
***
Hujan turun.
Riri tidak bisa pulang ke rumah sekarang, hujannya semakin deras. Padahal sebelumnya cuaca sangat cerah tapi malah tiba-tiba turun hujan.
(Hp berdering)
Ibu Riri menelponnya, pasti beliau sangat mencemaskan Riri yang belum pulang dari jogging, apalagi sekarang sedang hujan deras.
"Halo sayang"
"Iya halo bu" Jawab Riri sambil menutup telinga kanannya agar bisa mendengar suara ibu, suara hujan bahkan lebih kencang dari suara ibunya.
"Kok belum pulang?" tanya ibu khawatir.
"Hujan tiba-tiba deras bu, sekarang aku sedang berteduh didekat supermarket kota"
"Ya Ampun sayang.. Ibu sudah cemas loh, kamu ini" ucap ibunya sambil menghela nafas lega.
"Ayah jemput kamu ya?" sambung ibu.
"Ee gak usah bu, aku nunggu hujan berhenti saja. Bentar lagi reda kok ni" jawab Riri menolak.
Setelah selesai mengobrol dengan ibunya, Riri mematikan hpnya karna takut disambar petir. Ia menunggu hujan reda sambil tangan yang ia lipatkan di depan dada.
"Huh Dingin" Keluh Riri.
Sementara beberapa orang datang untuk berteduh juga disana menunggu hujan reda, Riri tak punya payung makanya gak bisa pulang sekarang.
Seseorang menelponnya lagi, kali ini bukan dari ibu tapi dari Fajri. Dia memutuskan untuk mengabaikan telpon tersebut.
Namun, Fajri berkali-kali menelpon Riri membuatnya harus berkali-kali mematikan hpnya. Akhirnya setelah sekian kali ditelpon, Riri mengangkat telpon dari Fajri tersebut.
"Halo Assalamualaikum ri", suara Fajri
"Iya Waalaikumsalam, ada apa?"
"Kamu dimana?" tanya Fajri.
"Ee.. Di rumah" jawab Riri berbohong soal lokasinya sekarang.
"Kok suara hujannya deras sekali kalau dirumah?" tanya Fajri yang tak yakin dengan jawaban dari Riri.
"Ee.. itu.."
"Kamu bohong kan?" ucap Fajri sudah mengetahui Riri berbohong.
"Memang apa urusannya denganmu" ucap Riri kesal.
"Kamu dimana?" tanya Fajri lagi
"Kenapa itu penting bagimu?"
__ADS_1
Sementara Riri tak kunjung memberitahukan dimana dia berada sekarang. Dia tidak mau kalau Fajri malah akan menghampirinya kesini.
"Dimana ri?" tanya Fajri untuk kesekian kalinya.
"Di supermarket kota" jawab Riri pada akhirnya.
Setelah Riri memberitahukan lokasinya, tiba-tiba saja telponnya terputus. Riri berpikir kalau jaringan sedang buruk makanya telponnya jadi mati.
"Ahh sudahlah bodoamat" ucap Riri sambil melihat layar ponselnya.
.
Hujan tak kunjung reda hingga sudah hampir siang, Riri sudah lama menunggu di supermarket. Dia berniat akan melewati hujan deras ini saja untuk pulang, karena dia tidak tahu kapan pastinya hujan ini akan berakhir.
Seseorang datang menggunakan mobil berhenti tepat didepan Riri yang sedang berdiri menunggu hujan reda.
Dan dia adalah Fajri.
Betapa kagetnya Riri saat melihat siapa orang yang baru saja keluar dari mobil tersebut. Dia tidak mengira kalau Fajri benar-benar akan datang kesini, Fajri menghampirinya.
"Kenapa kamu disini?" tanya Riri saat Fajri sudah berada dihadapannya.
"Menjemputmu" jawab Fajri sambil merapikan rambutnya.
"Emang aku suruh?" tanya Riri ketus.
"Gak sih, tapi kalau aku ingin jemput kamu emangnya gak boleh?"
"Lagian ngapain repot-repot jemput aku, aku juga udah mau pulang sendiri kok", Riri masih tidak terima Fajri datang untuk menjemputnya.
Riri hanya bisa diam setelahnya. Mereka berdua akhirnya pergi setelah naik mobil Fajri. Mobil melaju menuju rumah Riri.
**Di dalam mobil**
"Kok bisa tau kalau aku gak bawa payung?" tanya Riri.
"Yaiyalah aku tahu, emang kamu pernah bawa payung kalau kemana-mana?, Dulu saja aku sampai beli payung loh buat kamu biar bisa pulang" jawab Fajri.
Setelah Fajri berkata begitu, mereka berdua malah sama-sama diam dan salting. Tentang masa lalu memang sering sekali membuat salting.
"Btw makasih loh untuk waktu itu" ucap Riri tiba-tiba.
Bukannya malah marah Fajri membahas masa lalu lagi, kali ini Riri malah menanggapinya. Fajri melihat kearah Riri lalu tersenyum senang.
"Kenapa tiba-tiba berterima kasih" tanya Fajri penasaran.
"Mau bagaimanapun kamu telah menolongku juga waktu itu seperti saat ini" jelas Riri.
