sabar menghadapi kenyataan yang telah terjadi".


"Iya bang.. Mungkin saja dibalik semua itu ada hikmah yang di didapat, aku selalu percaya mereka yang jahat pada kita akan mendapatkan balasan yang setimpal".


"Makasih ri sudah mau mendengarkan ceritaku hari ini!" ucap Dio tulus, matanya berkaca-kaca.


"Tidak masalah bang"


"Aku sudah mengatakan hal ini juga pada Bella" ucap Dio memberikan informasi.


"Apa?"


"Aku menjelaskan padanya secara detail seperti yang aku jelaskan padamu, bedanya hanya saja aku tidak mengatakan orang anonim itu adalah Miko" jelas Dio.


"Apa jangan-jangan kalian berpelukan tadi diparkiran artinya kalian sudah balikan?" tanya Riri tentang apa yang dilihatnya tadi.


"ee kamu melihatnya?"


"Siapa yang tidak melihatnya?, kamu memeluknya didepan banyak orang disana, apa kalian pikir kalian sedang berada di hutan?" jawab Riri kesal dengan pertanyaan Dio.


"ee ee maaf ri.. Aku dan Bella memang sudah pacaran lagi" jawab Dio.


"Apa? Sejak kapan?" Riri bertanya begitu karena kemaren saja dia baru saja ribut dengan Bella, bagaimana bisa sekarang mereka malah balikan.


"Aku minta maaf ri karna tidak memberitahumu sebelumnya, Bella melarangku untuk memberitahu semua orang, Bella juga tak mengatakan bahwa kamu adalah temannya padaku. Jadi, kupikir kalian tak saling kenal karna saat menyebut namamu saja saat aku bercerita Bella tidak bilang kalau kalian berteman" jelas Dio sambil meminta maaf.


Mungkin saja Bella juga tidak mau melibatkan Riri dalam masalah mereka. Itulah sebabnya dia pura-pura tidak mengenal Riri.


"Kami sudah pacaran sejak malam tadi" jawab Dio.


Bagaimana bisa mereka balikan secepat itu, hanya dalam hitungan jam, hanya dalam satu malam. Bahkan setelah balikan mereka sudah berani berpelukan didepan umum seperti itu, Riri dibuat seakan tak percaya..

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2