
Tok tok tok (suara pintu)
"Sayang.. Buka pintunya!!, Bukankah kamu harus pergi bersama Aldo" suara teriakan dari luar pintu kamar Riri, itu adalah ibu.
Sementara itu didalam kamar seorang gadis sedang tertidur pulas diatas kasurnya yang nyaman. Riri masih belum bangun saat ibu berteriak memanggilnya diluar pintu. Bukan cuman ibu, handpone nya pun juga tak henti-henti berdering seperti ikut membantu membangunkannya, Aldo menelponnya.
Ibu terus mengetok pintu kamar Riri untuk membangunkan Riri karna pintu kamarnya dikunci oleh Riri, ibu terus mengetok pintu dan Riri tak kunjung bangun membuat ibu menjadi cemas kalau Riri kenapa-napa, akhirnya ibu mengambil kunci cadangan untuk membuka pintu tersebut.
Setelah pintu dibuka, ibu melihat Riri yang masih tertidur di atas kasurnya. Ibu kemudian segera membangunkan Riri agar dia bersiap-siap untuk pergi bersama Aldo. Pada akhirnya Riri pun bangun.
"Ibu, kenapa membangunkanku jam segini?, aku baru saja tidur" ucap Riri pada ibunya, ia kesal dibangunkan dari tidurnya yg nyenyak.
"Apa maksudmu jam segini, ini udah jam 7 loh, bukannya kamu akan pergi bersama Aldo?" ujar ibu sambil menutup jendela kamar riri.
Riri terdiam sejenak dan melihat jam, astaga udah berapa jam dia tidur hari ini. Sampai dia lupa untuk menutup jendela kamarnya.
"Emangnya ibu izinkan Riri pergi sama bang Aldo?" tanya Riri pada ibunya karna pagi tadi Riri minta izin ibunya cuman diam saja.
Ibu menghela nafas dan berkata "hm.. Aldo udah telpon ibu siang tadi katanya dia ingin mengajak kamu, tidak papa jika kamu mau pergi lagipula kamu udah lama kan gak ke wahana bermain sejak saat itu".
Riri terdiam dan melamun
**Flashback**
Ternyata dulu pernah terjadi suatu kejadian di wahana bermain itu, tepat saat Riri berusia 5 tahun ia pergi ke wahana bersama ayah, ibu, dan kakaknya. Awalnya tidak ada hal aneh yang terjadi, Riri maupun kakaknya asyik bermain wahana itu dengan gembira. H
Saat mereka pulang Riri merengek mengatakan kalau ia menginginkan es krim. Kakaknya yang tak tahan mendengar adiknya yang terus merengek berinsiatif membelikan es krim untuk adiknya tanpa sepengetahuan dari kedua orangtuanya, ayah dan ibunya tetap berjalan dan berusaha menenangkan Riri, Riri tidak diperbolehkan makam es krim karena dia saat itu mempunyai penyakit pada giginya, dimana jika ia makan sesuatu yang manis dan dingin giginya akan mulai sakit dan Riri akan menangis semalaman.
Ibu dan ayahnya tidak mau hal itu terjadi, kata dokter untuk tidak memberikan Riri makanan dan minuman manis ataupun dingin untuk sementara waktu. Namun, kakaknya yang saat itu juga masih berusia dini tidak mengerti akan hal itu makanya dia langsung ingin membelikan es krim untuk adiknya.
Setelah berjalan cukup jauh dan hendak tiba di pintu keluar ayah dan ibu baru menyadari bahwa mereka baru saja kehilangan anak pertama mereka.
Mereka panik dan segera mencari disekeliling wahan tersebut, tapi karena ini adalah wahana bermain tentunya orang sangatlah ramai. Ayah dan ibunya kesulitan untuk mencari putri pertama mereka itu.
Mereka mencari tak kunjung ketemu akhirnya mereka melaporkan ke satpam disana dan meminta untuk mengumumkan anak hilang kesemua pengunjung wahana
Sementara itu, kakaknya Riri ternyata mendengar laporan itu dan juga mengetahui kalau pengumuman itu tertuju padanya dikarenakan orang itu menyebut namanya. Ia bergegas lari menuju ke sumber suara untuk menemui ayah dan ibunya. Namun, hal yang tak diinginkan terjadi.
Dikarenakan waktu itu usianya masih dini, ia sulit untuk mengingat jalan keluar pintu tersebut, ditambah lagi dengan pengunjung wahana yang begitu ramai. ia terus berjalan menelusuri wahana tanpa disangka ia masuk kedalam tempat wahana sirkus.
Dia terus berjalan dalam wahana tersebut dan mendengar orang-orang berteriak padanya "keluar!!" teriak pengunjung-pengunjung itu padanya. Ia yang masih bingung terus saja berjalan dan sesaat dia menyadari kalau dia sudah masuk dalam lokasi sirkus yang sedang berlangsung, betapa kagetnya dia setelah tahu kalau itu bukanlah sirkus sulap melainkan sirkus pertunjukan singa.
