
Setelah di tunggu-tunggu hari itu pun datang juga. Akhirnya mereka akan segera mengikuti tes masuk perguruan tingg.i
Hari ini Riri sengaja bangun lebih awal karna terlalu semangat untuk mengikuti tes tertulis tersebut, Riri menyiapkan segala hal yang ia butuhkan untuk tes itu.
"Riri sayang, sarapan" Teriak ibu dari lantai bawah.
"Iya bu sebentar" Riri masih mencari-cari dimana kotak pensilnya.
"Haduh perasaan semalam aku tarok disini deh, kok bisa ilang sih" keluh Riri pada dirinya sendiri, tangannya masih mengotak-atik meja belajarnya.
Riri
Riri
Ibu terus memanggil Riri menyuruhnya turun, saat itu jam sudah menunjuk pukul 07.30, sedangkan Riri harus mengikuti tes pukul 08.00.
"Ri nanti kamu telat loh"
Beberapa menit mencari akhirnya Riri menemukan kotak pensilnya diatas kasur.
"Sial, kenapa ada disini?" Umpat Riri yang emosi baru menemukan kotak pensilnya.
Riri memasukkan kotak pensilnya kedalam tas kemudian berjalan turun menuju meja makan.
"Loh bu ayah mana?" Tanya Riri setelah sampai dimeja makan.
"Ayah hari ini ada meeting jadi berangkat awal, kamu sama Aldo aja ya hari ini" Ibu memberikan piring dan bubur kesukaan Riri.
Aldo adalah kakak sepupu Riri yang paling dekat sekali dengan Riri, tapi mereka jadi jauh setelah keluarga Aldo pindah rumah, akibat beda kota membuat mereka jarang sekali bertemu. aldo kuliah jurusan manajemen di kotanya dan ia tahun ini akan memasuki semester 4.
Riri memakan bubur buatan ibunya tersebut, mata Riri tetap tertuju pada buku disamping piringnya.
"Semangat sekali kamu belajarnya ya, semoga saja hasilnya sesuai kerja kerasmu".
Riri terlalu fokus sampai tak mendengar ibunya berbicara
Tit tit tit
Terdengar suara klakson motor dari luar rumah, itu pasti Aldo yang sudah datang menjemput Riri.
"Bu, itu bang Aldo datang aku berangkat dulu ya"
Riri pamitan pada ibunya dan buru-buru mengenakan sepatunya.
Setelah itu Riri keluar rumah sambil menyapa Aldo di pintu gerbang.
"Kenapa ada disini?" Tanya Riri meledek Aldo yang datang ke kotanya.
"Ini kan kota gue juga" Jawab Aldo dengan muka sok.
"Idihh.. udah ngomong pakai gue lu aja sekarang" ledek Riri lagi sambil tertawa kecil.
"Udah cepat naik" Riri naik keatas motor dengan muka masih menahan tawa melihat perubahan Aldo sekarang.
Motor melaju dengan kecepatan standar.
"Bang emangnya gak kuliah lagi?" Tanya Riri sesaat setelah motor melaju.
"Iya gue kuliah kok, gue ada urusan disini makanya datang"
"Urusan apa itu?" Riri masih kepo tentang Aldo yang datang kesini.
"Cewek gue ulangtahun besok dan dia kuliah disini, makanya gue datang" jawab Aldo dengan nada serius dan tulus, seperti bukan aldo saja..
Riri terkejut mendengar jawaban Aldo yang datang kemari hanya karna seorang cewek.
"Ishh bucin banget sih"
"Ohya cewe gue juga kuliah di kampus lu itu, jurusan pertanian juga" ucap Aldo memberikan informasi tentang ceweknya.
"Serius?" Tanya Riri meyakinkan
"Kok abang tau kalau aku masuk pertanian?" Sebelumnya riri tak mengatakan bahwa dia akan mengambil jurusan pertanian.
Aldo tertawa mendengar pertanyaan Riri seperti anak kecil yang polos.
"Ibumu yang bilang sama gue"
"Cewek gue nanti bakal jadi senior lu, awas aja lu nanti macem-macem sama gue, gue suruh dia lebih keras sama lu di kampus" ancam Aldo sambil tertawa-tawa kecil.
Riri melihat sinis Aldo yang mengancam dirinya, meskipun tatapan sinisnya itu tidak terlihat oleh Aldo yang sedang mengendarai motor.
