Tak Pernah Asing

Tak Pernah Asing
Atau Malah Akhir?


__ADS_3

Ini adalah akhir Minggu, Riri berencana hanya akan berbaring saja dikasurnya hari ini.


Tring tring tring (suara telpon).. Itu adalah telpon dari Rendy, ada apa Rendy menelpon Riri sepagi ini


"Hallo Assalamualaikum" suara Rendy dari telpon mengucap salam.


"Waalaikumsalam" jawab Riri.


"Kamu sedang apa ri? baru bangun?" tanya Rendy mengenali suara Riri yang baru bangun tidur .


"Iya bang aku baru bangun"


"Hmm.. Kamu suka jogging?" tanya Rendy.


"Apa?" padahal riri mendengar apa yang ditanyakan oleh Rendy, hanya saja Riri merasa heran dengan pertanyaan rendy yang tiba-tiba itu, "Apakah orang ini emang to the point gitu?" pikir Riri.


"Aku sedang jogging sekarang, ayo jogging bareng!" ajak Rendy.


Sekarang pukul 6.20, biasanya dihari libur Riri tidak pernah keluar rumah sebelum jam 12.00, bagi Riri pagi libur itu adalah momen untuk tetap dirumah. Namun, sekarang Rendy mengajaknya jogging, dia bingung harus bagaimana.


"Sekarang bang?" tanya Riri, pertanyaan Riri itu tampak konyol


"Tentu saja sekarang ri, emang kamu maunya siang nanti saat cuaca terik?" jawab Rendy sambil tertawa.


"Ohh okay" Riri masih kebingungan harus menerimanya atau malah menolaknya karena riri tak pernah pergi joging sebelumnya, jika menolaknya Riri merasa tak enak dengan Rendy.


"Berarti kamu mau kan?" tanya Rendy memastikan jawaban Riri.


"Eh iya bang, bang Rendy share loc saja nanti, setelah siap-siap Riri susul" jawab Riri yang akhirnya menyetujui ajakan Rendy.


"Baiklah kalau gitu, sampai jumpa nanti ri.. Assalamualaikum"


"waalaikumsalam"


.


Pukul 6.40, Riri sudah mulai berjalan keluar rumah setelah meminta izin ibunya untuk pergi jogging, ibu dan ayahnya pun kebingungan melihat Riri yang tumben keluar rumah untuk joging jam segini.


Riri menghubungi Rendy untuk mengatakan kalau dia sudah berlari sekarang, Rendy menjelaskan dimana mereka harus bertemu. Mereka bertemu ditepi sungai dekat lapangan, biasanya orang-orang banyak yang joging disana dan itu juga tidak terlalu jauh dari rumah Riri kalau berjalan kaki.


Beberapa menit Riri belari, sekitar pukul 06.50 Riri sampai disana, hanya butuh waktu 10 menitan saja untuk Riri sampai disana dengan berlari.


"Huhh" Riri menghela nafasnya setelah berlari jauh.


"Kamu capek?" tanya Rendy tertawa gemas melihat Riri yang baru sampai dihadapannya.


"Kenapa bertanya kalau sudah tahu" jawab Riri dengan nafas masih terengah-engah.


"Apa kamu habis dikejar setan? joging nya santai aja ri biar gak capek.. Sepertinya tadi kamu terlalu terburu-buru untuk sampai disini" ucap Rendy yang senyam-senyum.


"Apa?" Riri menoleh kearah rendy.


"Padahal aku gapapa kok nunggu lama disini, yang penting kamu datang" ucap Rendy lagi.


Riri mengerutkan keningnya dan sedikit kesal dengan Rendy.


"Wahhh.. Bisa-bisanya kamu bilang begitu saat aku kecapean seperti ini" omel Riri marah pada Rendy, namun sikap Riri itu malah membuat Rendy semakin senyam senyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ada apa dengan senyum itu?" tanya Riri padanya, Riri kesal karena Rendy malah menggodanya dengan hanya tersenyum


Rendy tertawa, melihat Rendy tertawa Riri yang tadinya sedang kesal malah dibuat ikut tertawa oleh Rendy, padahal tak tahu entah apa yang ditertawakannya.