Elisa menangis sekencang mungkin, petugas melihat itu langsung mengamankannya ke pinggir lapangan dan meminta petugas keamanan wahana membawanya keluar dari sana.
Akibat kelalaian petugas keamanan, Elisa terlepas dari pengawasannya saat dia pergi meninggalkan Elisa sendiri untuk melerai keributan yang terjadi diluar sirkus. Ia menyuruh Elisa untuk menunggunya didalam ruangan itu sementara ia pergi.
Elisa melihat es nya udah mulai mencair, ia tak tahan menunggu lama, ia mengingat adiknya yang menginginkan es krim tersebut. Elisa pun beranjak pergi dari sana dan mencari jalan keluar.
Akhirnya setelah mencari-cari Elisa menemukan jalan keluar dari gedung wahana sirkus tersebut, ia langsung meminta tolong pada orang disana dengan mengatakan namanya pada orang tersebut. Orang itu menyadari kalau Elisa adalah anak yang hilang di pengumuman tadi kemudian ia langsung mengantarkan Elisa kepada kedua orangtuanya di pos satpam.
__ADS_1
Kedua orangtuanya merasa lega dan sangat berterima kasih kepada orang tersebut, Elisa menjelaskan pada orangtuanya kalau ia pergi membeli es krim untuk adiknya. Namun, justru itu malah membuat ayah dan ibunya marah karna elisa seharusnya tahu kalau adiknya tidak boleh makan es krim pada saat itu, tapi karna kasian pada elisa ayah dan ibunya tetap memaafkannya.
Ternyata semua itu belum aman, kenapa?
Karna ternyata setelah itu yang malah menjadi masalah adalah Riri sendiri, ia masih saja merengek tidak mau pulang dan tetap mau memakan es krim. Ibu dan ayahnya masih tetap menenangkannya sampai akhirnya ayahnya punya ide kalau akan membawa mereka berdua melihat penampilan sirkus badut. Mereka berdua senang dan menyetujuinya, mereka pergi ke sirkus badut tanpa ibunya sebab ibu memilih untuk tetap menunggu mereka di pos satpam saja.
Mereka masuk kedalam gedung sirkus badut dan mulai menontonnya, mereka sangat bahagia dan menikmati atraksi yang ditunjukkan oleh badut-badut tersebut, hingga salah seorang badut meminta dua anak kecil untuk maju kedepan mengikuti aktraksi bahaya mereka. Seorang anak laki-laki maju ke lapangan, tanpa disangka Riri yang pemberani juga mengangkat tangannya dan maju, ayahnya menghentikan Riri agar tidak maju. Namun, Riri yang polos sudah memasuki lapangan sirkus sambil berlari.
Penonton melihat Riri yang menggemaskan bertepuk tangan untuknya, ayahnya antara senang dan cemas tetap bertepuk tangan untuk putri bungsunya itu. Begitu pun Elisa yang sangat bangga melihat adiknya yang berani.
Atraksi dimulai.
badut-badut menyuruh anak laki laki tersebut untuk tidur diatas matras kayu yang telah mereka siapkan. Sementara tugas Riri adalah memilih 3 jenis kayu penopang dengan warna berbeda dibawah matras kayu tersebut, jika kayu yang dipilih salah maka anak laki-laki tersebut akan mati terpotong karena ternyata didalamnya terdapat pisau besar yang tajam dan salah satu kayunya merupakan penopang pisau itu, jika penopang itu diambil pisau itu akan lgsung membelah matras sekaligus orang yang ada diatas matras.
Orang di dalam gedung itu histeris mendengar penjelasan dari badut-badut itu, bahkan ibu si anak menyuruh agar anaknya keluar dari lokasi sirkus. Begitu pun Ayah Riri yang sangat panik berteriak dan meminta petugas membawa anaknya keluar lapangan sirkus meskipun tugas Riri cuman memilih kayu tetapi ayahnya sangat cemas akan putrinya itu.
Satu gedung itu heboh oleh teriakan orang-orang yang meminta untuk menghentikan sirkus berbahaya itu. Kemudian panitia sirkus berhasil menjelaskan kepada penonton bahwa mereka sudah berkali-kali melakukan atraksi seperti ini dan sepanjang itu mereka tak pernah menemukan orang yang terluka setelah mengikutinya.
Panitia sirkus juga menjelaskan jikalau mereka sudah menyiapkan keamanan yang ketat terkait hal itu. Penjelasan dari panitia itu membuat penonton sedikit demi sedikit tenang dan pada akhirnya atraksi tetap dijalan meskipun ayah Riri sangat mencemaskan Riri disana.