Setelah beberapa menit perjalanan mereka sampai di kampus tempat Riri akan melakukan tes tertulis.
__ADS_1
"Wahh ini kampusnya.. ternyata besar juga ya" pungkih Riri setelah melihat kampusnya.
Aldo tersenyum bangga melihat adiknya itu merasa senang mengetahui kampusnya sangat bagus.
Setelah mengantar Riri Aldo langsung pulang. Aldo disini tinggal disalah satu apartemen milik ayah Riri karna rumah mereka sebelumnya disini sudah dijual.
Sementara Riri berjalan masuk dalam kampus yang amat besar tersebut untuk mencari ruangan mana tempat tes itu dilaksanakan.
"Maaf kak, mau bertanya ruangan tempat tes tertulis hari ini dimana ya kak?" Tanya Riri saat bertemu seseorang di dekat gerbang masuk kedua.
Kampus ini ada dua gerbang masuk. Pertama gerbang utama yang bakal dijaga ketat oleh satpam, yang kedua tidak dijaga oleh satpam karna biasanya gerbang ini ditutup dan hanya bisa dilewati oleh pejalan kaki saja. Namun, gerbang ini masih terhubung ke gerbang utama.
Jadi, intinya ketika sudah melewati gerbang utama bakal ada gerbang kedua dan cuman buat pejalan kaki
Trus bagaimana kendaraan lain lewat? Ya kendaraan tidak diperbolehkan masuk lah, kendaran harus diparkirkan sebelum gerbang kedua itu. Jadi, gunanya gerbang utama hanya untuk menjaga kendaraan tetap aman.
Daerah parkirannya saja sudah dikhususkan begini dan sangat besar sekali, gimana dalam kampusnya lagi pasti besar sekali.
"Mau ngambil jurusan apa?" Tanya orang tersebut pada Riri tanpa menjawab pertanyaan Riri terlebih dahulu.
"Pertanian kak" jawab Riri sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman
"Nama saya Riri kak, calon maba disini mau ngambil jurusan pertanian" ucap riri lebih sopan.
"Ohh.. aku nadin, mahasiswa semester 4" balas nadin.
"Kak nadin ini jurusan apa ya kak kalau boleh tahu?"
"Aku dari jurusan pertanian juga kok" jawab nadin sambil tersenyum pada Riri. Ya ampun senyum kak nadin amat lah manis membuat Riri terkesima, betapa cantiknya kakak ini, pungkih Riri dalam hatinya
"Wah berarti kak nadin kakak tingkat Riri ya, salam kenal kak" ucap riri sopan dengan senyum.
"Iya Riri.. Oh iya kamu cari gedung tempat tes itu kan, ayo kesana bareng kebetulan kebetulan aku juga mau lewat sana" tawar nadin dengan ramah.
Riri dan nadin berjalan menuju gedung tempat dilaksanakannya tes, ternyata tidak hanya satu gedung tapi banyak gedung yang digunakan. Ruangan riri adalah ruang ps1 artinya itu ada di gedung tingkat 3
Astaga apa harus menaiki tangga setinggi itu, keluh Riri dalam hatinya. Mereka berjalan menaiki tangga demi tangga yang sangat banyak jenjangnya.
"Disini belum disediakan lift jadi kita harus menaiki tangga setiap kali mau ke gedung atas" ucap nadin seakan tahu isi hati Riri bahwa dia sedang kecapean.
"Oh gapapa kak sekalian olahraga hehe" padahal dalam hati Riri sudah berkeluh kesah. Nadin tidak terlihat begitu capek, mungkin dia udah terbiasa menaiki tangga ini setiap hari
Setelah menaiki tangga yang begitu tinggi akhirnya mereka sampai di gedung ketiga, Nadin langsung mengarahkan Riri keruangan mana yang harus ia tuju.
Gedung kampus ini ada banyak, tapi hanya gedung ini yang memiliki lantai sampai 4 selebihnya ada yang lantai 1, lantai 2 dan lantai 3. Kebanyakan gedungnya memiliki 2 lantai.
Riri memasuki ruangan tes yang cuma baru dihadiri beberapa calon mahasiswa yang akan mengikuti tes hari ini.
Riri duduk di salah satu kursi urutan nomor 2, ia tidak mengenal siapapun disini, yang lainnya ada yang asik mengobrol dan sebagainya. Riri memilih untuk diam dibangkunya kemudian mulai melanjutkan belajarnya yang dirumah tadi.