"Ini" ucap Rendy sambil menyodorkan air mineral pada Riri.


"Kenapa?" pertanyaan konyol Riri lagi.


"Ini untuk diminum ri, katanya kamu capek tadi" jawab Rendy yang tampaknya sudah terbiasa dengan kekonyolan Riri


"Ee iya tapi.." Riri hanya melihat botol minum itu tanpa mengambilnya, Rendy yang peka mengerti apa yang dipikirkan oleh Riri, Riri pasti berpikir kalau botol itu adalah bekas minum Rendy, Riri pasti tidak mau meminumnya karena takut malah terjadi sebuah ciuman tidak langsung.


"Ini baru ku beli dan belum kuminum, liat tu pedagangnya aja masih disana!" ucap Rendy sambil menunjuk pedagang yang menjual minuman


Riri akhirnya mau mengambil minuman itu dan meminumnya, setelah istirahat sejenak mereka melanjutkan untuk melakukan jogging.


Selesai jogging Riri diajak oleh Rendy untuk bergabung dengannya bertemu teman-temanya di cafe dekat kampus besok siang. Riri awalnya menolak itu karna dia akan merasa canggung jika bergabung dengan mereka, lalu Rendy menjelaskan kalau mereka bukan teman kuliah melainkan teman SMA, jadi Riri tak perlu merasa khawatir karena mereka bukan cowok semua, ada beberapa orang cewek juga.


Riri menanyakan alasan mengapa Rendy mengajaknya, padahal dia bukan bagian dari mereka. "Kenapa malah mengajakku? bukankah itu akan membuat mereka salah paham?" tanya Riri yang tak enak jika harus ikut.


"Kenapa salah paham?.. Aku akan mengenalkanmu pada mereka. Kita harus punya banyak teman ri, relasi itu penting" jawab Rendy


Riri menoleh pada Rendy "Bagaimana kalau mereka tidak akan menyukaiku?" tanya Riri cemas.


Rendy tertawa "kalau mereka tidak menyukaimu, aku juga tak akan menyukai mereka, maka dari itu kita bisa pergi setelah itu" jawab Rendy seakan dia ada dipihak Riri.


Kenapa Rendy begitu? padahal dia dan teman-temannya sudah berteman sejak lama, sementara Riri baru saja ia kenal beberapa hari yang lalu, Riri berfikir kalau Rendy sama saja dengan cowok-cowok yang mendekatinya sebelumnya, yang menggunakan trik modus.


Riri tak terlalu peduli dengan hal itu karna dia sama sekali tak tertarik dengan Rendy meskipun semua orang mengatakan kalau Rendy sangat tampan dan pintar. Riri hanya tak mau dia mengulang kesalahan yang sama lagi seperti dulu.


"Kalau begitu aku akan mengantarmu pulang" ucap Rendy sambil berdiri.


"Gak usah bang, lagipula kenapa mengantarkanku kalau Abang juga jalan kaki" sanggah Riri yang menolak tawaran rendy


"Memangnya kenapa?"


"Bukan apa-apa bang, hanya saja Riri merasa tak enak saja. Jadi gak usah ya" jawab Ririm


"Di dekat rumahmu ada minimarket?" tanya Rendy lagi.


"Kenapa?, ada kok.."


"Kalau begitu anggap saja aku akan kesana, maka ayo barengan karena kita searah" Rendy sangat pintar sekali mencari celah, Riri yang tak bisa mengatakan apa-apa lagi akhirnya setuju saja dengan Rendy.


Mereka berjalan menuju rumah Riri dan tetap mengobrol dijalan.


"Bang Rendy dekat gak dengan bang dio?" tanya Riri pada Riri dalam perjalanan.


"Dio?" Rendy mengingat-ngingat "Oh Dio.. Gak dekat tuh, memangnya kenapa?" jawab Rendy yang juga menanyakan kenapa Riri bertanya begitu.


"Gapapa, aku kira kalian dekat karena sama-sama satu angkatan"


"Kami memang satu angkatan, tapi dio cuti satu tahun sehingga sekarang dia menjadi angkatan dibawahku" jelas Rendy.