Badut itu mulai menyuruh Riri untuk memilih kayu penopang, badut tersebut yang akan menarik kayu itu untuk membuktikan kalau yang dipilih Riri bukannlah pisau. Riri memilih kayu berwarna biru, sesuai dengan warna kesukaannya, dia sangat polos dengan langsung memilih warna biru tanpa berfikir panjang.
Badut bertanya apakah udah yakin dengan pilihannya, Riri menjawab iya dan malah meminta badut untuk membelikannya es krim yang membuat satu gedung itu tertawa termasuk ayah Riri dan kakaknya Elisa. Riri sangat menggemaskan.
Badut itu menyuruh Riri berada tepat didepan matras itu untuk melihat hasil kayu yang ia pilih, sementara badut itu akan menarik kayu yang dipilih Riri. Jika itu bukan pisau maka anak laki-laki tersebut akan selamat. Satu gedung tegang menanti hal itu, terutama ibu dari anak laki laki itu yang sangat khawatir dan berkali-kali berteriak meminta agar mereka menghentikan atraksi itu.
Saat kayu itu ditarik satu gedung berteriak histeris dan ternyata kayu yang dipilih Riri benar, kayu itu bukanlah penopang pisau itu. Penonton bertepuk tangan dan banyak yang mengelus dada karna merasa lega.
Saat anak itu hendak diturunnkan dari matras, badut itu tidak menyadari kalau ada salah satu kayu yang retak sehingga pada saat anak itu bergerak kayu tersebut patah dan hancur, yang membuat satu gedung berteriak panik adalah kayu itu adalah penopang pisau.
Anak laki laki yang belum sempat turun tadi menempuh nasib malangnya, pisau tajam membelah kedua tuhuhnya hingga memancarkan darah kewajah Riri yang masih berada didepan matras.
Semua penonton panik termasuk ayah Riri yang langsung berlari kedalam lapangan dan mengambil anaknya yang terdiam dan tak menangis sedikitpun. Begitupun ibu dari anak laki laki itu yang histeris melihat anaknya mati didepan matanya dengan sangat tragis, penonton marah dan membuat suasana di studio kacau, panitia berusaha untuk menenangkan namun emosi penonton malah makin melunjak.
Semenjak kejadian itu wahana disana ditutup, pemiliknya serta rekan-rekan sirkus juga dituntut dan dijobloskan kedalam penjara. Ibu anak laki-laki tersebut juga menjadi depresi karna kehilangan putranya dan menjadi gila, itu merupakan kelalaian dari petugas serta panitia yang tidak memeriksa perlengkapan atraksi terlebih dahulu sebelumnya.
Dari kejadian itu Riri menjadi sering melamun dan jarang tertawa karna trauma, lama melihat anaknya yang sudah tak ceria ayah dan ibunya memutuskan pindah dari kota tersebut ke kota tempat tinggalnya yang sekarang. Setelah pindah, akhirnya Riri dapat sembuh total dan kembali seperti biasanya, bahkan ayahnya tidak mau mengajak Riri ke wahana lagi setelah kejadian itu.
Saat Riri masih SMP ternyata ia mengatakan bahwa ia tak trauma akan wisata wahana bermain itu malahan ia ingin sekali pergi kesana lagi. Ayahnya sempat khawatir pada putrinya, namun Riri masih meyakinkan ayahnya kalau ia baik-baik saja akan hal itu.
Ternyata itulahh yang membuat ibunya terdiam sewaktu Riri meminta izin, bukan karena keluar malam ataupun pergi bersama Aldo, melainkan karna tempat yang ingin didatangi Riri itu adalah wahana bermain. Namun, saat Aldo meyakinkan ibu Riri dan Aldo juga menelpon ayah Riri, akhirnya Riri mendapatkan izin dari kedua orangtuanya.
Setelah mengenang hal dulu, Riri mengatakan pada ibunya bahwa dia akan baik baik saja dan untuk tidak khawatir akan hal seperti itu lagi. Ibunya tersenyum mempercayai putrinya, lagipula putri mereka sudah besar dan pasti ia bisa menjaga dirinya sendiri.
Tepat pukul 8 Aldo datang menjemput Riri, Riri menemui Aldo dan segera masuk kedalam mobilnya. ibu meminta Aldo agar menjaga adiknya itu, Aldo tahu apa yang harus dia lakukan karena dia pun juga tahu akan peristiwa yang terjadi dulu.
Mobil Aldo melaju setelah berpamitan pada ibu Riri.
"Dimana cewek lu?" tanya Riri sesaat setelah mobil melaju. Aldo hanya diam aja dan melihat Riri seolah mengatakan kenapa lo kepo pada Riri.
__ADS_1
Tak selang lama, Aldo berhenti didepan rumah atau lebih tepatnya kosan.