"Tapi untuk hari ini kamu gak berterima kasih" ucap Fajri sambil memalingkan wajahnya, bibirnya menahan senyum.
"Apa?"
"Hm bukan apa-apa kok" jawab Fajri.
__ADS_1
"Kamu dingin gak?" tanya Fajri pada Riri ketika melihat Riri menggosok-gosokan tangannya.
Fajri langsung memberikan jaketnya di bangku belakang pada Riri tanpa menunggu jawaban dari Riri. Riri pun juga tak berkutik, dia langsung menerima jaket dari Fajri kemudian menyelimuti tubuhnya.
"Sorry ya!" ucap Riri pada Fajri.
Kemaren Fajri yang mengucapkan maaf kepada Riri, kali ini Riri yang memulai mengucapkan maaf pada Fajri, entah maaf untuk apa yang akan Riri utarakan pada Fajri.
"Untuk apa?" tanya Fajri bingung karna dia merasa Riri tak membuat kesalahan apapun padanya.
Riri diam sejenak lalu menarik nafas dalam.
"Aku sudah salah paham padamu tentang apa yang sebenarnya terjadi" ucap Riri menjelaskan.
"Tentang apa?", Fajri masih belum mengetahui tentang apa yang membuat Riri salah paham terhadapnya.
"Tentang kita"
Fajri menoleh kearah Riri dan menatapnya, Riri juga balik menatap Fajri. Apa yang akan Riri katakan tentang mereka.
"Kita dulu, aku sudah salah mengira kalau kamu selingkuh dengan Latifa" sambung Riri.
"Kamu mengetahui sesuatu?" tanya Fajri yang sudah mengerti maksud Riri.
"Kenapa kamu diam?, Kenapa kamu gak memberitahuku kalau sebenarnya kamu kecelakaan waktu itu?" ucap Riri dengan suara agak meninggi kesal dengan Fajri.
"Apa jika aku mengatakannya, kamu akan percaya padaku?" tanya Fajri
Mata Riri tidak bisa berbohong, Fajri tahu Riri tak akan percaya walaupun ia memberitahu semua kebenaran tentang apa yang terjadi.
"Karena bagimu aku lah yang salah, aku selingkuh dengan Latifa. Siapa yang mau mendengarkan penjelasan seorang yang sudah dianggap selingkuh, apalagi dia sudah mendapatkan bukti foto. Foto itu bisa menipu ri, begitupun dengan waktu itu. Aku tidak tahu siapa yang memotret kami, dan saat itu juga kamu langsung tau. Ternyata semua itu ulah Latifa" sambung Fajri menjelaskan.
"Tapi kamu menyembunyikan semua dariku selama ini, sudah 3 tahun aku menunggu kejelasan itu, tapi apa?. Kamu gak memberikan aku alasan kenapa kamu melakukan semua itu, aku bahkan mencoba mencari salahnya dari diriku, mungkin saja aku sudah membuatmu tidak nyaman sehingga kamu mencari pengganti yang lebih baik dariku" ucap Riri dengan mata berkaca-kaca.
"Latifa itu memang cantik, dia manis. Aku berfikir kamu hanya memanfaatkanku saja" tambah Riri.
"Maaf karna tidak memberitahumu soal ini. Sebenarnya aku pernah ingin memberitahumu dan menemuimu, tapi malah saat itu aku sedang melihatmu bersama pacarmu, tidak mungkin aku menganggumu lagi dan merebut kebahagianmu dengannya, makanya aku memutuskan untuk menyimpan semua ini sendiri" jawab Fajri menjelaskan apa yang terjadi.
"Dia bukan pacarku, aku tak memiliki seseorang dalam hidupku selama 3 tahun, yang kamu lihat itu kami cuman berteman" ucap Riri memberikan informasi yang benar.
"Lalu untuk perkataan tentang aku yang pacaran denganmu dulu hanya untuk pelampiasan saja, itu semua juga tidak benar. Mantan terkahirku memang Bagas, tapi aku juga sudah mempertimbangkan saat ingin bersamamu. Sungguh aku memulai hubungan denganmu karena aku menyukaimu saat itu" sambung Riri.
"Lalu saat ini kamu tidak memulai hubungan dengan siapapun, apa artinya semua itu?" tanya Fajri.
"Aku hanya.. Hanya ingin fokus ke studi ku saja, makanya aku tidak berniat untuk menjalin hubungan dengan siapapun" ucap Riri beralasan.
Fajri diam sejenak setelah Riri mengatakan alasan itu. Riri juga ikut diam. Hingga mereka sampai didepan rumah Riri Fajri mengatakan sesuatu pada Riri.
Riri yang hendak membuka pintu mobil, diberhentikan dengan pertanyaan Fajri terhadap dirinya.
"Riri.. Bisakah kita mengulang kembali?" tanya Fajri penuh harap.
Riri terkejut mendengar pertanyaan yang Fajri berikan, dia bingung harus berbuat apa. Kenapa Fajri malah datang lagi dalam hidupnya di saat dia sudah mulai membiasakan diri untuk lupa.
__ADS_1
Tapi dia kembali.
Bersambung...