"Benarkah? Aku pikir Dio.." Riri teringat kalau Dio pernah bilang kalau dia mendapat masalah setelah lulus artinya dia pernah cuti satu tahun.


"Ada apa?" tanya Rendy kebingungan Riri menghentikan pembicaraan.


"Ee.. Gapapa kok"


Rendy hanya mengiyakan saja apa yang dikatakan oleh Riri, dia berusaha untuk tidak menanyakan apapun tentang itu, kemudian beralih ke pembicaraan yang lain.

__ADS_1


"Kenapa kamu gak pacaran ri?" tanya Rendy memulai topik baru. Riri mengehentikan langkahnya. Melihat Riri terhenti Rendy pun ikut berhenti dan menoleh kearah Riri.


Riri juga menoleh ke arah Rendy dan berkata "Aku pikir itu karna aku tidak terlalu menyukai berkencan" jawab Riri, jawabannya itu terdengar sangat konyol.


"Tapi pacaran juga tidak harus berkencan" sanggah Rendy, Riri hanya diam sambil melanjutkan langkahnya. Begitupun dengan Rendy.


"Kamu bisa hanya dengan saling menghubungi, lalu saling berbagi cerita. Untuk hal yang romantis itu tidak dilakukan setiap hari karna kita juga punya waktu kita masing-masing, tak selamanya semua hari kita lewati tentang persoalan kencan dan bercinta" ucap Rendy.


"Tapi kebanyakan cowok tidak akan mengerti hal seperti itu" tambah Riri.


"Kamu bisa melakukannya jika itu tidak terkait dengan orang dimasa lalumu" ucapan Rendy kembali membuat Riri menghentikan langkahnya kemudian menatap Rendy.


"Kalau itu terkait?" tanya Riri.


"Itu artinya kamu masih mengharapkannya dan kamu bodoh" jawab Rendy dengan santainya, Riri memalingkan wajahnya dari Rendy.


"Pendapat bang Rendy sangat luar biasa, tapi bagaimana mungkin itu disebut bodoh?" Riri lanjut berjalan.


"Tentu saja itu bodoh, kamu mengharapkan orang yang tidak mengharapkanmu lagi" jawaban Rendy membuat Riri terdiam, ia tak bisa mengatakan apa-apa lagi karena yang dikatakan Rendy ada benarnya, Riri bodoh karena masih mengharapkan masa lalunya, dia tidak bisa melupakan masa lalunya.


"Sejujurnya kamu tidak perlu memaksakan diri untuk memulai lagi, hanya saja kamu harus terpaksa untuk melupakan masa lalumu itu ri, mau itu kamu setuju atau gak tapi kamu harus melupakannya dan berhenti mengharapkannya jika dia adalah masa lalu yang menyakitkan" tambah Rendy. Riri benar-benar dibuat bungkamnya.


Mereka tetap berjalan hingga tak terasa sudah sampai di minimarket dengan rumah Riri, Rendy hanya membeli minuman disana, dia memberikan minuman dingin juga pada Riri.


"Mau duduk dulu?" tanya Rendy


"ee gak usah bang, kita pulang saja. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan" jawab Riri.


"Baiklah kalau begitu"


Rendy tak mengantar Riri kerumahnya karena rumah Riri hanya tinggal beberapa langkah lagi dan Riri melarang Rendy melakukan itu, dia tak mau kalau Rendy malah berjalan memutar nantinya, mereka akhirnya berjalan kearah yang berlawanan.


.


Besoknya kelas Riri memulai kuliah pagi, sedangkan kelas ayu hari ini tidak ada kelas pagi.


"Pagi guyss.." sapa Bella saat sampai dipintu kelas, mereka membalas sapaan Bella dengan sedikit bergurau.


Saat melihat Bella Riri teringat akan Dio yang mengatakan kalau mereka berdua pacaran, akhirnya Riri memutuskan untuk bertanya pada Bella mengenai kebenarannya.


"Bel.. Aku mau nanya sesuatu" ucap Riri serius, Riri yang serius membuat Bella dan Maya merasa khawatir sekaligus penasaran apa yang akan dikatakan oleh Riri.


