Takdir Cinta Widya

Takdir Cinta Widya
10 Hati yang harus memilih


__ADS_3

Langit Amsterdam dipenuhi dengan awan biru cerah dengan kicauan burung-burung yang saling bersautan, dengan udara dingin yang tidak terlalu dingin lagi, dibandingkan udara musim salju di bulan Januari. Hati Rafa saat ini sedang berbunga bak anak remaja sedang jatuh cinta, hatinya yakin tentang perasaannya bahwa benar Rafa sedang jatuh cinta pada Widya. Rafa berniat pada hari ini, setelah pulang jadwal mengajar, Rafa akan menyatakan cintanya pada Widya, dan ingin melangsungkan pernikahan. Semua rencana sudah dipikirkan dan digambarkan dalam khayalannya.


Semua momen, di kampusnya, dilaluinya tanpa berkesan pada hari ini, terasa oleh Rafa waktu bergerak sangat lama. Dilihatnya jadwal hari ini berakhir pada pukul empat sore. Sedangkan sekarang masih pukul dua belas siang. Seperti biasanya, dalam sebulan, sebentar lagi pasti Parkin mengajak makan di restaurant seberang  kampus, untuk membayar janjinya.


Sementara itu, disisi lain, Steward sedang menghabiskan waktu Bersama dengan Widya, dengan sopan Steward menjaga Widya dari mobil-mobil dan sepeda-sepeda yang lalu Lalang di jalanan. Sikap rasa melindungi Steward ini juga yang membuat Widya menyukai Steward, dan mulai ada tumbuh rasa cinta dalam hati Widya untuk Steward. Tiap hari Widya melaksanakan sholat, meminta petunjuk pada Allah dan diteguhkan hatinya untuk menentukan di mana hatinya berlabuh. Berhari-hari Widya  semakin yakin akan pilihannya. 


Menjelang sore, setelah menemani dan menunggu Widya melaksanakan ibadah sholat ashar, Steward mengantarkan Widya pulang. Sampailah Widya pulang tepat pukul empat sore. Kemudian, Steward mengobrol dulu dengan Lira, Anthony, Widya di ruang tamu, sebelum Steward melanjutkan pulang ke Leiden. Steward juga bercerita di Leiden, pekerjaan Steward, menuntut Steward untuk sibuk bekerja, dan Steward memegang tanggungjawab yang cukup banyak di Leiden. Canda gurau diantara keluarga Lira ini, sangatlah hangat dan kental. Widya tersenyum Bahagia.


Beberapa saat kemudian, bel rumah berbunyi, Lira sebagai tuan rumah, mendatangi pintu depan untuk membuka pintu.


“Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikumsalam “


“Oo..Rafa..Silahkan masuk, Wid..ada Rafa datang”


Deg…tiba-tiba jantung Widya sesaat berhenti. Tapi dijalaninya seperti biasa.


“Hai”


“Hai Wid, bisa kita bicara sebentar”


“Boleh… ngomong aja lagi Raf.. kok minta ijin segala, aneh kamu”


Lira melihat sikap dan senyum Rafa menghiasi bibirnya, terlihat lucu membuat Lira tersenyum, dan mendekati Widya, dan memegang lengan Widya lembut.


“Wid…sekarang tentukan pilihanmu”


Widya menganggukkan kepala. Tak beberapa lama, Rafa dan Widya baru saja duduk diruang tamu, untuk membicarakan perihal hati dan cinta Rafa pada Widya, datanglah Steward yang Nampak curiga dan penasaran pada Widya dan sosok asing itu.


“Widya..siapa ini?


Widya memperkenalkan Steward pada Rafa, dan Rafa pada Steward.


“Steward”

__ADS_1


“Rafa, calon suaminya Widya” Kata Rafa dalam Bahasa Belanda


Tiba-tiba keningnya merengut tampak bingung dan marah Steward pada Widya. Widya yang Nampak polos tidak mengerti Bahasa yang mereka gunakan. Dengan senyuman Widya pada Steward, tetapi Steward pergi langsung pulang, meninggalkan mereka tanpa alasan.


“Loh, kenapa tuh orang?” Bingung Widya


“Sudahlah Wid.., aku mau bicara serius sama kamu, tentang kita”  Rafa mengajak Widya untuk duduk.


Widya dengan deg-degan jantung berdegup kencang diam menuruti kemauan Rafa.


“Berhubung orangtua kita tahu, tentang kita, dan menjodohkan kita berdua. Setelah aku mengenalmu, dan berjalan-jalan denganmu, sepertinya kita semakin cocok, dan aku mau mau menyatakan bahwa aku mencintai kamu Wid” Rafa berusaha menerangkan isi hatinya pada Widya.