Tiba-tiba..
"Kak.. Boleh aku pinjam pensil satu?" Tanya seorang cewek yang entah sejak kapan sudah berada didepan meja Riri, itu spontan membuat Riri kaget dan berteriak dengan suara kecil.
"Maaf kak bikin kaget, aku lupa bawa pensil tadi karena buru-buru, boleh aku pinjam pensil kakak?" Tanyanya lagi.
Riri yang masih kaget langsung mengiyakan dan meminjamkan pensilnya kepada cewek itu tanpa basa-basi untuk berkenalan. Cewek itu pun juga tak mengajak Riri berkenalan.
Sepertinya cewek itu termasuk seorang ambis deh, dia belajar dengan giat sampai melupakan yang lain. Bahkan tak peduli dengan sekitarnya
.
Tak selang lama beberapa camaba sedikit demi sedikit memasuki ruangan. Pengawas untuk tes hari ini juga masuk ruangan dan segera membagikan soal tes.
Tes di kampus ini masih berbasis kertas, tidak seperti kampus lain yang sudah menggunakan media komputer, kampus ini justru memilih untuk berbeda dari yang lain dengan tetap menggunakan lembar kertas. Serasa sedang ujian pas SD ya.
Riri mengerjakan soal tes itu dengan penuh semangat sampai dia lupa kalau waktu tinggal 20 menit lagi, Riri mengecek kembali jawabannya apakah sudah terisi semua atau belum, ia berulang kali mengoreksi jawabannya.
Tak sengaja saat sedang mengoreksi jawaban Riri melihat anak cewek tadi yang berada dibangku di depannya, ia benar-benar sangat ambis sampai-sampai tak sempat melihat sekelilingnya.
"Tinggal 20 menit lagi ya" ucap pengawas mengingatkan para camaba.
Riri yang sudah yakin dengan jawabannya kemudian berdiri mengumpulkan lembaran jawabannya tersebut kepada pengawas, setelah itu ia keluar ruangan dan melangkah hendak turun kelantai bawah
Krkrkkkrk
Perut Riri berbunyi, ternyata jam sudah menunjuk pukul 11.00. Riri harus bergegas makan nasi karna dia memiliki penyakit maag, kalau tidak perutnya bisa sakit kalau dia telat makan.
Riri menuruni tangga demi tangga untuk mencari kantin dibawah. Menuruni tangga sih tidak terlalu capek sebab tidak terlalu banyak menguras energi, begitulah pikiran Riri selama menuruni tangga gedung itu.
Akhirnya setelah menuruni tangga, Riri sampai juga di lantai 1. Dia harus mencari dimana kantin di kampus ini.
Riri berjalan mengitari beberapa gedung kampus tapi tak menemukan kantin, begitu banyak mahasiswa yang lalu lalang membuat Riri merasa segan jika berhadapan dengan mereka.
__ADS_1
Karna kecapean mencari kantin riri duduk istirahat diatas salah satu bangku di taman.
"Haduhh kenapa panas sekali sih" keluh Riri, dia juga lupa membawa air minum
Riri pun menunggu mana tahu ada orang yang ia kenal lewat didekat taman itu, tapi sayangnya Riri tak punya kenalan disini selain kak nadin tadi yang astinya kak nadin sekarang sedang ada di lantai 4.
Dia jadi teringat kalau Aldo bilang ceweknya di kampus ini juga, sayangnya Riri tak tahu bagaimana wajah ceweknya Aldo. Riri pun lupa bertanya pada nadin yang katanya juga anak pertanian tadi, pasti mereka berdua berteman.
Langit sangat indah saat itu, langit yang biru dan awan yang putih pekat.
"Hei.." panggil seseorang saat riri melihat langit.
Riri melihat kearah suara yang memanggil itu dan ternyata itu cewek yang dibangku depan tadi.
Cewek itu mendekati Riri dengan senyum, ternyata dia memperhatikan sekitarnya juga ya..
"Ini pensilmu, makasih yaa udah dipinjamkan.. Tadi aku cari-cari kamu di kelas taunya udah gak ada" ucapnya sambil mengulurkan pensil yang ia pinjam pada Riri.
Anehh.. Dia aja tidak tahu kalau Riri sudah keluar ruangan sejak tadi, bener-benar cewek ambis.