"Tanya apa?" Bella mulai khawatir.


"Kamu dan bang Dio balikan?" tanya Riri, Maya yang sedang menulis pun tangannya sampai berhenti menulis mendengar pertanyaan Riri yang tiba-tiba.


Bella membisu, dia bingung harus menjawab apa pada Riri dan Maya, dia tak mau mereka menganggap Bella gampangan karena balikan dengan Dio.


"Ee... Ituu.." ucap Bella terbata-bata


"Kenapa bel? Apakah yang dikatakan Riri benar?" tanya Maya juga penasaran.


"Iya" jawab Bella singkat, mereka dibuat kaget oleh jawaban Bella.


"Wahhh.." ucap maya sambil menggelengkan kepala.


"Aku tahu kalian akan berfikir aku bodoh, tapi Dio punya alasan untuk itu. Jadi, aku pikir aku akan memberinya kesempatan untuknya".


"Aku tahu" ucap Riri yang sudah mengetahui alasan Dio melakukannya.


"Apa?"


Maya yang tak mengetahui apa-apa kesal pada mereka berdua dan meminta mereka untuk menjelaskan semuanya, akhirnya Bella menjelaskan semua yang dijelaskan Dio padanya. Namun, Maya sangat tidak setuju dengan keputusan Bella.


"Bagaimanapun bel dia telah menipumu, kesempatan apa yang kamu beri untuk orang seperti itu" ucap Maya tidak setuju.


"Dia sudah berubah may, dia tidak seperti dulu lagi setelah ayahnya bangkrut" ucap Bella membela diri.


Riri setuju dengan yang Bella katakan karena dia juga tahu kalau Dio tak seperti dulu lagi, terlebih lagi setelah kebangkrutan ayahnya, dia dan keluarganya sudah tak memiliki apa-apa.


Maya yang tak bisa mengatakan apa-apa pun juga menerima keputusan Bella, dikarenakan itu adalah hak Bella. Obrolan mereka berhenti setelah dosen mata kuliah pertama masuk kelas.


.


Sore ini Riri sudah berjanji pada Rendy kalau akan ikut bergabung dengan teman-teman Rendy. Jadi, sepulang kelas siang dia berpamitan pada teman-temannya dan meminta maaf karna tidak bisa ikut mereka nongkrong hari ini, Riri juga minta mereka memberitahu Ayu dikarenakan dia akan lama jika harus menunggu ayu selesai kelas siang.


Mendengar Riri akan pergi dengan Rendy, mereka malah menggoda Riri dengan mengatakan Riri akan berkencan dengan Rendy. Riri tak terlalu menghiraukan mereka karena yang sebenarnya Riri dan Rendy hanya akan bertemu teman-teman Rendy saat SMA.


"Kamu pasti tahu artinya itu kan may?" tanya Bella pada Maya seolah menggoda Riri.


"Tentu saja bel, memangnya apa lagi alasannya mengajak Riri bertemu dengan teman-teman lamanya, pasti ada alasan khusus untuk itu" Maya berbicara sambil meledek Riri.


"Iya benar tentunya itu karena Riri adalah orang yang ia sukai" tambah bella, tawa mereka pun juga meledak setelahnya.


"Kalian ini sudahlah, aku hampir telat.. Sampai jumpa nanti" ucap Riri sambil pergi meninggalkan mereka, Riri tak menghiraukan mereka berdua yang menggoda Riri


.


Riri menemui Rendy diparkiran yang ternyata Rendy sudah lama menunggunya, hari ini Riri memang segaja tidak membawa motor karena kata Rendy mereka akan pergi menggunakan mobil Rendy. Walaupun Riri merasa aneh karna cafe dekat kampus itu dekat jadi kenapa harus pakai mobil segala, tapi riri memilih untuk tidak terlalu memikirkan itu.


"Hari ini kita ga jadi di cafe dekat kampus, kita kerumah temanku saja ya, dia sudah menyiapkan makanan dirumah. Jadi sayang kalau ga dimakan" ucap Rendy seolah tahu isi pikiran Riri yang bertanya mengapa harus pakai mobil.


