
Setelah melihat lowongan kerja di media koran, Yoga dengan semangat melamar pekerjaan yang diharapkan bisa memperbaiki perekonomian keluarganya. Yoga merasa bertanggungjawab terhadap jerih payah orangtuanya yang susah payah membayar kuliah Yoga hingga ia bisa lulus kuliahnya.
Aku coba lamar deh ke perusahaan ini, sepertinya ini menjanjikan.
Kemudian Yoga mengambil selembar kertas dan menulis data profil untuk mendukung lamaran pekerjaannya.
Yoga adalah seorang laki-laki yang berusia dua puluh tiga tahun saat lulus kuliah di Jakarta. Sudah sering ia melamar pekerjaan yang di dapatnya dari puluhan media koran yang sudah ia beli hanya untuk mencari lowongan pekerjaan yang bisa dia lamar. Sempat Yoga merasa putus asa, karena sampai detik ini pun Yoga tidak menerima surat panggilan.
Sudah cukup, ini adalah surat kabar terakhir yang aku beli, kalau memang tidak ada panggilan juga terpaksa aku bantu ayah jualan di tokonya. Yoga bergumam dalam hati sambal membayar dua ribu rupiah untuk satu gulung koran.
Sudah hampir setengah tahun Yoga menunggu panggilan kerja di perusahaan yang Yoga inginkan, sambal membantu ayahnya berjualan di took kelontongnya di kota Bekasi, akhirnya handphonenya berbunyi.
KRING..
“Ya Halo”
“Yoga!!, susah sekali sih nyarik kamu, kamu dimana sekarang?” tanya orang di seberang telpon.
__ADS_1
“Memangnya kenapa mencari aku, ha?” tanya Yoga kesal
“Eh..!! ini ada surat paggilan kerja tuh, yang kantornya di Semarang, ingat nggak kamu pernah kirim surat lamaran ke sana?”
“Alhamdulillah,”
“Cepet kamu balik ke Jakarta ya, terus kamu ke sana untuk interview, mumpung belum terlambat,”
“Iya..iya!! , nanti sore aku balik ke Jakarta”
Sebelum Yoga pulang ke kos-kosannya di Jakarta, ia mengungkapkan keinginannya untuk berangkat ke Semarang karena ada interview di perusahaan yang Yoga lamar. Kedua orangtua Yoga sangat bahagia mendengar akhirnya Yoga diterima kerja, walaupun kantornya berada di kota yang berbeda dengan mereka, tapi mereka sangat merestui kepergian Yoga ke Semarang.
“Yoga!!!, kamu siang ini jangan kemana-mana ya, saya ada pengumuman yang akan saya sampaikan di lobby kantor”.
“Baik, Pak” jawab Yoga.
Tepat jam setengah satu, saatnya jam makan siang. Biasanya Yoga mencari restaurant dekat kantornya. Ada restaurant makanan dengan suasana yang nyaman dan hangat, walaupun harganya sedikit lebih mahal, tetapi Yoga merasa hal ini lumrah karena mereka menawarkan kenyaman duduk di restaurantnya. Tetapi kali ini Yoga tidak pergi makan ke restaurant tersebut, karena Pak Handoko meminta untuk tidak pergi keluar kantor, untuk memberi pengumuman tentang asisten barunya.
__ADS_1
“Selamat siang semuanya, terima kasih sudah mau hadir disini, alasan saya mengumpulkan kalian semua disini karena saya mau memperkenalkan adik saya, untuk menjadi asisten saya, ini Nirwana,” kata Pak Handoko sambal menunjukan diri Nirwana.
“Selamat siang semua, salam kenal, tolong bimbingannya dari semua,” kata Nirwana tersenyum manis.
Semua orang yang datang menghadiri tersenyum-senyum pada Nirwana tanda menyambut hangat kedatangan Nirwana di kantor tersebut, sambal berjalan kea rah Nirwana untuk berjabat tangan, kemudian dilanjutkan dengan makan siang seperti biasa.
Yoga melihat Nirwana, tersenyum hangat, walaupun Nirwana tidak melihat hal itu pada wajah Yoga. Namun Yoga sengaja berjabat tangan dengan Nirwana di urutan terakhir para karyawan. Setelah Yoga berjabat tangan dengan Nirwana, Yoga berusaha bertanya-tanya perkenalan pada Nirwana. Nirwana pun menjawab dengan senang hati.
Semenjak kedatangan Nirwana untuk bekerja di kantor, hari-hari Yoga sangat bahagia. Sudah hampir setahun Ia berusaha mendekati Nirwana untuk mengajak kencan dengannya. Tetapi Nirwana selalu saja mempunyai alasan untuk menolaknya. Nirwana berusaha sopan pada Yoga, karena Yoga juga sebagai orang kepercayaannya Pak Handoko, dan Nirwana tidak mau menghancurkan nama baik Yoga di mata Pak Handoko walaupun terkadang Yoga terlihat kasar pada Nirwana karena penolakan Nirwana, namun Nirwana tetap menutupi perbuatannya.
Hati Yoga semakin kesal semenjak kedatangan Jordan di kantor. Yoga melihat semakin dekat hubungan Jordan dengan Nirwana. Apalagi saat ia melaporkan hal ini pada Pak Handoko atas kedekatan mereka berdua, sepertinya Pak Handoko tidak mempermasalahkan hubungan kedekatan Jordan dengan Nirwana.
Semua ini membuat kebencian dan rasa kesalnya semakin memunjak, hal ini menumbuhkan rasa dendam pada Jordan.
Kesempatan timbul pada diri Yoga saat ia menggantikan posisi Nirwana di bangku asisten, karena kebetulan Nirwana sedang cuti sakit dan ingin menyelesaikan skripsinya. Yoga sangat leluasa untuk masuk ke akun keuangan masuk keluarnya keuangan perusahaan. Pelan-pelan Yoga mengambil uang kantor dan di transferkan ke akun pribadi Yoga. Sekali-kali Yoga mengarang cerita pada Jordan untuk mendapatkan tanda tangannya,tanpa Jordan mencurigai tulisan yang menerangkan di kertas yang disodorkan Yoga.
Pernah Yoga juga mendengar Jordan sedang mendapatkan telpon misteriusnya. Hal ini membuat Yoga merasa curiga, telpon dari siapakah itu. Diam-diam Yoga menyusup pelan-pelan saat Jordan mendapatkan telpon misterius itu. Dengan kuping yang dipasang baik-baik agar bisa mendengarkan percakapan Jordan dengan lawan bicaranya.
__ADS_1
“Oke bos, akan ku lakukan, pelan-pelan agar tidak ketahuan Pak Handoko bos, siap bos, siap” jawab Jordan.
Astaga, apa yang akan dilakukan Jordan pada Pak Handoko. Ini kesempatan aku untuk menghancurkan Jordan itu, siap-siap Jordan kau akan hancur ditanganku. Aku harus tahu dengan siapa Jordan berbicara.