Takdir Cinta Widya

Takdir Cinta Widya
9 Widya Lupa akan Tujuannya ke Amsterdam


__ADS_3

Sudah beberapa bulan Widya berada di kota Amsterdam. Menikmati keindahan Amsterdam dan ramahnya penduduk-penduduk di Amsterdam apalagi Lira dan Anthony. Suami Lira sebagai pemilik rumah yang Widya tempati, sangat ramah dan sangat baik pada Widya.


Sebagai membalas kebaikan Lira dan suaminya, kadang-kadang Widya memasak makanan untuk Lira dan suaminya, terkadang kue tart dan kue-kue tradisional asal Indonesia.


Saat, sore hari di ruang keluarga, dimana ada Lira dan Anthony sedang menikmati acara televisi, dan Widya sedang bermain dengan monika di teras halaman belakang, Lira memanggil WIdya, katanya ada telpon dari Indonesia, Papa Widya ternyata.


“Wid…Papa kamu telpon.” Panggil Lira pada Widya


“Oke .. terima kasih Lira.”Sahut Widya mendekati Lira sambil menyambut gagang telponnya.


“Halo.. Assalamu’alaikum , Pa."


“Wa’alaikumusalam.”Jawab Papa Widya


“Gimana kabarmu Wid, disana?"


“Baik Pa, Widya betah. Ramah-ramah orangnya dan pemandangan disini bagus-bagus banget." Jawab Widya.


“Trus..Gimana dengan nak Rafa, sudah kamu telpon dia?”


“Hhhmm, belum sempet Pa.”Jawab Widya malas.


“Loh kok kenapa, dia tau kok kamu sudah sampai di Amsterdam.” Kata Pak Handoko bingung.


“Rafa juga paling juga lagi sibuk Pa." Sambung Widya.

__ADS_1


“Alasan saja, pokoknya kamu telpon nak Rafa yaa, Papa nggak enak dengan Pak Pram ,Wid.” Jawab Pak Handoko.


“Iya… Pa” Jawab Widya malas.


Satu jam kemudian, seolah istilah panjang umur, Rafa tanpa diminta dan dirasa, tiba-tiba menelpon widya juga. Rafa menelpon Widya untuk berkenalan dan mengajak Widya jalan-jalan ke tempat-tempat yang belum Widya datangi.


Berkenalan dan mengobrol saling memperkenalkan diri. Berjalan Bersama Rafa, sangat menyenangkan, saling sambung jika mengobrol, Rafa merupakan Laki-laki yang menyenangkan, tidak sombong, baik dan sangat welcome, Walaupun sebagai dosen di universitas di luar negeri, tidak membuat Rafa merasa memiliki wawasan yang paling luas dibanding Widya. Sikapnya yang lembut membuat Widya suka berjalan dengan Rafa, walaupun pertemuan pertama Widya dan Rafa sangat kaku dan membosankan.


Lira pernah bertanya pada Widya tentang perasaannya kepada Steward sepupunya, dan bagaimana perasaan Widya pada Rafa, pilih satu, kata Lira.


“Wid..sebenarnya yang kamu suka siapa sih diantara Steward dan Rafa?”


“Nggak tau… aku hanya menganggap mereka teman yang asyik diajak ngobrol dan jalan-jalan."


“Itu berarti kamu memberi harapan palsu pada mereka Wid."


“Hhmmm.” Widya hanya menghembuskan nafas Panjang.


“Coba deh… rasakan hatimu jika suatu saat Bersama Steward, dan disaat kamu Bersama Rafa, dimana hatimu berada,” Kata Lira lanjut.


“Baiklah…”


Keesokan harinya


"Kring…kring…"

__ADS_1


“Assalamu’alaikum…Haloo bisa bicara dengan ibu Widya."


“Ini siapa yaa?”


“Ini Sarah…anaknya”


“Assalamu’alaikum…”


“Mama….Ini Sarah, Sarah kangen Mama, Mama kapan pulang?”


“Wa’alaikumusalam… Sarah… Mama juga kangen sama kamu, bagaimana kabarnya Mas Ridwan”


“Wah… dia mah lagi sibuk organisasinya Ma, dia terpilih jadi ketua Osis”


“Wah… baguslah. Nanti kalau kalian libur Panjang nyusul yaa ke Amsterdam, kita jalan-jalan yaa Sar”


“Bener ya Ma,”


“Iya sayangnya Mama...” ucap Widya pada Sarah.


“Udah dulu yaa Ma.., Assalamu’alaikum."


“Daah..Sayang. I love you… Wa’alaikumusalam."


Hari ini suasana hati WIdya sedang senang dan Bahagia, setiap paginya menyiram bunga dengan bunga-bunga yang mekarnya lima kali lebih besar dari mekarnya bunga yang berkembang di Indonesia, semua keindahan alam yang membuat Widya takjub akan ciptaan Allah.

__ADS_1


Setelah menyirami tanaman bunga dan membersihkan dari rontoknya daun-daun yang berguguran, Widya pun sering pergi ke masjid Al Fatih. Untuk bertemu beberapa orang Indonesia yang akan beribadah disana.


Lama kemudian, lambat laun, Widya banyak mengenal orang-orang muslim Indonesia, maupun mualaf-mualaf disana, kemudian Widya ditawari untuk mengajar mengaji untuk para mualaf yang mau belajar membaca Al-qur’an. Dengan senang hati Widya menyetujuinya. Mulai sejak itu, Widya hampir sepekan tiga kali datang ke mesjid Al-Fatih.


__ADS_2