"Ayo turun" ajak Aldo pada Riri sambil turun dari mobilnya. Riri mengikuti ajakan Aldo tanpa bertanya panjang, lagipula dia yakin kalau kostan itu adalah kostan ceweknya Aldo.
Ternyata benar, tak butuh waktu lama seorang keluar dari kostan itu. Cewek itu lumayan tinggi, lebih tinggi dari Riri sedikit tampaknya. Cewek itu cantik dan juga putih senyumnya pun amat manis.
"Halo" sapanya pada Riri dan kemudian langsung memeluk Aldo, Riri hanya tersenyum. Aldo memperkenalkan Riri pada cewek itu sebagai adik sepupunya.
"Wah.. Dia manis sekali ya. Halo Riri aku Dwi pacaranya Aldo" ucapnya sambil mengulurkan tangan pada Riri untuk berkenalan, dia juga tak lupa memuji Riri. Riri membalas uluran tangannya dan mengatakan namanya juga.
Benar yang dikatakan oleh Nadin hari itu kalau pacar Aldo adalah Dwi teman Nadin, Riri memilih untuk tidak mengatakan jurusannya dulu pada Dwi karna ia masih merasa baru. Mereka masuk kedalam mobil setelah berkenalan, Riri tanpa disuruh lagsung naik dibelakang mobil karna ia menghargai Dwi sebagai pacar Aldo.
Mobil melaju lagi meninggal kostan memasuki jalan menuju ke wahana di taman budaya.
**Didalam mobil**
"Sayang.. Riri itu dijurusan kamu loh, adik tingkatmu" ujar Aldo pada Dwi memulai pembicaraan, Aldo pasti merasa kalau Riri canggung untuk bicara saat itu. Padahal saat bertemu Nadin, Riri biasa aja dan malah gak canggung seperti ini, entah mengapa dengan Dwi malah dia merasa takut untuk bicara. Riri takut kalau Dwi adalah senior yang galak nanti
"Ohya?.. Ya ampun aku baru tahu, hebat banget Riri lulus ya. Riri pasti gadis yang sangat pintar ini" puji Dwi pada Riri, tidak seperti dugaan Riri, Dwi ternyata merupakan orang yang ramah. Riri menghilangkan nethink nya pada Dwi dan memulai untuk bergaul dengan Dwi.
"Iya kak Alhamdulillah Riri bisa jadi adik tingkat kakak" ucap Riri yang sudah mulai nyaman. Aldo dan Dwi tertawa mendengar pernyataan dari Riri.
"Kamu udah dapat temankah disana?" tanya Dwi. Riri teringat pada Nadin dan Hilda teman yang ia temui saat hari tes.
"Udah kak tapi sedikit saja, kemarin Riri bertemu dengan Hilda teman satu tes tapi dia gagal dalam tes" jelas Riri yang sudah mulai terbuka pada Dwi.
"Tidak apa-apa itu biasa, karna yang gagal pasti ujungnya akan sukses juga, kita lagu gak berlomba sekarang, kita hanya sedang mencari jalan mana yang akan kita tempuh menuju Roma" Riri terkesima dengan penjelasan Dwi, dia benar-benar bijak dalam menanggapi sesuatu.
"Iya kak, kak Nadin pun juga menasehati Hilda seperti itu" ucap Riri.
"Nadin?"
"Iya, kak Nadin temannya kak Dwi" jelas Riri pada Dwi
"Oh.. kamu ketemu dia juga berarti"
"Kemaren Riri bingung gedung mana tempat tes dan kak Nadin baik mengantarkan Nadin ke gedung itu" jelas Riri lagi sembari memuji Nadin yang baik padanya.
"Dia memang sangat baik Nadin itu" sambung Dwi.
Mereka bicara banyak hingga tak terasa sudah sampai di taman budaya, Riri bingung karena Aldo tadi pagi mengatakan bahwa dia mengajak temannya tapi dia tak menjemput temannya, malahan langsung ketempat wahana.
"Bang.. Bagaimana dengan temanmu itu?" tanya Riri pada Aldo penasaran. Aldo tersenyum dan menatap Riri dari kaca mobil kemudian mengatakan "dia menunggu kita disini" jawab Aldo tanpa mengatakan siapa orang itu. Riri yang semakin penasaran tak sabar ingin bertemu dengan orang itu.
Aldo memarkirkan mobilnya, setelah itu mereka turun dari mobil, wahana sangat ramai sama seperti wahana yang pernah ia datangi dulu. Ini adalah kali pertamanya dia ke wahana lagi setelah sekian tahun lamanya.
"Bang" panggil seseorang pada Aldo. Aldo menoleh ke asal suara itu, termasuk Riri dan juga Dwi yang spontan melihat kearah suara itu.
Orang itu menghampiri mereka. Saat mendekat Riri kaget tak percaya melihat orang yang diajak Aldo itu adalah....
__ADS_1
Bersambung...