Beberapa saat Widya diam tertegun. Bingung, antara hatinya memilih Steward, tetapi Rafa yang menyatakan cintanya, dan pasti Rafa adalah pilihan Papanya. Sikap Steward yang tiba-tiba pulang dalam keadaan marah. Semua membuat Widya menjadi pusing.


“Raf.. bisa beri aku waktu berfikir”


“Baiklah.. aku beri kamu waktu Wid., aku pamit”


“Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikumsalam”


‘Jadi apa pilihan hatimu?”


“Hatiku memilih Steward, aku sudah berhari-hari melakukan sholat tahajud untuk meneguhkan hatiku dan pilihanku, ternyata hatiku memilih Steward, tapi jangan cerita dulu pada Steward yaa” Pinta Widya pada Lira dan Anthony.


Lira dan Anthony tersenyum lega.


Malam harinya, Steward datang kerumah Lira dengan mabuk dengan botol bir beralkohol tinggi di tangan Steward. Steward maraca kencang di depan rumah Lira membuat para tetangga terbangun dan merasa terganggu, Widya Pun cepat-cepat turun untuk membukakan pintu dan menarik tangan Steward. Dengan sempoyongan Steward mengikuti Widya.


“Widyaa”


“Widyaa…Kenapa kamu cantik sekali. Kenapa kamu menghancurkan hatiku, kenapa aku tidak bisa melupakanmu”


Widya bingung, dan mengerutkan keningnya, mendengarkan ocehan Steward. Steward meracau Kembali sambil duduk di bangku sofa ruang tamu.

__ADS_1


Lira hanya menepuk Pundak Widya


“Biar aku buatkan teh segar buat Steward dulu, kamu urus Steward, katakan isi hatimu padanya”


Widya menganggukkan kepalanya pelan.


Tiba-tiba Steward berusaha mendekap Widya, merangkul Widya, dan berusaha mencium-cium leher dan bibir Widya.


Plak


Sebuah tamparan melayang di pipi Steward.


“Steward, apa yang kamu lakukan? Kamu pikir aku Wanita apa? Aku bukan Wanita murahan, aku nggak segampang itu. Memang kita sudah dekat, bukan berarti kamu sesuka hatimu kepadaku, jangan berfikir aku mau. Agamaku melarangku melakukan hal itu,” Marah Widya memuncak


“Maaf Widya, aku bingung, aku takut kehilanganmu”Jawab Steward


“Bukan begini caranya”


“maaf, aku pulang” Ucap Steward sambil berdiri sempoyongan dan pergi pulang.


Widya hanya menangis, menyesalkan hal ini terjadi, menyesalkan dulu Widya menyetujui keputusan Papa untuk datang ke Amsterdam, kenapa harus bertemu dengan seseorang bernama Steward itu.


Malamnya, Widya menangis dan memohon pada Allah untuk selalu diberikan petunjuk dan keteguhan hati.


“Yaa Allah, yang maha memberi petunjuk, tunjukkanlah yang terbaik untukku, aku hanya mengikuti skenarioMu yaa Allah”


“Yaa Allah, aku hanya mengikuti alur cerita Mu, aku tahu pasti Kau berikan yang terbaik untukku menurutMu yaa Allah”


“Yaa Alllah... Tuntunlah hatiku, tunjukkanlah yang terbaik untukku antara Rafa dan Steward”


Widya memanjatkan doa sepenuh hati dengan curahan aitmata yang mengalir menghujani pipinya.


Keesokan harinya, Widya teguh untuk menolak Rafa baik-baik. Setelah menelpon Rafa, untuk datang kerumah setelah Rafa selesai mengajar di kampus. Setelah Rafa datang ke rumah Widya, dengan bayangan seburuk-buruknya Widya menolak dirinya. Apapun keputusan Widya Rafa akan menerima. Kemudian, Rafa dan Widy Pun berbicara baik-baik, dari hati ke hati, tentang perasaan Widya padanya dan tentang perasaan Widya pada Steward, dan kebimbangan Widya karena beda agama.


“Baiklah Wid… aku doakan yang terbaik untuk kamu, aku Bahagia kalau kamu Bahagia”

__ADS_1


“Terima kasih Raf”


Widya mengatakan kepada Rafa, Lira dan Anthony bahwa Widya akan pulang ke Indonesia besok. Widya sudah memesan tiket pesawat terbang, sehingga tidak bisa dibatalkan, apapun ceritanya.


__ADS_2