"Eh iya gapapa kok, lagian itu pensil lamaku juga udah pendek" balas Riri.
"Tapi kan ini tetap pensilmu" huft bahkan masalah pensil aja perlu di ambisiuskan.
"Btw kak namamu siapa? Tadi aku lupa menanyakan.." lanjutnya, Riri tidak kaget sih karna memang sedari tadi cewek ini emang tidak peduli dengan sekitarnya.
Dan itu bukan egois ya teman-teman.. Orang ambis kadang dikatakan egois tapi nyatanya mereka hanya terlalu bersemangat pada tujuan mereka sampai tidak menghiraukan apa yang terjadi disekitar mereka, lebih ke tidak peduli saja.. Tapi setelah pekerjaan mereka selesai mereka tetap care kok.
"Namaku riri, kamu?" Mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan cewek itu.
"Aku hilda" jawabnya, namanya sangat cantik sekali. Menurut Riri, hilda memiliki wajah yang cantik juga, hidungnya mancung dan kulitnya lumayan putih tapi dia kelihatan seperti anak cupu, hilda tampaknya tak pandai outfit dan ditambah lagi kacamata hilda yang membuat dia terlihat seperti anak yang benar-benar suka belajar.
Krkrkkrkk
"Haduh kenapa harus berbunyi pas lagi ada hilda sih, kan malu" keluh Riri dalam hatinya ketika perutnya mulai bunyi-bunyi lagi.
"Kamu laper?" Tanya hilda yang tiba-tiba jadi orang peka.
Riri tersenyum malu mengiyakan hilda sambil memegang perutnya.
"Yaudah yok makan" ajak hilda sambil melangkah meninggalkan taman itu.
Hah.. anak ini tahu kantin? Dia aja kelihatan gak peduli gitu masa tahu kantin?.
"Kamu tahu dimana kantin disini?" Tanya riri tak percaya kalau hilda tahu.
"Loh kantin? Mana ada kantin disini" jawabnya sambil tertawa-tawa kecil seakan-akan Riri yang tak tahu apa-apa seperti anak polos.
"Trus makan dimana dong?" Tanya riri lagi.
Hilda menatap Riri kemudian tersenyum melihat Riri yang amat polos dengan pertanyaannya.
.
"Disini tuh ada nya cafe, jadi mahasiswa disini makannya di cafe, namanya cafe kampus.. Kebanyakan kan di kampus emang disediain cafe, kalo di sekolah mah ya namanya kantin tapi ada juga sih kampus yang nyediain kantin" jelas hilda yang tahu segalanya.
Cewek ambis emang kadang bisa diandalkan juga, sepertinya ia mencari tahu semua tentang seisi kampus ini.
"Kamu kok bisa tahu semua tentang kampus ini?" tanya Riri penasaran.
"Kakakku disini sebelumnya, tapi sekarang udah lulus.. Dulu aku sering diajak kesini makanya aku jadi tahu banyak tentang kampus ini" jelasnya pada Riri
Pantas saja dia tahu tentang kampus ini..
Untung saja Riri tidak bertanya pada orang-orang dimana kantin, kalau dia bertanya pasti udah bikin malu karna disini adanya cafe bukan kantin.
Akhirnya mereka sampai di cafe kampus, mereka memesan makan dan duduk disalah satu meja paling ujung.
Sementara menunggu pesanan mereka datang mereka mengobrol dulu tentang banyak hal, tak lupa juga membahas sekolah mereka yang dulu sampai ke alasan mengapa memilih jurusan pertanian..
.
Beberapa menit mengobrol pesanan mereka pun datang. Mereka menikmati makanan mereka dengan lahap
Setelah selesai makan mereka tidak punya rencana lain selain pulang kerumah untuk istirahat.
Riri pamit pada Hilda untuk pulang dan berharap mereka bisa bertemu lagi setelah hari pengumuman itu tiba, hilda pun mengharapkan hal yang sama.
Riri melangkah keluar gerbang untuk mencari taksi dikarenakan dia tak akan dijemput ayah maupun Aldo.
Tak butuh waktu lama Riri langsung mendapatkan taksi, dia merasa lega akhirnya ujian tes tertulis ini telah selesai. Dia tak sabar untuk menunggu hasil tes tersebut dan akan terus berdoa agar usahanya tidak mengkhianati hasil.
Bersambung..
__ADS_1