"Oh begitu, iya bang gapapa".


"Nanti aku akan mengantarmu pulang sebelum malam, kamu hubungi saja ibumu dulu, jangan khawatir" ucap Rendy yang akan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap Riri.


"Iya bang"


Sekitar perjalanan 20 menit mereka sampai dirumah teman cewek Rendy, teman ceweknya sudah menunggunya di teras dan menyapa Rendy.


"Hallo cintaku" sapanya, pasti mereka sangat dekat sampai-sampai bisa cipika-cipiki seperti itu.


"Kenalkan pi ini Riri" ucap Rendy mengenalkan Riri pada temannya bernama Popi.


"Hallo cantik, aku Popi. Kamu bisa memanggilku apapun, bisa po, pop, popi, pi atau bisa juga tante" ucap Popi centil, pasti dia salah satu tukang lawak di geng nya dan juga cewek yang ceria.


"Salam kenal kak" ucap riri ramah, Popi tersenyum ramah.


"Ayo masuk!" ajaknya ramah.


.


"Yang lain pada belum datang pi?" tanya Rendy saat mereka sudah sampai diruang tamu, namun belum ada siapa-siapa disana.


"Sebentar lagi juga datang kok" jawab Popi sambil menyodorkan minuman teh untuk mereka.


Popi duduk dikursi depan Rendy dan Riri, dia menatap Riri dengan senyum kemudian berkata pada Rendy "Btw belum satu tahun loh, udah dapat cewek aja kamu, memang ya.."


"Ee.. Dia adik tingkatku dikampus, aku membawanya agar dia bisa banyak punya relasi" jawab Rendy santai "Lagipula kamu punya beberapa event di Swiss kan, kenapa kamu gak gabungkan saja dia juga" tambah Rendy meminta Popi untuk mengajak Riri, entah event apa yang dimaksud oleh Rendy, hanya dia dan Popi saja yang tahu, Riri tak mengetahui apa-apa.

__ADS_1


"Bisa banget dong, lagipula dia suwwaanggat cuuaaanntikk" ucap Popi tersenyum centil pada Riri, Riri hanya bisa diam saja dan tersenyum karena dia tidak enak jika harus memotong pembicaraan dan sok asik.


"Kamu pernah ikut event apa sayang?" tanya Popi pada Riri.


"Ee.. English comunication kak" jawab Riri.


"Wahhh.. Its good, tapi sayang sekali sekarang event itu belum ada" ucap Popi sambil menoleh kearah Rendy.


"Kamu bisa menghubunginya jika sudah ada" suruh Rendy sambil menyeruput teh angetnya.


"Iya, tidak apa-apa kan sayang?" tanya Popi pada Riri seperti khawatir kalau Riri akan merasa kecewa.


"Ohh tidak apa-apa kak, lain kali saja" jawab Riri.


Riri bingung kenapa teman-teman Rendy sangat patuh dengan omongan Rendy, seperti mereka takut pada Rendy. Kebingungan Riri itu bertambah lagi ketika teman-teman Rendy yang lain datang, Popi tidak menunggu mereka sepeti yang ia lakukan pada Rendy, dia juga tak menyodorkan minuman seperti yang dia lakukan pada Rendy dan Riri. Itu semakin membuat Riri bingung. Apalagi teman-teman Rendy yang lain sangat patuh pada perintah dan omongan Rendy.


Beberapa teman Rendy yang datang mengenalkan dirinya pada Riri, ada sekitar 5 orang yaitu Doni, Tuti, Elsa, Leli dan Anton. Doni dan Tuti berpacaran dalam circle mereka ini jadi mereka selalu datang berdua.


"Cewek lu bro?" tanya Anton pada Rendy setelah berkenalan dengan riri.


"Iya cewek gua" jawab Rendy santai sambil menatap Riri, namun Riri tak menyanggah hal itu karena dia tak mau membuat Rendy malu.


"Cantik semua ya cewek lu" ucap Doni memuji Riri.


"Iyakan, dia sangat pintar memilih cewek" tambah Popi.


"Seleranya bagus" sambung yang lain.


Rendy hanya menatap Riri dan tersenyum, begitupun Riri yang hanya bisa tersenyum mendengar semua pujian itu.


Tak lama setelah itu Doni mengatakan kalau mereka bertiga akan pergi keluar untuk memancing karena sudah lama sekali mereka tidak memancing, sementara itu Riri dan teman-teman cewek Rendy akan tetap berada dirumah Popi.


Hal itu didasari karena sore itu cuaca sedang panas sementara para cewek ini sangat takut kulit mereka menjadi hitam.


Rendy menyuruh Riri tetap disini dengan mereka semua, dia juga menyuruh mereka berempat untuk baik pada Riri dan menjaga Riri, anehnya mendengar omongan Rendy tersebut mereka menurutinya tanpa membantah, bahkan Leli mengatakan untuk tidak khawatir


Setelah Rendy pergi semuanya berjalan dengan baik, Riri sudah mulai nyaman mengobrol dengan mereka berempat sampai ke hal-hal yang tidak perlu diomongkan sekalipun, mereka sangat senang sekali karna ternyata Riri bukan cewek pendiam seperti yang mereka pikirkan, Riri hanya belum terbiasa saja.


Namun, kesenangan dan kegembiraan mereka itu pun akhirnya menjadi ketegangan akibat salah satu dari mereka tidak menyukai riri, hal itu dikarenakan dia sudah lama menyukai Rendy tetapi Rendy malah membawa cewek lain dihadapan dirinya, dia adalah Elsa.


"Bukankah kamu sok asik ya?" ucap Elsa yang menghentikan tawa mereka semua, Elsa menatap Riri tajam seperti orang yang penuh kebencian.


"Elsa" Tuti menyuruh Elsa untuk tidak merusak suasana.


"Cewek ini terlalu centil, apa kalian suka itu?" ucap Elsa lagi dengan suara sudah mulai meninggi, Riri hanya menatap Elsa yang sedang marah tanpa berbicara sepatah katapun.


"Kenapa menatapku begitu? Tidak suka? Mau marah?" Elsa semakin kesal melihat Riri menatapnya seperti ingin menantangnya.


"Diam Elsa!!" bentak Popi menyuruh Elsa diam, namun tetap aja hal itu malah membuat Elsa tambah marah dan mengata-ngatai Riri.


Sementara itu ketiga temannya tetap menghentikannya, tentu saja itu berasalan. Mereka berusaha mengentikan Elsa karna takut Rendy akan marah.


"Kenapa? Kalian takut Rendy marah?" tanya Elsa santai pada mereka bertiga.


"Kamu sudah berlebihan" ucap Popi yang sudah mulai kesal.


"Dengar pi, apa kalian pernah melihat Rendy marah padaku? selama kita berteman hanya padaku Rendy belum pernah marah. Jadi, kita lihat saja nanti bagaimana Rendy akan menanggapi ini" ucap Elsa pamer kalau Rendy tak pernah marah ketika Elsa melakukan kesalahan, mereka bertiga tidak membantah hal itu karena itu adalah sebuah kebenaran. Entah apa alasan Rendy tak pernah marah pada Elsa.


"Dan kamu ga usah sok cantik deh, circle kita cuman buat anak-anak yang tau fashion. Lihatlah pakaianmu sangat kuno!!!" Elsa terus menerus menghina Riri, Riri tak bisa berbuat apa-apa selain diam mendengar cemoohan terhadap dirinya itu.


Elsa semakin berlebihan menghina Riri hingga membuat popi marah dan menampar Elsa "aku sudah bilang untuk diam kan? apa kamu budek?" ucap Popi emosi.


Elsa memegang pipinya yang ditampar oleh Popi dan tersenyum seperti seorang psikopat


"Kamu menamparku demi membelanya?" tanya Elsa membentak.


"Kamu yang sala el, kamu sudah mengingatkanmu untuk diam kan" ucap Tuti yang juga ada dipihak Riri.


Namun Leli yang melihat teman-temannya sudah berlebihan membela Riri ketimbang Elsa teman mereka sendiri malah marah pada mereka berdua dan mengatakan kalau mereka seorang penghianat karna seharusnya mereka membela Elsa bukan Riri.


"Wahhh.. Aku juga tidak suka dengan yang dilakukan Elsa barusan, tapi aku juga tidak suka cara kalian berdua. Kalian terlalu berlebihan berpihak pada dia" ucap Leli sambil menunjuk Riri.


"Leli" Tuti berusaha untuk menyadarkan Leli agar tak Keikut hal buruk yang dilakukan Elsa.


"Dia baru saja datang, kita juga baru mengenalnya. Kenapa kalian mati-matian membelanya?" sambung Leli.


"Siapa yang membelanya? Kami juga tidak membela siapapun disini, hanya saja teman kita Elsa telah melakukan kesalahan artinya kita harus mengingatkannya" jelas Popi.


Meskipun dia bertingkah seperti anak kecil yang centil dan manja, ternyata Popi sangat dewasa dan bijak. Dia tahu mana yang harus dibela dan mana yang harus dibantah.


"Aku gak salah pi, cewek ini centil itu membuatku jijik" bantah Elsa menunjuk Riri yang jarinya hampir mendekati wajah Riri.


"Berarti kamu jijik padaku juga?" teriak Popi.


"Apa?"


"Aku juga centil kan? Kalian ga menyadarinya?. Kalian pun juga centil, apa kamu gak mau menghina dan mencomoohku sekarang, ayo!! silahkan!!" ucap Popi keras membentak Elsa


Elsa diam membisu, juga Leli dan Tuti yang ikut diam.


.


Riri yang melihat mereka sudah mulai agak tenang pun mulai berbicara setelah diam sejak tadi


"Aku.. Aku udah biasa kok dihina seperti itu" ucap Riri sesaat setelah semuanya diam, mereka berempat menatap Riri namun tak mengatakan apapun.


"Lagipula setelah kak Elsa mengatakan seperti itu, membuat aku menjadi sadar. Kenapa juga aku ada disini sekarang, aku tidak seperti kalian" mereka masih mendengar Riri berbicara.


"Aku diam bukan berarti aku tak sakit, sebenarnya sejak datang aku sudah kaget melihat fashion yang kalian pakai semuanya brand, sedangkan aku sangat kuno. Aku sempat merasa kalau aku tak layak bergaul dengan kalian makanya aku diam saja sejak tadi karena takut dikira sok asik, saat kakak-kakak sudah mulai berbicara santai padaku, aku pikir kalian semua sangat baik" sambung Riri.


Riri pun sebenarnya bisa memakai dan membeli barang branded begitu, bahkan lebih mahal dari yang mereka miliki dikarnakan keluarga Riri yang kaya raya. Namun, dia tak suka sesuatu yang menghamburkan banyak uang, dia bahkan lebih memilih menabung Ketimbang membeli barang mahal namun terlihat biasa begitu.


"Kak aku boleh pulang sekarang?" tanya Riri kemudian setelah menjelaskan semuanya.


"E ituu" mereka bingung harus berbuat apa, disatu sisi mereka takut Riri merasa tak nyaman dengan mereka, disisi lain jika Riri pulang itu akan jadi tanda tanya bagi Rendy dan Rendy akan marah besar pada mereka.


"Pulang saja Sono!" ucap Elsa namun suaranya agak membisik.


"Elsa" tegur Tuti lagi agar Elsa tidak mengulang kesalahan yang sama, kali ini Elsa menurutinya dan diam.


"Riri kamu disini aja dulu ya, nanti Rendy akan mengantarmu pulang, mereka akan pulang sebentar lagi kok" pinta Tuti.


Namun, Riri menolak yang dikatakan Tuti, dia berdiri dan segera menuju pintu keluar, Tuti dan Popi berusaha menghentikan Riri namun dia tak peduli.


Saat hendak membuka pintu, pintu sudah terbuka dari luar. Ternyata mereka bertiga sudah kembali, Rendy yang melihat Riri hendak pergi bingung dengan apa yang terjadi. Mereka berempat mulai merasa khawatir.


"Mau kemana?" tanya Rendy pada Riri yang mau pergi.


"Akuu.. Akuu.."

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2